PlanetTerasi

Think. Read. Write.

Sukses dengan Situs Wisata, YogYES.com Luncurkan LokasiAsik.com

Okto SiLaban Okto Silaban

YogYES.com adalah salah satu contoh web-startup lokal yang terbilang sukses di Indonesia. Didirikan oleh Agus Supriadi dan Indah Kristianingsih tahun 2003 silam, tahun ini YogYES pun semakin mantap dari sisi bisnis. Selain “naik kelas” dengan berganti badan hukum dari PO menjadi PT. Portal Wisata Indonesia, web-company asal Jogja ini juga akan segera meluncurkan logo barunya.

Nah di luar itu, YogYES juga sepertinya tidak berhenti berinovasi. Setelah pengerjaan konsep dan teknis yang terbilang cukup lama (beberapa tahun), akhirnya YogYES meluncurkan LokasiAsik.com, sebuah situs tempat berbagi rekomendasi / memberi rating tempat makan, wisata, nongkrong, belanja, hiburan, menginap, dll. (sesuai deskripsi di webnya).

Mulai aktif setidaknya dari Agustus 2014 lalu. Saat ini LokasiAsik sudah mencatatkan paling tidak 1.000 visit per hari. Cukup besar untuk sebuah web startup yang (menurut saya) masih under the radar.

Eksekusi pemanfaatan Google Maps ke dalam LokasiAsik cukup mulus. Menemukan lokasi dan review lokasi cukup mudah dengan fitur ini. (Tidak seperti situs pencarian properti yang seringkali asal-asalan menempatkan lokasi propertinya).

Saya sendiri bukan pehobi jalan-jalan atau wisata. Jadi kurang bisa mengulas pengalaman menggunakan situs ini. Silahkan anda kunjungi dan rasakan sendiri ya.

Model bisnis? Hmm.., saya rasa bakal gak jauh beda dengan YogYES sekarang sih ya. Oh belum tahu model bisnis YogYES? Ya silahkan ubek-ubek sendiri aja ya. *blogger males*, haha.

Sejauh ini situs-situs lokal yang mengunggulkan fitur “sosial”-nya banyak yang mati. Sebutlah ada Bouncity, Wikimu, Fupei, SixReps, Koprol, BundaGaul, Goorme dan Urbanesia. Nah, LokasiAsik ini pun sekilas saya lihat fitur “sosial”-nya cukup kuat. Ini akan jadi pertaruhan yang cukup besar untuk YogYES, sekaligus jadi barometer di Indonesia, apakah sebenarnya masih ada celah untuk situs social-sharing-crowdsourcing lokal menjadi besar? Atau memang untuk masa sekarang harapan web-company Indonesia masih di seputar media online dan e-commerce saja?

Negara Pencemar Plastik Terbesar

Aku Ingin Hijau Aku Ingin Hijau

Majalah MotherJones menerbitkan sebuah artikel menarik mengenai negara pencemar plastik terbesar.

Disebutkan bahwa pulau buatan dari plastik yang ada di lautan pacific luasnya sudah mencapai kira-kira 2 kali negara bagian Texas, Amerika Serikat, dan terlihat dari luar angkasa.

Lalu disebutkan bahwa majalah Science mencoba menghitung banyaknya plastik di laut dan beratnya mencapai 1.3 kali berat Pyramid yang ada di Giza, Mesir.

Studi lainnya dilakukan oleh Jenna Jambeck dari University of Georgia untuk mengira-ngira jumlah sampah plastik yang dibuang oleh 192 negara yang memiliki pantai.

Dibawah ini adalah hasilnya:

plastic-ranking

ocean-plastic-chartDilihat dari data saat ini dan juga perkiraan di masa mendatang, maka Indonesia ada di ranking nomor 2 setelah negara Cina.

Ternyata inilah bukti perilaku orang Indonesia yang tidak peduli dengan lingkungan, membuang sampah sembarangan, baik di got, kali, sungai hingga langsung ke laut, karena semua itu pada akhirnya juga sampai ke laut.

Karena plastik itu murah, maka mulai dari tukang tahu tempe di pinggir jalan, tukang ayam di pasar, hingga pasar swalayan modern, semua menggunakan plastik sebagai wadah pembawa barang, yang mana sangat mudah di buang, dan saat dibuang, sangat sulit untuk terdaur-ulang.

Bagaimana menurut anda cara yang baik untuk menanggulangi ini?

Baca juga:

  1. Saluran got bukan tempat sampah
  2. Waduk Cirata, pembawa berkah yang dipenuhi sampah
  3. Fakta sampah Jakarta

Filed under: Berita Lingkungan Global, Fakta Lingkungan Tagged: kantong plastik, plastik, sampah plastik

Seperti Inilah Sulitnya Membuat Satu Halaman Website

Okto SiLaban Okto Silaban

Sewaktu saja masih belajar HTML saja (jaman SMA), saya enggak pernah percaya kalau membuat satu halaman website static, bisa membutuhkan waktu 2 bulan, bahkan lebih. Karena secara teknis, tidak besar tantangannya. Tetapi setelah saya bekerja, ternyata kenyataannya seperti itu.

Saya ambil contoh. Halaman website yang perlu dibuat isinya hanya: judul singkat dalam format teks, satu video, dalam satu halaman website. Tidak perlu ada animasi, efek-efek aneh-aneh, kolom komentar, dll. Benar-benar hanya halaman website biasa, dan static (tidak ada informasi yang secara regular diupdate).

Bagi web developer, ini pun tergolong mudah. “Ahh elah.. Bikin satu page HTML. Kasih tag <h1> di judul. Videonya pake JWPlayer aja. Kalau mau agak bagus, pakai aja template-template jadi. Atau biar di mobile enak dilihat, pakai Bootstrap atau Foundation juga bisa. 20 menit juga itu jadi maahh…”

Kenyataannya? 2 bulan ! Beneran. Total waktu dibutuhkan dari permintaan itu disebutkan, sampai dengan akhirnya halaman website itu jadi, bisa jadi butuh waktu 2 bulan, atau bahkan lebih. Kenyataan itu keras bung. Di perusahaan-perusahaan besar ini awam terjadi. Kenapa bisa begitu? Begini contohnya:

Hari 0

Presiden Direktur mengirimkan email ke Direktur Marketing, isinya seperti ini:

“Tolong buat satu halaman di website (perusahaan) kita. Judulnya “Penghijauan Kembali Lahan Bekas Tambang”. Terus kasih video dokumentasi aktifitas CSR perusahaan kita disitu. Videonya ada di DVD. Tadi saya sudah minta tim saya mengantarkan DVD nya ke meja. Kalau sudah jadi, kasih tahu saya.”

Hari 1-3

Direktur Marketing meneruskan email tersebut ke web developer di perusahaan tersebut. Dengan permintaan seperti ini, tentu  pikiran pertama si developer adalah membuat page HTML biasa, static. Kasih judul. Tempelkan videonya, playernya menggunakan plugin JWPlayer. Selesai.

Seperti halnya proses bisnis di perusahaan besar lainnya, semua hal harus ada approval setelah final. Karena itu, setelah halaman website ini jadi, harus minta approval dulu sebelum ditampilkan ke publik. Developer harus minta review dan persetujuan Direktur Marketing terlebih dahulu sebelum halaman website nya dipublikasikan. Namun, karena direktur sibuk sekali, akhirnya baru dapat waktu untuk review 3 hari kemudian. (Lihat, di sini saja sudah memakan waktu 3 hari).

Direktur Marketing [DM] : “Gini aja halamannya? Kasih penjelasan dong. Ini kegiatan apa.., siapa pihak yang ada di dalam video ini, kapan.. Masak gini doang, gak informatif.”

Developer [Dv]: “Materi yang diberikan kemarin cuma itu kemarin bos. Gak ada teksnya.”

DM: “Ya kamu buat sendiri lah. Masak gitu aja gak bisa.”

Dv: “Ok bos. Siap..”

Lalu si developer kembali ke mejanya, menambahkan satu paragraf dalam bahasa Indonesia. Isinya penjelasan video itu tentang apa, kapan, dan dimana. Selesai edit, developer kembali ke ruang Direktur untuk review lagi sebelum di-publish. Tapi direktur marketingnya sudah pergi ke ruang lain untuk meeting lain. “Besok sore aja, dia kosong kok besok sore.”, ujar sekretarisnya.

Hari 4

Keesokan sorenya, developer masuk ke ruang Direktur Marketing.

Dv: “Sudah saya tambahkan bos penjelasannya. Sudah bisa saya publish kah?”

DM: “Hmm.. ya masih terlalu plain sih. Tapi ya sudahlah. Coba kamu ke bagian PR (Public Relation). Kalau mereka OK, ya sudah publish aja.”

Developer tidak menemukan tim PR di mejanya. Sepertinya sedang di luar kantor semua, acara media gathering. Dikirimlah email, beserta link halaman websitenya (masih di server development). Tetapi tidak ada balasan, mungkin karena semua tim PR memang sedang kelimpungan juga mengurusi acara di Kempinski hingga tengah malam.

Hari 5

Salah satu tim PR akhirnya membalas email : “Ini apa ya?”

Developer mengangkat telpon, dan menjelaskan ke mereka ini tentang apa. Lalu tim PR bilang: “Ok sih. Tapi videonya harusnya pakai yang lebih baru aja. Nanti aku minta tim dari Kalimantan kirim deh videonya.”

Hari 6-8

Tim dari Kalimantan belum mengirimkan videonya. Developer menanyakan kembali via email ke tim PR.

Tim PR: “Oh iya sorry. Videonya masih di-edit di agency. Tapi besok sudah kok katanya.”

Hari 9

Video sudah diterima. Konversi lagi ke format mp4, ubah ukuran resolusi, dan upload. Karena ada perubahan video, developer inisiatif menemui lagi Direktur Marketing, sekadar update saja. Kenapa tidak via email? Sudah jadi rahasia umum, Direktur Marketing mereka tidak suka diskusi sesuatu yang visual via online. Harus face-to-face.

Ternyata beliau tidak di tempat. Sang Direktur Marketing sedang di kantor Google. Katanya mau ada program promosi bersama. Jadi halaman website ini direview oleh tangan kanannya yang ber-title: General Manager [GM]. GM nya ini belasan tahun berkarir sebagai supervisor di lapangan sebelum naik jabatan dan pindah divisi ke Marketing.

GM: “Ini videonya kok tentang tanam-tanam pohon semua sih? Emangnya perusahaan kita bisnisnya tanam pohon?”

Dv: “Err.., ini untuk campaign program CSR kita bos. Bukti kita peduli sama lingkungan.”

GM: “Eh.. ujung tombak perusahaan kita itu jualan semen. Ya harus ditunjukkan. Paling enggak, editlah videonya, diselipin aktifitas pabrik dan penjualan kita. Inget ya, kita itu harus selalu ingat kerja keras teman-teman kita di pabrik dan di bagian penjualan. Kalau butuh video-video lainnya, minta tim PR. Mereka pasti punya banyak koleksi videonya.”

Dv: “Siap boss..!”

Hari 10-13

Tim PR memberikan beberapa koleksi videonya. Developer akhirnya minta tolong tim desain untuk membantu edit video. Tapi karena tim desain sedang kejar deadline membuat poster sponsor Liga Super Indonesia, edit videonya harus menunggu 3 hari.

Hari 14

Video sudah jadi. Sudah diupload. Tim PR juga OK. Di dalam rapat bulanan para bos-bos, GM menyempatkan untuk menunjukkan halaman website tersebut ke Direktur Marketing. Kebetulan di sebelahnya duduk Direktur Operasional [DO]. DO ini berkewarganegaraan Perancis, negara asal induk perusahaan ini.

DO: (dalam bahasa Inggris) “Kenapa teks penjelasannya dalam bahasa Indonesia saja? Kamu pikir perusahaan holding kita di Perancis bisa Bahasa Indonesia semua?”

Developer kembali minta tolong tim PR, agar membuat teksnya dalam bahasa Perancis juga.

Hari 15

Developer menunjukkan halaman websitenya ke Direktur Marketing.

DM: “Gue sih sudah Ok. Tim PR juga sudah OK kan? Ya udah, publish aja.”

Dv: “Okee. Siaap bos..”

DM: “Eh bentar. Coba tunjukin juga ke Direktur Operasional. Ya, biar dia tahu aja sudah diupdate, sekarang sudah ada bahasa Perancisnya.”

Developer ke ruang Direktur Operasional. Menunjukkan videonya sudah diperbaharui.

Dv: “Bos. Paragrafnya sudah ditambahkan versi bahasa Perancisnya.”

DO: “Hah? Mana? Ini videonya belum ada subtitlenya gitu kok??”

Iya. Betul. Direktur Operasionalnya memang tidak pernah minta subtitle. Tapi kalau levelnya sudah direktur, percuma didebat.

Hari 16-19

Developer meminta bantuan tim desain lagi untuk menambahkan subtitle di dalam video. Mereka juga sedang padat jadwalnya. Jadilah butuh 3 hari baru selesai.

Hari 20

Developer menemui Direktur Operasional kembali. Kali ini dia sudah puas. Keluar dari ruangan, si Developer berpapasan dengan Direktur IT (DI). Ditanya, lagi project apa kok tumben ke ruang Direktur Operasional. Developer menjelaskan tentang halaman website ini. Dia kaget, karena tidak tahu ada “project” ini. Jadilah dia ikut mereview.

DI: “Ini kalau saya mau lihat di perangkat mobile bisa?”

Dv: “Err, kayaknya enggak sih bos. Harus ada penyesuaian lagi.”

DI: “Kenapa gak taruh di YouTube aja sih? Terus embed ke halaman web ini. Jadi pasti bisa dilihat di perangkat apapun kan?”

Dv: “Iya sih bos.”

DI: “Ya sudah, taruh di YouTube saja. Sekalian gitu loh, biar YouTubers bisa lihat”

Hari 21-35

Video sudah di-upload ke YouTube. Halaman website sudah jadi, tinggal di-publish. Tiba-tiba Direktur PR [DP] mendatangi meja si developer.

DP: “Eh, saya kok ketemu video kegiatan CSR kita di YouTube ya? Bocor darimana itu ya?”

Dv: “Loh, emang saya yang upload bos. Biar bisa di-embed di halaman website kita.”

DP: “Kamu upload di akun YouTube siapa?”

Dv: “Akun saya pribadi bos”

DP: “Ya mana bisa gitu.. Kalau video resmi perusahaan, ya harus diupload di akun resmi perusahaan. Kamu jangan sembarangan.”

Dv: “Akun resmi kita di YouTube apa, bos?”

DP: “Coba kerjasama sama tim saya saja. Mereka yang tahu.”

Developer menemui tim PR. Dan ternyata Perusahaan tidak memiliki akun resmi apapun di social media kecuali Twitter. Dan ternyata, secara policy, setiap pembuatan akun social media resmi di tiap-tiap negara, harus melalui proses submit, review dan sertifikasi dari perusahaan induknya di Perancis. Proses ini memakan waktu paling cepat 2 minggu.

Hari 36

Akun resmi perusahaan di YouTube sudah jadi. Video sudah diupload. Halaman website juga sudah jadi. Tinggal publish. Lalu datanglah email dari Direktur PR.

DP: “Jangan lupa, pastikan legal tahu ya. Siapa tahu di dalam video ada muncul brand lain yang kita tidak punya ijin untuk menampilkan. Banyak alat-alat pabrik yang terlihat di video itu soalnya.”

Developer memastikan via email ke Tim Legal [TL].

TL: “Ohh. Gak apa-apa kok brand itu muncul di video. Soalnya masih dalam batas wajar, toh gak diomongin. Eh iya, Talent Release nya tolong kirim ke saya ya.”

Dv: “Talent Release apaan bos?”
TL: “Itu loh. Kalau ada muka-muka orang yang muncul di video, kan harus ada perjanjian tertulis kalau mereka memang bersedia ditampilkan. Apalagi kalau mereka pekerja third-party, bukan karyawan kita. Sudah ada kan dokumennya?”

Developer tidak pernah tahu soal ini, jadi tim PR lah yang ditanyain. Dan mereka juga kurang tahu, tim di Kalimantan (yang membuat video di lapangan) lah yang tahu. Dan ternyata memang belum ada dokumen tersebut. Butuh waktu 3 minggu untuk tim di Kalimantan bisa melacak satu per satu orang-orang di video tersebut untuk dimintai persetujuan legalnya.

Hari 57

Akhirnya semua dokumen lengkap. Developer membantu tim legal mensortir dokumen Talent Release tersebut. Di saat itu tim HR juga sedang di ruang legal untuk mengurus perkara tuntutan serikat buruh. Mereka melihat video di preview halaman website ini.

Tim HR: “Eh ini videonya untuk publish di internal kan?”

Dv: “Enggak bos. Ini untuk di website. Belum di publish sih.”

Tim HR: “Hah? Untuk umum?! Eh.. jangan dipublish dulu. Ini video orang-orang di pabrik gak beres semua. Lihat tuh, ada yang gak pakai helm, safety shoes, vest standar perusahaan. Yang di kantor juga gak pakai ID Card.”

Dv: “Ya gak keliatan norak kok bos. Masih bagus kok keliatan di videonya.”

Tim HR: “Bukan gitu. Kita ini kan punya standar ISO, sertifikasi HSE (Health, Safety & Environment), dan sertifikasi – sertifikasi lain. Jadi yang kaya gini ini gak boleh ada lagi harusnya. Apalagi kita bentar lagi mau di audit. Kalau video ini bocor, bisa berabe kita. Ah.., untung saya kesini, jadi halaman webnya belum sempat dipublish. Hampir jantungan saya..”

Dv: “Errr…, halaman webnya belum sih bos. Tapi.. anuu.., videonya sih sudah ada di YouTube dari hampir 2 minggu lalu, hehehe.”

Tim HR: (pingsan beneran).

Dan akhirnya, sampai di hari ke 60 pun, halaman website yang sederhana ini tidak pernah terbit.

Variasi

Variasi dari kejutan-kejutan lainnya banyak sekali. Misal:

– Ternyata menurut tim legal, di setiap footer halaman website harus ada Disclaimer dan Copyright Policy. Tetapi setiap pemasagan Disclamer dan Copyright ini harus mendapatkan “restu” dari holding mereka di Perancis.

– Menurut Policy di IT, setiap penerbitan dokumen baru di internet (termasuk halaman website), harus dilakukan penetration test terlebih dahulu. Karena penetration test yang dilakukan ada banyak (termasuk untuk database, jaringan, firewall, dll), terpaksa masuk antrial jadwal penetration test dulu.

– Di tengah-tengah proses ini, bisa jadi tim leader di Kalimantan ada yang resign. Jadi proses administrasi dokumen Talent Release tadi bisa jadi bakal berantakan.

– Direktur Keuangan tidak setuju dengan video yang ditampilkan. Menurut dia, prinsip keterwakilan tidak ada di video ini. Yang muncul hanya orang-orang pabrik, dan tim CSR. Seolah-olah tim keuangan tidak penting di perusahaan. Padahal video ini adalah image perusahaan untuk umum. (Iya, rada absurd sebenarnya, tetapi ini mungkin sekali terjadi).

– Seorang VP dari Perancis, tangan kanan Group CEO, ternyata sedang berkunjung ke Indonesia. Dia baru saja menghadiri seminar Digital Creativity for Enterprise di Singapore. Dia bilang “Saya kemarin ikut seminar. Itu isinya ahli-ahli semua. Mereka punya data hasil riset resmi. Jadi mereka bilang, untuk membuat nyaman melihat screen komputer dalam waktu lama, harus dominasi warna biru dan putih. Tolong semua elemen di halaman website ini dibikin desainnya kebiru-biruan ya.”

dst..

Jadi kalau ada yang bilang ke anda, “Saya baru menyelesaikan proyek saya, lama banget, 6 bulan. Padahal bikin 1 halaman website aja sih.” Bukan berarti halaman websitenya itu rumit sekali dan banyak fitur. Tetapi prosesnya itulah yang rumit dan “penuh fitur”.

Catatan: #bukancurcol Ini fiksi dari gabungan pengalaman bekerja sebagai web developer, konsultan untuk client dan bekerja di client. Nama departemen, jenis bisnis, dll nya hanya random aja. Semuanya sekadar untuk ilustrasi.

Hari 61

Presiden Direktur [PD] memasuki ruang Direktur Marketing.

PD: “Didn’t I tell you to make a new page on our website?”

DM: “Oh, yes, sir. I remember that.”

PD: “SO WHERE THE F**K IS THE WEB PAGE??!! I WANNA SEE IT..!”

DM: “Eh.. mm.. IT still working on it, sir. ” (senyum kecut)

PD: “2 months for a single web page??! I’m gonna f**k IT Department ! ”

 

 

 

Mungkin Blibli.com Lelah

Okto SiLaban Okto Silaban

Jadi, beberapa waktu lalu saya melihat harga tablet Nexus 7 32GB LTE di Lazada jauh di bawah harga rata-rata, 2,7jt. Normalnya sekitar 3,7juta. Saya jadi penasaran di Blibli.com kira-kira harganya berapa. Saya googling dengan kata kunci “nexus 7 blibli”. Keluar iklan dari Blibli di halaman hasil pencarian. Seperti ini isinya :

Wah.., jangan-jangan harga Nexus 7 emang lagi jatuh, pikir saya. Dan setelah linknya dibuka, yang keluar hanya halaman seperti ini:

Ah, sudahlah. Mungkin blibli.com sedang lelah.

Yang di Lazada? Besoknya saya cek lagi, harganya sudah kembali normal, 3,7 juta. Entahlah, apa adminnya salah input, atau waktu saya lihat itu lagi flash-sale.

IGOS Nusantara X.1

suryana.or.id » Planet Terasi ns

IGOS Nusantara X.1 rilis pada tanggal 27 Pebruari 2015. IGN X.1 menyediakan beragam penambahan dan pembaruan fitur serta melakukan beragam perbaikan, yaitu (1) Tersedia varian IGN XDE (sepuluh desktop) (2) Perbaikan beragam fungsi dan tampilan desktop. (3) Kertas dinding (wallpaper) […]

IGOS Nusantara Server 2.0

suryana.or.id » Planet Terasi ns

IGOS Nusantara Server 2.0 atau IGN Server 2.0 adalah pengembangan yang konsisten untuk menyediakan versi server. Pengembangan IGN Server telah dilakukan sejak tahun 2013. Pengembangan awal dimulai dari tahun 2013 dengan memakai kode IGN X9 -> IGN S9 -> IGN […]

IGOS Nusantara Server 1.0

suryana.or.id » Planet Terasi ns

IGOS Nusantara Server 1.0 atau IGN Server 1.0 adalah pengembangan yang konsisten untuk menyediakan versi server. Pengembangan IGN Server telah dilakukan sejak tahun 2013. Pengembangan awal dimulai dari tahun 2013 dengan memakai kode rilis IGN X9 -> IGN S9 -> […]

Membangun Purwarupa Quadbike Listrik

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

20150216_144010

Sudah 1 tahun terakhir ini saya mengerjakan pembuatan quadbike atau sepeda roda 4 dengan tenaga listrik. Secara teknis, kendaraan ini menggunakan komponen sepeda, namun pedal kayuhnya sudah dihilangkan. Pembuatan quadbike ini dimulai dari bulan Februari 2014, yaitu pembuatan rangka body di 3abike Bandung, dan dilanjutkan dengan finishing di bulan Januari 2015 di Yogyakarta oleh mas Wiwien Vegas yang juga adalah pemilik bengkel pembuatan mobil listrik Mobilijo Yogyakarta.

Quadbike atau quadricycle elektrik ini ditenagai oleh baterai 48V 20Ah dan mesin Brushless DC 48V 750 Watt dan memiliki kecepatan jelajah maksimal 35km/jam dengan jarak tempuh sejauh 35 km, sehingga cukup untuk pergi dan pulang dari kantor. Saat ini, quadbike ini standby di markas dan menjadi icon untuk konsep green energy.

Pengembangan berikut yang bisa dilakukan pada sepeda listrik roda 4 adalah pada penambahan kapasitor untuk meringankan beban hentakan arus dari aki dan panel solar cell untuk recharge selama diparkir. Sementara sampai ini dulu, baru besok dilanjut ketika sudah agak luang ya.. Ditunggu urun rembug dari rekan-rekan semua.

Begini Pengalaman Saya Melaporkan SPT (Pajak Penghasilan) Secara Online

Okto SiLaban Okto Silaban

djp

Tahun 2013

Tahun 2013 lalu, saat masa pelaporan SPT saya diberitahu kalau fitur pelaporan SPT secara online sudah tersedia. Alamatnya djponline.pajak.go.id. Setelah mendengar presentasi tim dari kantor Pajak sekilas saya rasa agak ribet. Karena pembuatan dan aktivasi akunnya masih membutuhkan proses manual ke Kantor Pajak.

Jadi untuk bisa melaporkan secara online kita harus memiliki akun terlebih dahulu. Nah untuk bisa aktif, akun ini perlu verifikasi nomor e-FIN (Electronic Filing Identification Number). e-FIN ini dikeluarkan oleh kantor pajak. Nah disini perlu proses manual. Saya lupa detailnya. Saat itu dilakukan kolektif bersama rekan-rekan kerja saya. Jadi pokoknya tahu – tahu sudah dikirimin aja e-FIN nya.

Pengalaman mengisi SPT Online tahun 2013 itu juga tidak begitu bagus. Saya berhasil aktivasi, login, ganti password. Setelah logout saya gagal login lagi. Reset password, berhasil, login lagi, terus bingung cara isi form nya. Lalu saya logout lagi karena ada meeting. Kembali ke meja, login gagal, server down. Dst. Tampilan situsnya juga jelek menurut saya. Gak usah urusan desain deh,  layout (user interface) nya saja sudah membingungkan menurut saya.

Singkat cerita setelah beberapa kali percobaan, bersama teman-teman yang juga kebingungan, sebagian besar dari antara kami akhirnya berhasil menyelesaikan pelaporan SPT secara online ini. Tapi dalam hati kecil saya, saya curiga di tahun 2014 (yaitu tahun ini) nanti paling sistemnya berubah lagi, akunnya harus create lagi, dst. Disitu saya merasa sedihTM.

Lalu bagaimana kali ini di tahun 2014?

Tahun 2014

Kemarin bukti potong pajak sudah dibagikan. Saya segera mengunjungi lagi situs Pajak.go.id. Sempat bingung, pilih e-SPT atau e-Filing ya? Ya, saya kurang paham sih urusan penamaan ini. Tapi samar-samar saya ingat, di 2013 namanya e-Filing. Dan benar ternyata.

Kali ini tampilan desain webnya sudah bagus. Ok lah menurut saya. Sekilas langsung terlihat kalau webnya menggunakan framework CSS Bootstrap, lebih tepatnya theme Metronic (bahkan kelihatan screenshotnya). Bagus sih, berarti harusnya websitenya sudah responsive (layoutnya otomatis menyesuaikan untuk perangkat mobile; handphone, tablet).

Dan tibalah saat saya memasukkan username & password (usernamenya NPWP). Saya masih ingat password saya. Saya masukkan NPWP (lengkap dengan tanda titik dan garisnya), lalu password. Dan gagal. Beberapa kali saya coba gagal terus. Kenapa NPWP nya lengkap dengan tanda titik dan garis? Karena seingat saya di 2013 begitu. Dan saya cek di email saya dulu, begitu lah isi email dari sistem Pajak mengenai informasi login saya.

Nahh.., bener kan dugaan saya di 2013 dulu. Ini pasti ujung-ujungnya harus bikin akun ulang.

Reset Password

Saya coba reset password. Dhueeng..! Diminta isi NPWP, dan e-FIN. Lah e-FIN nya ada di selembar kertas tahun 2013 itu. Besoknya baru saya cek di kamar saya, ternya masih ada lembaran e-FIN ini.

Jadi tadi saya coba reset lagi, masukkan NPWP (lengkap dengan titik dan garis) dan e-FIN nya. Keluar error, NPWP nya tidak terdaftar. Loohh?? Hmmm, beneran deh ini harus registrasi ulang, bikin akun baru. Begitu pikiran jelek saya.

NPWP

Lalu saya coba lagi masukkan NPWP hanya angka saja, tanpa spasi, titik, dll, lalu e-FIN nya. Keluar pesan password baru sudah dikirimkan ke email saya. Hah??! Lohhh.., jadi dari tadi itu errornya karena saya masukkan NPWP pakai embel-embel titik dkk ternyata. Udah kadung Dirjen Pajak saya maki-maki dari tadi. Maaf ya, Jak.

Akhirnya berhasil login. Dan tampilannya bagus (lihat di atas). Lebih intuitif. Saya sih OK, kalau mas Anang juga OK.

Segera saya isi form nya satu per satu. Di bagian akhir, sebelum bisa kirim SPT nya akan muncul pop-up untuk kirim kode verifikasi. Ada pilihan email dan SMS. Tapi yang SMS gak bisa dipilih, masih pengembangan kali ya.

Kode verifikasi saya terima, saya masukkan ke form nya, lalu kirim SPT nya. Tidak lama kemudian saya menerima email  Bukti Penerimaan Elektronik.

Jadi, pengalaman saya melakukan pelaporan SPT Online tahun 2014 ini cukup memuaskan. Problem saya hanya karena dari awal memasukkan NPWP lengkap dengan titik dan garis itu. Selain itu semuanya mulus. Tampilan webnya juga sudah Ok.

Catatan:
1.    Untuk login, masukkan NPWP anda hanya angka
2.    Simpan kode e-FIN yang pernah anda dapatkan. Mungkin di masa depan ini masih dibutuhkan.
3.    Laporkan SPT anda.

Bekerja dari Rumah Tidak Selalu Lebih Baik

Okto SiLaban Okto Silaban

Kalau dengar pembicaraan orang-orang di kantor, sepertinya banyak sekali yang kepingin “work from home”. Ceritanya kerja remote gitu. Enak, gak perlu habisin waktu macet di jalan. Bisa sambil ngurus anak. Bisa bebas pake baju, gak pake baju pun bisa.

Untuk urusan komunikasi gampang. Ada Lync (kalau yang pake Microsoft-based), bisa chat, video maupun audio call, bisa share screen bahkan remote desktop juga. Katanya lagi, toh dalam satu gedung pun kenyataannya seringkali komunikasinya email-email-an toh. Jadi sama aja.

Menurut saya sih, ada banyak hal yang akan lebih cepat dilakukan jika orang-orangnya bisa dikumpulkan dalam waktu yang singkat di lokasi yang sama. Yah ini selalu jadi perdebatan sih. Mungkin kapan-kapan saya bahas jadi tulisan sendiri.

Tapi, saya lebih melihat dari lingkungan sosial. Kalau kerja remote terus dari rumah, lalu dalam sebulan cuma 4 kali ke kantor, saya rasa tidak bagus untuk hubungan sosial dengan sesama rekan kerja, apalagi dengan kultur Indonesia yang “sangat sosial” ini ya.

Karena momen-momen kerja bareng di kantor, atau sekadar makan siang bareng, atau kabur sebentar beli snack sore itulah yang membangun keakraban. Dari situ kadang berkembang jadi piknik bareng di akhir pekan rame-rame. Keakrabannya akan terbentuk secara natural, tanpa perlu dibuat kegiatan tranining khusus dari tim HR. Ya, walaupun mungkin tetap ya, di belakang diam-diam saling menggosipi. Hehe.

Betul memang keakraban antar karyawan, dengan “engagement” karyawan ke perusahaan itu bisa berbalik kondisinya. Tetapi, keakraban antar karyawan sendiri saja sudah membuat suasana kerja menjadi lebih baik.

Yahoo dan (kalau tidak salah Hewlett-Packard) dulu termasuk yang jadi pionir untuk pola bekerja dari rumah ini. Tetapi dari yang saya baca, belakangan mereka malah mengurangi secara signifikan jumlah karyawannya yang bekerja dari rumah. Alasannya klasik, lebih mudah koordinasi dan komunikasi.

Memang tidak semua jenis bisnis, dan skala perusahaan cocok menerapkan sistem kerja dari rumah ini menurut saya. Apalagi kalau yang motivasi karyawannya bekerja dari rumah adalah: biar bisa sambil masak, nonton TV, main game, bikin kue. :D

Mengganti Jenis Huruf ala-ala Medium

Okto SiLaban Okto Silaban

Setelah belakangan sering membaca tulisan di Medium.com, akhirnya kepengen juga blog ini menggunakan jenis-jenis font yang mirip. Jadilah saya eksperimen megganti font blog ini dengan Google Font. Namanya ‘Halant’. Sepertinya  lebih nyaman dibaca. Sebenarnya hampir mirip sih dengan ‘Georgia’, tapi untuk header (H1, H2, dll), jenis huruf ‘Georgia’ tebalnya agak kurang sedap dipandang.

Oh iya, saya baca dimana gitu, web-design itu 90% urusan tipografi, alias urusan huruf. Masuk akal sih. Cuma dengan mengganti jenis huruf aja (terutama website yang padat tulisan), kesan yang terlihat bisa jauh berbeda. Apalagi dengan sedikit perubahan warna huruf, jarak antar paragraf, dan ukuran besarnya huruf, (seperti yang barusan saya lakukan) kenyamanan membacanya bisa jadi jauh berbeda.

The Jakarta Post dan Firefox OS

BennyChandra.com Ben

Saya mengucapkan selamat kepada The Jakarta Post yang baru saja meluncurkan aplikasi resminya untuk pengguna Firefox OS. Selamat juga kepada Budi Putra (CEO of The Jakarta Post Digital) dan Kristiono...

[ » ]

Coba-coba Software: Web Browser

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Sebagai penggemar komputer, salah satu hal yang saya sukai adalah mencoba-coba berbagai software. Sebetulnya kegiatan ini seringkali memboroskan waktu. Enaknya sih kalau sudah ada yang mereview berbagai software ini kemudian kita tinggal menggunakan yang paling bagus. Atau, setidaknya kita bisa mengurangi waktu yang habis untuk coba-coba ini.

Kali ini saya sedang mencoba berbagai web browser. Ini hasil sementara. Semoga bermanfaat.

Browser utama saya adalah Firefox. Ada beberapa alasan mengapa saya memilih Firefox. Pertama, dia dapat dikonfigurasi dengan menggunakan Stylish. Syarat utama saya dalam sebuah aplikasi adalah fonts-nya harus dapat diubah. Fonts bawaan dari software seringkali terlalu kecil (maklum mata saya semakin tidak bersahabat – masalah usia), jelek, atau membuat saya tidak mood untuk membaca. Dengan Stylish saya dapat menggunakan fonts yang berbeda untuk situs yang berbeda. Misal untuk Gmail saya menggunakan monospace fonts, untuk Facebook fonts yang sans serif, untuk situs berita fonts yang serif, dan seterusnya. Kedua, Firefox merupakan browser yang paling aktif dalam hal pengembangannya. Masalah (security misalnya) dapat lebih cepat ditangani.

Kekurangan (masalah) dari Firefox adalah ukurannya yang besar. Bloated. Awalnya sih kecil tetapi makin lama semakin besar sehingga terasa lambat. Akhir-akhir ini saya juga banyak mengalami masalah dengan Adobe Flash di Firefox. Dia crash. Untuk berbagai situs, misal yang memutar video atau interface yang interaktif (contoh: upload foto di Facebook), Flash sering crash sehingga tidak berfungsi. (Firefox sedang mengembangkan alternatif untuk menggantikan flash.) Oh ya, ketika menulis ini, Firefox sempat hang juga. Untungnya tidak sempat crash. Hadoh. Saya belum sempat melakukan save ketika dia hang. Jadi, ngeri-ngeri bagaimana gitu. hi hi hi.

Browser pilihan kedua saya adalah Google  Chrome. Yang ini karena dia sebagai alternatif yang ada di berbagai platform. (Saya bekerja utamanya dengan sistem operasi Mac OS X dan Linux. Kadang saya masih menggunakan Microsoft Windows.) Masalah saya dengan Google Chrome adalah dengan Stylish. Kadang fonts tidak diproses dengan baik. Misalnya, fonts untuk tampilan sudah benar tetapi ketika kita pindah ke bagian forms atau sejenisnya dia balik ke fonts bawaannya yang kadang tidak saya sukai. Chrome ini pun makin lama – sama seperti Firefox – makin berat. Tambahan lagi saya juga pasang Chromium yang juga sebetulnya sih masih Chrome juga. Adanya dua Chrome-based browser ini kadang membingungkan komputer saya.

Selanjutnya browser saya di Macbook adalah Safari. Browser ini sayangnya hanya ada di Mac OS X. Jadi sangat spesifik. Terlebih lagi dia tidak memiliki fitur untuk dikonfigurasi sebagaimana halnya Firefox dan Chrome. Jadi saya terjerat dengan fonts bawaannya dia, misalnya. Saya gunakan Safari hanya sebagai alternatif saja kalau Firefox dan Chrome tidak bisa jalan.

Selain browser-browser di atas yang sudah stabil dan mainstream, saya sekarang sedang suka menggunakan browser Vivaldi. Ini adalah browser yang dikembangkan oleh pengembang Opera. Opera dahulu dikenal sebagai browser yang paling cepat responnya dan tersedia di handphone pula. Vivaldi terasa cepat dan juga Flash tidak crash di dalamnya. Hanya saja memang Vivaldi tidak memiliki fitur untuk dikonfigurasi dengan menggunakan Stylish. Ah.

Browser lain yang saya sedang coba juga adalah Midori. Yang ini baru tersedia di Linux saja. Rasanya juga cepat, mirip seperti Vivaldi. Masalahnya juga sama, yaitu tidak dapat dikonfigurasi. Mari kita lihat apakah saya akan suka dengan Vivaldi & Midori ini.


Filed under: Opini, Teknologi Informasi Tagged: opini, postaday2015, Teknologi Informasi

Waiting for my Website Stencil Kit from UI Stencils

Orangescale.NET Thomas Arie

Last December 2014, I decided to buy Website Stencil Kit directly from UI Stencils website. Actually, I wanted to buy the other stencil kits, but since this is my first-time experience buying from this site, I purchased an item only. This is not my first international order since I have been ordering items from outside the country (Indonesia) few times. I had no issues purchasing books from Amazon, Smashing Magazine, and also some other goods from online stores. So, this is a valid reason to buy some stuff online.

I understand that it takes time. I had my Smashing Magazine’s The Mobile Book after waiting (and made another confirmation) for about 6 months. Amazon usually took 3-4 weeks.

wstn01721205812057

I had my order confirmation from UI Stencils on December 26, 2015. Yes, I was aware that it might take a little bit longer since it was during Christmas and New Year holidays. The total transaction was $35.50 ($6.50 for shipping). A week after that, I got another email confirmation informing that my order have been shipped.

It’s been almost 6 weeks and I haven’t received my order. Well, I think I just need to wait a little bit longer.

Menjajal Windows 10 Technical Preview

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Ndak terasa Microsoft sudah akan merilis Windows versi baru lagi. Versi terbaru Windows yang tadinya digembar-gemborkan akan punya nama Windows 9 ternyata bikin kecewa banyak orang karena tebakannya salah. (upss)

Jadi Windows terbaru ini akan punya nama Windows 10. Persisnya sih tidak diketahui mengapa tiba-tiba loncat dari Windows 8 ke Windows 10. Barangkali kalau diberi nama Windows 9, nanti seandainya dapat service pack sampai 5 kali atau 8 kali akan bikin bingung, soalnya namanya jadi Windows 9.5 dan Windows 9.8. Sangat berpotensi keliru dengan Windows 95 dan Windows 98. (lmao)

Hehe, gak ding, nanti saya dibalang sandal sama Bill Gates. Mending-mending kalo dibalang segepok duit dollar. :p

Apapun alasannya, sudah pasti Windows terbaru ini bakal bernama Windows 10 dan sudah muncul Technical Preview-nya. Kalo minat, silakan download di http://windows.microsoft.com/en-us/windows/preview-iso dan ikuti petunjuknya di sana.

Saya sendiri sudah sempat menjajal Windows 10 Technical Preview ini. Windows-nya saya install di Asus Vivobook S200, supaya karakter touch screen-nya bisa dicoba sekalian. (Tentang Asus Vivobook S200-nya pernah saya review di sini). Nah, inilah kesan saya terhadap Windows 10 ini.

Start Menu Windows balik. Yeeey. (dance) Ya meskipun saya sebenarnya tidak keberatan menggunakan Start Screen seperti Windows 8 tapi rasanya tetap lebih nyaman pake Start Menu.

Apalagi jika kadang menemui taskbar yang ngadat dan ngumpet, tinggal pencet tombol WIN, beres dah, Start Menu muncul bersamaan dengan munculnya taskbar. Di Windows 8/8.1 gak bisa seperti itu, pencet tombol WIN yang muncul Start Screen. Yang dipencet kudu kombinasi tombol WIN+T kalo mau menampilkan taskbar.

Windows 10 Start Menu

Tapi berhubung Microsoft sudah terlanjur mendesain Modern UI dengan tile kotak-kotak yang khas itu, maka penampakan Start Menu-nya juga menggunakan tile kotak-kotak itu. Jadi ceritanya ini semacam merger antara Windows XP dengan Windows 8.

Start Menu ini bisa dimaximized hingga memenuhi layar dan seolah-olah menjadi Start Screen seperti Windows 8.

Berhubung sekarang sudah pake Start Menu, maka Charm Bar sudah tidak diperlukan lagi. Kalau sisi kanan layar dicolek, tetap ada yang muncul sih, cuma sekarang bukan Charm Bar melainkan Notification Center. Notification Center ini ya seperti Action Center di Windows Phone 8.1 kalau sisi atas layar dicolek ke bawah.

Windows 10 Action Center

Dan sekarang yang bisa dicolek bukan cuma sisi kanan saja. Sisi kiri layar juga bisa dicolek dan bila itu dilakukan, akan muncul daftar aplikasi yang terbuka dalam ukuran thumbnail beserta pengaturan multi desktop. Ya, meski ketinggalan jauh dibanding Linux yang sudah sejak zaman prasejarah memiliki multi desktop, akhirnya sekarang Windows juga punya. Ya ndak papalah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Windows 10 Multiple Desktop

Trus yang menyenangkan, apalagi kalau bukan Cortana! Yes! Pengguna Windows Desktop tak perlu lagi iri dengan pengguna Windows Phone. Cortana bisa diaktifkan melalui kotak teks yang terletak persis di sebelah kanan tombol Start. Cortana ini bisa dioperasikan baik dengan teks yang diketikkan maupun dengan perintah suara. Keren bukan? Cuma jangan dibayangkan Cortananya muncul dalam bentuk karakter cewe itu ya. (upss)

 

Windows 10 Cortana

Saya juga sempat menginstall Word, Excel, dan PowerPoint Preview. Peranti Office ini dijejali dengan berbagai fitur baru yang semoga bisa saya ceritakan di lain kesempatan atau malah sekalian saya tuangkan dalam bentuk buku. :mrgreen:

Soal aplikasi, apakah aplikasi desktop untuk Windows 7 masih dapat diinstall di Windows 10? Sepertinya begitu. Aplikasi macam Adobe Reader, GIMP, PicPick, FileZilla, dan lain-lain (asal bukan versi yang jadul lho ya) kemungkinan besar masih bisa berjalan dengan baik di Windows 10.

Selain itu tersedia juga Store yang menyediakan aplikasi khusus untuk platform Windows 10. Hebatnya, aplikasi yang tersedia di Store ini nantinya akan bersifat universal untuk berbagai platform. Artinya aplikasi tersebut selain bisa diinstall di desktop, bisa pula diinstall di smartphone, tablet, bahkan juga Xbox, sepanjang semuanya sudah menggunakan Windows 10.

Keren khan? Jadi gak sabar menunggu Windows 10 diluncurkan. Oh ya, sebelum lupa, pengguna Windows 8 gak perlu khawatir harus beli lagi bila ingin upgrade ke Windows 10. Gratis! Syaratnya cuma 1, upgrade harus dilakukan pada tahun pertama semenjak Windows 10 diluncurkan.

Pelajaran dari Mengikuti Lari 17km

Okto SiLaban Okto Silaban

sumber gambar: dunialari.com

5k, 10k, 17k, 22k, beberapa jarak yang sering jadi pilihan dalam acara lomba lari. Saya sendiri dulu cukup rutin lari di treadmills karena alasan yang cukup sederhana. Tapi untuk ikutan lomba lari yang sedang marak-maraknya kala itu saya masih enggan. Kayanya males aja gitu bangun subuh-subuh, pergi ke Sudirman cuman buat lari-lari. Ongkos pulang pergi taksinya aja udah berapa. Daftarnya bayar lagi, hih..!. Yeah.., I’m a cheap bastard. Haha.

*eh iya, buat yang awam ‘k’ itu maksudnya kilometer.

3K

Tapi akhirnya di Juni 2013 saya ikut lari 3K dalam acara Aquarius Sebelasthlon. Lari lucu-lucan kalau kata teman-teman saya yang sudah ikut lari 5k, 10k, dll. Kemudian di 2014, bulan Agustus akhirnya saya ikut Silverun, penyelenggaranya organisasi pengacara-pengacara pasar saham gitu deh. Entahlah apa namanya. Keduanya tentu saja gratis. Hehe.

11K

Untuk yang Silverun ini cukup jauh jaraknya, 10k. Sewaktu lari saya ikut tracking juga dengan aplikasi Endomondo di Android saya, jarak aslinya dari start sampai finish malah sebenarnya 11k lebih. Ternyata tidak seperti perkiraan saya, setelah selesai tidak capek-capek amat ya 11k itu, hehe. Entah karena saya gak ngoyo kali ya. Waktunya? 1 jam 9 menit 4 detik (kalo menurut Endomondo). Ya jelas saya bukan juaranya. Walaupun para pelari dari Kenya itu gak ikut pun, saya pasti gak bakal juara deh.

17K

Lalu, karena penasaran, dan juga karena (lagi-lagi), gratis, hehe, saya ikut Independence Run di bulan yang sama, tahun 2014. Saya pilih yang kategori 17k, karena cukup pede dengan hasil yang 11k kemarin. Saya baru tahu, ternyata lari di jalan itu tidak separah yang saya bayangkan.

Tapi, kali ini saya ceroboh. Orang-orang sering bilang, H-1 sebelum lari harus carbo loading. Biar energinya banyak. Berhubung 17k itu jarak yang jauh bagi saya, ya saya coba ikuti. Jadi jam 10 malam H-1, saya merasa saya perlu carbo-loading. Jadilah saya ke warung makan Padang terdekat. Dengan 1 rendang, 1 ayam goreng dada yang ukurannya jumbo, ketimun potong, daun singkong, gulai nangka, plus nasi porsi kuli, semuanya saya habiskan dalam tempo sekejap. Alhasil, kekenyangan membuat saya tidak bisa tidur. Berbaring saja sulit. -__-

Jadilah jam 2 lewat saya baru bisa tidur. Sementara jam 5 saya sudah harus berangkat, karena harus sudah berada di lokasi start pukul 5.30, sementara perjalanan ke depan Istana Merdeka diperkirakan butuh waktu 30 menit. Ini artinya saya paling tidak harus bangun pukul 4.45 pagi (gak pakai mandi lagi). Jadilah waktu tidur saya maksimum cuma 2 jam 45 menit.

Saya tiba di lokasi start agak telat, pukul 5.30 lewat sedikit. Sudah ribuan orang tumpah ruah. Karena banyak jalur kendaraan yang diubah, pak sopir BlueBird nya juga kagok. Saya dan teman saya memutuskan turun saja dekat Monas, dan dilanjutkan berjalan kaki. Dan ternyata, lokasi start nya masih jauh dari situ.

The Toilet

Yang apesnya, turun dari taksi, saya kebelet BAB. Berharap di dekat lokasi start ada toilet umum saya percepat langkah saya. Bener memang, ada toilet umum dekat lokasi start. 2 mobil jumlahnya. (Itu loh mobil yang khusus buat toilet itu, mobile-toilet kali ya namanya?). 2 mobil, dengan masing-masing antrian yang panjangnya sudah ratusan meter membuat saya makin gelisah. Sementara sebentar lagi Pak SBY sudah mau membuka start lomba lari.

Ok, tahan sajalah dalam hati saya. Nanti di tengah jalan panitia pasti sediakan juga toilet umum. Tiba tepat di garis start, sekarang saya jadi kebelet pipis. Double attack. Arrgghh.. Lalu Pak SBY mengangkat bendera tanda start dimulai. Demm..!

Saya berlari agak kencang, bukan karena berharap menang, tetapi berharap segera bertemu toilet umum. Di depan Sarinah saya sudah sempat kepikiran, mau mampir ke McDonald sekadar numpang ke toilet. Tapi.., ahh nanti juga ada toilet umum.

Melewati Sarinah, saya mulai cegukan. Berasa angin dari lambung mau keluar dari mulut. Lalu kuah rendang semalam seperti merangkak naik lagi ke tenggorokan. Mual. Mau muntah. Plus kebelet pipis dan BAB. Sempurna saudara-saudara..!

Strategi saya kalau lari adalah tetap lari sampai minimal 2/3 dari jarak tempuh, setelah itu baru boleh jalan sebentar, lalu lari lagi. Kali ini, boro-boro mau tetap berlari. Berjalan saja saya sudah senewen rasanya.

Panitia PHP

Di sekitar perempatan jalan layang depan Sampoerna Strategic Building, saya mendekati panitia lari (eh marshall ya istilahnya?). “Mbak, ini toilet umum gitu di sebelah mana ya? Dari Monas sampai sini saya gak liat. Kebelet nih.”, ujar saya mengiba. “Oooh.., terus aja lurus, Mas”, ujar si mbak panitia meyakinkan.

Dengan perasaan mual mau muntah, kuah rendang di tenggorokan, dan kebelet BAB, saya tetap berlari sampai ke sebrang Ratu Plaza. Saya hampiri lagi panitia. “Mas, ini ada gak sih toilet umum gitu yang di pinggir jalan. Kaya di start tadi itu loh?”. “Hmm.., kurang tahu ya, Mas. Mungkin coba deket puter balik nanti di Sisingamangaraja. Kayaknya ada deh di situ.”, ujar si mas dengan raut wajah yang tidak meyakinkan.

Jadilah saya tetap paksakan, lari, jalan, lari, hingga melewati bundaran Senayan, lurus terus ke Sisingamangaraja. Disini tempat putar balik jalur lari 17k nya. Di puteran itu saya tanya lagi panitia “Mbak, sebenarnya ada gak sih toilet umum gitu di pinggir jalan ini. Saya dari tadi kebelet. Katanya lurus aja. Sampai sini gak lihat juga.”. “Kayaknya gak ada deh mas setahu saya. Nanti mampir aja mas ke FX.”, ujar si mbak polos sambil membagikan tali berwarna hijau, penanda kita sudah beneran puter balik. Gak curang motong di tengah jalan.

Ahh.. PHP nih panitia.

Tanggung

Sampai di situ kebelet pipis saya sudah hilang sih. Tapi kebelet BAB, mual dan kuah rendang nya masih berasa. Ya sudah saya teruskan saja lari-jalan saya. Di dekat bundaran Senayan, saya berpikir untuk menyerah saja. “Ahh.., sudahlah. Saya ke Sevel Senayan itu saja. Kan ada toiletnya di atas. Abis itu pulang aja naik taksi.”. Tapi sebagian diri saya masih kepingin terus. Rencananya nanti di FX saja mampir ke toiletnya.

Lewat di depan FX saya tiba-tiba teringat. Dulu sewaktu car-free day. Saya ingat di depan Menara BCA, sering ada acara senam aerobik, nah di sebelahnya seingat saya ada mobil toilet umum. Ah ya sudah, di situ saja pikir saya. Lewatlah FX.

Lagi-lagi, saya harus menahan perut saya. Di depan Menara BCA hanya ada panggung tempat instruktur aerobik. Tidak ada penampakan mobil toilet umum. Saya sudah mau berhenti saja. Tapi berhenti kan enggak bikin saya bisa BAB ataupun muntah dengan lancar. Dipikir-pikir, mending saya teruskan sampai garis finish. Pasti ada toilet. Toh Monas sudah tidak jauh lagi.

Finish !

Melihat gerbang finish, saya menjadi semangat lagi. Bukan karena merasa selesai. Tapi yang ada di otak saya “Yeah.., akhirnya.., toileeeettt…!!”. Sambil berlari, saya ambil medali 17k nya, sebotol air mineral, dan terus tetap berlari mencari mobil toilet umum. Nah itu dia..!

Ya, tetap saja antri toiletnya. Tapi antriannya cuma sekitar 8 orang, yang entah mengapa tiap orang rata-rata menghabiskan waktu hampir setengah jam rasanya. Sampai di sini saya rasa mual saya malah sudah hilang. Kebelet pipis sudah hilang dari tadi juga. Kebelet BAB nya masih. Mungkin karena saya menahan BAB sebegitu lama, akhirnya perut saya pun masih bisa sabar mengantri di belakang 8 orang ini.

Tapi si kuah rendang masih konsisten. Kelar urusan BAB, rasa kuah rendang semalam tetap lengket di tenggorokan, walaupun saya sudah minum air mineral barusan (sepanjang lari saya tidak minum sama sekali). Kuah rendanglah juara 17k saya ini.

 

Nge-Gowes Rame2

ophay ophay

gowes BNI-gorontalo

Minggu pagi (15 Februari 2015), cycle46 kembali melalukan acara gowes bersama. Sebenarnya acara gowas gowes bersama (rekan2 kantor) ini sudah dari dulu sering diadakan, namun karena satu dan lain hal kegiatan ini sudah tidak aktif lagi.

Setelah adanya regenarasi pegawai (banyak yang mutasi), dan untuk menjalin kekerabatan dan memupuk kebersamaan, alhamdullilah kegiatan seperti ini mulai dikembangkan lagi.

Ini adalah kali kedua di tahun 2015 dan mudah2an akan tetap konsisten. Rute yang dipilih kali ini adalah Objek Wisata Pemandian Lombongo-Gorontalo, jarak tempuh dari pusat kota yakni kurang lebih 15 KM.

Kayuhan demi kayuhan tidak terasa karena semangat peserta yang tetap antusias walaupun terik matahari yang menyengat serta track yang diselingi tanjakan manja, dan rata-rata masih terbilang newbie.

gowes BNI Gorontalo (2)

Saya pribadi sebenarnya sudah sering ke tempat ini, (bareng dengan komunitas sepeda lainnya) kolam air panasnya yang berasal dari mata air asli membuat tempat wisata ini mendapat daya tarik tersendiri.

referensi tentang Objek Wisata  Pemandaian Lombong – Gorontalo, selengkapnya dapat dibaca di :

https://gorontalotravelwisata.wordpress.com/pemandian-air-panas-lombongo/

http://www.gocelebes.com/pemandian-air-panas-lombongo/

Tetap Semangat Cycle46 (BNI-Gorontalo).

 

 

 


Valuasi Perusahaan IT (part 2)

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Ini masih soal tentang menilai (valuation) harga sebuah perusahaan IT. Ceritanya ada sebuah perusahaan yang ingin membeli perusahaan lain, sebuah perusahaan IT. Nah, bagaimana menilai harga dari sebuah perusahaan IT itu?

Cara yang konvensional adalah dengan menilai aset yang dimiliki oleh perusahaan IT tersebut, tetapi cara ini kurang cocok. Bayangkan, sebuah perusahaan IT mungkin didirikan oleh 5 orang mahasiswa. Mereka hanya menggunakan 5 notebook dan 1 server. Kalau dilihat dari aset hardwarenya, maka nilanya hanya harga 5 notebook dan 1 server ini saja. Wah, pasti *sangat kecil*. Mana mau perusahaan IT tersebut dihargai dengan itu saja.

Jika harga tersebut ditambahkan dengan software yang dimiliki (dibeli) oleh perusahaan IT tersebut, hasilny juga masih belum pas. Masih kemurahan. Apalagi kalau softwarenya berbasis open source yang gratisan pula. Mosok harganya Rp 0,- ???

Ada hal lain lagi yang dapat dianggap sebagai aset, yaitu HaKI atau Intellectual Property Rights (IPR) dari perusahaan IT tersebut. Contoh HaKI  adalah  paten atau sejenisnya. Problemnya adalah software patent tidak dikenal di Indonesia. (Bagusnya memang seperti itu. Lain kali akan saya bahas ini.) Namun bukan itu yang menjadi masalah utamanya. Masalahnya adalah bagaimana menilai “sebuah” HaKI di bidang IT?

Sebagai contoh, misalnya sang perusahaan IT tersebut mengembangkan sebuah software yang unik, memiliki desain yang keren, dan mengimplementasikan proses-proses (termasuk business process) yang bagus di dalamnya. Software / karya ini mau dihargai berapa? Bagaimana dengan ide-ide yang tertuang di dalamnya? Masih sulit untuk dihargai. Padahal justru ini adalah salah satu “aset” utama dari perusahaan IT yang harganya mahal. Maka, masih perlu diskusi dan perdebatan panjang untuk menerima hal ini sebagai salah satu cara menilia perusahaan IT.

Cara valuasi lain, yang itu dengan menilai harga user / customer / pelanggan yang dimiliki dapat dibaca di sini. Masih bersambung lagi … Sementara itu, semoga tulisan ini bermanfaat.


Filed under: Bisnis, Start-up, Teknologi Informasi Tagged: Bisnis, postaday2015, Start-up, Teknologi Informasi

Melakukan Video Call Dengan Zenfone

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Salah satu hal yang relatif sering ditanyakan di blog ini adalah “bagaimana melakukan video call dengan Zenfone?”

Ya, Zenfone memang tidak dilengkapi dengan aplikasi default untuk panggilan video seperti halnya panggilan suara dengan GSM. Itu yang kadang menimbulkan keraguan, bisa gak sih Zenfone digunakan untuk melakukan video call?

Tapi bisa kok, jangan khawatir. Memang bukan dengan aplikasi built-in seperti untuk panggilan suara dengan GSM tapi dengan menggunakan aplikasi tambahan. Dan juga hanya berlaku untuk Zenfone 5 dan Zenfone 6, karena Zenfone 4 tidak memiliki kamera depan.

Terus gimana?

Ya gak gimana-gimana. (upss) Ada beberapa aplikasi yang bisa diinstall dan dimanfaatkan untuk melakukan panggilan video. Sebut saja Skype, Hangout, Fring, Tango, OoVoo, dan mungkin masih ada lagi.

Yang bisa dipastikan sudah tersedia di Zenfone adalah Hangout, karena merupakan bawaan Google. Cara untuk melakukan panggilan dengan Hangout dapat dilihat pada video tutorial berikut ini:

Pada prinsipnya cara melakukan video call tersebut tidak hanya terbatas untuk Zenfone tapi juga bisa dilakukan pada smartphone berbasis Android yang lain.

Ngiseng dengan Mr. Maryo

ophay ophay

Kangen dengan game jadul dan tanpa perlu mengutak-atik emulator untuk memainkannya.  Pilihan saya jatuh ke Secretmaryo, yang mau nyoba bisa ke http://www.secretmaryo.org/.

ophay, game jadul


Google Offers Free 2GB Extra for Google Drive

Orangescale.NET Thomas Arie

Google offers 2GB of storage for Google Drive for those who completes Google’s security checkup process. This offer ends on February 17, 2015. It’s also to celebrate Safer Internet Day. Right now, I have 15 GB of storage for my Google Drive and use around 5 GB of it). There are still plenty of room for my storage, but 2 GB of free upgrade is too good to be skipped.

Screen Shot 2015-02-10 at 11.43.52 PM

The security checkup is a simple and straight forward. It’s to make sure that your Google account is safe by doing some checking on these areas:

  • Recovery information. Make sure you to have an active phone number and alternative email for account recovery.
  • Recent activities. Review the recent login activities using Google account.
  • Account permission. Check the services, or apps you give permission to use or connect to Google account.
  • App password. You can use specific password for logins. So, using Google, you don’t always supply your primary password. If you’re not sure or find the applications you don’t recognize, remove them.
  • 2-step verification. I use this security method. Just make sure to have backup phone number there, including the backup codes.

Even this offer does not apply to Google Apps for Work and Google Apps for Education, but it’s recommended that Google account owners should review the security checkup. After completing the security review checkup, the additional storage will be automatically added at the end of February 2015.

IGOS Nusantara X.1 rc2

suryana.or.id » Planet Terasi ns

IGOS Nusantara X.1 rc2 Sambil menunggu X.1 final yg akan rilis akhir Pebruari 2015, pengembang IGOS Nusantara memutuskan meluncurkan IGN X.1 rc2. Perbaikan: + Perbaikan instalasi, eth0 tak ada IP -> tetap lancar + Kernel 3.18.5 beserta modul dan firmware […]

Soal transportasi publik

Aku Ingin Hijau Aku Ingin Hijau

Pada hari Sabtu tgl 7 Februari 2015, harian Media Indonesia memberikan sebuah editorial dengan judul “Melepas Predikat Jakarta Juara Macet.

Disebutkan bahwa Castrol Magnatec Stop-Start Index memberikan predikat juara untuk Jakarta sebagai Raja Macet.

Tentunya hal ini sudah tidak asing lagi bagi kita rakyat Indonesia terutama yang tinggal di Jakarta.

Namun, ada kata-kata yang sangat inspiratif dari editorial tersebut yang ingin saya bagi yaitu

“Kota yang maju bukanlah kota yang penduduk miskinnya mampu membeli mobil pribadi. Melainkan kota yang penduduk kayanya mau menggunakan transportasi publik”

Mudah-mudahan para pemimpin kota dan negara kita ikut mendengarkan, terinspirasi dan dapat memberi harapan untuk transportasi umum yang lebih baik dan digunakan oleh masyarakat dari segala tingkat dan golongan.


Filed under: Berita Lingkungan Lokal, Hemat Di Jalan, Manifesto Hijau Tagged: Media-Indonesia

Internet Mengajari Budaya Instan?

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Beberapa rekan berdiskusi mengenai efek (negatif) dari internet terhadap kebiasaan manusia. Salah satu yang muncul adalah dugaan bahwa internet mengajari kita untuk tidak sabar dalam membaca. Kalau dahulu kita membaca berita sampai habis. Kalau sekarang orang lebih senang membaca judulnya saja. Atau kalau dibaca tulisannya juga hanya halaman pertama yang dibaca. Jarang ada orang yang mau membaca tulisan yang panjang-panjang. Apakah benar demikian?

Terkait dengan hal ini akhirnya orang tidak mau mendiskusikan hal-hal yang rumit. Padahal ada banyak orang yang merasa telah membahas hal-hal yang penting, tetapi sesungguhnya hanya bagian kulitnya saja. Ketika intinya dibahas – dan tentunya berat, membutuhkan bacaan yang lebih dalam – maka banyak orang yang kemudian menghilang.

Orang juga diajari malas untuk mencari sumber bacaan (berita) sesungguhnya. Mereka ingin disuapi. Padahal sesungguhnya teknologi tersedia. Atau, mungkin justru karena teknologi tersebut maka orang kehilangan skill yang seharusnya simpel.

Hmm…


Filed under: Curhat, internet, Opini, Teknologi Informasi Tagged: Curhat, internet, opini, postaday2015, Teknologi Informasi

Dead Man's Switch di Internet

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Di dalam dunia teknik dikenal istilah Dead Man's Switch atau switch orang mati, yaitu sebuah saklar yang dioperasikan secara otomatis jika manusia yang menjadi operator suatu sistem menjadi lumpuh, misalnya mati, kehilangan kesadaran atau sedang tidak memegang kontrol mesin.

Salah satu penerapannya yaitu di beberapa sistem kemudi kendaraan, misalnya kereta api, di mana pengemudi atau masinis diharuskan memegang tuas kendali atau menginjak pedal tertentu secara terus menerus agar kereta dapat berjalan. Jika ternyata tuas kendali terlepas dari tangan, maka diasumsikan bahwa terjadi sesuatu dengan masinis itu, misalnya pingsan, celaka atau bahkan mungkin meninggal dunia. Agar tidak berbahaya, maka secara otomatis kereta api yang sedang dikendalikan akan berhenti.

Awalnya ini diterapkan pada kendaraan atau mesin, namun dalam perkembangannya hal ini juga digunakan di dalam dunia teknologi informasi, misalnya terkait perangkat lunak komputer. Rumornya, Snowden juga menggunakan ini, sehingga jika sesuatu terjadi atas dirinya, maka ada sistem otomatis yang akan menyebarkan data rahasia yang masih disimpan olehnya (sumber).

Nah, di Internet sering terjadi dimana seseorang tidak mengakses akunnya (email, web, data, layanan lain) karena adanya halangan seperti itu, misalnya koma atau meninggal dunia. Terkadang akun email ini berisi data penting yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya, misalnya diwariskan kepada keluarga terdekat atau rekan kerja di kantor untuk dapat digunakan melanjutkan kehidupan.

Google memiliki sistem serupa yang disebut sebagai Inactive Account Manager, di mana sistem ini akan melakukan pemindahan data kepada pewaris yang sudah ditunjuk apabila terjadi sesuatu yang menyebabkan pemilik akun tidak mengakses akun Google dalam periode waktu tertentu. Di Internet juga banyak layanan serupa, yang akan mengecek keberadaan kita secara online dalam periode waktu tertentu, di mana jika kita tidak merespond, berarti ada halangan terhadap diri kita sehingga sistem akan secara otomatis melakukan sesuatu atau semacam mengirimkan informasi kepada orang-orang yang telah ditunjuk.

Saya yakin tidak ada yang mau mengalami celaka, namun demikian, apakah Anda sudah mempersiapkan sesuatu jika hal itu terjadi di kemudian hari?

Baidu User Ambassador Program

Kemas Antonius Kemas Antonius

Baidu User Ambassador 2015

Ayo ajak teman-temanmu pengguna produk Baidu di Indonesia untuk berpartisipasi dalam program ini. Kunjungi situs berikut untuk informasi lebih lanjut, http://id.user.baidu.com/ambassador

Baidu User Ambassador adalah program yang diselenggarakan oleh Baidu Indonesia untuk memilih pengguna terbaik yang akan menjadi penghubung antara Baidu dengan masyarakat luas. Para pengguna yang terpilih akan menjalankan tugas sebagai User Ambassador dari Baidu selama 1 tahun.


Filed under: Baidu, Indonesiana

How come Facebook is able to show me ads for something I was searching on Google?

Orangescale.NET Thomas Arie

How come Facebook is able to show me ads for something I was searching on Google?. I’m also curious about this question. And got a great answer.

So, when you log into Facebook, you would be shown an ad from Apple. It does not matter that you were logged out of Facebook when you visited Apple’s website. The ad will be shown based on your browsing habits outside of Facebook. In a sense, Facebook might not even know that you visited Apple’s website, as the ads are created using your data (using tracking cookies) complied by the advertisers. In addition, you might see the same ad on other websites, too (not just on Facebook), as the same advertisers engage with different ad exchanges.

Delete Old Devices Backup on OS X to Reclaim Disk Storage

Orangescale.NET Thomas Arie

One of the routines relate to my laptop is to keep everything organised. This includes folders management, removing unused files or installing/uninstalling applications, etc.

For disk usage checking purpose, I use OmniDiskSweeper. Yes, I also have Macpaw’s CleanMyMac 2, but OmniDiskSweeper will do a simple and specific task as mentioned on its site:

OmniDiskSweeper is really great at what it does: showing you the files on your drive, in descending order by size, and letting you decide what to do with them.

One of the directories using lots of storage was ~/Library/Application Support/MobileSync/Backup/. This directory stores the backup of the iOS devices. I have iPad and also iPhone. I only have 250 GB of storage configuration for my Macbook Pro, and the backup consumes tens of GB.

iTunes Devices Preferences

To remove the unnecessary backup files, open iTunes, choose Preferences, and select the Devices menu. There are some old backups that I think safe enough to be removed. So, I did that. So, I only keep the latest backup for now.

odw-183581841-20851-0825

The backup solution is pretty easy and straight forward. Even I don’t regularly synchronised my files, in most cases I only backup the media files especially photo. And, I prefer to use Image Capture to save the photos/videos to the folder I wanted.

uBlock

Orangescale.NET Thomas Arie

µBlock — An efficient blocker for Chromium, Firefox, and Safari. Fast and lean. I’ve been using it to replace existing Adblock Plus.

Raspberry Pi 2

Orangescale.NET Thomas Arie

Raspiberry 2

Raspberry Pi 2 is on sale for $35. It has ~6x performance using a 900MHz quad-core ARM Cortex-A7 CPU compared to the previous product. It’s also said to be supporting ARM GNU/Linux distributions, including Snappy Ubuntu Core, as well as Microsoft Windows 10. (Image source: Hackaday)

Ngeblog karena Komentar

Okto SiLaban Okto Silaban

Beberapa kali teman-teman saya yang sudah punya blog bilang, mereka sebenarnya pengen nulis rutin di blog. Tapi seringkali bingung apa yang mau ditulis. Terutama mereka yang menghindari menulis “ala diary”, alias tidak mau menceritakan kehidupan pribadinya di blog. Karena memang topik ini yang paling gampang dibahas di blog sih.

Nah kalau sudah buntu begitu, salah satu tipsnya adalah blogwalking. Ngunjungin blog-blog teman, atau “seleb online”. Mungkin ada aja satu dua tulisannya yang menarik. Bisa jadi anda tergerak untuk memberi komentar. Nah, daripada jadi komentar, mending jadi bahan tulisan anda sendiri saja. Hehe.

*mungkin itu kenapa sekarang komentar di blog sedikit kali ya? Haha.

 

Tawaran Asuransi dari Telemarketer Bank, Untung atau Rugi?

Okto SiLaban Okto Silaban

Beberapa kali saya mendapatkan tawaran asuransi (ehm, istilah mereka sih “Perlindungan Diri”) dari beberapa telemarketer bank, entah bank yang saya jadi nasabahnya, ataupun bank lain. Pada umumnya tawarannya kurang lebih sama seperti ini:

  • Biaya premi tetap selama 10 tahun
  • Di tahun ke 10 seluruh premi yang kita bayarkan akan dibayarkan 100% (tanpa potongan biaya apapun)
  • Melingkupi asuransi kesehatan, termasuk kematian. Bahkan ada yang bahkan kematian yang disengaja, alias bunuh diri (setelah 13 bulan jadi nasabah). Jadi kalau di bulan ke-14 stress, mau mati aja, bisa bunuh diri, nanti ahli warisnya dapat duit. Setidaknya begitu kata marketer nya.
  • Komitmen harus 10 tahun, jadi dibawah 10 tahun gak bisa menarik dananya.

Nah selain itu point-point di atas detailnya bervariasi. Misal, besar premi, detail cakupan yang masuk dalam asuransi, term pembayaran kembali premi, dan lain-lain.

Kalau anda kerja sebagai karyawan tetap di perusahaan, dan dari kantor sudah mendapatkan jaminan asuransi kesehatan, lalu karena UU yang baru, pasti juga mendapatkan asuransi BPJS, kira-kira untung atau rugi kalau mengambil tawaran asuransi seperti di atas? Mari kita ulas.

Biaya Tetap

Anggap biaya preminya 200rb per bulan. Jadi setahun 2,4 juta, atau 10 tahun 24 juta. Dengan asuransi di atas, maka kita membayar premi per bulan 200rb. Si marketer pasti akan bilang “Enak lho Pak, preminya tetap selama 10 tahun. 5 tahun lagi, bayar 200rb perbulan pasti tidak terasa sebesar sekarang”. Kelihatannya iya juga ya? Biaya obat-obatan kan dalam 5 tahun pasti naik lebih mahal. Anggap aja inflasi 7% per tahun, maka 5 tahun lagi biaya pengobatan bisa naik 35%, sementara premi kita tetap 200rb/bulan.

Nah, jangan senang dulu, cek lagi. Apakah tanggungan kesehatan kita juga naik? Misal batas tanggungan jika kita sakit adalah 150 juta. Kalau 5 tahun lagi batas tanggungannya juga tetap sama, berarti sebenarnya nilai 150juta nya juga sudah berkurang. 150 juta sekarang, 5 tahun lagi itu, nilainya sudah berkurang 35%. Sebagai contoh aja, sekarang dengan 150juta, mungkin bisa mengganti ruas tulang leher yang rusak dengan bahan sintesis, tetapi 5 tahun lagi bisa jadi 150juta sudah tidak cukup.

Sementara di satu sisi, tidak penting-penting sekali cover tanggungannya itu. Karena dalam contoh ini, sudah ada asuransi kesehatan dari kantor, plus dari BPJS (BPJS cover nya malah luas sekali dan biayanya sangat murah). Oke, sebagian orang akan bilang “Kan bisa double claim bro..”. Contohnya begini: Saya kecelakaan dan patah tangan. Pengobatannya menghabiskan biaya 10juta. Dari BPJS atau asuransi kesehatan dari kantor kan sudah ditanggung, jadi kita gak keluar duit. Nah, katanya sih.. kita bisa klaim lagi ke asuransi dari bank ini. Jadinya malah untung. Dapet duit 10juta. Tapi ya.. gitu deh.., pada dasarnya kita baru dapet duit kalau celaka. Agak sulit menyatakan ini sebagai untung ya.

Dana Utuh

Nah satu lagi yang dijual adalah, kalau asuransi biasa, kita tiap bulan bayar premi, tapi uang premi ini (biasanya) tidak bisa kembali. Sementara kalau penawaran yang saya ulas ini, setelah 10 tahun uangnya kembali. Dengan contoh di atas, artinya kita naruh duit 24 juta selama 10 tahun, dan setelah 10 tahun, duitnya dikembalikan 100%, gak ada potongan apapun. “Duitnya utuh mas bro..!” Yakin?

Kalau ditanya apa gak mending 24 juta itu ditabung aja selama 10 tahun? Marketernya sudah siap dengan jawabannya : Rugi mas bro..! Bunga tabungan itu paling 2% setahun. Masih potong pajak, dan biaya administrasi. Jadinya bisa-bisa malah rugi. Di tahun ke-10 duitnya jadi berkurang. Biasanya gitu jawaban mereka.

Keliatan masuk akal kan? Ya.., karena dibandingkan dengan tabungan biasa. Padahal tabungan biasa itu, kapan saja (dalam periode 10 tahun itu), bisa diambil, dan digunakan. Sementara dengan asuransi ini, selama 10 tahun, uangnya mengendap gak bisa diapa-apain. Harusnya kalau mau adil, dibandingkan dengan deposito aja. Bunganya sekitar 5% per tahun, setelah potong pajak jadinya bunga efektif sekitar 3% per tahun. Ya gak besar-besar amat sih, masih kalah dengan inflasi yang sekitar 7% per tahun. Jadi totalnya nilai uang kita masih berkurang sekitar 4% per tahun (nilai inflasi – bunga efektif deposito).

Dibanding yang katanya “100% kembali” sih, ya deposito masih mending sih. Karena yang 100% itu belum memperhitungkan inflasi. Yang artinya, nilai uang kita berkurang sekitar 7% per tahun, alias di tahun ke-10 berkurang 70% nilainya. Duitnya utuh.., tapi nilainya jauh berkurang mas bro..!

Detail

Kalau secara penjelasan dan contoh sederhana di atas sih, saya tidak tertarik ikut. Uang yang bisa saya bayarkan untuk premi itu, lebih baik saya masukkan reksadana saham. Di reksadana saham (ini rata-rata kasar aja ya), kenaikan per tahunnya bisa 10% lebih. Ada yang bisa lebih dari 15% per tahun (kalau dirata-rata). Jadi dibandingkan inflasi pun tetap masih untung.

Tapi ya itu tadi, saya sih belum melihat detail-detailnya. Siapa tahu, ternyata biaya premi ada yang tetap selama 10 tahun, tetapi cover nya naik tiap tahun. Ini kan lumayan. Atau misalnya semua jenis penyakit dan penyebab kematian ditanggung, dengan waktu reset tiap 3 bulan. Hehe.

“The devil is on the detail”, begitulah kesimpulannya.

On Telegram

Orangescale.NET Thomas Arie

Telegram

I’ve been using many messaging app. For now, I’m enjoying using Telegram for some simple reasons: lots of my colleagues and frequent contacts are there. It also supports multiple devices (using a single identity). It’s great since I can switch between devices (MacBook, iPhone, iPad and my Android devices) seamlessly.