PlanetTerasi

Think. Read. Write.

things left unsaid ryosaeba

Donut is our okay. – at Purwacaraka Music Studio Cipete

View on Path


things left unsaid ryosaeba

#selffoot – at Purwacaraka Music Studio Cipete

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Anterin Diva les piano – at Purwacaraka Music Studio

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Transaksi Mandiri e-cash – at Bakmi GM

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Diskon 25% kalau pakai Mandiri e-cash – at Bakmi GM

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Life’s milestones – at PSN Mega Kuningan

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Jack D tambah madu – at Kebagusan City

View on Path


(mencoba memahami) Teknologi di Belakang Mobil Ford

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Hari ini dan besok, saya diajak melihat teknologi di belakang pengembangan mobil Ford. Sebagai orang yang tertarik dengan teknologi, tentu saja saya tertarik. Terlebih lagi ada bagian dari teknologi yang ditampilkan terkait dengan teknologi informasi; virtual reality.Tempatnya juga menarik, Melbourne, Australia.

Pagi ini kami dijemput dari hotel dan dibawa ke Ford Asia Pacific Product Development Centre. Sesampainya di sana, kami harus menyerahkan handphone dan kamera harus didaftar. Maklum, di tempat itu banyak penelitian yang bersifat rahasia. Foto hanya boleh diambil di tempat-tempat tertentu saja. Wuih.

Acara pertama adalah presentasi tentang bagaimana mereka mendesain mobil. Untuk kasus ini mereka menampilkan konsep desain mobil Ford Everest, yaitu sebuah SUV. Presenter pertama, Steve Crosby (chief engineer, body) bercerita bahwa biasanya mereka tidak mengundang mereka. Kami adalah bagian dari group pertama yang diperkenalkan dengan proses ini. Proses pengembangan dilakukan secara global (Amerika, Eropa, dan Asia Pacific). Todd Wiling (design director) menceritakan fasilitas yang digunakan di Ford tadi.

Presenter kemudian tambah menarik. Max Tran, seorang desainer muda (umurnya kalau tidak salah 27 tahun! saya tanya langsung ke dia), menceritakan bagaimana mereka mendesain mobil Everest tersebut. Proses ini dimulai dari market & consumer requirement; dalam hal ini diinginkan mobil yang gagah perkasa (tough) tapi juga sophisticated. Setelah itu dibuat sketch-nya dan dilakukan proses review. Ada banyak (ratusan) sketch. Setelah dipilih, maka dibuatlah model dengan menggunakan clay (tanah liat?). Awalnya sih dibuat dengan menggunakan styrofoam dan ditambahkan tanah liat. Printer 3D juga digunakan untuk membuat hal yang detail, seperti misalnya spion. Pokoknya keren-lah melihat prosesnya.

Kemudian presentasi dilanjutkan oleh Minh Huynh (color & materials, designer). Diceritakan bagaimana proses mencari warna dan bahan yang pas untuk keinginan pengguna. Ini juga keren. (Foto-fotonya menyusul.) Hal yang menarik dari mereka adalah para desainer ini masih muda!

IMG_5759 notes 1000

Acara siangnya dilanjutkan dengan demonstrasi dari berbagai teknologi yang telah dikembangkan oleh Ford; seatbelt untuk penumpang di belakang yang bisa mengembang (inflatable, seperti airbag tapi beda), teknologi untuk membantu pengemudi dalam memarkirkan kendaraan, dan pemanfaatan virtual reality (VR) untuk mereview (dan mendesain) mobil dalam sebuah lingkungan yang disebut Ford Immersive Virtual Environment (FiVE). Yang ini ceritanya menyusul ya. Ini sudah hampir tengah malam dan besok harus bangun pagi sekali untuk melihat yang lainnya.

Terima kasih kepada Ford yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk memahami proses di belakang pengembangan mobil.


Filed under: design, Penelitian, Teknologi Informasi, TI Tagged: desain, design, ford, information technology, mobil, postaday2014, technology

things left unsaid ryosaeba

Mari makan… – at Ketupat sayur depan RNI

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Pesan satu – at Ketupat sayur depan RNI

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Gile lu ndro – at Universal Studios Singapore

View on Path


Review Headphone NoiseHush i7 Active Noise-cancelling

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Dalam beberapa waktu terakhir, saya mengamati beberapa produk headphone dengan fitur Noise-cancelling. Saya sebenarnya mengidamkan memiliki Bose QuietComfort 15 Acoustic Noise Cancelling, namun apa daya kantong tidak memenuhi syarat, karena harganya di Indonesia adalah Rp.6.100.000,-. Saat di Singapura bulan Juli 2014 kemarin, di Bugis Junction saya masuk ke toko headphone, di situ dibanderol 4 jutaan, namun saat itu juga kantong mepet dan saya sedikit menyesal karena tidak jadi membelinya. Terakhir, awal Agustus waktu perjalanan dari Kuala Lumpur ke Jakarta, saya mampir di lapak headphone di KLIA2, namun harganya juga setara dengan harga Jakarta, sehingga saya batal membeli.

Menuju ke Jayapura, saya ke Mal Jayapura dan di toko yang menjual Apple, mereka menjual Audio-Technica ATH-ANC7b QuietPoint yang dibanderol Rp. 2,6 jutaan. Lebih murah di Jayapura, karena di Jakarta harganya 2,7 juta. Sudah hampir tergoda dan mau menebus, kok rasanya sayang, karena nanggung. Nambah nabung sedikit lagi bisa ambil si Bose. Namun, kebutuhan (baca: keinginan) untuk mendapatkan ketenangan dengan headphone noise-cancel ini tinggi, karena lingkungan kiri kanan yang agak bising.

Tanpa diduga, waktu mengakses website, ada iklan mengenai NoiseHush i7, saya membaca sekilas di Amazon dan melihat review, katanya cukup bagus untuk pemula. Harganya di toko online luar negeri dibanderol harga normal US$ 99 dan harga diskon di US$ 51,92. Saya mencari di toko online Indonesia, ternyata ada yang jual di harga Rp.850.000. Daripada pusing menunggu impor dari luar dan mengurus bea cukai, saya langsung menuju ke seller dan membelinya melalui rekening perantara bukalapak, sehingga aman. Barang pun dikirim dari Bandung ke Jayapura, sampai dalam 3 hari.

NoiseHush_i7_Active_Noise-cancelling

Perangkat ini menggunakan baterai AAA sebanyak 2 buah untuk menjalankan fitur noise cancel. Saya mencoba noise cancel tanpa kabel. Fitur noise-cancelling ini menurut penilaian saya berjalan dengan tingkat keberhasilan sebesar 80 persen. Deru dengan suara frekuensi rendah (mesin genset bensin di tempat jauh, kompresor kulkas) menghilang. Suara orang dan gemericik air pancuran di kolam ikan masih kedengaran dengan jelas namun bersih karena deru konstan di sekeliling sudah dihilangkan oleh headphone ini. Menggunakan headphone ini sambil mengetik, suara ketikan keyboard laptop saya nyaris tidak terdengar.

Untuk audio, karena saya termasuk awam soal ini. Namun sebagai gambaran, saya pernah mendengar suara dari headphone lain yang menurut saya lebih bagus dari ini. Setelah kutak-katik equalizer di pemutar musik saya, saya mendapatkan kualitas suara yang bagus sesuai harapan saya. Yang paling penting, meskipun tetangga sebelah menyalakan mesin genset yang menderu, saya bisa bekerja dengan tenang.

things left unsaid ryosaeba

Half Roasted Chicken – at Cafe Le Caire

View on Path


Product Checklist

Kemas Antonius Kemas Antonius

  1. Understand what people need.
  2. Address the whole experience, from start to finish.
  3. Make it simple and intuitive.
  4. Build the service using agile and iterative practices.
  5. Structure budgets and contracts to support delivery.
  6. Assign one leader and hold that person accountable.
  7. Bring in experienced teams.
  8. Choose a modern technology stack.
  9. Deploy in a flexible hosting environment.
  10. Automate testing and deployments.
  11. Manage security and privacy through reusable processes.
  12. Use data to drive decisions.
  13. Default to open.

Source: U.S. Digital Services Playbook

I wish Indonesian government could also setup such list.Hat tip: Matt.


Filed under: Quick Posts

things left unsaid ryosaeba

Kios kelapa muda – at Masjid Sultan (Mosque)

View on Path


things left unsaid ryosaeba

#selffoot – at Masjid Sultan (Mosque)

View on Path


things left unsaid ryosaeba

On the tourist route – at Masjid Sultan (Mosque)

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Racking my brain trying to pick them – at Chinatown

View on Path


Update Lumia Cyan Untuk Nokia Lumia 520

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Kemarin yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba. Lumia 520 saya mendapatkan update Lumia Cyan secara OTA. Dengan demikian Lumia 520 saya sekarang sudah menggunakan Windows Phone 8.1.

Bagi yang belum update, segeralah update Lumia-nya dengan cara masuk ke Settings > System > Phone Update lalu tap tombol Check for Updates. Saya mendapatkan dua kali update. Saat upate yang pertama, versi Windows Phone-nya masih 8.0. Barangkali ini semacam “langkah persiapan”. Lalu lakukan lagi langkah update seperti di atas dan kali ini barulah proses update ke Lumia Cyan dimulai.

Agar proses update optimal dan potensi untuk gagal kecil, pastikan baterai Lumia masih mencukupi (bila tidak yakin lebih baik di-charge saja) serta pastikan juga free space di memory internal masih cukup. Tidak ada panduan pasti soal seberapa free space yang mesti dialokasikan, yang jelas punya saya masih ada free space 1.5 GB. Satu lagi, lebih baik update dilakukan dengan memanfaatkan WiFi.

wp_ss_20140817_0001

Nah, apa saja yang baru di Windows Phone 8.1 ini?

Yang pertama akan langsung terlihat adalah perubahan beberapa ikon tile. Ya kalo itu doang mah gak asyik ya, hehe. (ngacir)

Tentu bukan cuma itu. (wek)

  • Action Center. Sekarang Windows Phone punya notification center semacam yang ada di Android. Cara membukanya sama dengan yang di Android, geser jari dari bagian atas layar ke bawah. Di Action Center ini, selain akan muncul daftar notifikasi (misalnya ada email/sms/WA yang masuk), juga bisa diatur soal koneksi Wi-Fi, Bluetooth, mode pesawat, pengunci rotasi, serta tombol untuk masuk ke halaman Settings.

wp_ss_20140818_0001

  • Tanda koma di keyboard hilang! Wah, parah dong. Gak hilang sih sebenarnya, cuma sembunyi. Saya juga tidak tau alasan pengembang Lumia menyembunyikan tanda koma di keyboard (meski menekan tombol &123 dulu baru muncul). Tapi ternyata solusinya gampang. Masuk ke Settings > System > Keyboard dan tekan tombol Advanced. Aktifkan opsi Show a comma key when available.
  • Word Flow keyboard. Ini semacam Swype yang ada di Android. Sayangnya cuma berlaku untuk Bahasa Inggris saja. Jika mau sedikit repot, gunakan setting Bahasa Inggris dan inputkan kata dalam Bahasa Indonesia yang sering digunakan, nanti lama-lama berasa pake Word Flow berbahasa Indonesia. (upss)
  • Bila ada update tersedia untuk aplikasi yang telah diinstal, update akan dilakukan secara otomatis bila terkoneksi pada jaringan WiFi.
  • Halaman Start bisa diberi background. Live tile yang memiliki warna theme sekarang akan menjadi tembus pandang dan background akan terlihat. Untuk memberi gambar background, masuk ke Settings > Start + theme lalu tekan tombol Choose Photo.

wp_ss_20140817_0002

  • Jumlah tile bisa ditambah, meski lalu menjadi lebih kecil daripada sebelumnya. Jika sebelumnya lebar layar maksimal menampung 4 tile, sekarang bisa 6. Untuk mengaktifkannya, masuk ke Settings > Start + theme lalu di bagian Show more Tiles, tekan tombol Off menjadi On.
  • Screenshot sekarang diambil dengan cara menekan kombinasi tombol Power dan Volume Up, bukan lagi Power dan tombol Start.

Nah, bila Anda pengguna Lumia 520, segeralah update. Keren loh Lumia Cyan ini.

things left unsaid ryosaeba

Not a real Casino – at Universal Studios Singapore

View on Path


things left unsaid ryosaeba

The Merlion – at Universal Studios Singapore

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Universal Globe – at Universal Studios Singapore

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Lake of Dreams – at Universal Studios Singapore

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Ndak tahu gedung apa ini, pokoknya keren lah – with Dwi and Layla at Bus Stop 05269 (Maxwell Road Food Centre)

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Kemarin nyangka ini markas Gerindra. Burungnya nengok ke arah yang salah. – with Dwi and Layla at Johor Bahru

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Let’s go there! – with Dwi and Layla at Bus Stop 04168 (Opp Peninsula Plaza)

View on Path


things left unsaid ryosaeba

On bus 80 to Vivocity – with Dwi and Layla at Arab Street

View on Path


things left unsaid ryosaeba

How come?
By bus.
Waiting for bus 80 to Vivocity – with Dwi and Layla at Bus Stop 01229 (before Sultan Mosque)

View on Path


things left unsaid ryosaeba

“The marks humans leave are too often scars.”

— The Fault In Our Stars

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Jadi cuma bisa tidur 2 jam.
Baru tidur jam 4 tadi, setelah chat yang melelahkan dan menggerus jiwa. – at The Sultan Hotel

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Agasi. Anak gaul singapur. – at ION Orchard

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Jauh2 ke Singapur, makannya… – with Dwi and Layla at Sari Ratu – Lucky Plaza

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Capek. Keringetan. Bau asem. The night is still young, I wish I had you by my side. – with Dwi and Layla at Arab Street

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Ahak2, gak tahu mesti isi form embarkation dulu, antri ulang dah – with Dwi and Layla at Singapore Customs

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Lama antri sampai ndeprok – with Dwi and Layla at Singapore Customs

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Antri imigrasinya ajib, sampe ada yang ndeprok – with Dwi and Layla at Singapore Customs

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Sementara yang ini tetap eksis narsis – with Dwi and Layla at Singapore Customs

View on Path


things left unsaid ryosaeba

…dan Shei tetap eksis narsis setiap terus – with Dwi and Layla at SBS Transit: Bus 170

View on Path


things left unsaid ryosaeba

…dan antri lagi di imigrasi sisi Singapura – with Dwi and Layla at Johor-Singapore Causeway

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Jauh2 ke Malaysia… berdiri lagi di bus – with Dwi and Layla at Malaysia Immigration Complex

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Antrian naik bus di Johor Bahru mengular tapi tertib. Ragu bisa terjadi di Indonesia. – with Dwi and Layla at Malaysia Immigration Complex

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Antri lagi – with Dwi and Layla at Malaysia Immigration Complex

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Duduk manis dalam bus – with Dwi and Layla

View on Path


things left unsaid ryosaeba

Wesly @pengelana di bus menuju Singapore

View on Path