Planet Terasi

Think. Read. Write.

Inapay Luncurkan InaKlik, Fokus Akuisisi Pengguna Baru

DailySocial ·

Inapay.com, sebuah payment intermediary system dengan sistem layanan yang mirip jasa rekber (rekening bersama) baru-baru ini telah meluncurkan sebuah fitur baru untuk para membernya. Fitur baru ini bernama InaKlik, dimana para membernya dapat berpartisipasi mempromosikan Inapay melalui internet dengan menempatkan sebuah link yang diberikan Inapay pada blog atau website para member tersebut.

Para pembaca pastinya tahu bahwa Inapay adalah sebuah startup yang mendapatkan investasi dari EastVenture pada pertengahan bulan Januari 2012 yang lalu. Setelah mendapatkan investasi, banyak kemajuan dan perubahan yang terjadi pada Inapay. Beberapa diantaranya perubahan slogan pada logo, perubahan konsep pada Gold Member maupun Silver Member, bahkan Inapay sendiri membagi-bagikan hadiah berupa gadget untuk para membernya. Yang pasti, hal ini dilakukan untuk terus mengakuisisi user supaya menggunakan layanan ini.

Pada dasarnya, fitur ini mengajak para membernya untuk berpartisipasi dalam hal mempromosikan Inapay pada blog atau website mereka. Yang nantinya, pihak Inapay akan memberikan apresiasi kepada para membernya yang telah membantu promosi dengan fitur InaKlik ini. Namun, ada beberapa ketentuan yang berlaku pada fitur InaKlik ini, yaitu:

  • Setiap visit yang berasal dari satu IP akan dihitung satu visitor dalam selang waktu 2 jam.
  • Setiap visitor yang mendaftar jadi member Inapay berasal dari satu IP akan dihitung satu member dalam selang waktu 2 jam.
  • Setiap kelipatan 6 visitor akan mendapatkan 1 IPR.
  • Setiap kelipatan 1 member yang telah mendapatkan Inapass (verifikasi) akan mendapatkan 1 IPR.
  • Member yang tidak terverifikasi (belum memiliki Inapass) tidak akan mendapatkan poin.

Dari poin-poin tersebut, seharusnya ada sesuatu hal yang dapat ditukar ke Inapay oleh para membernya. Dengan adanya usaha menambah user dengan melakukan promosi besar-besaran ini, Apakah akan banyak user yang menjadi member Inapay dan menggunakan layanan payment tersebut? Apakah Inapay sendiri termasuk sebuah payment yang dapat mengatasi masalah dunia e-commerce di Indonesia ini? Atau justru mempersulit penggunanya dalam hal bertransaksi online?

Dunia e-commerce pada tahun 2012 ini memang semakin panas. Banyaknya e-commerce lokal bermunculan, pastinya banyak pula masalah yang ada pada dunia e-commerce tersebut. Salah satu masalah didunia e-commerce Indonesia saat ini adalah payment system. Dimana transaksi online di Indonesia dapat dikatakan tidak aman ketika tidak menggunakan payment system. Mudahnya penggunaan dan keamanan pada payment system adalah kunci dari permasalahan e-commerce di Indonesia ini.

Jobs: Lowongan Kerja (iOS/Android Mobile Developer) di PT. Squiryl Indonesia

DailySocial ·

Lowongan kerja untuk kali ini hadir dari PT. Squiryl Indonesia. Perusahaan yang akan segera meluncurkan layanannya di Indonesia ini sedang mencari kandidat dengan posisi iOS/Android mobile developer untuk bergabung bersama tim mereka.

Squiryl adalah platform social yang dikembangkan dengan visi untuk membuat customer loyalty menyenangkan, mengikat, dan lebih efisien.

Berikut keterangan singkat dari perusahaan yang membuka lowongan kerja serta tautan untuk melihat informasi pengiriman CV.

Squiryl

Squiryl is a Social Platform developed with the vision to make customer loyalty fun, engaging, and ultimately more efficient. Squiryl is founded and headquartered in Singapore. Squiryl will be launched in Indonesia in June 2012 and we’re currently looking for an iOS/Android mobile developer to be a part of our fun team!

Lowongan kerja dengan posisi: 

  1. iOS/Android mobile developer

Anda juga bisa melihat lowongan kerja lainnya di Jobs@DailySocial.

Diskusi Cloud Computing #1

AlexBudiyanto.Web.ID ·

Anda pengguna aktif twitter dan ingin berdiskusi mengenai Cloud Computing tapi nggak ada teman-nya? atau ingin begadang untuk nonton final Liga Champions tapi nggak ada temen ngobrol? Nah, kebetulan nih kami akan mengadakan acara Diskusi Cloud Computing #1 yang akan diadakan pada:

  • Hari, tanggal: Sabtu, 19 Mei 2012

  • Jam: 21.00 WIB – selesai

  • Tempat: akun twitter anda

  • Materi: All About Cloud Computing

Bagaimana cari mengikutinya? Untuk mengikuti diskusi ini anda bisa follow akun twitter @cloud_indonesia dan tagar #diskusiCloud. Anda bisa bertanya dengan cara mention @cloud_indonesia disertai tagar #diskusiCloud. Masih kurang jelas ya? contoh-nya, jika anda ingin bertanya “layanan cloud storage apa yang paling bagus saat ini?” anda bisa menuliskan-nya dengan format dibawah ini:

@cloud_indonesia layanan cloud storage apa yang paling bagus saat ini? #diskusiCloud
 

Kami (@cloud_indonesia) nanti akan jadi moderator diskusi, jawaban dan pertanyaan yang ada akan kami RT untuk kemudian anda bisa terlibat di diskusi yang sesuai dengan ketertarikan anda.
Diskusi ini terbuka untuk umum, dan silahkan untuk mengajak rekan-rekan anda sebanyak mungkin. Sampai ketemu di twitter ya!

[Dailyssimo] Sebidang Taman bernama Social Media

DailySocial ·

Apakah Anda pernah memperhatikan bahwa social media yang kita kenal pada saat ini punya arti yang cukup beragam dari para pengguna. Mungkin jika hanya definisi dasar dengan menunjuk Facebook dan Twitter semua orang langsung paham, tapi pernahkah Anda menggali apa yang mereka pahami tentang social media?

Kalau mengutip hasil pembicaraan saya dengan rekan sesama ex-Yahoo!, Jonas Del Los Reyes yang sekarang di Filipina, Anda mungkin bisa membayangkan situasi seperti apa yang ada di sini, berikut kutipan singkatnya, “…our market is still young, definition are scattered, everyone running with their understanding”. Yak, saya pikir memang itulah yang terjadi di wilayah ini. I might say it’s chaotic but in a good way. :-)

Mungkin Anda masih ingat dengan apa yang dilakukan oleh General Motor (GM) beberapa saat lalu tepat sebelum Facebook melakukan langkah bersejarah mereka untuk masuk lantai bursa (IPO), GM memutuskan untuk menghentikan investasi iklan mereka di Facebook ad yang bernilai 10 juta Dollar. GM mengatakan meski mereka memutuskan untuk menghentikan investasi iklan, mereka tidak akan meninggalkan Facebook, namun akan lebih fokus pada strategi konten yang akan tetap didistribusikan lewat Facebook Page mereka.

Sebagai platform terpopuler, Facebook memiliki jumlah pengguna terkoneksi yang besarnya cukup membuat brand-brand terkemuka ikut berinvestasi di dalamnya dalam bentuk yang beragam, dan kebanyakan ya mengambil jalan tercepat, yaitu beriklan. GM melakukan langkah yang boleh dikatakan membuat banyak pihak bertanya-tanya, memfokuskan diri pada konten dan engagement bukanlah cara cepat untuk menggrab existing user dan juga potential client.

Kembali pada kondisi popularitas social media yang membuat semua pihak berlomba-lomba “terjun” ke dalamnya dengan terkadang hanya mengandalkan pengetahuan yang belum terlalu dalam. Atas kondisi ini, maka hampir semua pihak pula berusaha mendefinisikan, meramu, memformulasikan social media dari kacamata mereka masing-masing, dengan harapan bisa mengoptimalkan media baru ini. GM saya pikir sedang melewati fase ini setelah mereka mencoba, mengalami serta mengevaluasi yang akhirnya memutuskan untuk fokus pada konten dan engagement ketimbang pada iklan.

Buat saya pribadi keputusan GM bukanlah hal yang aneh. Social media mau bagaimanapun juga adalah salah satu bentuk media yang tentunya penggunaannya bergantung dari limitasi ataupun fokus dari media tersebut, serta tentunya disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan. Mungkin bagi beberapa pembaca yang sempat mengikuti sharing session pada Akademi Berbagi masih ingat bahwa saya selalu menggunakan analogi Taman sebagai (Social) Media, dengan tantangan:

  1. Bagaimana agar taman tersebut dikunjungi orang?
  2. Bagaimana agar pengunjung menyukai taman kita ini?
  3. Bagaimana agar pengunjung terus berkunjung?
  4. Bagaimana agar taman tersebut bisa menghasilkan revenue?

Tentunya dengan analogi ini maka strategi social media bukan lagi hanya sekedar campaign ataupun iklan regular dengan KPI jumlah follower (yang pada saat ini bahkan bisa dibeli), namun justru bagaimana menciptakan good experience dan membangun loyalti. Dengan kata lain kita harus kembali lagi pada fundamental community management.

General Motor (GM) sudah mengalami bahwa menurut pandangan mereka beriklan di Facebook tidaklah efektif. Kita boleh tidak setuju, tapi saya pribadi berpendapat dengan pengalaman mereka, GM bisa tahu dan memutuskan apa yang terbaik buat brand mereka. Setelah GM mencoba taman yang populer (Facebook) untuk beriklan kini mereka ingin masuk ke fase yang lebih dalam lagi, yaitu conversation dan engagement, yang dengan kata lain adalah dasar-dasar dari sebuah pengembangan komunitas. :-)

Apakah Anda masih berpendapat social media adalah platform untuk beriklan ataupun sarana untuk menangkap ekspos? Mungkin ada baiknya Anda berfikir lebih terbuka lagi. Taman ini adalah hanya sebidang tanah kosong, populer atau tidaknya ada di tangan Anda.

Abang Edwin adalah seorang praktisi online community management sejak tahun 1998 jauh sebelum istilah social media/social network muncul di dunia internet. Ia memulai perjalanan eksperimentasinya dengan beberapa komunitas online yang akhirnya berkembang sukses pada saat itu, sampai saat ini ia pun masih memberikan konsultasi-konsultasi mengenal karakter dan membina komunitas online bagi brand/agency maupun perseorangan.

Ia sempat bekerja di Yahoo! selama lebih dari 4 tahun sebagai community manager. Dan kini posisi terakhir yang dijabatnya adalah Country Manager – Indonesia untuk Thoughtbuzz.net, sebuah perusahaan social media monitoring.

[Gambar: YouAreWeb - Flickr - CC attribution]

memilih karir dan jurusan di perguruan tinggi

The works of Wiryanto Dewobroto ·
Menjadi orang tua yang anaknya sudah kelas 3 SMA seperti saya saat ini, tentu akan merasakan bagaimana dapat menjawab secara bijak pertanyaan anak, tentang rencana setelah lulus sekolah.  Jika SMK tentu sudah jelas, yaitu mendapatkan pekerjaan sesuai bidang yang ditekuninya selama ini. Adapun SMA, yang masih umum sifatnya sebagian besar tentu akan bertanya, perguruan tinggi dan jurusan apa yang harus … Lanjut membaca

[Simply Business] Kebangkitan Social Media Reseller

DailySocial ·

Industri e-commerce di Indonesia memang dalam masa pertumbuhan. Kita telah melihat banyaknya dukungan dari layanan payment gateway atas pertumbuhan ini serta perusahaan terkenal dengan kantong tebal. Namun sayang, sebagian orang masih menjual produk mereka di Facebook. Ya, Facebook!

Facebook tidak pernah diperuntukkan sebagai tempat menjual barang, namun pengguna Indonesia melakukannya. Ini juga terjadi di Multiply, Friendster dan bahkan BlackBerry Messenger Groups. Di mana orang berkumpul, maka disitulah para penjual melakukan aksinya.

Mari kita lihat Multiply. Perusahaan ini melakukan pivot dari situs jejaring sosial menjadi marketplace karena mereka melihat pertumbuhan yang pesat dari para penjual yang menggunakan Multiply sebagai sarana untuk menjual barang di negara Asia seperti Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Setelah pivot ini, Multiply kini diperhintungkan sebagai tempat tujuan belanja online sosial di Filipina dengan lebih dari 120.000 penjual yang menjual dagangannya ke lima juta pengguna. Melihat besarnya pasar di Asia, mereka bahkan memindahkan kantor pusat mereka ke Indonesia dan akan berkonsentrasi pada ekspansi e-commerce mereka di Asia Tenggara.

Multiply adalah perusahaan besar yang bekerja dengan cara yang besar pula, kini mari kita lihat penjual dengan skala yang lebih kecil: mereka yang benar-benar menjual produk di media sosial. Kebanyakan orang yang saya kenal yang menjual barang dagangan mereka di media sosial adalah ibu muda. Dari informasi yang saya kumpulkan, mereka mengklaim mendapatkan pemasukkan $1000-$3000 per bulan, yang adalah lebih banyak 10-30 kali lipat dari gaji minimun orang Indonesia yang sebesar $120.

Media sosial yang paling populer untuk berjualan adalah Facebook. Sangat mudah untuk mengunggah foto lalu men-tag semua orang yang kita kenal. Acungkan tangan jika Anda belum pernah di-tag oleh teman yang berjualan barang tertentu. Saya mendapatkan pengalaman tersebut berulang kali dan sesungguhnya cukup menyebalkan. Tetapi yang membuat saya terkejut, dari berbagai komentar yang saya baca, orang ternyata membeli barang-barang tersebut.

Tempat kedua yang paling populer adalah BlackBerry Messenger Group (BBM Group). Hanya karena sangat mudah untuk menyiarkan pesan kepada ratusan orang dari kontak dan adanya fasilitas untuk menyimpan gambar yang bisa dilakukan dengan mudah. Pengguna BlackBerry sangat kecanduan BBM dan adanya fakta bahwa lima juta orang Indonesia memiliki BlackBerry, adalah faktor lain yang menjadikannya pilihan untuk berjualan.

Secara pribadi saya sendiri menemukan bahwa berjualan di Facebook atau BlackBerry Messenger Group cukup rumit. Namun hal ini menjadi lebih mudah bagi sebagian besar orang jika Anda mempertimbangkan faktor bahwa mereka telah mengkustomisasi sistemnya. Sistem e-commerce seperti Tokopedia mungkin menyediakan pendekatan yang sederhana dan langsung pada layanan e-commerce, tetapi menurut saya Tokopedia masih belum bisa mengalahkan jumlah penjual sporadis di Facebook atau BBM Group, atau tidak juga bisa mengalahkan jumlah orang (jutaan pembeli potensial!) yang telah menggunakan platfrom tersebut.

Penggunaan BlackBerry Messenger sebagai sebuah alat berdagang tidak hanya eksklusif milik pedagang personal, karena beberapa pemilik merek juga melakukannya. Kita bisa melihat semakin banyak mall yang menggunakan BBM sebagai platfrom untuk menyebarkan informasi diskon. Seperti yang dilakukan Brodo Footwear yang menggunakan BBM sebagai saluran customer service mereka. Brodo memiliki 2 perangkat BlackBerry khusus yang secara total memiliki lebih dari 1500 kontak. Mereka mengklaim bahwa lebih dari 50% penjualan terjadi di BBM! Ini cukup lucu mengingat mereka sebenarnya memiliki toko online dengan sistem keranjang belanja yang cukup baik. Mungkin orang terlalu malas atau lebih memilih komunikasi langsung dengan penjual ‘asli’ meski hanya lewat teks.

Social Media Reseller atau Pedagang media sosial adalah sebuah fenomena yang menarik dan suka tidak suka masih menjadi sesuatu yang populer dalam menjual barang. Hal ini mungkin mengganggu namun selama kita masih belum memiliki platform yang cukup mudah untuk digunakan dan secara luas dipakai oleh banyak orang, orang akan tetap men-tag Anda dengan produk jualan mereka serta menyebarkan info barang dagangan lewat BBM.

*Untagged*

Aria Rajasa adalah CEO dari GantiBaju.com, startup di bidang busana yang tidak berbeda dengan Threadless tetapi dengan sentuhan lokal Indonesia, GantiBaju juga memiliki komunitas desain yang sangat kuat. Semangat Aria di dunia wirausaha membuatnya mendirikan beberapa perusahaan setelah lulus kuliah.

Mobile Games Developer War 3 Pamerkan 15 Finalisnya di Malioboro Mall

DailySocial ·

Mobile Games Developer War 3, acara hasil kerja sama antara Nokia Developer dengan Himpunan Mahasiswa Komputer (Himakom) UGM, telah mencapai babak final. Dari total 93 peserta yang mengikuti kompetisi ini, lima belas finalis telah dipilih dan siap untuk diadu dalam babak final yang akan diselenggarakan pada hari Minggu, 20 Mei 2012 besok di Malioboro Mall, Yogyakarta.

Dalam acara yang juga dikemas dalam bentuk Jogja Game Expo tersebut, para finalis akan memamerkan hasil karyanya di depan para pengunjung yang diharapkan bukan hanya terdiri dari warga Yogyakarta dan sekitarnya, tetapi juga para wisatawan lokal dan mancanegara yang sedang berkunjung ke Yogyakarta dalam masa libur panjang.

Para pengunjung tersebut, dapat ikut berpartisipasi dengan memilih game dengan konten lokal favoritnya. Game yang paling banyak mendapat dukungan dari pengunjung, akan dipilih sebagai pemenang kategori game konten lokal terbaik.

Sementara itu, peserta juga akan mempresentasikan karyanya di depan para juri dan pengunjung pameran. Dewan juri yang terdiri dari Narenda Wicaksono (Nokia Developer), I Gede Mujiyatna (Dosen Ilmu Komputer UGM), perwakilan dari Creacle Game Studio, Agate Studio, dan Gameloft (sedang di konfirmasi), akan memilih 3 peserta terbaik yang kemudian akan bertarung dalam babak yang diberi nama Live Coding War. Dalam Live Coding War tersebut, peserta diberi waktu 1 jam untuk menyelesaikan tantangan dari para juri untuk menambahkan sesuatu ke dalam game karyanya. Dari babak ini, akan dipilih juara 1, 2, 3 yang memperoleh hadiah dengan total 60 juta Rupiah.

Selain kategori konten lokal terbaik dan juara utama, ada satu lagi kategori pemenang yang bisa diperebutkan oleh peserta yakni kategori best download. Pemenang kategori ini adalah game yang paling banyak diunduh selama rangkaian kompetisi ini berlangsung.

Menurut email yang dikirim oleh Narenda Wicaksono (Developer Manager, Nokia South East Asia sekaligus juri babak final), kelimabelas tim yang lolos ke final tersebut adalah (nama peserta – nama game):

  1. SingoMalang (Surti dan Tejo)
  2. Ayam Saus Kecap (Kingdom Chronicles)
  3. Boyo Team (Math Book)
  4. Dyon Force (30 Days Romusha)
  5. HCT (Battle in Ravine)
  6. ORI (KRUPUK)
  7. Ridiculously Photogenic Boys (Terminal Semrawut)
  8. Own Games (Railway Rush)
  9.  ChocoArts (Jago Kabo)
  10. TKF201 (Fly to the Dream)
  11. Org.Com (Jonk!)
  12. Elventales (Chase Burger)
  13. Blue Beard (Like a Jones)
  14. Chocobi Returns (Kabayan Goes Goes)
  15.  Tinker Game (Pig Rider)

Jika Anda berada di Yogyakarta pada akhir pekan ini, tidak ada salahnya Anda menyempatkan diri datang ke Malioboro Mall yang terletak di tengah-tengah jalan Malioboro. Mulai pukul 10.00 sampai 18.30, Anda bisa melihat 15 game terbaik berbasis Nokia S40 hasil karya finalis Mobile Games Developer War 3 ini, sekaligus ikut serta dalam penentuan game dengan konten lokal terbaik.

Situs Diskon Restoran Lapar Berhenti Menjual Kupon Diskon

DailySocial ·

Sebuah newsletter email masuk ke inbox kami tadi malam dari Lapar.com yang mengumumkan penutupan bisnis daily deals mereka dan perubahan arahan situs. Lapar sebelumnya merupakan layanan yang cukup populer untuk kupon diskon restoran yang memberikan penawaran untuk para penikmat makanan di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Ketika diluncurkan bulan Desember tahun 2010, Lapar terjun ke pasar daily deals, berkompetisi dengan Disdus (sekarang Groupon) dan DealKeren (sekarang LivingSocial) namun berfokus hanya pada kupon diskon makanan saja. Bisnis berjalan cepat dan Lapar mendapatkan pengakuan yang baik dari Rama Mamuaya atas pembeda yang diberikannya serta fokus hanya pada satu kategori saja daripada menjual berbagai jenis kupon diskon. Kami menuliskan tentang Lapar beberapa kali sepanjang tahun 2011.

Lapar awalnya berfokus pada Jakarta dan Bandung, dan kemudian menyasar pengguna Surabaya dengan memperlebar cakupan pasar mereka awal tahun kemarin. Namun sejak minggu lalu, Lapar.com telah berubah menjadi situs gaya hidup yang memfokuskan pada makanan dan kesehatan. Layanan deals dan kupon hilang, digantikan dengan berita-berita pendek dan artikel tentang kesehatan personal serta tips kuliner.

Entah bagaimana, perubahan arah ini diikuti juga dengan perubahan estetika dan sepertinya orang-orang dibalik Lapar.com yang baru ini tidak siap untuk merilis situs baru mereka, karena tampilannya berantakan. Referensi ke Lapar yang lama masih ada, update berita terputus-putus, iklan ditempatkan secara bebas, banyak tautan yang mati. Jika Anda berpikir tampilan Detik.com yang lama itu jelek, ternyata Lapar berhasil menghadirkan yang lebih buruk. Ini seperti memutuskan untuk membuang semuanya pada sebuah papan dan menjadikannya sebuah situs.

Banyak orang di Twitter yang menanyakan tentang arahan Lapar yang baru tetapi respon yang diberikan hanyalah informasi untuk menunggu sampai pemberitahuan berikutnya. Bagi mereka yang menanyakan mengapa mereka tidak bisa membeli deals lagi, mereka diberitahu bahwa situs tersebut sudah tidak menjual kupon lagi. Seharusnya akan ada pemberitahuan pada tanggal 15 Mei kemarin, tetapi setelah lewat hari yang ditentukan, akun Twitter Lapar tetap tidak memberitahukan apa-apa sejak 10 Mei 2012.

 

 

Kami mendapat kabar bahwa walaupun kepemilikan tidak berubah, Lapar.com sebenarnya telah dijalankan oleh manajemen baru. Kami telah mengontak pihak Lapar untuk mengetahui apakah perubahan ini atas arahan manajemen baru, inisiatif dari para founder-nya atau keduanya. Kami belum mendapatkan balasan email dari pihak Lapar.com.

Software Project and House Rules

don't code today what you can't debug tomorrow ·

There was a lot of discussion about the recent rejection of Github pull request workflow by Linus Torvalds, the father of Git (and Linux). Note that Linus does like Github, “great at hosting”. Unfortunately the submission via the pull request mechanic does not meet the standard of kernel contribution.

I’m all for lowering the barrier to contribute something useful to a software project. Sadly, these days I also witness a lot of “shoot first, ask later” attitude. Just because a project is hosted on Github, it does not mean you can fire your editor and register a pull request and be done with it. Often, the first thing I have to write to comment a pull request is (with the suitable hyperlink):

Please read the contribution guide.

Below I highlight a few good practices which should serve as a laundry list, should you want to send an improvement or a bug fix to the project maintainer. Some of them are just common sense, but then we live in a generation where common sense starts to become a rarity. In one way or another, you may observe that some maintainers are very picky about this because they need to live with what you have produced for the lifetime of the project, while you can just perfectly disappear the next day and won’t care about it.

Check first for a contribution process. Because of legal reasons, some organizations mandate a special arrangement, e.g. Contribution License Agreement (CLA). In other cases, few maintainers want the assurance that your work is really yours, i.e. not owned by your current employer. Licensing is also a tricky matter, make sure you are aware of the implication of whatever you share with an external project.

Next, observe how the past contributions were made. Is there an official guide which gives the step-by-step instruction? Or maybe it is not that formalized and thus do you have to consult the maintainer or the mailing-list? Does everything need to filed in the issue tracker? Do you need to format your patch in a certain way? Is there a ChangeLog file? By adopting the way the members of the project discusses and carries out the development, you will be easily familiar with the process.

Write a decent commit log, e.g. a model Git commit message. A short message like “Fix stuff” won’t help anyone. You may need to write in proper English and avoid e.g. txt lingo. Nowadays, many projects also require that the link to the bug/review is to be included somewhere. Look at the past commits and find the patterns there.

Follow the testing procedure. Sending a pull request which provokes tons of regressions will not impress anyone. Watch for all kind of tests, from unit tests, functional tests, code coverage, performance stress, and even coding style. Being careful with your contribution shows how you value the project and its future, you will earn some respect in due time.

Ask for some review as early as possible. Writing software is about iteration, it’s all continuous improvement and refactoring. Don’t wait until your stuff is fully ready before screaming for some feedback. Those who work on the project for a while might have a big-picture understanding which you don’t have. Showing a half-baked patch which can be polished as you learn is better than pushing a perfect improvement which later gets rejected by the maintainer.

Last but not least, remember that sharing is beautiful and it is great that you are willing to give back something to the community. However, do not forget that project maintenance is hard (that’s why you find a lot of rotten projects out there). Engage in a discussion, share responsibly, and surely world domination will be in our hand someday!

But I have no doubt, one day the sun will come out.

Khasiat Daun Suji dan Daun Pandan

Wahyu Wijanarko Indonesia ·

Daun suji (Pleomele angustifolia N.E Brown) dan daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) memiliki karakteristik yang mirip. Namun, daun pandan lebih dimanfaatkan sebagai pengharum masakan agar aromanya menjadi wangi, sedangkan daun suji sering digunakan sebagai pewarna alami pada makanan.

Dari beberapa informasi lisan, saya memperoleh informasi bahwa rebusan daun suji ini bermanfaat untuk menyembuhkan sakit: kanker, jantung, paru-paru, dan penyakit pada kelenjar thyroid. Selain itu, daun ini juga bisa digunakan untuk menjaga kesehatan ginjal. Cara kerjanya adalah dengan meningkatkan kekebalan tubuh, sehingga tubuh akan melawan penyakit tersebut.

Khasiat daun pandan? Katanya sama, dan konon lebih bagus daripada daun suji. Tapi saya pribadi percaya bahwa tiap tumbuhan memiliki khasiat dan keunggulan sendiri-sendiri.

Discalimer: tulisan mengenai khasiat daun suji dan daun pandan ini adalah berdasarkan informasi lisan, dan merupakan catatan pribadi untuk menambah khasanah ilmu yang diperoleh dari masyarakat umum. Untuk informasi yang lebih valid, konsultasikan dengan ahli medis yang berpengalaman.