
[WARNING] Tulisan ini penuh dengan spoiler, bagi yang punya keinginan nonton dan belum kesampaian, sebaiknya jangan membaca lanjutannya.
Rasanya sudah lama sekali tidak nonton film, padahal baru dalam hitungan hari sebelumnya nonton “Night In The Museum”. Ketika teman-teman CahAndong berencana untuk nobar Transformer 2, saya terima ajakan itu (walau sempat beberapa kali bentrokan jadwal, tapi akhirnya kesampaian juga). Saya nonton bersama Alle, Nico, Choro, Sita, dan Pangsit.
Sebelum nonton, saya berharap tidak melulu disuguhi sound dan special effect saja – plus suguhan seronok Megan Fox
– tapi juga cerita yang berbobot. Tapi apa dikata, keinginan saya tidak kesampaian.
Alur cerita film ini datar-datar saja dan setiap detilnya digambarkan dengan bertele-tele. Tidak ada unsur kejutan yang bombastis di film ini.
Saking bertele-telenya, adegan puncak pertempuran Optimus vs Fallen hanya berlangsung singkat dan Optimus menang mudah, tanpa perlawanan berarti. Itupun si Fallen sudah dibantu sama Megatron dan Starscream. Padahal di ending film Transformer sebelumnya, Optimus dengan susah payah harus mengalahkan Megatron.
Konflik antara Sam dan Mikaela juga selesai begitu saja, padahal saya sempat berharap Mikaela betul-betul ngambek dan meninggalkan Sam. Nanti baru luluh saat Sam dengan gagah berani menyelamatkannya.
Barangkali yang hendak dijadikan unsur kejutan adalah matinya Optimus Prime. Tapi karena terjadi terlalu dini, saya menduga pasti bakal hidup lagi ni robot. Apalagi sebelumnya Megatron juga dengan gampangnya dibangkitkan dari kuburannya di dasar laut, padahal di akhir film Transformer pertama disebutkan kalo dinginnya laut dalam dan tekanan yang sangat besar di situ akan menghancurkan Megatron.
Bergabungnya bangkai Jetfire ke tubuh Optimus juga mengingatkan saya akan film robot favorit masa kanak-kanak saya, yaitu God Sigma, Voltus, dan Goshogun. Dulu memang saya menganggap ketiga film robot itu luar biasa (yach maklum masih anak-anak
) tapi ketika baru-baru ini saya nonton ulang lagi ketiga film robot itu, saya jadi bertanya-tanya kok bisa ya dulu suka banget sama film-film robot itu.
Tapi yach, nampaknya film ini memang harusnya cuma konsumsi anak-anak, walau kalau mau dibuat demikian, terganggu oleh aksi ekhibisionis Megan Fox alias Mikaela.
Kalau saya yang bikin cerita, akan lebih menegangkan kalau matinya Optimus Prime terjadi mendekati akhir film, lalu yang mengalahkan The Fallen adalah Bumblebee dibantu si kembar bloon Skid dan Mudflap, plus sedikit bocoran dari Jetfire tentang cara mengalahkannya. Endingnya, Megatron melarikan diri, lalu Sam dkk membawa Optimus ke suatu tempat yang menyimpan energi besar untuk dihidupkan kembali. Baru nanti di Transformer 3 dilanjut cerita Optimus vs Megatron.
Jadi kalau boleh saya simpulkan, special effect di film ini nyaris perfect, 9/10 lah. Tapi secara keseluruhan, film ini kurang menarik.