PlanetTerasi

Think. Read. Write.

Cara Lock Jaringan 3G di Asus Zenfone

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Masih banyak pengguna internet di Indonesia yang mengandalkan jaringan 3G untuk mengakses internet. Salah satu caranya ya menggunakan smartphone seperti Zenfone. Saat sedang memanfaatkan koneksi 3G (atau lebih baik), di bagian notifikasi koneksi Zenfone akan nampak teks 3G, H, atau H+.

Sayangnya, meski yakin area tersebut tercakup ke dalam sinyal 3G, kadang-kadang yang muncul di notifikasi adalah huruf E atau G. Di situ kadang saya sedih. (cry)

Tapi jangan khawatir lah, selalu ada cara untuk mengakalinya. Zenfone bisa dikunci (lock) agar selalu menggunakan jaringan 3G.

Caranya?

Gak sulit kok.

Mula-mula dial nomor berikut: *#*#4636#*#* hingga muncul halaman Testing.

Lock 3G Zenfone

Pilih Phone information hingga muncul halaman Phone info.

Lock 3G Zenfone

Geser halaman tersebut ke bawah hingga nampak sebuah drop down dengan nilai yang tertera di sana WCDMA preferred.

Lock 3G Zenfone

Ketuk drop down tersebut dan pilih WCDMA only.

Lock 3G Zenfone

Nah sudah, itu saja. Gampang tho?

Kalau seandainya mengalami kesulitan dalam menghafal nomor yang harus di-dial, lebih baik download aplikasi bernama Network. Aplikasi ini intinya cuma shortcut untuk menuju ke halaman Phone info.

Selamat mencoba, semoga berhasil mendapatkan sinyal yang stabil di 3G.

Update: dari hasil googling, cara ini ternyata tidak cuma berlaku buat Zenfone doang tapi juga buat kebanyakan Android

Jokowi Koruptor, dan Prabowo Antek Asing

Okto SiLaban Okto Silaban

“Nabok Nyilih Tangan” ini istilah dalam bahasa Jawa, tapi sepertinya sudah umum diketahui masyarakat secara nasional. Belakangan (atau mungkin dari dulu kali ya), ini sering sekali dilakukan media-media online. Kalau kita ambil contoh kasus sewaktu ...

Perijinan Toko Online?

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Apakah toko online harus mendapatkan ijin? Hmmm … Dalam dunia nyata apakah kita perlu mendapatkan ijin jika kita membuat sebuah tempat untuk berdagang? Mungkin iya jika kita membuat pasar ya? Kemana ijinnya? Apakah ke Kementrian Perdagangan?

Kita lihat pro dan kontranya tentang ijin toko online ini ya.

Kontra

  • Menghambat inovasi. Ada banyak UKM dan start-up yang mencoba mengembangkan toko online. Upaya ini belum tentu berhasil. Jika pada tahap awal sudah harus memiliki ijin ini dan itu, akan mengecilkan hati para inovator ini.
  • Ijin kemana? Berapa? (Ini sebetulnya terkait dengan sebelumnya.) Hal-hal yang terkait dengan teknologi informasi biasanya terkait dengan Kominfo, tetapi untuk perdagangan biasanya terkait dengan Kemendag.
  • Ini akan menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi.
  • Bagaimana jika toko online ini dibuat di luar negeri? Jika aturan ini diterapkan, maka akan banyak start-up yang membuka usahanya di luar negeri meskipun pasarnya di dalam negeri. (Alibaba.com misalnya.) Ini justru akan merugikan Indonesia. Pengawasan juga akan makin sulit. Mungkin lebih baik bukan meminta ijin akan tetapi mendaftarkan (agar terpantau dulu)?

Pro

  • Untuk memastikan bahwa pelaku perdagangan memang benar-benar serius dalam melakukan pekerjaannya.
  • Untuk mengurangi potensi terjadinya penipuan (fraud) yang banyak terjadi secara online. Bahkan Indonesia dianggap sebagai tempat yang banyak melakukan transaksi palsu. Stereotype ini yang harus kita perangi. (Atau memang ini sungguhan?)

Bagaimana pendapat Anda?


Filed under: Bisnis, e-commerce, Start-up, Teknologi Informasi Tagged: Bisnis, e-commerce, postaday2015, Start-up, Teknologi Informasi

Photoshop 1.0

Orangescale.NET Thomas Arie

No live preview, no layers, one-time Undo. Yes, it was 25 years ago.

Bye OPPO R819

Orangescale.NET Thomas Arie

Last week, during my business trip to Jakarta, I lost my OPPO R819 phone which I bougt almost two years ago. It was my second Android phone I ever had. I liked it a lot for its design and features. I’m thinking of getting a new Android phone. But… what?

#1 Non-Profit E-commerce Consulting in Indonesia

Okto SiLaban Okto Silaban

E-Commerce betul-betul sangat seksi di Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Dari mulai level perorangan sampai grup-grup konglomerat lokal pun ikut berkecimpung ke ranah ini. Djarum dengan BliBli.com dan Kaskus-nya, Lippo Group dengan MatahariMall.com nya, XL ...

Teka Teki Kriptografi

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Apakah ada pesan tersembunyi di dalam barisan karakter yang terlihat random seperti ini?



GF03hD3rkwvt9CTbYL93UiUTGjCCsPCoTfFe0ado2axJ
4JTWFtssu4NB7pzFFA3bRr5tbWa87VOwPgf9SpNWgEM=
jPKW=MmpJ1z8snQiRSUxXDSZXptsbVwTClxVbkrjGyNL
mglQYWRqyAWLuWV4h0PSPff2BEmffmatkpx1HpaYC8jB
JCT92CUC2dZnG9HAbThO8hjiJvWZknSLKl=jbc8BX43k
9ypGd9WLUrXxi6xpsfBH8oUVlDKDgnRL4H1DB6CkxBi6
2l68XnOPzuwZjokYsKnPqcx5Ys0fa2bsz7en7PeYlGDj
1EEhXzdhv4qBlRgZtBBMqXI0j2xwxWzOu189f=u9r=1S
xNtXFQHZutGsiYYtljSXVM1cQodvCr6wRTDd6crqdh5P
EgBCxuhW82EeRGLHb8vFhjtcKb6IXs=IAa1uqEXpmkgN
TDFZ1WcaVvsz4A=MO=JwfGRUZClS9vIsSpi85eepHNeg
U2FsdGVkX18RgbSjoOwUuLO5sC2sHjA+1vkI2gUkouU=
42xkVb5G6KF69MoFrp8a45CVLOv6FtpW2uHW6hlm=0HY
j73dWO4eg3f=HnDi2JdRG4pb8SCUSfdxJyCGKv9Rc02P
ZjMbCzwj=inmwCcDvnIY7TRjpuW7IzLEyf62OlPg=uFO
G96oWfPDz0Pp6Y4sFC4FGd9w8Wx8b61ykjEpwB46Fca2


Jika ada, apa isi pesannya?


Filed under: cryptography, security, Teknologi Informasi Tagged: cryptography, postaday2015, security, Teknologi Informasi

Review Singkat Kingston MicroSDXC Class 10 64 GB

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Pemilik ponsel, khususnya yang berembel-embel “cerdas”, ditambah pula jika dilengkapi dengan kamera yang mumpuni, pastinya tak akan pernah puas dengan media simpan standar bawaan ponselnya. Kebutuhan akan penyimpanan data akhir-akhir ini bisa dibilang sangat tinggi, apalagi jika pemilik ponsel tersebut suka memotret dan selfie.

Untunglah sebagian besar ponsel cerdas tersebut memiliki kemampuan untuk diperluas kapasitas simpannya dengan menambahkan MicroSD. Dan untung pula, tersedia MicroSD dengan kapasitas besar, salah satunya adalah Kingston MicroSDXC Class 10 dengan kapasitas 64 GB.

Kingston MicroSDXC Class 10

Berikut kesan saya tentang Kingston MicrosSDXC Class 10.

Saat membelinya, pastikan Anda tidak hanya mendapatkan MicroSD-nya saja, tapi juga lengkap dengan adapternya. Adapter tersebut diperlukan saat MicroSD tersebut hendak dibaca pada card reader atau notebook yang dilengkapi fitur card reader. Dengan adanya adapter ini, pengguna bisa dengan mudah memindahkan data dari ponsel ke PC atau notebook.

Kingston MicroSDXC Class 10

Saat MicroSD hendak dimasukkan ke dalam ponsel, baca buku petunjuk ponsel tentang cara memasukkannya.

Kingston MicroSDXC Class 10 berkapasitas 64 GB ini telah diformat dengan sistem file FAT32. Pada kebanyakan kasus, format ini dapat langsung dikenali oleh berbagai macam merk ponsel dan tidak perlu diganti ke format lain.

Ketika saya coba pada Microsoft Lumia 535, MicroSD ini langsung dikenal dengan baik. Dan sudah jelas fitur pengelolaan media simpan Lumia langsung aktif. Pengguna bisa mengarahkan proses penyimpanan berikutnya ke dalam MicroSD ini. Yang bisa disimpan bukan cuma dokumen, foto, atau video, melainkan juga aplikasi.

Kingston MicroSDXC Class 10

Kingston MicroSDXC Class 10 ini memiliki kecepatan transfer data minimal 10 MB/s sehingga tak heran enteng-enteng saja digunakan untuk menyimpan aplikasi tanpa membuat aplikasi menjadi lag. Dengan kecepatan segitu pengguna juga bisa merekam video dengan kualitas HD 1080p dan menyimpannya langsung ke Micro SD. Jadi bukan cuma pengguna smartphone yang bisa memanfaatkannya dengan optimal, fotografer dan cameraman pun akan puas merasakan kecepatan transfer data sedemikian tinggi.

Dan ingat, dengan garansi seumur hidup yang diberikan oleh Kingston, Anda dijamin tak bakal khawatir soal kualitas bangun (build quality) MicroSD ini.

Mengapa Tampilan Aplikasi Website untuk Enterprise Jelek?

Okto SiLaban Okto Silaban

Mungkin anda familiar dengan beberapa aplikasi website yang dibuat untuk enterprise (red: big corporate). Biasanya tampilannya jelek. Seperti dibuat jaman Geocities.com masih beredar. Padahal mungkin aplikasi tersebut dibuat tahun 2014. Cukup aneh ya? Di saat ...

Rahasia Hit Web Site Yang Besar: How to generate web traffic

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Di lapak sebelah sedang ada diskusi tentang bisnis yang terkait dengan menghasilkan ranking-rankingan di internet. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana menghasilkan hits yang besar. Saya mencoba menyimak, tetapi nampaknya banyak hal yang ditutup-tutupi. Atau mungkin memang ada banyak hal yang sifatnya tidak pasti (not exact). Dengan kata lain, coba-coba. he he he.

Ya ampun. Bisnis / layanan dibangun di atas coba-coba. Nekad amat. Tapi ada saja orang yang mau dengan iming-iming uang yang besar. Instant fame and fortune. Maka berbondong-bondong orang mencari “rahasia” marketing di internet.

Saya tahu rahasia itu. Mau tahu? Jawaban dari kesuksesan marketing di internet adalah …

KERJA KERAS!

Itu dia rahasianya. hi hi hi. Ternyata bukan rahasia ya?

Nah, sekarang saya ingin berbagi ilmu dengan para pembaca sekalian. Salah satu kata kunci yang sering dicari orang Indonesia adalah “lowongan pekerjaan” (loker). Maka banyak tempat (situs) yang membuat tulisan tentang lowongan pekerjaan, meskipun sesungguhnya di tempat itu tidak ada lowongan pekerjaan. Ini nakal menurut saya. Tapi begitulah salah satu abuse yang dilakukan untuk menghasilkan traffic.

Silahkan dicoba di situs Anda. Buatlah berita-berita tentang lowongan pekerjaan. Anda tinggal comot informasi lowongan pekerjaan itu dari sana-sini. Misalnya, cari informasi mengenai lowongan pekerjaan di kantor Anda atau dari surat kabar loka. Ketikkan di web Anda. Pasti banyak yang berkunjung. Syukur-syukur kalau ternyata malah situs Anda yang dijadikan rujukan untuk lowongan pekerjaan karena menjadi agregator lowongan pekerjaan di Indonesia. Bahkan mengalahkan situs-situs yang sudah ada sekarang ini karena Anda lebih rajin dari mereka. (Baca: Anda bekerja lebih keras dari mereka. hi hi hi.)

Selain lowongan pekerjaan ada beberapa kata kunci lain yang rajin mengunjungi blog ini. Lain kali akan saya ulas mengenai kata kunci yang lain tersebut.

Semoga bermanfaat. Sementara itu saya kembali melakukan … kerja keras!


Filed under: Bisnis, marketing, SEO, Start-up, Teknologi Informasi Tagged: Bisnis, marketing, postaday2015, SEO, Start-up, Teknologi Informasi, traffic

PocketKUMI 1.0, Desktop, dan Android

BennyChandra.com Ben

Belum lama ini, saya merilis PocketKUMI versi 1.0. Akhirnya… Asal tahu saja, ini merupakan pembaruan pertama sejak aplikasi sederhana itu hadir di Firefox Marketplace pada 21 Juni 2013 lalu....

[ » ]

Preview: New Google Contact

Orangescale.NET Thomas Arie

Google is about to roll out its Google Contact service page. On a personal note, I use Google account to organise my contacts or address book. So far, I think this is the best solution (for me) since I use multiple devices and I need to have the simplest mechanism to manage the address book.

Google Contact

If you want to see the preview, go to contacts.google.com/preview. It will be available for Gmail and also Google App Domain.

Free 2 GB Storage for Google Drive

Orangescale.NET Thomas Arie

I finally got my free 2 GB additional storage for my Google Drive account.I got this additional storage after participating at the previous Google’s Security Checkup.

Screen Shot 2015-03-09 at 1.38.19 PM

Even for now, I still have enough room for my Drive. I only utilise around 30% of my current 17 GB. But, since I’m planning of having my photos and some documents also backed up to Gooogle, I think it will increase very soon. Even if I need more room for storage, $1.99/month for additional 100 GB is still reasonable.

Screen Shot 2015-03-09 at 1.48.53 PM

Katanya Loyal sama Produk Lokal ?

Okto SiLaban Okto Silaban

“Kita tuh jangan mau dikuasai asing. Cobalah belanja pake Tokopedia, Kaskus, Bukalapak. Social medianya pakai Sebangsa atau Mindtalk. Sudah offline dikuasai asing, masa online juga.” Tapi ditulis di Facebook, pake henpon produk Korea yang diproduksi ...

Lomba Open Source 2015: IBM Developers War Day

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Kabar gembira untuk para pengembang software open source. Akan ada lomba pengembangan software / aplikasi berbasis open source.

Kick off akan dilakukan hari Kamis tanggal 19 Maret 2015 di Jakarta. Saya akan menjadi salah seorang pembicara di sana.

  • Tempat: Borobudur Room – PT IBM Indonesia
  • The Plaza Office Tower Lantai 16
  • Jl. M. H. Thamrin Kav. 28-30, Jakarta
  • Waktu: 16:00 – 18:00

Brosurnya ini:

IBM Developer War Day

Sampai bertemu di sana.


Filed under: open source, Teknologi Informasi Tagged: IBM, IT, open source, postaday2015, Teknologi Informasi

Para Pawang Burung Biru

Okto SiLaban Okto Silaban

Saya sering mendapatkan para pawang burung biru (sopir taksi Blue Bird) yang punya latar belakang yang tidak umum. Ada yang sarjana, ada yang S2, ada yang freelancer di media, ada juga yang jadi reseller jasa ...

1 liter of light

Aku Ingin Hijau Aku Ingin Hijau

1_liter_of_light_project_png1d

Indonesia adalah negara kepulauan yang mana masih banyak sekali tempat yang tidak memiliki sambungan listrik.

Banyak rumah-rumah yang walaupun menjadi tempat bernaung saat hujan, saat berada di dalam rumah di siang hari pun tetap gelap karena tidak ada listrik dan lampu.

Tentunya bukan saja Indonesia yang memiliki tantangan ini; banyak negara lain pun sama, dan seperti kita juga, pemerintahnya tidak bisa banyak berbuat apa-apa.

Tetapi ketika ada tantangan, maka ada kesempatan untuk ber-inovasi.

Salah satunya adalah organisasi Liter Of Light yang berasal dari Filipina, dan saat ini sudah menyebar ke banyak negara di dunia.

Inovasi yang dibuat adalah membuat lampu buatan dari botol plastik bekas yang dapat di tempelkan di atap asbes atau lainnya, dan menggunakan cahaya alami matahari.

®A-Liter-of-Light-Isang-Litrong-Liwanag

Cara sederhana ini ternyata sangat membantu karena dengan adanya sinar dalam ruangan, tentunya banyak hal yang bisa dilakukan dengan lebih efisien, terutama untuk anak-anak belajar. Tentunya selain juga mudah dibuat, juga “lampu” ini terjangkau harganya oleh banyak orang.

Liter of light juga memberikan panduan cara membuat sendiri lampu buatan dari botol plastik tersebut. Anda dapat unduh disini.

Di website mereka, ditulis bahwa mereka sudah ada proyek termasuk di Indonesia, tetapi saya tidak tahu organisasi mana yang terafiliasi dengan mereka.

Pastinya, mudah-mudahan cara mudah dan sederhana ini dapat terus diperbanyak di seluruh dunia dan Indonesia agar rakyat Indonesia yang belum tersentuh listrik dapat merasakan manfaatnya.


Filed under: Berita Lingkungan Global, Energi Alternatif, Lingkungan Rumah, TeknoHijau Tagged: Isang Litrong Liwanag, liter of light

Review Film: 2014 – Siapa di Atas Presiden

Okto SiLaban Okto Silaban

Tadinya saya membaca ulasan film dengan judul 2014 ini di majalah Tempo. Ulasan film oleh Leila S. Chudori ini menyiratkan kesannya kurang puas dengan film ini. Tetapi buat saya, dengan adanya film Indonesia ber-genre seperti ...

Modem Huawei E3131 di Ubuntu 11.04

Menulis itu ... Muhammad Takdir

Paket Modem + Data dari Telkomsel

Melihat gambar di atas, paket MODIS 8 dengan modem Huawei E3131 bisa jalan dan dipasang dengan lancar pada Windows, Mac dan Android. Bahkan fitur wifi nya pun dengan mudah diaktifkan hanya dengan klik-klik. Namun bagaimana dengan pengguna Ubuntu?

Salah satu netbook yang pernah saya install ubuntu masih menggunakan 11.04 yang kemudian harus bisa menggunakan modem ini. Dan dengan petunjuk yang disediakan di halaman http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/Deteksi_USB_Modem ternyata masih belum cukup. Kesulitannya adalah karena modem ini lebih dibaca sebagai media penyimpan daripada sebagai modem.

Berbagai cara yang ada pada hasil pencarian google, Alhamdulillah akhirnya berhasil pada link ini https://answers.launchpad.net/ubuntu/+question/255627 dan modem pun aktif dengan normal.

Tampilan desktop
Langkah-langkah,

  1. Buka Terminal
  2. Lakukan perintah di nomor selanjutnya
  3. cd ~/Downloads
  4. wget http://za.archive.ubuntu.com/ubuntu/pool/main/u/usb-modeswitch/usb-modeswitch_2.2.0+repack0-2ubuntu1_i386.deb
  5. wget http://za.archive.ubuntu.com/ubuntu/pool/main/u/usb-modeswitch-data/usb-modeswitch-data_20140529-1_all.deb
  6. sudo dpkg -i usb-modeswitch_2.2.0+repack0-2ubuntu1_i386.deb usb-modeswitch-data_20140529-1_all.deb
  7. lsusb
  8. lihat apakah kalimat ada seperti ini "Bus 001 Device 006: ID 12d1:15ca Huawei Technologies Co., Ltd."
  9. Jika Ya, lanjut ...
  10. sudo usb_modeswitch -W -I -v 12d1 -p 15ca -M 55534243123456780000000000000011062000000101000100000000000000
  11. lsusb
  12. Apakah telah berubah seperti ini "Bus 001 Device 006: ID 12d1:1506 Huawei Technologies Co., Ltd."
  13. Jika Ya, lanjut ...
  14. sudo modprobe usbserial vendor=0x12d1 product=0x1506
  15. Silahkan tunggu beberapa saat dan lihat ke applet network seperti pada gambar di atas.
  16. Selamat berselancar.
Bagaimana agar saat setelah reboot semua perintah itu tidak perlu dilakukan dan bagaimana membagi internetnya via wifi ? ;)

Beli Aplikasi Android di Google Play Store Lebih Murah dengan Kartu Kredit daripada Telkomsel Billing

Okto SiLaban Okto Silaban

Lengkap sudah. Developer aplikasi Android Indonesia bisa menjual aplikasinya di Play Store. Pengguna Android dari Indonesia juga sudah bisa membeli aplikasi dengan cara potong pulsa. Ekosistemnya sudah lengkap.

Setahu saya ada 2 operator yang menyediakan fitur ini: Indosat dan Telkomsel. Kemarin sempat terdengar kabar di Twitter kalau untuk Indosat sempat di-stop. Saya enggak tahu sekarang sudah bisa lagi atau belum.

Untuk Telkomsel Billing, saya sudah coba sendiri. Saya beli aplikasi game Kingdom Rush, dengan label harga Rp 12.000. Kata Google sih ini sudah termasuk pajak dan GST. Tetapi total biaya yang dikenakan oleh Telkomsel adalah Rp 13.440. Dari penjelasan akun Twitter Telkomsel ternyata memang harga tertera di Play Store masih belum mencakup biaya pajak PPN 10% dan biaya jasa 2%.

Saya sebelumnya pernah juga membeli aplikasi game di Play Store, namanya Game Dev Story, buatan studio game di Jepang. Seingat saya harganya waktu itu Rp 20.000. Menggunakan Google Wallet (yang terkoneksi ke kartu kredit saya). Sewaktu transaksi seingat saya tidak ada biaya tambahan lain.

Selain itu bulan lalu juga saya subscribe Majalah Tempo di Google Newsstand. Harga yang tertera adalah Rp 129.000. Informasi dari Google Wallet yang saya terima, saat transaksi biayanya tetap Rp 129.000, tanpa biaya tambahan.

Saya kurang tahu sih, apakah nanti di billing statement kartu kredit saya baru keluar biaya tambahan lain-lain terkait pembelian dengan Google Wallet ini. Asumsi saya sih tidak. Jika benar, maka kesimpulannya, kalau pertimbangannya adalah biaya, lebih murah membeli aplikasi di Play Store dengan kartu kredit (via Google Wallet) ketimbang Telkomsel Billing.

Tapi itu baru pengalaman dan info saya yang terbatas. Mungkin ada yang mau share pengalamannya?

Snapdragon, Sang Naga di Era Modern

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Kita tentu sering membaca kisah-kisah dongeng klasik, khususnya yang datang dari tanah Eropa. Di dongeng-dongeng tersebut seringkali dikisahkan akan hadirnya karakter naga, yang memiliki sosok gagah perkasa dan memiliki kekuatan super seperti mampu menyemburkan api dan bisa terbang.

Di era modern ini, sang naga ternyata tetap ada dan nyata, bukan sekedar dongeng. Sudah tentu sosoknya tidak hadir dalam bentuk kadal raksasa bersayap, melainkan kecil mungil, seolah tak berdaya. Namun jangan salah sangka, meski kecil mungil, ternyata tetap memiliki kekuatan super seperti si naga dongeng, meski sekali lagi, bukan dalam bentuk kemampuan menyemburkan api atau terbang.

Sang Naga itu adalah Snapdragon, atau lebih lengkapnya Qualcomm® Snapdragon™. Ya, Snapdragon merupakan sebuah prosesor yang menjadi jantung suatu smartphone atau tablet.

Qualcomm Snapdragon

Qualcomm sebagai perusahaan produsen Snapdragon memang sudah lama malang melintang di dunia teknologi mobile dan nirkabel, bahkan semenjak lahirnya 29 tahun yang lalu. Mereka bahkan telah menggelontorkan dana riset hingga mencapai US$ 27 milyar. Dan hasilnya?

Prosesor Snapdragon kini berhasil menjadi prosesor yang paling banyak digunakan oleh produsen peranti mobile. Jumlahnya mencapai 1350 jenis smartphone dan tablet. Salah satu produk terbaru mereka, Snapdragon 801, merupakan prosesor yang cukup populer dan digunakan oleh banyak produk ponsel terbaik, misalnya Oppo N3.

Mengapa jajaran produk ponsel terbaik menggunakan prosesor Snapdragon? Inilah beberapa alasannya:

  • Snapdragon mendukung koneksi 4G/LTE yang diyakini tak lama lagi bakal menjadi standar koneksi mobile seperti halnya 3G/HSDPA saat ini.
  • Prosesor grafis yang terintegrasi di dalam Snapdragon mendukung display beresolusi tinggi hingga 2560×2048, serta Miracast 1080p HD.
  • Mampu menangkap gambar foto dengan lebih tajam.
  • Mampu menangkap video hingga resolusi Ultra HD (4K).
  • Mendukung high-fidelity audio.
  • Konsumsi baterai lebih irit dan bahkan dengan teknologi Qualcomm® Quick Charge™ 2.0, proses isi ulang (charge) baterai menjadi lebih cepat 75%.

Dengan berbagai feature yang terintegrasi ke dalam sebuah chipset prosesor yang kecil dan ringan, Snapdragon memberikan keluwesan bagi produsen ponsel untuk merancang desain ponselnya.

Qualcomm Snapdragon

Bagi konsumen pembeli smartphone, tentunya Snapdragon akan membawa kepuasan karena performa yang begitu mantap sehingga apapun yang Anda lakukan dengan ponsel Anda, baik itu bekerja mengolah dokumen, berselancar di dunia maya, bertukar pesan teks, menelpon, bahkan hingga sekadar membunuh waktu dengan bermain game. Semua dapat dilakukan tanpa khawatir baterai akan cepat habis.

Kecanggihan prosesor Snapdragon tersebut kini malah dilirik juga oleh pemain di bidang otomotif, khususnya mobil. Prosesor Snapdragon nantinya bukan saja akan memperkuat sektor entertainment di dalam mobil seperti halnya audio, video, GPS, maupun peranti elektronik lainnya, namun juga akan menciptakan sebuah mobil cerdas yang terkoneksi satu dengan yang lainnya. Salah satu tujuan yang diharapkan dari sistem seperti ini adalah turunnya angka kecelakaan lalu lintas yang selama ini menjadi momok bagi para pengendara mobil.

Jadi kini Anda tahu bahwa dalam memilih ponsel, bukan semata-mata desain dan ukuran ponsel yang jadi kriteria pemilihan, namun perlu juga mempertimbangkan komponen yang tak terlihat, berada jauh di dalamnya, yaitu prosesornya.

Sukses dengan Situs Wisata, YogYES.com Luncurkan LokasiAsik.com

Okto SiLaban Okto Silaban

YogYES.com adalah salah satu contoh web-startup lokal yang terbilang sukses di Indonesia. Didirikan oleh Agus Supriadi dan Indah Kristianingsih tahun 2003 silam, tahun ini YogYES pun semakin mantap dari sisi bisnis. Selain “naik kelas” dengan berganti badan hukum dari PO menjadi PT. Portal Wisata Indonesia, web-company asal Jogja ini juga akan segera meluncurkan logo barunya.

Nah di luar itu, YogYES juga sepertinya tidak berhenti berinovasi. Setelah pengerjaan konsep dan teknis yang terbilang cukup lama (beberapa tahun), akhirnya YogYES meluncurkan LokasiAsik.com, sebuah situs tempat berbagi rekomendasi / memberi rating tempat makan, wisata, nongkrong, belanja, hiburan, menginap, dll. (sesuai deskripsi di webnya).

Mulai aktif setidaknya dari Agustus 2014 lalu. Saat ini LokasiAsik sudah mencatatkan paling tidak 1.000 visit per hari. Cukup besar untuk sebuah web startup yang (menurut saya) masih under the radar.

Eksekusi pemanfaatan Google Maps ke dalam LokasiAsik cukup mulus. Menemukan lokasi dan review lokasi cukup mudah dengan fitur ini. (Tidak seperti situs pencarian properti yang seringkali asal-asalan menempatkan lokasi propertinya).

Saya sendiri bukan pehobi jalan-jalan atau wisata. Jadi kurang bisa mengulas pengalaman menggunakan situs ini. Silahkan anda kunjungi dan rasakan sendiri ya.

Model bisnis? Hmm.., saya rasa bakal gak jauh beda dengan YogYES sekarang sih ya. Oh belum tahu model bisnis YogYES? Ya silahkan ubek-ubek sendiri aja ya. *blogger males*, haha.

Sejauh ini situs-situs lokal yang mengunggulkan fitur “sosial”-nya banyak yang mati. Sebutlah ada Bouncity, Wikimu, Fupei, SixReps, Koprol, BundaGaul, Goorme dan Urbanesia. Nah, LokasiAsik ini pun sekilas saya lihat fitur “sosial”-nya cukup kuat. Ini akan jadi pertaruhan yang cukup besar untuk YogYES, sekaligus jadi barometer di Indonesia, apakah sebenarnya masih ada celah untuk situs social-sharing-crowdsourcing lokal menjadi besar? Atau memang untuk masa sekarang harapan web-company Indonesia masih di seputar media online dan e-commerce saja?

Negara Pencemar Plastik Terbesar

Aku Ingin Hijau Aku Ingin Hijau

Majalah MotherJones menerbitkan sebuah artikel menarik mengenai negara pencemar plastik terbesar.

Disebutkan bahwa pulau buatan dari plastik yang ada di lautan pacific luasnya sudah mencapai kira-kira 2 kali negara bagian Texas, Amerika Serikat, dan terlihat dari luar angkasa.

Lalu disebutkan bahwa majalah Science mencoba menghitung banyaknya plastik di laut dan beratnya mencapai 1.3 kali berat Pyramid yang ada di Giza, Mesir.

Studi lainnya dilakukan oleh Jenna Jambeck dari University of Georgia untuk mengira-ngira jumlah sampah plastik yang dibuang oleh 192 negara yang memiliki pantai.

Dibawah ini adalah hasilnya:

plastic-ranking

ocean-plastic-chartDilihat dari data saat ini dan juga perkiraan di masa mendatang, maka Indonesia ada di ranking nomor 2 setelah negara Cina.

Ternyata inilah bukti perilaku orang Indonesia yang tidak peduli dengan lingkungan, membuang sampah sembarangan, baik di got, kali, sungai hingga langsung ke laut, karena semua itu pada akhirnya juga sampai ke laut.

Karena plastik itu murah, maka mulai dari tukang tahu tempe di pinggir jalan, tukang ayam di pasar, hingga pasar swalayan modern, semua menggunakan plastik sebagai wadah pembawa barang, yang mana sangat mudah di buang, dan saat dibuang, sangat sulit untuk terdaur-ulang.

Bagaimana menurut anda cara yang baik untuk menanggulangi ini?

Baca juga:

  1. Saluran got bukan tempat sampah
  2. Waduk Cirata, pembawa berkah yang dipenuhi sampah
  3. Fakta sampah Jakarta

Filed under: Berita Lingkungan Global, Fakta Lingkungan Tagged: kantong plastik, plastik, sampah plastik

Seperti Inilah Sulitnya Membuat Satu Halaman Website

Okto SiLaban Okto Silaban

Sewaktu saja masih belajar HTML saja (jaman SMA), saya enggak pernah percaya kalau membuat satu halaman website static, bisa membutuhkan waktu 2 bulan, bahkan lebih. Karena secara teknis, tidak besar tantangannya. Tetapi setelah saya bekerja, ternyata kenyataannya seperti itu.

Saya ambil contoh. Halaman website yang perlu dibuat isinya hanya: judul singkat dalam format teks, satu video, dalam satu halaman website. Tidak perlu ada animasi, efek-efek aneh-aneh, kolom komentar, dll. Benar-benar hanya halaman website biasa, dan static (tidak ada informasi yang secara regular diupdate).

Bagi web developer, ini pun tergolong mudah. “Ahh elah.. Bikin satu page HTML. Kasih tag <h1> di judul. Videonya pake JWPlayer aja. Kalau mau agak bagus, pakai aja template-template jadi. Atau biar di mobile enak dilihat, pakai Bootstrap atau Foundation juga bisa. 20 menit juga itu jadi maahh…”

Kenyataannya? 2 bulan ! Beneran. Total waktu dibutuhkan dari permintaan itu disebutkan, sampai dengan akhirnya halaman website itu jadi, bisa jadi butuh waktu 2 bulan, atau bahkan lebih. Kenyataan itu keras bung. Di perusahaan-perusahaan besar ini awam terjadi. Kenapa bisa begitu? Begini contohnya:

Hari 0

Presiden Direktur mengirimkan email ke Direktur Marketing, isinya seperti ini:

“Tolong buat satu halaman di website (perusahaan) kita. Judulnya “Penghijauan Kembali Lahan Bekas Tambang”. Terus kasih video dokumentasi aktifitas CSR perusahaan kita disitu. Videonya ada di DVD. Tadi saya sudah minta tim saya mengantarkan DVD nya ke meja. Kalau sudah jadi, kasih tahu saya.”

Hari 1-3

Direktur Marketing meneruskan email tersebut ke web developer di perusahaan tersebut. Dengan permintaan seperti ini, tentu  pikiran pertama si developer adalah membuat page HTML biasa, static. Kasih judul. Tempelkan videonya, playernya menggunakan plugin JWPlayer. Selesai.

Seperti halnya proses bisnis di perusahaan besar lainnya, semua hal harus ada approval setelah final. Karena itu, setelah halaman website ini jadi, harus minta approval dulu sebelum ditampilkan ke publik. Developer harus minta review dan persetujuan Direktur Marketing terlebih dahulu sebelum halaman website nya dipublikasikan. Namun, karena direktur sibuk sekali, akhirnya baru dapat waktu untuk review 3 hari kemudian. (Lihat, di sini saja sudah memakan waktu 3 hari).

Direktur Marketing [DM] : “Gini aja halamannya? Kasih penjelasan dong. Ini kegiatan apa.., siapa pihak yang ada di dalam video ini, kapan.. Masak gini doang, gak informatif.”

Developer [Dv]: “Materi yang diberikan kemarin cuma itu kemarin bos. Gak ada teksnya.”

DM: “Ya kamu buat sendiri lah. Masak gitu aja gak bisa.”

Dv: “Ok bos. Siap..”

Lalu si developer kembali ke mejanya, menambahkan satu paragraf dalam bahasa Indonesia. Isinya penjelasan video itu tentang apa, kapan, dan dimana. Selesai edit, developer kembali ke ruang Direktur untuk review lagi sebelum di-publish. Tapi direktur marketingnya sudah pergi ke ruang lain untuk meeting lain. “Besok sore aja, dia kosong kok besok sore.”, ujar sekretarisnya.

Hari 4

Keesokan sorenya, developer masuk ke ruang Direktur Marketing.

Dv: “Sudah saya tambahkan bos penjelasannya. Sudah bisa saya publish kah?”

DM: “Hmm.. ya masih terlalu plain sih. Tapi ya sudahlah. Coba kamu ke bagian PR (Public Relation). Kalau mereka OK, ya sudah publish aja.”

Developer tidak menemukan tim PR di mejanya. Sepertinya sedang di luar kantor semua, acara media gathering. Dikirimlah email, beserta link halaman websitenya (masih di server development). Tetapi tidak ada balasan, mungkin karena semua tim PR memang sedang kelimpungan juga mengurusi acara di Kempinski hingga tengah malam.

Hari 5

Salah satu tim PR akhirnya membalas email : “Ini apa ya?”

Developer mengangkat telpon, dan menjelaskan ke mereka ini tentang apa. Lalu tim PR bilang: “Ok sih. Tapi videonya harusnya pakai yang lebih baru aja. Nanti aku minta tim dari Kalimantan kirim deh videonya.”

Hari 6-8

Tim dari Kalimantan belum mengirimkan videonya. Developer menanyakan kembali via email ke tim PR.

Tim PR: “Oh iya sorry. Videonya masih di-edit di agency. Tapi besok sudah kok katanya.”

Hari 9

Video sudah diterima. Konversi lagi ke format mp4, ubah ukuran resolusi, dan upload. Karena ada perubahan video, developer inisiatif menemui lagi Direktur Marketing, sekadar update saja. Kenapa tidak via email? Sudah jadi rahasia umum, Direktur Marketing mereka tidak suka diskusi sesuatu yang visual via online. Harus face-to-face.

Ternyata beliau tidak di tempat. Sang Direktur Marketing sedang di kantor Google. Katanya mau ada program promosi bersama. Jadi halaman website ini direview oleh tangan kanannya yang ber-title: General Manager [GM]. GM nya ini belasan tahun berkarir sebagai supervisor di lapangan sebelum naik jabatan dan pindah divisi ke Marketing.

GM: “Ini videonya kok tentang tanam-tanam pohon semua sih? Emangnya perusahaan kita bisnisnya tanam pohon?”

Dv: “Err.., ini untuk campaign program CSR kita bos. Bukti kita peduli sama lingkungan.”

GM: “Eh.. ujung tombak perusahaan kita itu jualan semen. Ya harus ditunjukkan. Paling enggak, editlah videonya, diselipin aktifitas pabrik dan penjualan kita. Inget ya, kita itu harus selalu ingat kerja keras teman-teman kita di pabrik dan di bagian penjualan. Kalau butuh video-video lainnya, minta tim PR. Mereka pasti punya banyak koleksi videonya.”

Dv: “Siap boss..!”

Hari 10-13

Tim PR memberikan beberapa koleksi videonya. Developer akhirnya minta tolong tim desain untuk membantu edit video. Tapi karena tim desain sedang kejar deadline membuat poster sponsor Liga Super Indonesia, edit videonya harus menunggu 3 hari.

Hari 14

Video sudah jadi. Sudah diupload. Tim PR juga OK. Di dalam rapat bulanan para bos-bos, GM menyempatkan untuk menunjukkan halaman website tersebut ke Direktur Marketing. Kebetulan di sebelahnya duduk Direktur Operasional [DO]. DO ini berkewarganegaraan Perancis, negara asal induk perusahaan ini.

DO: (dalam bahasa Inggris) “Kenapa teks penjelasannya dalam bahasa Indonesia saja? Kamu pikir perusahaan holding kita di Perancis bisa Bahasa Indonesia semua?”

Developer kembali minta tolong tim PR, agar membuat teksnya dalam bahasa Perancis juga.

Hari 15

Developer menunjukkan halaman websitenya ke Direktur Marketing.

DM: “Gue sih sudah Ok. Tim PR juga sudah OK kan? Ya udah, publish aja.”

Dv: “Okee. Siaap bos..”

DM: “Eh bentar. Coba tunjukin juga ke Direktur Operasional. Ya, biar dia tahu aja sudah diupdate, sekarang sudah ada bahasa Perancisnya.”

Developer ke ruang Direktur Operasional. Menunjukkan videonya sudah diperbaharui.

Dv: “Bos. Paragrafnya sudah ditambahkan versi bahasa Perancisnya.”

DO: “Hah? Mana? Ini videonya belum ada subtitlenya gitu kok??”

Iya. Betul. Direktur Operasionalnya memang tidak pernah minta subtitle. Tapi kalau levelnya sudah direktur, percuma didebat.

Hari 16-19

Developer meminta bantuan tim desain lagi untuk menambahkan subtitle di dalam video. Mereka juga sedang padat jadwalnya. Jadilah butuh 3 hari baru selesai.

Hari 20

Developer menemui Direktur Operasional kembali. Kali ini dia sudah puas. Keluar dari ruangan, si Developer berpapasan dengan Direktur IT (DI). Ditanya, lagi project apa kok tumben ke ruang Direktur Operasional. Developer menjelaskan tentang halaman website ini. Dia kaget, karena tidak tahu ada “project” ini. Jadilah dia ikut mereview.

DI: “Ini kalau saya mau lihat di perangkat mobile bisa?”

Dv: “Err, kayaknya enggak sih bos. Harus ada penyesuaian lagi.”

DI: “Kenapa gak taruh di YouTube aja sih? Terus embed ke halaman web ini. Jadi pasti bisa dilihat di perangkat apapun kan?”

Dv: “Iya sih bos.”

DI: “Ya sudah, taruh di YouTube saja. Sekalian gitu loh, biar YouTubers bisa lihat”

Hari 21-35

Video sudah di-upload ke YouTube. Halaman website sudah jadi, tinggal di-publish. Tiba-tiba Direktur PR [DP] mendatangi meja si developer.

DP: “Eh, saya kok ketemu video kegiatan CSR kita di YouTube ya? Bocor darimana itu ya?”

Dv: “Loh, emang saya yang upload bos. Biar bisa di-embed di halaman website kita.”

DP: “Kamu upload di akun YouTube siapa?”

Dv: “Akun saya pribadi bos”

DP: “Ya mana bisa gitu.. Kalau video resmi perusahaan, ya harus diupload di akun resmi perusahaan. Kamu jangan sembarangan.”

Dv: “Akun resmi kita di YouTube apa, bos?”

DP: “Coba kerjasama sama tim saya saja. Mereka yang tahu.”

Developer menemui tim PR. Dan ternyata Perusahaan tidak memiliki akun resmi apapun di social media kecuali Twitter. Dan ternyata, secara policy, setiap pembuatan akun social media resmi di tiap-tiap negara, harus melalui proses submit, review dan sertifikasi dari perusahaan induknya di Perancis. Proses ini memakan waktu paling cepat 2 minggu.

Hari 36

Akun resmi perusahaan di YouTube sudah jadi. Video sudah diupload. Halaman website juga sudah jadi. Tinggal publish. Lalu datanglah email dari Direktur PR.

DP: “Jangan lupa, pastikan legal tahu ya. Siapa tahu di dalam video ada muncul brand lain yang kita tidak punya ijin untuk menampilkan. Banyak alat-alat pabrik yang terlihat di video itu soalnya.”

Developer memastikan via email ke Tim Legal [TL].

TL: “Ohh. Gak apa-apa kok brand itu muncul di video. Soalnya masih dalam batas wajar, toh gak diomongin. Eh iya, Talent Release nya tolong kirim ke saya ya.”

Dv: “Talent Release apaan bos?”
TL: “Itu loh. Kalau ada muka-muka orang yang muncul di video, kan harus ada perjanjian tertulis kalau mereka memang bersedia ditampilkan. Apalagi kalau mereka pekerja third-party, bukan karyawan kita. Sudah ada kan dokumennya?”

Developer tidak pernah tahu soal ini, jadi tim PR lah yang ditanyain. Dan mereka juga kurang tahu, tim di Kalimantan (yang membuat video di lapangan) lah yang tahu. Dan ternyata memang belum ada dokumen tersebut. Butuh waktu 3 minggu untuk tim di Kalimantan bisa melacak satu per satu orang-orang di video tersebut untuk dimintai persetujuan legalnya.

Hari 57

Akhirnya semua dokumen lengkap. Developer membantu tim legal mensortir dokumen Talent Release tersebut. Di saat itu tim HR juga sedang di ruang legal untuk mengurus perkara tuntutan serikat buruh. Mereka melihat video di preview halaman website ini.

Tim HR: “Eh ini videonya untuk publish di internal kan?”

Dv: “Enggak bos. Ini untuk di website. Belum di publish sih.”

Tim HR: “Hah? Untuk umum?! Eh.. jangan dipublish dulu. Ini video orang-orang di pabrik gak beres semua. Lihat tuh, ada yang gak pakai helm, safety shoes, vest standar perusahaan. Yang di kantor juga gak pakai ID Card.”

Dv: “Ya gak keliatan norak kok bos. Masih bagus kok keliatan di videonya.”

Tim HR: “Bukan gitu. Kita ini kan punya standar ISO, sertifikasi HSE (Health, Safety & Environment), dan sertifikasi – sertifikasi lain. Jadi yang kaya gini ini gak boleh ada lagi harusnya. Apalagi kita bentar lagi mau di audit. Kalau video ini bocor, bisa berabe kita. Ah.., untung saya kesini, jadi halaman webnya belum sempat dipublish. Hampir jantungan saya..”

Dv: “Errr…, halaman webnya belum sih bos. Tapi.. anuu.., videonya sih sudah ada di YouTube dari hampir 2 minggu lalu, hehehe.”

Tim HR: (pingsan beneran).

Dan akhirnya, sampai di hari ke 60 pun, halaman website yang sederhana ini tidak pernah terbit.

Variasi

Variasi dari kejutan-kejutan lainnya banyak sekali. Misal:

– Ternyata menurut tim legal, di setiap footer halaman website harus ada Disclaimer dan Copyright Policy. Tetapi setiap pemasagan Disclamer dan Copyright ini harus mendapatkan “restu” dari holding mereka di Perancis.

– Menurut Policy di IT, setiap penerbitan dokumen baru di internet (termasuk halaman website), harus dilakukan penetration test terlebih dahulu. Karena penetration test yang dilakukan ada banyak (termasuk untuk database, jaringan, firewall, dll), terpaksa masuk antrial jadwal penetration test dulu.

– Di tengah-tengah proses ini, bisa jadi tim leader di Kalimantan ada yang resign. Jadi proses administrasi dokumen Talent Release tadi bisa jadi bakal berantakan.

– Direktur Keuangan tidak setuju dengan video yang ditampilkan. Menurut dia, prinsip keterwakilan tidak ada di video ini. Yang muncul hanya orang-orang pabrik, dan tim CSR. Seolah-olah tim keuangan tidak penting di perusahaan. Padahal video ini adalah image perusahaan untuk umum. (Iya, rada absurd sebenarnya, tetapi ini mungkin sekali terjadi).

– Seorang VP dari Perancis, tangan kanan Group CEO, ternyata sedang berkunjung ke Indonesia. Dia baru saja menghadiri seminar Digital Creativity for Enterprise di Singapore. Dia bilang “Saya kemarin ikut seminar. Itu isinya ahli-ahli semua. Mereka punya data hasil riset resmi. Jadi mereka bilang, untuk membuat nyaman melihat screen komputer dalam waktu lama, harus dominasi warna biru dan putih. Tolong semua elemen di halaman website ini dibikin desainnya kebiru-biruan ya.”

dst..

Jadi kalau ada yang bilang ke anda, “Saya baru menyelesaikan proyek saya, lama banget, 6 bulan. Padahal bikin 1 halaman website aja sih.” Bukan berarti halaman websitenya itu rumit sekali dan banyak fitur. Tetapi prosesnya itulah yang rumit dan “penuh fitur”.

Catatan: #bukancurcol Ini fiksi dari gabungan pengalaman bekerja sebagai web developer, konsultan untuk client dan bekerja di client. Nama departemen, jenis bisnis, dll nya hanya random aja. Semuanya sekadar untuk ilustrasi.

Hari 61

Presiden Direktur [PD] memasuki ruang Direktur Marketing.

PD: “Didn’t I tell you to make a new page on our website?”

DM: “Oh, yes, sir. I remember that.”

PD: “SO WHERE THE F**K IS THE WEB PAGE??!! I WANNA SEE IT..!”

DM: “Eh.. mm.. IT still working on it, sir. ” (senyum kecut)

PD: “2 months for a single web page??! I’m gonna f**k IT Department ! ”

 

 

 

Mungkin Blibli.com Lelah

Okto SiLaban Okto Silaban

Jadi, beberapa waktu lalu saya melihat harga tablet Nexus 7 32GB LTE di Lazada jauh di bawah harga rata-rata, 2,7jt. Normalnya sekitar 3,7juta. Saya jadi penasaran di Blibli.com kira-kira harganya berapa. Saya googling dengan kata kunci “nexus 7 blibli”. Keluar iklan dari Blibli di halaman hasil pencarian. Seperti ini isinya :

Wah.., jangan-jangan harga Nexus 7 emang lagi jatuh, pikir saya. Dan setelah linknya dibuka, yang keluar hanya halaman seperti ini:

Ah, sudahlah. Mungkin blibli.com sedang lelah.

Yang di Lazada? Besoknya saya cek lagi, harganya sudah kembali normal, 3,7 juta. Entahlah, apa adminnya salah input, atau waktu saya lihat itu lagi flash-sale.

IGOS Nusantara X.1

suryana.or.id » Planet Terasi ns

IGOS Nusantara X.1 rilis pada tanggal 27 Pebruari 2015. IGN X.1 menyediakan beragam penambahan dan pembaruan fitur serta melakukan beragam perbaikan, yaitu (1) Tersedia varian IGN XDE (sepuluh desktop) (2) Perbaikan beragam fungsi dan tampilan desktop. (3) Kertas dinding (wallpaper) […]

IGOS Nusantara Server 2.0

suryana.or.id » Planet Terasi ns

IGOS Nusantara Server 2.0 atau IGN Server 2.0 adalah pengembangan yang konsisten untuk menyediakan versi server. Pengembangan IGN Server telah dilakukan sejak tahun 2013. Pengembangan awal dimulai dari tahun 2013 dengan memakai kode IGN X9 -> IGN S9 -> IGN […]

IGOS Nusantara Server 1.0

suryana.or.id » Planet Terasi ns

IGOS Nusantara Server 1.0 atau IGN Server 1.0 adalah pengembangan yang konsisten untuk menyediakan versi server. Pengembangan IGN Server telah dilakukan sejak tahun 2013. Pengembangan awal dimulai dari tahun 2013 dengan memakai kode rilis IGN X9 -> IGN S9 -> […]

Membangun Purwarupa Quadbike Listrik

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

20150216_144010

Sudah 1 tahun terakhir ini saya mengerjakan pembuatan quadbike atau sepeda roda 4 dengan tenaga listrik. Secara teknis, kendaraan ini menggunakan komponen sepeda, namun pedal kayuhnya sudah dihilangkan. Pembuatan quadbike ini dimulai dari bulan Februari 2014, yaitu pembuatan rangka body di 3abike Bandung, dan dilanjutkan dengan finishing di bulan Januari 2015 di Yogyakarta oleh mas Wiwien Vegas yang juga adalah pemilik bengkel pembuatan mobil listrik Mobilijo Yogyakarta.

Quadbike atau quadricycle elektrik ini ditenagai oleh baterai 48V 20Ah dan mesin Brushless DC 48V 750 Watt dan memiliki kecepatan jelajah maksimal 35km/jam dengan jarak tempuh sejauh 35 km, sehingga cukup untuk pergi dan pulang dari kantor. Saat ini, quadbike ini standby di markas dan menjadi icon untuk konsep green energy.

Pengembangan berikut yang bisa dilakukan pada sepeda listrik roda 4 adalah pada penambahan kapasitor untuk meringankan beban hentakan arus dari aki dan panel solar cell untuk recharge selama diparkir. Sementara sampai ini dulu, baru besok dilanjut ketika sudah agak luang ya.. Ditunggu urun rembug dari rekan-rekan semua.

Begini Pengalaman Saya Melaporkan SPT (Pajak Penghasilan) Secara Online

Okto SiLaban Okto Silaban

djp

Tahun 2013

Tahun 2013 lalu, saat masa pelaporan SPT saya diberitahu kalau fitur pelaporan SPT secara online sudah tersedia. Alamatnya djponline.pajak.go.id. Setelah mendengar presentasi tim dari kantor Pajak sekilas saya rasa agak ribet. Karena pembuatan dan aktivasi akunnya masih membutuhkan proses manual ke Kantor Pajak.

Jadi untuk bisa melaporkan secara online kita harus memiliki akun terlebih dahulu. Nah untuk bisa aktif, akun ini perlu verifikasi nomor e-FIN (Electronic Filing Identification Number). e-FIN ini dikeluarkan oleh kantor pajak. Nah disini perlu proses manual. Saya lupa detailnya. Saat itu dilakukan kolektif bersama rekan-rekan kerja saya. Jadi pokoknya tahu – tahu sudah dikirimin aja e-FIN nya.

Pengalaman mengisi SPT Online tahun 2013 itu juga tidak begitu bagus. Saya berhasil aktivasi, login, ganti password. Setelah logout saya gagal login lagi. Reset password, berhasil, login lagi, terus bingung cara isi form nya. Lalu saya logout lagi karena ada meeting. Kembali ke meja, login gagal, server down. Dst. Tampilan situsnya juga jelek menurut saya. Gak usah urusan desain deh,  layout (user interface) nya saja sudah membingungkan menurut saya.

Singkat cerita setelah beberapa kali percobaan, bersama teman-teman yang juga kebingungan, sebagian besar dari antara kami akhirnya berhasil menyelesaikan pelaporan SPT secara online ini. Tapi dalam hati kecil saya, saya curiga di tahun 2014 (yaitu tahun ini) nanti paling sistemnya berubah lagi, akunnya harus create lagi, dst. Disitu saya merasa sedihTM.

Lalu bagaimana kali ini di tahun 2014?

Tahun 2014

Kemarin bukti potong pajak sudah dibagikan. Saya segera mengunjungi lagi situs Pajak.go.id. Sempat bingung, pilih e-SPT atau e-Filing ya? Ya, saya kurang paham sih urusan penamaan ini. Tapi samar-samar saya ingat, di 2013 namanya e-Filing. Dan benar ternyata.

Kali ini tampilan desain webnya sudah bagus. Ok lah menurut saya. Sekilas langsung terlihat kalau webnya menggunakan framework CSS Bootstrap, lebih tepatnya theme Metronic (bahkan kelihatan screenshotnya). Bagus sih, berarti harusnya websitenya sudah responsive (layoutnya otomatis menyesuaikan untuk perangkat mobile; handphone, tablet).

Dan tibalah saat saya memasukkan username & password (usernamenya NPWP). Saya masih ingat password saya. Saya masukkan NPWP (lengkap dengan tanda titik dan garisnya), lalu password. Dan gagal. Beberapa kali saya coba gagal terus. Kenapa NPWP nya lengkap dengan tanda titik dan garis? Karena seingat saya di 2013 begitu. Dan saya cek di email saya dulu, begitu lah isi email dari sistem Pajak mengenai informasi login saya.

Nahh.., bener kan dugaan saya di 2013 dulu. Ini pasti ujung-ujungnya harus bikin akun ulang.

Reset Password

Saya coba reset password. Dhueeng..! Diminta isi NPWP, dan e-FIN. Lah e-FIN nya ada di selembar kertas tahun 2013 itu. Besoknya baru saya cek di kamar saya, ternya masih ada lembaran e-FIN ini.

Jadi tadi saya coba reset lagi, masukkan NPWP (lengkap dengan titik dan garis) dan e-FIN nya. Keluar error, NPWP nya tidak terdaftar. Loohh?? Hmmm, beneran deh ini harus registrasi ulang, bikin akun baru. Begitu pikiran jelek saya.

NPWP

Lalu saya coba lagi masukkan NPWP hanya angka saja, tanpa spasi, titik, dll, lalu e-FIN nya. Keluar pesan password baru sudah dikirimkan ke email saya. Hah??! Lohhh.., jadi dari tadi itu errornya karena saya masukkan NPWP pakai embel-embel titik dkk ternyata. Udah kadung Dirjen Pajak saya maki-maki dari tadi. Maaf ya, Jak.

Akhirnya berhasil login. Dan tampilannya bagus (lihat di atas). Lebih intuitif. Saya sih OK, kalau mas Anang juga OK.

Segera saya isi form nya satu per satu. Di bagian akhir, sebelum bisa kirim SPT nya akan muncul pop-up untuk kirim kode verifikasi. Ada pilihan email dan SMS. Tapi yang SMS gak bisa dipilih, masih pengembangan kali ya.

Kode verifikasi saya terima, saya masukkan ke form nya, lalu kirim SPT nya. Tidak lama kemudian saya menerima email  Bukti Penerimaan Elektronik.

Jadi, pengalaman saya melakukan pelaporan SPT Online tahun 2014 ini cukup memuaskan. Problem saya hanya karena dari awal memasukkan NPWP lengkap dengan titik dan garis itu. Selain itu semuanya mulus. Tampilan webnya juga sudah Ok.

Catatan:
1.    Untuk login, masukkan NPWP anda hanya angka
2.    Simpan kode e-FIN yang pernah anda dapatkan. Mungkin di masa depan ini masih dibutuhkan.
3.    Laporkan SPT anda.

Bekerja dari Rumah Tidak Selalu Lebih Baik

Okto SiLaban Okto Silaban

Kalau dengar pembicaraan orang-orang di kantor, sepertinya banyak sekali yang kepingin “work from home”. Ceritanya kerja remote gitu. Enak, gak perlu habisin waktu macet di jalan. Bisa sambil ngurus anak. Bisa bebas pake baju, gak pake baju pun bisa.

Untuk urusan komunikasi gampang. Ada Lync (kalau yang pake Microsoft-based), bisa chat, video maupun audio call, bisa share screen bahkan remote desktop juga. Katanya lagi, toh dalam satu gedung pun kenyataannya seringkali komunikasinya email-email-an toh. Jadi sama aja.

Menurut saya sih, ada banyak hal yang akan lebih cepat dilakukan jika orang-orangnya bisa dikumpulkan dalam waktu yang singkat di lokasi yang sama. Yah ini selalu jadi perdebatan sih. Mungkin kapan-kapan saya bahas jadi tulisan sendiri.

Tapi, saya lebih melihat dari lingkungan sosial. Kalau kerja remote terus dari rumah, lalu dalam sebulan cuma 4 kali ke kantor, saya rasa tidak bagus untuk hubungan sosial dengan sesama rekan kerja, apalagi dengan kultur Indonesia yang “sangat sosial” ini ya.

Karena momen-momen kerja bareng di kantor, atau sekadar makan siang bareng, atau kabur sebentar beli snack sore itulah yang membangun keakraban. Dari situ kadang berkembang jadi piknik bareng di akhir pekan rame-rame. Keakrabannya akan terbentuk secara natural, tanpa perlu dibuat kegiatan tranining khusus dari tim HR. Ya, walaupun mungkin tetap ya, di belakang diam-diam saling menggosipi. Hehe.

Betul memang keakraban antar karyawan, dengan “engagement” karyawan ke perusahaan itu bisa berbalik kondisinya. Tetapi, keakraban antar karyawan sendiri saja sudah membuat suasana kerja menjadi lebih baik.

Yahoo dan (kalau tidak salah Hewlett-Packard) dulu termasuk yang jadi pionir untuk pola bekerja dari rumah ini. Tetapi dari yang saya baca, belakangan mereka malah mengurangi secara signifikan jumlah karyawannya yang bekerja dari rumah. Alasannya klasik, lebih mudah koordinasi dan komunikasi.

Memang tidak semua jenis bisnis, dan skala perusahaan cocok menerapkan sistem kerja dari rumah ini menurut saya. Apalagi kalau yang motivasi karyawannya bekerja dari rumah adalah: biar bisa sambil masak, nonton TV, main game, bikin kue. :D

Mengganti Jenis Huruf ala-ala Medium

Okto SiLaban Okto Silaban

Setelah belakangan sering membaca tulisan di Medium.com, akhirnya kepengen juga blog ini menggunakan jenis-jenis font yang mirip. Jadilah saya eksperimen megganti font blog ini dengan Google Font. Namanya ‘Halant’. Sepertinya  lebih nyaman dibaca. Sebenarnya hampir mirip sih dengan ‘Georgia’, tapi untuk header (H1, H2, dll), jenis huruf ‘Georgia’ tebalnya agak kurang sedap dipandang.

Oh iya, saya baca dimana gitu, web-design itu 90% urusan tipografi, alias urusan huruf. Masuk akal sih. Cuma dengan mengganti jenis huruf aja (terutama website yang padat tulisan), kesan yang terlihat bisa jauh berbeda. Apalagi dengan sedikit perubahan warna huruf, jarak antar paragraf, dan ukuran besarnya huruf, (seperti yang barusan saya lakukan) kenyamanan membacanya bisa jadi jauh berbeda.

The Jakarta Post dan Firefox OS

BennyChandra.com Ben

Saya mengucapkan selamat kepada The Jakarta Post yang baru saja meluncurkan aplikasi resminya untuk pengguna Firefox OS. Selamat juga kepada Budi Putra (CEO of The Jakarta Post Digital) dan Kristiono...

[ » ]

Coba-coba Software: Web Browser

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Sebagai penggemar komputer, salah satu hal yang saya sukai adalah mencoba-coba berbagai software. Sebetulnya kegiatan ini seringkali memboroskan waktu. Enaknya sih kalau sudah ada yang mereview berbagai software ini kemudian kita tinggal menggunakan yang paling bagus. Atau, setidaknya kita bisa mengurangi waktu yang habis untuk coba-coba ini.

Kali ini saya sedang mencoba berbagai web browser. Ini hasil sementara. Semoga bermanfaat.

Browser utama saya adalah Firefox. Ada beberapa alasan mengapa saya memilih Firefox. Pertama, dia dapat dikonfigurasi dengan menggunakan Stylish. Syarat utama saya dalam sebuah aplikasi adalah fonts-nya harus dapat diubah. Fonts bawaan dari software seringkali terlalu kecil (maklum mata saya semakin tidak bersahabat – masalah usia), jelek, atau membuat saya tidak mood untuk membaca. Dengan Stylish saya dapat menggunakan fonts yang berbeda untuk situs yang berbeda. Misal untuk Gmail saya menggunakan monospace fonts, untuk Facebook fonts yang sans serif, untuk situs berita fonts yang serif, dan seterusnya. Kedua, Firefox merupakan browser yang paling aktif dalam hal pengembangannya. Masalah (security misalnya) dapat lebih cepat ditangani.

Kekurangan (masalah) dari Firefox adalah ukurannya yang besar. Bloated. Awalnya sih kecil tetapi makin lama semakin besar sehingga terasa lambat. Akhir-akhir ini saya juga banyak mengalami masalah dengan Adobe Flash di Firefox. Dia crash. Untuk berbagai situs, misal yang memutar video atau interface yang interaktif (contoh: upload foto di Facebook), Flash sering crash sehingga tidak berfungsi. (Firefox sedang mengembangkan alternatif untuk menggantikan flash.) Oh ya, ketika menulis ini, Firefox sempat hang juga. Untungnya tidak sempat crash. Hadoh. Saya belum sempat melakukan save ketika dia hang. Jadi, ngeri-ngeri bagaimana gitu. hi hi hi.

Browser pilihan kedua saya adalah Google  Chrome. Yang ini karena dia sebagai alternatif yang ada di berbagai platform. (Saya bekerja utamanya dengan sistem operasi Mac OS X dan Linux. Kadang saya masih menggunakan Microsoft Windows.) Masalah saya dengan Google Chrome adalah dengan Stylish. Kadang fonts tidak diproses dengan baik. Misalnya, fonts untuk tampilan sudah benar tetapi ketika kita pindah ke bagian forms atau sejenisnya dia balik ke fonts bawaannya yang kadang tidak saya sukai. Chrome ini pun makin lama – sama seperti Firefox – makin berat. Tambahan lagi saya juga pasang Chromium yang juga sebetulnya sih masih Chrome juga. Adanya dua Chrome-based browser ini kadang membingungkan komputer saya.

Selanjutnya browser saya di Macbook adalah Safari. Browser ini sayangnya hanya ada di Mac OS X. Jadi sangat spesifik. Terlebih lagi dia tidak memiliki fitur untuk dikonfigurasi sebagaimana halnya Firefox dan Chrome. Jadi saya terjerat dengan fonts bawaannya dia, misalnya. Saya gunakan Safari hanya sebagai alternatif saja kalau Firefox dan Chrome tidak bisa jalan.

Selain browser-browser di atas yang sudah stabil dan mainstream, saya sekarang sedang suka menggunakan browser Vivaldi. Ini adalah browser yang dikembangkan oleh pengembang Opera. Opera dahulu dikenal sebagai browser yang paling cepat responnya dan tersedia di handphone pula. Vivaldi terasa cepat dan juga Flash tidak crash di dalamnya. Hanya saja memang Vivaldi tidak memiliki fitur untuk dikonfigurasi dengan menggunakan Stylish. Ah.

Browser lain yang saya sedang coba juga adalah Midori. Yang ini baru tersedia di Linux saja. Rasanya juga cepat, mirip seperti Vivaldi. Masalahnya juga sama, yaitu tidak dapat dikonfigurasi. Mari kita lihat apakah saya akan suka dengan Vivaldi & Midori ini.


Filed under: Opini, Teknologi Informasi Tagged: opini, postaday2015, Teknologi Informasi

Waiting for my Website Stencil Kit from UI Stencils

Orangescale.NET Thomas Arie

Last December 2014, I decided to buy Website Stencil Kit directly from UI Stencils website. Actually, I wanted to buy the other stencil kits, but since this is my first-time experience buying from this site, I purchased an item only. This is not my first international order since I have been ordering items from outside the country (Indonesia) few times. I had no issues purchasing books from Amazon, Smashing Magazine, and also some other goods from online stores. So, this is a valid reason to buy some stuff online.

I understand that it takes time. I had my Smashing Magazine’s The Mobile Book after waiting (and made another confirmation) for about 6 months. Amazon usually took 3-4 weeks.

wstn01721205812057

I had my order confirmation from UI Stencils on December 26, 2015. Yes, I was aware that it might take a little bit longer since it was during Christmas and New Year holidays. The total transaction was $35.50 ($6.50 for shipping). A week after that, I got another email confirmation informing that my order have been shipped.

It’s been almost 6 weeks and I haven’t received my order. Well, I think I just need to wait a little bit longer.

Menjajal Windows 10 Technical Preview

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Ndak terasa Microsoft sudah akan merilis Windows versi baru lagi. Versi terbaru Windows yang tadinya digembar-gemborkan akan punya nama Windows 9 ternyata bikin kecewa banyak orang karena tebakannya salah. (upss)

Jadi Windows terbaru ini akan punya nama Windows 10. Persisnya sih tidak diketahui mengapa tiba-tiba loncat dari Windows 8 ke Windows 10. Barangkali kalau diberi nama Windows 9, nanti seandainya dapat service pack sampai 5 kali atau 8 kali akan bikin bingung, soalnya namanya jadi Windows 9.5 dan Windows 9.8. Sangat berpotensi keliru dengan Windows 95 dan Windows 98. (lmao)

Hehe, gak ding, nanti saya dibalang sandal sama Bill Gates. Mending-mending kalo dibalang segepok duit dollar. :p

Apapun alasannya, sudah pasti Windows terbaru ini bakal bernama Windows 10 dan sudah muncul Technical Preview-nya. Kalo minat, silakan download di http://windows.microsoft.com/en-us/windows/preview-iso dan ikuti petunjuknya di sana.

Saya sendiri sudah sempat menjajal Windows 10 Technical Preview ini. Windows-nya saya install di Asus Vivobook S200, supaya karakter touch screen-nya bisa dicoba sekalian. (Tentang Asus Vivobook S200-nya pernah saya review di sini). Nah, inilah kesan saya terhadap Windows 10 ini.

Start Menu Windows balik. Yeeey. (dance) Ya meskipun saya sebenarnya tidak keberatan menggunakan Start Screen seperti Windows 8 tapi rasanya tetap lebih nyaman pake Start Menu.

Apalagi jika kadang menemui taskbar yang ngadat dan ngumpet, tinggal pencet tombol WIN, beres dah, Start Menu muncul bersamaan dengan munculnya taskbar. Di Windows 8/8.1 gak bisa seperti itu, pencet tombol WIN yang muncul Start Screen. Yang dipencet kudu kombinasi tombol WIN+T kalo mau menampilkan taskbar.

Windows 10 Start Menu

Tapi berhubung Microsoft sudah terlanjur mendesain Modern UI dengan tile kotak-kotak yang khas itu, maka penampakan Start Menu-nya juga menggunakan tile kotak-kotak itu. Jadi ceritanya ini semacam merger antara Windows XP dengan Windows 8.

Start Menu ini bisa dimaximized hingga memenuhi layar dan seolah-olah menjadi Start Screen seperti Windows 8.

Berhubung sekarang sudah pake Start Menu, maka Charm Bar sudah tidak diperlukan lagi. Kalau sisi kanan layar dicolek, tetap ada yang muncul sih, cuma sekarang bukan Charm Bar melainkan Notification Center. Notification Center ini ya seperti Action Center di Windows Phone 8.1 kalau sisi atas layar dicolek ke bawah.

Windows 10 Action Center

Dan sekarang yang bisa dicolek bukan cuma sisi kanan saja. Sisi kiri layar juga bisa dicolek dan bila itu dilakukan, akan muncul daftar aplikasi yang terbuka dalam ukuran thumbnail beserta pengaturan multi desktop. Ya, meski ketinggalan jauh dibanding Linux yang sudah sejak zaman prasejarah memiliki multi desktop, akhirnya sekarang Windows juga punya. Ya ndak papalah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Windows 10 Multiple Desktop

Trus yang menyenangkan, apalagi kalau bukan Cortana! Yes! Pengguna Windows Desktop tak perlu lagi iri dengan pengguna Windows Phone. Cortana bisa diaktifkan melalui kotak teks yang terletak persis di sebelah kanan tombol Start. Cortana ini bisa dioperasikan baik dengan teks yang diketikkan maupun dengan perintah suara. Keren bukan? Cuma jangan dibayangkan Cortananya muncul dalam bentuk karakter cewe itu ya. (upss)

 

Windows 10 Cortana

Saya juga sempat menginstall Word, Excel, dan PowerPoint Preview. Peranti Office ini dijejali dengan berbagai fitur baru yang semoga bisa saya ceritakan di lain kesempatan atau malah sekalian saya tuangkan dalam bentuk buku. :mrgreen:

Soal aplikasi, apakah aplikasi desktop untuk Windows 7 masih dapat diinstall di Windows 10? Sepertinya begitu. Aplikasi macam Adobe Reader, GIMP, PicPick, FileZilla, dan lain-lain (asal bukan versi yang jadul lho ya) kemungkinan besar masih bisa berjalan dengan baik di Windows 10.

Selain itu tersedia juga Store yang menyediakan aplikasi khusus untuk platform Windows 10. Hebatnya, aplikasi yang tersedia di Store ini nantinya akan bersifat universal untuk berbagai platform. Artinya aplikasi tersebut selain bisa diinstall di desktop, bisa pula diinstall di smartphone, tablet, bahkan juga Xbox, sepanjang semuanya sudah menggunakan Windows 10.

Keren khan? Jadi gak sabar menunggu Windows 10 diluncurkan. Oh ya, sebelum lupa, pengguna Windows 8 gak perlu khawatir harus beli lagi bila ingin upgrade ke Windows 10. Gratis! Syaratnya cuma 1, upgrade harus dilakukan pada tahun pertama semenjak Windows 10 diluncurkan.

Pelajaran dari Mengikuti Lari 17km

Okto SiLaban Okto Silaban

sumber gambar: dunialari.com

5k, 10k, 17k, 22k, beberapa jarak yang sering jadi pilihan dalam acara lomba lari. Saya sendiri dulu cukup rutin lari di treadmills karena alasan yang cukup sederhana. Tapi untuk ikutan lomba lari yang sedang marak-maraknya kala itu saya masih enggan. Kayanya males aja gitu bangun subuh-subuh, pergi ke Sudirman cuman buat lari-lari. Ongkos pulang pergi taksinya aja udah berapa. Daftarnya bayar lagi, hih..!. Yeah.., I’m a cheap bastard. Haha.

*eh iya, buat yang awam ‘k’ itu maksudnya kilometer.

3K

Tapi akhirnya di Juni 2013 saya ikut lari 3K dalam acara Aquarius Sebelasthlon. Lari lucu-lucan kalau kata teman-teman saya yang sudah ikut lari 5k, 10k, dll. Kemudian di 2014, bulan Agustus akhirnya saya ikut Silverun, penyelenggaranya organisasi pengacara-pengacara pasar saham gitu deh. Entahlah apa namanya. Keduanya tentu saja gratis. Hehe.

11K

Untuk yang Silverun ini cukup jauh jaraknya, 10k. Sewaktu lari saya ikut tracking juga dengan aplikasi Endomondo di Android saya, jarak aslinya dari start sampai finish malah sebenarnya 11k lebih. Ternyata tidak seperti perkiraan saya, setelah selesai tidak capek-capek amat ya 11k itu, hehe. Entah karena saya gak ngoyo kali ya. Waktunya? 1 jam 9 menit 4 detik (kalo menurut Endomondo). Ya jelas saya bukan juaranya. Walaupun para pelari dari Kenya itu gak ikut pun, saya pasti gak bakal juara deh.

17K

Lalu, karena penasaran, dan juga karena (lagi-lagi), gratis, hehe, saya ikut Independence Run di bulan yang sama, tahun 2014. Saya pilih yang kategori 17k, karena cukup pede dengan hasil yang 11k kemarin. Saya baru tahu, ternyata lari di jalan itu tidak separah yang saya bayangkan.

Tapi, kali ini saya ceroboh. Orang-orang sering bilang, H-1 sebelum lari harus carbo loading. Biar energinya banyak. Berhubung 17k itu jarak yang jauh bagi saya, ya saya coba ikuti. Jadi jam 10 malam H-1, saya merasa saya perlu carbo-loading. Jadilah saya ke warung makan Padang terdekat. Dengan 1 rendang, 1 ayam goreng dada yang ukurannya jumbo, ketimun potong, daun singkong, gulai nangka, plus nasi porsi kuli, semuanya saya habiskan dalam tempo sekejap. Alhasil, kekenyangan membuat saya tidak bisa tidur. Berbaring saja sulit. -__-

Jadilah jam 2 lewat saya baru bisa tidur. Sementara jam 5 saya sudah harus berangkat, karena harus sudah berada di lokasi start pukul 5.30, sementara perjalanan ke depan Istana Merdeka diperkirakan butuh waktu 30 menit. Ini artinya saya paling tidak harus bangun pukul 4.45 pagi (gak pakai mandi lagi). Jadilah waktu tidur saya maksimum cuma 2 jam 45 menit.

Saya tiba di lokasi start agak telat, pukul 5.30 lewat sedikit. Sudah ribuan orang tumpah ruah. Karena banyak jalur kendaraan yang diubah, pak sopir BlueBird nya juga kagok. Saya dan teman saya memutuskan turun saja dekat Monas, dan dilanjutkan berjalan kaki. Dan ternyata, lokasi start nya masih jauh dari situ.

The Toilet

Yang apesnya, turun dari taksi, saya kebelet BAB. Berharap di dekat lokasi start ada toilet umum saya percepat langkah saya. Bener memang, ada toilet umum dekat lokasi start. 2 mobil jumlahnya. (Itu loh mobil yang khusus buat toilet itu, mobile-toilet kali ya namanya?). 2 mobil, dengan masing-masing antrian yang panjangnya sudah ratusan meter membuat saya makin gelisah. Sementara sebentar lagi Pak SBY sudah mau membuka start lomba lari.

Ok, tahan sajalah dalam hati saya. Nanti di tengah jalan panitia pasti sediakan juga toilet umum. Tiba tepat di garis start, sekarang saya jadi kebelet pipis. Double attack. Arrgghh.. Lalu Pak SBY mengangkat bendera tanda start dimulai. Demm..!

Saya berlari agak kencang, bukan karena berharap menang, tetapi berharap segera bertemu toilet umum. Di depan Sarinah saya sudah sempat kepikiran, mau mampir ke McDonald sekadar numpang ke toilet. Tapi.., ahh nanti juga ada toilet umum.

Melewati Sarinah, saya mulai cegukan. Berasa angin dari lambung mau keluar dari mulut. Lalu kuah rendang semalam seperti merangkak naik lagi ke tenggorokan. Mual. Mau muntah. Plus kebelet pipis dan BAB. Sempurna saudara-saudara..!

Strategi saya kalau lari adalah tetap lari sampai minimal 2/3 dari jarak tempuh, setelah itu baru boleh jalan sebentar, lalu lari lagi. Kali ini, boro-boro mau tetap berlari. Berjalan saja saya sudah senewen rasanya.

Panitia PHP

Di sekitar perempatan jalan layang depan Sampoerna Strategic Building, saya mendekati panitia lari (eh marshall ya istilahnya?). “Mbak, ini toilet umum gitu di sebelah mana ya? Dari Monas sampai sini saya gak liat. Kebelet nih.”, ujar saya mengiba. “Oooh.., terus aja lurus, Mas”, ujar si mbak panitia meyakinkan.

Dengan perasaan mual mau muntah, kuah rendang di tenggorokan, dan kebelet BAB, saya tetap berlari sampai ke sebrang Ratu Plaza. Saya hampiri lagi panitia. “Mas, ini ada gak sih toilet umum gitu yang di pinggir jalan. Kaya di start tadi itu loh?”. “Hmm.., kurang tahu ya, Mas. Mungkin coba deket puter balik nanti di Sisingamangaraja. Kayaknya ada deh di situ.”, ujar si mas dengan raut wajah yang tidak meyakinkan.

Jadilah saya tetap paksakan, lari, jalan, lari, hingga melewati bundaran Senayan, lurus terus ke Sisingamangaraja. Disini tempat putar balik jalur lari 17k nya. Di puteran itu saya tanya lagi panitia “Mbak, sebenarnya ada gak sih toilet umum gitu di pinggir jalan ini. Saya dari tadi kebelet. Katanya lurus aja. Sampai sini gak lihat juga.”. “Kayaknya gak ada deh mas setahu saya. Nanti mampir aja mas ke FX.”, ujar si mbak polos sambil membagikan tali berwarna hijau, penanda kita sudah beneran puter balik. Gak curang motong di tengah jalan.

Ahh.. PHP nih panitia.

Tanggung

Sampai di situ kebelet pipis saya sudah hilang sih. Tapi kebelet BAB, mual dan kuah rendang nya masih berasa. Ya sudah saya teruskan saja lari-jalan saya. Di dekat bundaran Senayan, saya berpikir untuk menyerah saja. “Ahh.., sudahlah. Saya ke Sevel Senayan itu saja. Kan ada toiletnya di atas. Abis itu pulang aja naik taksi.”. Tapi sebagian diri saya masih kepingin terus. Rencananya nanti di FX saja mampir ke toiletnya.

Lewat di depan FX saya tiba-tiba teringat. Dulu sewaktu car-free day. Saya ingat di depan Menara BCA, sering ada acara senam aerobik, nah di sebelahnya seingat saya ada mobil toilet umum. Ah ya sudah, di situ saja pikir saya. Lewatlah FX.

Lagi-lagi, saya harus menahan perut saya. Di depan Menara BCA hanya ada panggung tempat instruktur aerobik. Tidak ada penampakan mobil toilet umum. Saya sudah mau berhenti saja. Tapi berhenti kan enggak bikin saya bisa BAB ataupun muntah dengan lancar. Dipikir-pikir, mending saya teruskan sampai garis finish. Pasti ada toilet. Toh Monas sudah tidak jauh lagi.

Finish !

Melihat gerbang finish, saya menjadi semangat lagi. Bukan karena merasa selesai. Tapi yang ada di otak saya “Yeah.., akhirnya.., toileeeettt…!!”. Sambil berlari, saya ambil medali 17k nya, sebotol air mineral, dan terus tetap berlari mencari mobil toilet umum. Nah itu dia..!

Ya, tetap saja antri toiletnya. Tapi antriannya cuma sekitar 8 orang, yang entah mengapa tiap orang rata-rata menghabiskan waktu hampir setengah jam rasanya. Sampai di sini saya rasa mual saya malah sudah hilang. Kebelet pipis sudah hilang dari tadi juga. Kebelet BAB nya masih. Mungkin karena saya menahan BAB sebegitu lama, akhirnya perut saya pun masih bisa sabar mengantri di belakang 8 orang ini.

Tapi si kuah rendang masih konsisten. Kelar urusan BAB, rasa kuah rendang semalam tetap lengket di tenggorokan, walaupun saya sudah minum air mineral barusan (sepanjang lari saya tidak minum sama sekali). Kuah rendanglah juara 17k saya ini.