PlanetTerasi

Think. Read. Write.

Permasalahan Transportasi Publik di Melbourne

Zaki Akhmad Zaki Akhmad

Ternyata, permasalahan dengan transportasi publik itu tidak hanya ada di Jakarta. Bahkan di Melbourne pun, tetap ada masalah dengan transportasi publik. Saya kira Melbourne, kota dengan populasi hanya 4.5 juta jiwa, tak akan ada masalah dengan transportasi publik. Bandingkan dengan populasi kota Jakarta yang bisa mencapai 12 juta jiwa saat siang.

Berikut adalah tautan dari surat kabar lokal the age mengenai masalah transportasi publik di Melbourne. Lebih spesifiknya adalah kereta Metro. Saya jadi teringat saat naik kereta Depok, tegangan turun dan memaksa KRL berhenti. Di Melbourne pun ternyata tegangan listrik untuk kereta masih kurang juga.

Saat awal-awal di Melbourne, saya merasa tidak ada masalah dengan transportasi publik di sini. Ya, karena sebelumnya saat di Jakarta, masalah transportasi publik lebih parah. Transjakarta bisa datang 30 menit berikutnya. Di dalam bis Transjakarta masih harus berakrobat ria untuk sekadar bisa masuk ke dalam bis. Tambah lagi jalur busway yang sering tidak steril. Plus, belakangan saya baca suka ada kejadian bis Transjakarta yang terbakar.

Satu insiden fatal yang pernah terjadi di Melbourne yang saya ketahui adalah saat alarm kebakaran di ruang kontrol kereta Metro terpicu. Semua kereta langsung dihentikan. Bahkan Universitas Monash memundurkan waktu ujian karena insiden ini.

Jadi, sebenarnya masalah itu akan selalu ada. Yang membedakan adalah kompleksitas dan skala masalah. Transportasi publik yang bagus juga bukan jaminan bagi setiap orang untuk tidak memiliki mobil pribadi. Untuk ini akan saya tulis dalam kesempatan yang terpisah.

Pertimbangan Sederhana Berwirausaha

Bisnis Having Fun » planet-terasi-aggregator Masim Vavai Sugianto

Pas sekarang lagi kerja di halaman rumah, kepikiran menulis mengenai asal mula saya berwirausaha, mungkin bisa bermanfaat untuk rekan-rekan yang punya pemikiran sama namun masih ragu.

Saya berwirausaha sebenarnya karena alasan yang sangat sederhana, yaitu saya sudah bingung mau berhemat apalagi 😀

Saat masih bekerja baik di Cikarang maupun di Tanjung Priok, saya sering membaca artikel-artikel dan buku perencanaan keuangan bang Safir Senduk. Salah satu ide yang disampaikan adalah agar menabung diawal menerima gaji/pendapatan, bukan dari sisa gajian.

Misalnya jika selama ini gaji dipecah-pecah sesuai porsi kebutuhan dan baru sisanya (kalau ada sisa, Zzzzzz… 😛  ) ditabungkan, maka seharusnya situasinya dibalik. Kita sudah harus punya plot/pos tabungan sebesar katakanlah 15-20% dari gaji bulanan. Setelah dikurangi pos untuk tabungan, barulah sisanya dipecah-pecah untuk kebutuhan bulanan.

vavai-ilustrasi-perhitunganSaya mengikuti saran yang bagus tersebut. Hasilnya saya “Modyar” mengatur keuangan (maafkan kalimatnya pakai kata yang kasar), hehehe… Saran dari bang Safir Senduk ini bagus, namun jadi bikin saya kalut karena mau disisihkan diawal maupun diakhir, teteup saja gaji ya segitu-gitunya. Bisa menjamin tabungan namun saya harus berdiet ketat agar gaji bisa mencukupi, padahal saya belum lama menikah dan baru punya anak 1. Kumaha kitu solusina?

Solusinya ada di saran keuangan berikutnya, yaitu : “Jika Sudah Berhemat Semaksimal Mungkin Namun Masih Selalu Bingung Mengatur Keuangan, Maka Yang Dilakukan Bukan Berhemat Lebih Jauh Lagi Melainkan : TINGKATKAN PENDAPATAN

Mau dihemat apalagi kalau memang sudah demikian kebutuhan dasar alias kebutuhan hidup minimumnya? Kalau kita memaksakan diri untuk semakin berhemat bisa jadi kualitas hidup minimal kita malah jadi tergerus.

Bagaimana caranya meningkatkan pendapatan? Berarti saya mesti mencari sumber-sumber pendapatan ditengah kekurangan dan keterbatasan saya. Saya tidak punya modal, saya tidak punya tabungan besar. Jadi pilihan saya terbatas sekali. Tapi badan saya Alhamdulillah sehat. Otak saya cerdas (yaelah, malah belagu, hehehe…) dan saya nggak jelek-jelek amat (lha apa hubungannya ya 😛 , emangnya mau jual diri, hehehe… ).

Daripada saya tambah pusing memikirkan kebutuhan hidup dan kekurangan anggaran, lebih baik saya maju satu langkah, yaitu melakukan analisa kira-kira apa yang bisa saya lakukan untuk menambah pendapatan. Kedengerannya sih keren : melakukan analisa, padahal yang saya lakukan adalah ngalamun sambil mencoret-coret kertas, kadang ngomong sendiri sampai isteri saya mungkin heran jangan-jangan suaminya mulai stress mikirin anggaran rumah tangga, hehehe…

Awalnya saya pikir pilihan saya paling hanya 1-2 saja, apa pula yang bisa menghasilkan pendapatan tambahan kalau saya tidak punya modal usaha? Ternyata tidak juga.

Berikut ini beberapa pilihan yang pernah terlintas dibenak saya saat melakukan analisa sederhana diatas :

  1. Menyediakan layanan private/kursus/training
  2. Menulis artikel untuk majalah atau koran, termasuk cerita anak di majalah Bobo atau disisipan koran Kompas
  3. Membuat program komputer. Gini-gini saya mantan programmer yang bisalah membuat program kecil-kecil
  4. Menjual cabe, bawang dan bumbu dapur di pasar
  5. Freelancer di sekolah-sekolah (misalnya mengajar materi eskul)
  6. Membuat buku terkait kapabilitas saya
  7. Berjualan masakan atau kue di bazaar atau dipinggir jalan

Betul kan, ternyata peluangnya ada beberapa. Bisa dicoba salah satu dan lihat apakah kira-kira berjalan sesuai harapan atau tidak.

Tanpa sadar, saya yang awalnya termasuk anti untuk wirausaha (saya satu-satunya di keluarga yang anti usaha dan awalnya kerja dari satu pabrik/perusahaan ke perusahaan lain ternyata malah kerasan berwirausaha. Jika dihitung dari tahun 2011 saja, saat ini saya menginjak masa 5 tahun berwirausaha. Meski masih balita, minimal saya menikmati kegiatan wirausaha yang saya jalani.

happy

Kisah-kisah diatas sempat saya rangkum dalam ebook wirausaha meski sampai sekarang belum ada prestasi yang kira-kira bisa dijadikan benchmark, minimal kisah saya diawal cerita (berhemat habis-habisan dan mencari alternatif tambahan pendapatan) sedikit demi sedikit bisa ada solusinya 😉

Ulasan Novel Negeri Para Bedebah dan The Circle

Okto SiLaban Okto Silaban

Saya baru saja menyelesaikan membaca novel Negeri Para Bedebah, karya Tere Liye. Saya suka genre nya. Saya bahkan baru tahu ada genre seperti ini di novel Indonesia. Saya bukan pembaca novel aktif sih, jadi harap maklum kalau kurang update. Bayangkan saja, novel ini sudah terbit 3 tahun lalu, dan saya baru tahu beberapa hari lalu. Teman-teman saya sudah tahu lama. Ada yang sudah baca sejak awal terbit. Ada yang malah kenal dengan penulisnya, Darwis (nama asli Tere Liye). Darwis dulu menjadi asisten dosen teman saya ini sewaktu kuliah.

Beberapa bulan sebelumnya saya juga membaca novel, setelah 6 tahun lebih tidak membaca novel. Novel yang saya baca berbahasa Inggris, judulnya The Circle, karya Deve Eggers. Itupun tertarik baca karena diceritakan oleh seorang teman saya.

Berawal dari ngomongin digital communication buat internal company, lalu ngalor ngidul ngomongin startup, internet dan privasi di internet lalu tersebut lah buku ini. Akhirnya teman saya itu meminjamkan novel bersampul pink ini. *Belakangan saya malah baru tahu dari internet kalau teman saya itu ternyata penulis novel juga. :O

The Circle ini berlatar belakang cerita tentang privasi di dunia internet, atau tepatnya di “Internet of Things” (IoT). Novelnya agak mengecewakan bagi saya karena alurnya terlalu lambat di depan. Saya paling malas kalau sudah baca bagian si Mae (tokoh utama) bergalau-galau ria, apalagi saat bergalau plus berkayak di teluk. Entahlah, bagi sebagian pembaca mungkin ini bagian yang disebut “pendalaman tokoh”, bagi saya sih membosankan aja.

The Circle menurut saya benar-benar mengambil Google sebagai latar perusahaan yang jadi cerita utama. Saya mengikuti cerita The Circle ini dengan membayangkan kantor Google yang sering saya lihat di foto-foto, video dan cerita-cerita. Mungkin Googleplex (kantor pusat Google di Mountain View, California) itu bukan visualisasi yang dimaksud Dave Eggers. Tapi saya memilih begitu saja. Jadi saya bisa tidak terlalu serius membaca detail deskripsi setiap bangunan yang diceritakan.

Kalau The Circle berbasis cerita tentang ribut-ribut soal privasi di Internet (yang masih sering mencuat sampai sekarang), Negeri Para Bedebah menurut saya benar-benar mengambil latar kejadian kisruh Bank Century yang heboh di sekitar 2009 itu. Untungnya saya cukup familiar dengan berbagai konsep dan istilah di dunia perbankan, ekonomi, investasi -setidaknya dalam cakupan yang disebut di novel ini. Dengan begitu saya cukup lancar mengikuti alur cerita ini.

Plot cerita Negeri Para Bedebah cukup memuaskan bagi saya, walaupun sejak awal saya sudah bisa menduga siapa tokoh pengkhianat dan musuh besarnya. Tokoh utamanya si Thomas pun to good to be true.

Tetapi tidak demikian dengan plot cerita The Circle. Tokoh utamanya sih realistis. Tetapi terlalu banyak bagian yang membuat jalan ceritanya menjadi banyak lubang. Tetapi saya cukup senang endingnya tidak seperti yang diharapkan sebagian besar orang.

Dalam Negeri Para Bedebah, menurut saya Tere Liye banyak menitipkan opini-opini pribadinya. Atau lebih tepatnya agak menggurui. Berbeda dengan Dave Eggers, yang menurut saya (tentu saja) ikut menyampaikan opini pribadinya, tetapi membuat pembacanya untuk berpikir sendiri. Singkatnya Eggers membuat kita jadi bertanya-tanya, sedangkan Darwis seperti sedang ceramah. Dan dari yang saya baca-baca di GoodReads.com, novel lanjutan Darwis itu -judulnya “Negeri di Ujung Tanduk”- lebih kental lagi dengan “ceramah” Tere Liye. Saya belum baca sih.

Nah, ada yang tahu gak novel Indonesia yang isinya bukan soal cinta-cintaan, dan plot twist-nya “sesadis” Game of Thrones? Boleh dong tinggalin komentar kalau ada ide.

Menulis di GitBook

Zaki Akhmad Zaki Akhmad

Minggu lalu, saya membuka akun di gitbook. Saya ingin bereksperimen menulis menggunakan gitbook. Ide pertama yang muncul adalah menulis bagaimana saya menggunakan penyunting teks vim. Saya pertama kali tahu soal gitbook saat membaca tutorial django yang ditulis oleh komunitas django girls.

Belum banyak yang saya tulis di buku vim saya. Saya pun masih mengeksplorasi fitur gitbook. Satu hal yang sudah saya coba adalah fitur menyunting via web. Jadi menulis tak harus menggunakan penyunting teks. Termasuk saat membuat berkas baru, bisa dilakukan via web.

Nah, sekarang saatnya saya menambahkan tulisan sedikit demi sedikit…

Pertolongan Pertama Pada Masalah Zenfone (dan Android)

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Beberapa kali saya menulis tentang Zenfone (baik Zenfone 5 dan Zenfone 2) di blog ini, ternyata mendapatkan tanggapan yang positif namun juga cukup banyak yang melaporkan masalah yang mereka alami dengan Zenfone mereka. Malahan ada yang bertanya masalah Zenfone dari spesies yang lain seperti Zenfone 4, 4S, dan 4C, juga Zenfone 6.

Bukan berarti Zenfone itu produk yang bermasalah karena sebagian besar keluhan yang masuk ke sini nyatanya tidak saya alami. Saya juga mohon maaf bila tidak semua permasalahan yang terjadi bisa saya jawab/tanggapi karena sebenarnya saya ini juga pengguna biasa.

Hanya saja, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertolongan pertama untuk masalah-masalah yang relatif ringan, misalnya kamera tidak fokus, sinyal naik turun, persentase baterai masih 20% kok sudah mati, dan lain-lain, pokoknya sepanjang Zenfone masih bisa dioperasikan. Dan beberapa tips berikut barangkali bisa juga diterapkan untuk ponsel Android yang lain, bukan hanya Zenfone saja.

Nah, inilah beberapa hal yang bisa dicoba kala Zenfone (ponsel Android) bermasalah:

  1. Restart ponsel. Caranya adalah dengan menekan dan menahan tombol power sampai terasa getar. Masalah yang sangat ringan biasanya sudah dapat teratasi dengan merestart ponsel.
  2. Untuk yang bermasalah dengan sinyal, bisa dicoba melepas kartu SIM dan membersihkannya. Yang biasa saya lakukan adalah menggosok bagian kuning emas kartu SIM menggunakan penghapus pensil. Ya betul, penghapus pensil atau setip itu. Bila baterai bisa dilepas, bisa dicoba juga membersihkan konektornya. Kalau ini biasanya saya pakai tisue atau lap kering bersih.
  3. Update firmware. Seringkali masalah yang muncul sudah terdeteksi oleh pihak Asus dan mereka menyediakan perbaikannya melalui firmware terbaru. Jadi bila ada notifikasi update firmware, segeralah update. Selengkapnya baca di sini.
  4. Bila sudah memiliki firmware terbaru dan masih bermasalah, cobalah untuk melakukan recovery. Matikan dulu ponsel, kemudian tekan dan tahan tombol power + volume up bersamaan sampai terasa getar, lalu akan muncul menu dan pilihlah recovery. Menu dipilih dengan tombol volume dan untuk enter, gunakan tombol power.
  5. Bila masih juga bermasalah, tidak ada salahnya melakukan reset factory seperti telah saya tulis di sini. Pastikan data-data seperti foto, dokumen, percakapan BBM/WA, dan lain-lain sudah dibackup.

Bila cara-cara di atas sudah dicoba dan masih bermasalah juga, sebaiknya dibawa ke service center. Lokasi service center terdekat tempat tinggal Anda bisa dilihat di sini.

Apakah cara-cara di atas menggugurkan garansi? Sepanjang pengetahuan saya tidak. Yang membuat garansi gugur itu misalnya adalah jatuh, pake charger non ori atau beda merk, di-root, kerusakan yang diakibatkan oleh aksesoris non ori, dan lain-lain.

Soal baterai boros gimana? Ada tips yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Yang perlu dipahami, Zenfone itu menggunakan prosesor Intel Atom yang meski sudah dioptimasi untuk mobile, aslinya adalah prosesor untuk gadget yang lebih besar daripada ponsel (tablet atau netbook). Jadi relatif memang lebih rakus daya namun sebagai gantinya, Anda mendapatkan performa yang lebih baik. Sebenarnya asal tidak on terus menerus, untuk tembus 12 jam bahkan lebih gak sulit loh (untuk Zenfone 5 atau Zenfone 2 ya).

Semoga bermanfaat.

Review Cloud Camera TPLink, Solusi Pemantau Ruangan yang Mudah dan Ekonomis

dhiku dhiku

Screen Shot 2015-07-12 at 10.00.52

Solusi pemantau ruangan menggunakan CCTV kamera sebenarnya hal yang udah biasa, tapi biasanya cukup mahal karena harus beli 1 set lengkap dengan DVR dan beberapa kamera, belum lagi cara pasangnya yang ribet. Padahal saya membutuhkan  yang lebih simple, kamera yang bisa dipasang di ruangan keluarga dan kamar anak tanpa ribet kabel dan videonya bisa diakses kapan saja dari luar rumah. Jadi saya bisa lebih tenang kalau sedang di luar rumah dan meninggalkan anak dengan asisten rumah tangga karena bisa memantau kapan saja. Setelah mencari beberapa produk yang sesuai kebutuhan, akhirnya saya mencoba Cloud Camera TP-Link NC 200. Harganya juga bisa dibilang paling ekonomis dibandingkan dengan kamera lain sejenis.

Pemasangan dan Instalasi Kamera

Saya suka desainnya yang compact dan engselnya yang fleksible jadi bisa diputar-putar menyesuaikan kondisi ruangan misalnya di sudut ruangan, di atas meja, atau dipasang di dinding. Instalasi kamera bisa dibilang sangat mudah, ada dua cara, jika routernya support WPS maka caranya cukup tekan tombol WPS di router dan kamera akan langsung terhubung. Cara lainnya adalah dengan menyambungkan kamera dengan router menggunakan kabel network. Setelah itu download aplikasi android/ios dan tinggal ikuti langkah-langkahnya. Tidak lebih dari 10 menit kamera sudah bisa dilihat dari aplikasi dan kabel networknya bisa dilepas supaya wireless, jadi ketika pemasangan yang dicolok ke kamera cukup kabel powernya saja.

20150711212608 unboxing  Screenshot_2015-07-11-11-26-15

Akses kamera melalui web-based atau aplikasi Android, iOS

Setelah sukses terpasang, video bisa diakses melalui desktop browser (dengan plugin khusus) atau melalui aplikasi android dan iOS. Selain bisa melihat video secara live, aplikasi ini juga bisa merekam video, mengambil gambar, dan mengaktifkan suara. Kalau koneksi internet tidak stabil, ada juga opsi untuk melihat dengan resolusi yang lebih rendah. Kelebihan lainnya aplikasi ini juga melihat beberapa kamera jadi kalau punya lebih dari satu kamera, semuanya bisa dilihat langsung dari aplikasi.

android  more cameras

Cloud Camera

akses video dari luar rumah via mytpcloud.com

Fitur lain yang berguna juga adanya motion detection dengan notifikasi berupa email atau FTP. Untuk setup motion detection harus dilakukan melalui desktop browser dan cukup fleksible menentukan area mana yang mau difokuskan dan sensitivitas motionnya.

Motion Detect

kamera akan detect gerakan yang terjadi di area yang ditandai warna biru

Kualitas Video

Kualitas video bisa dibilang cukup bagus dengan resolusi 640×480. Resolusinya yang cukup optimal juga supaya tidak terlalu butuh bandwidth yang besar ketika mau akses dengan koneksi internet. Namun kekurangannya pada unit yang saya coba kualitas audionya tidak jernih, seperti ada suara echo sehingga suara di dalam ruangan jadi kurang jelas. Mudah-mudahan ada update firmware terbaru yang mengatasi masalah ini. Sebagai informasi untuk upgrade firmware kamera bisa dilakukan dengan mudah melalui aplikasi android.

Bonus! berfungsi juga sebagai Wireless Extender 

Selain sebagai camera, ternyata TP-Link juga bisa berfungsi sebagai wireless extender untuk memperluas jaringan wifi di rumah, sehingga akses internet juga bisa lebih cepat di spot yang sebelumnya kualitas sinyal wifinya kurang bagus.

20150711212609

Kesimpulannya buat saya produk ini adalah prodvalue for money!  harganya yang ekonomis, pemasangan yang gak ribet, kualitas video yang cukup bagus, dan yang paling penting bisa diakses kapan dan dimana aja dengan lancar.

Recommended!

Ulang Tahun ke 17 – Detik.com Generasi Baru

Okto SiLaban Okto Silaban

Hari ini Detik.com merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Arifin Asydhad, pimred Detik.com menyatakan di usia Detikcom ke 17 tahun ini, mereka akan mulai melakukan serangkain perubahan dan perbaikan. Namun, secara sekilas (saya bukan pengunjung regular Detik), selain meluncurkan tampilan barunya, saya kurang tahu inovasi signifikan baru apa yang dikeluarkan Detik.com.

Arifin mengatakan bahwa sekarang adalah era generasi baru Detikcom, dNewGeneration istilahnya. Generasi baru detikcom yang lebih menonjolkan hal-hal yang positif, inspiratif, inovatif, kreatif, dan solutif. Dengan pernyataan ini, mungkin mayoritas perubahan signifikannya adalah di sisi konten kali ya. (dibanding Okezone yang meluncurkan Warkop, Rubik, dan Metube)

Setidaknya pernyataan alumni Fakultas Peternakan UNPAD ini menguatkan itu:

Ini mungkin semacam reaksi atas maraknya konten-konten ala BuzzFeed yang menyembah pageviews dan visitors itu kali ya. Apalagi media-media online yang mencari sensasi dengan membuat berita-berita seolah-olah benar, judul kontroversial, dengan sarat muatan SARA dan partisan. Namun, karena saya bukan pengunjung reguler Detik, saya gak bisa tahu perubahannya. Mungkin yang sering ngunjungin Detik bisa ngerasain ada perbedaan dari konten-kontennya? Karena sebenarnya perubahan ini sudah dilakukan sejak 1 tahun terakhir katanya.

Saya dulu pembaca reguler Detik. Tetapi (di sekitar tahun 2007/2008), saya merasa kontennya makin lama makin sering data dan faktanya gak akurat. Isinya pun pendek-pendek. Tapi memang kecepatan pemberitaannya (buat saya) nomor satu dibanding yang lain. Menurut saya, buat apa beritain cepat-cepat kalau isinya “serampangan”. Apalagi kalau beritanya sensitif (menyinggung SARA), bisa berabe akibatnya kalau gak cek silang dan dapat info dengan benar.

Saya sempat menduga itu terjadi karena operasional yang kurang terkontrol. Tapi ternyata ini memang diamini oleh petinggi Detikcom kala itu. Menurut bos Detik kala itu, memang itu lah positioning mereka. Sebagai portal berita yang paling cepat memberitakan. “Detik ini juga!” Kalau memang gak akurat, tinggal di-update di -sepotong- berita berikutnya saja. Sementara saya penganut aliran kuno jurnalisme, “Get it first. But first, get it right..” Saya merasa Kompas.com (kala itu) lebih mendingan. Jadilah saya berpindah ke Kompas.com hingga sekarang. Nah, sejak itu saya kurang tahu lagi apakah Detik.com masih seperti yang dulu, atau sudah berubah. **I know, Kompas.com sih gak segitunya juga sebenarnya.

Disclosure: Saya pernah memiliki hubungan kerja dengan Kompas Gramedia. Tapi cerita di atas terjadi sebelum masa hubungan kerja saya dengan Kompas Gramedia.

Persaingan portal-portal berita masih berlangsung ketat. Sejauh ini, Detikcom masih memang posisi puncak. Tapi mudah-mudahan tetap bisa makin berkualitas dan berinovasi. Di US, media-media online sedang bergumul habis-habisan untuk mencari cara mendapatkan revenue tanpa mengorbankan idealisme jurnalismenya. Di Indonesia cepat atau lambat pasti akan terjadi juga. Bersiaplah sebelum itu terjadi. Atau sebenarnya di Indonesia juga sudah terjadi?

Happy sweet seventeen Detik.com.

Shopious.com vs Jualio.com

Okto SiLaban Okto Silaban

Shopious.com adalah tempat para penjual di social media (Instagram) mengiklankan barang jualannya. Kalau si penjual di Instagram tersebut sudah menjadi member di Shopious maka barang dagangannya akan otomatis masuk ke dalam listing di Shopious. Semua transaksi jual beli terjadi di luar Shopious.

Jualio.com pada dasarnya adalah marketplace (seperti Tokopedia dan OLX). Para penjual mengunggah barang dagangannya di Jualio, lalu secara otomatis barang dagangannya ini juga akan ditampilkan di social media yang sudah dihubungkan oleh si penjual ke akunnya di Jualio. Semua transaksi jual beli terjadi di dalam Jualio. Jadi pada dasarnya ini Tokopedia+ (karana ada fitur auto-post ke socmed).

Nah, kalau saya lihat ini dua bisnis di sekitar “jualan online” yang saling berkebalikan. Yang satu dari socmed ditampilin ke website, yang satu lagi dari website ditampilkan ke socmed.

*entahlah kalau ternyata pengertian saya mengenai Shopious dan Jualio salah ya. Begitulah pemahaman saya ketika mengunjungi website mereka dan membaca satu per satu page-page nya.

Model Bisnis – Shopious

Pada awal didirikan oleh Aditya Herlambang sih, sebenarnya model bisnis Shopious sama dengan Tokopedia. Mereka bahkan awalnya yakin 1 tahun setelah didirikan bakal bisa menarik 3% dari tiap  transaksi yang terjadi di Shopious.

Tetapi 8 bulan kemudian mereka berganti arah. Tidak lagi jadi marketplace. Startup yang didirikan oleh mantan iOS developer di Pulse ini menggantinya menjadi website tempat ol-shop di Instagram untuk mengiklankan produk-produknya. Keputusan yang tepat menurut saya, marketplace general sudah terlalu ramai. Isinya pemodal dengan duit tak berseri semua. -_-

Dari yang saya baca-baca, ketika mendaftar di Shopious pertama kali, para “sista” di Instagram tidak perlu bayar. Kalau nanti ada pelanggan yang menghubungi dari Shopious, baru deh diminta bayar. Kalau gak mau bayar? Bye bye sist..

Bayarnya berapa? Paling murah Rp 60.000/bln untuk 10 foto produk.


Saat ini kalau saya lihat dari daftar tokonya, paling enggak ada 1.000 toko yang terdaftar. Kalau semuanya ini sudah berbayar, berarti dalam satu bulan paling enggak Shopious mendapatkan revenue Rp 60.000.000,-. Ya, lumayanlah. Buat nggaji “rockstar-full-stack-ninja-RoR-Django-NoSQL-Docker-etc-engineer” masih cukup lah. 😀

Model Bisnis – Jualio

Kalau bicara Jualio, pasti inget Juale.com. Keduanya didirikan oleh Nukman Luthfie, pemain lama di dunia digital Indonesia. Sempat menjabat Direktur di Detik.com, membangun digital agency Virtual Consulting (sekarang berganti nama jadi Virtuco), membangun Musikkamu.com (bersama operator XL), Niriah.com (tutup), PortalHR.com, dll. Saya sendiri belajar banyak dari beliau sejak dari jaman kuliah.

Juale.com adalah layanan pembuat toko online. Tinggal daftar, bayar, maka kita sudah punya “engine” toko online sendiri, dengan domain sendiri. Dan semua toko-toko yang menggunakan engine Juale, produknya akan dikumpulkan semua di Juale.com. Ya kaya Tokopedia, cuma masing-masing penjual punya alamat website sendiri-sendiri dan tampilannya pun masing-masing. Semua penjual ini harus membayar untuk menjadi member di Juale.com.

Sayang Juale akhirnya magudTM. Target market Juale saat itu adalah UKM-UKM yang baru mau masuk ke online. Menurut saya mungkin fokusnya ke UKM-UKM itu salah satu penyebabnya. Sebagai perbandingan, Tokopedia (setahu saya) dibangun dengan target market awal adalah para penjual-penjual di forum KafeGaul.com (tutup). Jadi isinya penjual-penjual yang memang sudah terbiasa dengan dunia online. Plus di Tokopedia penjual tidak perlu membayar untuk membuka toko.

Kembali ke Jualio. Jualio ini menurut saya malah versi mini Juale. Kalau di Juale penjual mendapatkan “website masing-masing”, dan domain masing-masing, di Jualio malah enggak. (Setahu saya sih gitu. Sekarang masih beta, jadi belum bisa kelihatan final nya). Bedanya, di Jualio produknya otomatis di post ke socmed para penjual.

Di Jualio penjual bisa upload informasi produk-produknya. Produknya bisa fisik, maupun digital. Semua transaksi jual beli terjadi di dalam Jualio. Pembayaran bisa via online payment, kartu kredit, maupun transfer bank. Jualio akan mengambil 5% dari produk fisik yang terjual, dan 30% dari produk digital yang terjual.

Target Market

Kalau Shopious sih sudah jelas target marketnya: mereka-mereka yang jualan di Instagram ini, umumnya sudah paham bagaimana cara berjualan via online. Maksudnya cara berjualan online ala Indonesia ya. Yang seringnya nanya-nanya mulu, nawar-nawar mulu, belinya kapan-kapan. Baru order 15 menit yang lalu, udah bolak-balik nge-buzz nanya barang udah dikirim atau belum. Ya gitu lah. Para sista di Instagram lebih pahamlah ini.

Dengan target market seperti itu, Shopious tidak perlu capek mengajari mereka bagaimana berjualan online –ini yang dulu dilakukan Juale.

Selain itu, dengan melepas transaksi di luar Shopious, mereka juga tidak perlu pusing dengan urusan ala-ala rekber (escrow), legalitas pengumpulan dana, refund, dll. Cuma, soal apakah target market ini bisa scale-up atau enggak, itu masih jadi pertanyaan. Kemudian, jika nanti trend nya berubah, para sista tidak lagi jualan di Instagram dan memilih ke marketplace seperti Tokopedia, bagaimana strategi Shopious berikutnya?

Kalau Jualio, saya enggak bisa membaca target marketnya. Selain masih belum dibuka tampilan finalnya, informasi yang saya dapatkan juga terbatas. Mudah-mudahan kali ini “kesalahan” target market di Juale tidak terulang di Jualio.

Dengan fitur otomatis upload ke socmed dari Jualio saya tidak melihat keunggulan signifikan-nya. Kalau socmed para penjual tersebut tidak banyak follower/fans/friends-nya, jadinya gak efektif. Tapi kalau socmednya sudah ramai, buat apa perlu Jualio? Karena ini malah merepotkan penjual. Upload harus ke Jualio, transaksi di Jualio, tawar-menawar (kemungkinan) juga harus di Jualio. Entahlah, saya masih kurang informasi untuk bisa membaca kemana arah Jualio sebenarnya.

Dan.., pertanyaan saya sama dengan soal Go-Jek kemarin. Apakah Shopious dan Jualio mengincar exit? Atau mau long term? 😉

Dicari Mahasiswi Hilang: Husniyati Zakiyya Mubarok (Psikologi Unisba) (UPDATE)

Business Software in the Cloud 1

,

UPDATE: Sudah ditemukan, sembunyi di rumah neneknya :)

Info dari Polsek Bandung Wetan
Husniyati Zakiyya Mubarok alias Kiki Ucrit mahasiswi Psikologi Unisba semester 8

Alamat: Jl. Pembangunan Komp Jaya Asri 2 Blok A no. 8 Kel. Jaya Waras Kec. Tarogong Kab. Garut

Hilang jam 16.00 di Unisba sejak hari Senin 6 Juli 2015
Ciri-ciri: Pakai jilbab putih, celana hitam, baju putih, tas coklat sepatu hitam anak dari Ny Ningsing no hp 081322592753

Lapor Bandung Wetan

Sumber: Sry Wahyuni (BBM 2BA30F22)

Dicari Mahasiswi Hilang: Husniyati Zakiyya Mubarok (Psikologi Unisba)

Business Software in the Cloud 1

,

Info dari Polsek Bandung Wetan
Husniyati Zakiyya Mubarok alias Kiki Ucrit mahasiswi Psikologi Unisba semester 8

Alamat: Jl. Pembangunan Komp Jaya Asri 2 Blok A no. 8 Kel. Jaya Waras Kec. Tarogong Kab. Garut

Hilang jam 16.00 di Unisba sejak hari Senin 6 Juli 2015
Ciri-ciri: Pakai jilbab putih, celana hitam, baju putih, tas coklat sepatu hitam anak dari Ny Ningsing no hp 081322592753

Lapor Bandung Wetan

Sumber: Sry Wahyuni (BBM 2BA30F22)

Pesan Wired.com kepada Startup Media

Okto SiLaban Okto Silaban

[Ilustrasi: Ahmad Hammoud – ahmadhammoudphotography | flickr.com]

So startups out there listening—if you want to fizzle, like Circa, or have a slim chance of being acquired, like Wavii, Summly, and Pulse, do more or less the same. But if you can solve the real  problems that have faced news organizations since news first made its way online, you may have a  chance of making it on your own. Do what no one else can do: find new ways to profit off the news. Otherwise, you’re in it with the rest of us.

~Wired.com

Wired membahas tentang Circa yang akhirnya menyatakan akan magudTM. Circa adalah startup penyedia berita dalam bentuk mobile application. Berbeda dengan ala-ala BuzzFeed, UpWorthy, dll yang fokus ke gimana caranya dapat trafik sebanyak-banyaknya, Circa fokus ke isi berita yang straightforward, fokus ke fakta dan informasi yang penting. Well, sayangnya Circa salah melihat peluang. Bukan bagaimana cara menyampaikan konten yang jadi masalah, tapi gimana cara mendapatkan uang dari konten tersebut.

Kalau di Indonesia sih, pasarnya belum seperti di US. Makanya portal-portal berita itu juga masih lincah bermain-main headline ala-ala BuzzFeed demi mengejar trafik. Kalau trafik sudah tinggi (Alexa tinggi), tinggal jualan ads banner atau “native-ads” a.k.a advertorial deh.

Saya setuju dengan Wired. Kalau ada startup yang tahu cara memonetisasi media online dengan tidak bergantung pada “tweaking” headline dan konten ala BuzzFeed, niscaya akan jadi “disruptor” bisnis media online.

Investor Go-Jek dan Sejarah Para Pendirinya

Okto SiLaban Okto Silaban

[Foto: kompas.klasika | flickr.com]
Saya baca di blog ini, di salah satu paragrafnya kurang lebih disebut, “Sampai sekarang Go-Jek belum mau membuka siapa investornya.” Saya baru kepikiran. “Hah, masak sih?”. Di era startup rame-rame ngomongin siapa investor mereka, atau diakusisi siapa, beberapa bahkan menyebutkan nominalnya, saya juga baru sadar kalau Go-Jek sepertinya tidak ramai dibicarakan siapa investornya.

Sejauh yang saya dapatkan informasinya baru Northstar Group, via NSI Ventures, yang menginformasikan Go-Jek sebagai portofolio investasi mereka. Ini tercantum di situs resmi Northstar, maupun NSI Ventures.

*Northstar adalah perusahaan private equity (sejenis Saratoga, TRG gitu kali ya kalau di Indonesia). Kalau NSI Ventures adalah perusahaan venture capital. Beda private equity sama venture capital apa? Googling aja ya. Haha.

Kalau melihat awal-awal Go-Jek launching dulu tahun 2010, sebenarnya liputannya cukup lumayan. Mereka sempat diliput oleh The Labana Post The Jakarta Post. Di situ disebutkan nama Arthur Benjamin sebagai angel investor Go-Jek. Tapi anehnya, salah satu petinggi Go-Jek yang sekarang bahkan gak tahu nama itu. Perkiraan saya sih, Arthur sudah tidak lagi menjadi investor di Go-Jek. Kok bisa? Mungkin yang berikut ini bisa jadi penjelasannya.

Para Pendiri Go-Jek

Go-Jek, didirikan oleh Nadiem Makarim, Brian Cu and Michaelangelo Moran. Sebelum mendirikan Go-Jek, Nadiem bekerja di McKinsey, Brian Cu bekerja di BCG, sementara Michaelangelo bekerja sebagai Web Interactive Designer freelancer.

Nah ini yang menarik. Go-Jek itu dari berbagai liputannya, disebut bahwa mereka didirikan di sekitar Juni 2010. Hingga 2011, beritanya masih keluar di media. Termasuk artikel di The Jakarta Post tadi. Tapi, sejak 2011 akhir, bisa dibilang Go-Jek agak meredup dari pemberitaan.

Penyebabnya? Saya gak tahu persis. Yang jelas, setelah mendirikan Go-Jek di 2010, Nadiem dan Brian justru bekerja di Rocket Internet untuk membangun Zalora.com. Nadiem bergabung ke Zalora di November 2011, dan Brian bergabung di Januari 2012. Mereka direkrut oleh Rocket Internet untuk membangun Zalora Indonesia (fashion e-commerce).

*Sudah bukan rahasia lagi memang kalau Rocket Internet gemar mengambil tim dari mantan karyawan perusahaan konsultan manajemen. Nadiem ex-McKinsey, dan Brian ex-BCG. Dua nama besar perusahaan konsultan.

Saya enggak tahu pastinya ketika Nadiem bergabung ke Rocket Internet, Go-Jek statusnya bagaimana. Apakah memang vakum atau malah dibangun ulang. Kalau beneran dibangun ulang gak heran kalau akhirnya Arthur Benjamin sudah tidak lagi tercatat sebagai pemilik saham.

Lalu setelah keluar dari Zalora, gimana kelanjutannya? Nah ini menarik juga. Setelah keluar dari Zalora, Nadiem juga belum memilih fokus dengan Gojek-nya. Di April 2013 lulusan MBA Harvard ini malah bergabung ke Kartuku, menjabat sebagai CIO. Setahun di Kartuku, barulah Nadiem kembali fokus ke Gojek.

Brian Cu? Setelah keluar dari Zalora, lulusan National University of Singapore ini memilih berkarir di GrabTaxi sejak Juni 2013. Iya, GrabTaxi yang itu.., yang juga meluncurkan GrabBike, pesaing utama Go-Jek.

Ini menarik. Melihat timeline catatan karir mereka di Linkedin, sepertinya Brian Cu juga tidak lagi memiliki saham di Go-Jek.

The New Go-Jek

Di 2015 ini, Go-Jek mulai ramai lagi. Kalau dulu pesannya harus via telpon, sekarang sudah bisa via aplikasi, ala-ala Uber. Walaupun aplikasinya menurut saya kualitasnya masih jauh dari Uber.

Mengapa aplikasinya kualitasnya masih jauh? Beberapa kali saya gunakan, aplikasinya suka error sendiri. Pesen Gojek, nunggu agak lama, terus muncul notifikasi pengemudi sudah dapat, sedang dalam perjalanan. Tapi informasi pengemudinya kosong. Gak ada nama maupun nomor telpon. Posisinya? Di laut. Tapi pernah juga berhasil dengan mulus sih.

Lalu ini yang paling parah, seringkali (dapat cerita) aplikasinya bisa diakali sendiri oleh pengemudi Gojek-nya, maupun oleh pengguna jasanya. Pengemudi Go-Jek nya bisa dapat 800rb sehari dengan ngakalin aplikasinya. Ini abang-abang Go-Jek nya sendiri lho yang cerita. Penumpangnya? Well.., gitu deh. Biar jadi PR orang teknologinya Go-Jek lah ini.

Soal investor, seperti disebutkan tadi, strateginya Nadiem agak beda dengan kebanyakan startup lainnya. Di beberapa media, Nadiem menyatakan kalau enggan membuka informasi investor Gojek. Bukan soal nominal saja, tapi soal siapa investornya. CFO nya Gojek pun waktu saya tanya tidak bisa memberikan informasi, confidential katanya.

Pertumbuhan Gojek sepertinya luar biasa tahun ini. Download aplikasinya sudah lebih dari 500rb. Jumlah mitra abang ojeknya pun sudah 10rb lebih, tersebar di 4 kota.

Pertanyaan dasar saya cuma satu, ini Gojek mau ngincer exit, atau memang mau dijalankan long term ya? 😉

PS: Terus, Michaelangelo Moran gimana? Well, kata info user di Wikipedia (ini saya quote ya) “Michaelangelo Moran is a son of a bitch and janitor based currently in San Francisco”. Saya yakin ini pasti becandaan sih. Entah oleh dia sendiri (yang memang pekerja kreatif), atau temen-temennya. 😀

Ulasan 10 Tahun Blog Ini

Okto SiLaban Okto Silaban

2 tahun lalu saya bikin janji, sekarang waktunya saya penuhi.

Blog ini dimulai sejak November 2004, jadi usinya sudah 10 tahun lebih. Tetapi Google Analytics-nya baru dipasang sejak 2007. Jadi data yang saya punya hanya statistik kunjungan blog ini 8 tahun terakhir.

Apa saja yang yang bisa dilihat dari data 8 tahun terakhir? Begini.

Mobile

Seperti terlihat di chart di atas, awalnya pengunjung blog ini di dominasi pengunjung yang menggunakan desktop (desktop users -warna biru). Lalu sejak penghujung tahun 2012 perlahan-lahan pengunjung yang menggunakan perangkat ponsel naik (mobile users –warna hijau). Dan menyusul di bawahnya, pengunjung pengguna tablet (tablet users –kuning). Sekarang, mayoritas blog saya ini dikunjungi menggunakan ponsel.

Minggu lalu sewaktu iseng membuka Google Analytics, saya cukup kaget ketika mengetahui bahwa 60% lebih pengunjung blog saya ini adalah mobile users. Bulan sebelumnya sekitar 53%, bulan sebelumnya lagi juga 50-an persen. Setelah melihat overview secara keseluruhan jadilah chart di atas. Desktop user yang mengunjungi blog ini persentasenya turun drastis. Juni 2014 jadi titik balik perubahan profil pengunjung blog ini. Di Juni 2014, mayoritas pengunjung blog ini berubah, dari desktop users ke mobile users.

Agak mengejutkan buat saya, karena di Juni 2014 saya tidak melakukan perubahan apapun di blog ini. Bahkan, saya gak nulis satu artikel pun di Juni 2014.

Tadinya saya menduga karena jumlah pengguna smartphone di Indonesia sudah lebih besar daripada pengguna feature phone. Nyatanya tidak, dari data di swipe.to/9646k, di Juni 2014, pengguna smartphone di Indonesia masih 23% dari total pengguna ponsel se-Indonesia. 77% sisanya masih menggunakan feature phone. Kalau dilihat dari jenis browser & OS nya (sejak Juni 2014 hingga Juni 2015), pengguna Opera Mini jumlahnya cukup signifikan, sama besarnya dengan jumlah pengguna browser Chrome (Android). Jadi mungkin selain jumlah pengguna smartphone memang meningkat (walaupun belum mayoritas), pengguna smartphone ini juga lebih sering browsing -daripada sekadar menggunakan media sosial. Mungkin ya.

Tulisan Terpopuler

Inilah 10 tulisan saya paling populer di blog ini selama 8 tahun terakhir:

  1. http://labanapost.com/2008/02/website/imediabiztv-nonton-tv-dari-internet/
    Untuk beberapa tahun, sepertinya banyak sekali orang yang mencari cara menonton TV via internet. Dan ternyata blog saya ini muncul di top 5 hasil pencarian di Google untuk beberapa lama.  Tapi beberapa tahun terakhir sudah tidak lagi sih.
  2. http://labanapost.com/2005/08/general/wawancara-kerjamenjawab-dengan-cerdas-taktis-dan-optimis/
    Setahun terakhir ini jadi tulisan paling populer di blog ini. Padahal ini ditulis tahun 2005, hampir sepuluh tahun yang lalu, copy paste pulak. Saya dapat dari sebuah milis. Gak ingat lagi sumber aslinya. Dari data Google Analytics, banyak yang menemukan tulisan ini dengan kata kunci “contoh wawancara kerja” (dan variasinya) di Google. Walaupun saya coba googling dengan kata kunci itu (dan variasinya), blog saya gak muncul di 20 top resultnya. Hmm..
  3. http://labanapost.com/2007/10/general/mengetes-dominasi-otak-kanan-atau-otak-kiri/ Ini juga image nya dari milis. Saya gak tahu sumber aslinya dimana.
  4. http://labanapost.com/2008/01/general/20-gambar-yang-luar-biasa-dari-google-map/
  5. http://labanapost.com/2008/06/linux/hati-hati-buat-pengguna-indosat-im3/ Mudah-mudahan yang baca tulisan ini di tahun 2015 paham ya kalau tulisan ini dibuat tahun 2008.
  6. http://labanapost.com/2015/03/website/seperti-inilah-sulitnya-membuat-halaman-website/
    Nah ini agak-agak fenomenal buat saya. Setelah menulis ini, saya share link-nya di Twitter dan Facebook saya. Responnya sedikit. Di Twitter yang re-twit gak sampai 4 orang seingat saya. Di Facebook juga comment nya gak sampai 10 kayaknya. Tapi dalam 2 hari, ada 2 ribu orang lebih yang share tulisan saya ini di Facebook mereka. Di Twitter ada beberapa juga yang share ternyata (tapi tanpa mention saya @labanux). Hampir semua saya gak kenal siapa. Selama hampir sebulan tulisan ini sangat populer. Bahkan sampai bulan ini (sudah 3 bulan), tulisan ini masih mendatangkan banyak kunjungan. Mungkin memang banyak sekali yang merasakan apa yang saya tulis itu ya. Masih misteri bagi saya, darimana berawalnya “viral” ini.
  7. http://labanapost.com/2007/11/website/facebookcom-terancam-ditutup/
    Ditulis tahun 2007, tetapi populer di tahun 2010 kalau gak salah. Waktu jaman-jaman ada wacana dari Kominfo untuk menutup akses ke Facebook. Orang menemukan tulisan ini sebagian besar dari Google, dengan kata kunci “facebook tutup” dan variasinya.
  8. http://labanapost.com/2007/11/general/internet-berbayar-im3-vs-internet-gratisan-three/
  9. http://labanapost.com/2008/02/linux/download-video-youtube-tanpa-downloader-di-linux/
  10. http://labanapost.com/2007/11/general/lion-air-atau-wings-air-sih/

Oh iya, di bulan ini (Juni 2015), tulisan paling populer adalah http://labanapost.com/2014/03/general/silverqueen-gede-sih-tapi-rela-bagi-bagi-sama-ulat-bukan-hoax/ Entah kenapa, tiba-tiba banyak yang mencari “ulat silverqueen” di Google. Dan blog ini masuk salah satu top resultnya. Padahal tulisan itu dibuat setahun yang lalu.

Perubahan

Blog ini hampir 7 tahun tidak berubah themenya. Selama 7 tahun itu hanya perubahan-perubahan minor saja yang dilakukan. Tapi akhirnya di 2014 saya memutuskan untuk menggantinya dengan theme WordPress yang responsive, jadi lebih ramah di mobile. Di 2015 saya sempat ganti lagi beberapa kali, hingga akhirnya menggunakan theme yang sekarang ini. Tentunya dengan modifikasi minor di sana – sini.

Tahun 2015 ini saya memutuskan untuk mengganti tempat hosting. Tadinya betahun-tahun hostingnya di DreamHost, disediakan secara cuma-cuma oleh saudara saya, Charly Silaban. Thanks amang Charly..!

Bersamaan dengan ganti hosting, saya juga mengganti domain blog ini dari okto.silaban.net ke LabanaPost.com, dengan “branding” lucu-lucuan, The Labana Post.

Rutin

Tahun 2015 ini saya kembali rutin menulis (setidaknya 4 bulan terakhir). Bahkan saya sempat bereksperimen dengan membuat blog baru, Labana.ID. Ini jadi tahun ke-3 saya menulis paling aktif (54 tulisan sejak Januari 2015). Kalau frekuensi menulis saya tetap seperti 4 bulan terakhir, bisa jadi tahun ini bakal jadi tahun teraktif saya menulis, mengalahkan tahun 2008 (147 tulisan).

Eh iya, jadi inget. Dulu, tahun 2009, sempat ada rame-rame di kalangan para blogger, perdebatan apakah blog itu cuma trend sesaat atau tidak. Sampai sekarang saya gak tahu kesimpulan dari perdebatan itu. Kalau kata Christin sih -mengutip dari @chiw-, “Namanya trend ya mesti sesaat sih. Kalo berkepanjangan namanya habit”. Padahal kita sama-sama tahu, namanya yang berkepanjangan itu, pasti ujung-ujungnya minta kepastian status. Iya kan?

Mudah-mudahan 10 tahun lagi blog ini masih ada.

Sudah Siap Memerangi Malware di Era Internet-of-Things?

Business Software in the Cloud 1

Sudah Siap Memerangi Malware Internet-of-Things?

Boro-boro mencegah phishing/scam/hacking apalagi bersiap-siap menghadapi tantangan serangan malware dan virus bagi pengguna perangkat Internet of Things seperti TV, kulkas, camera, robot, dsb. (yang pastinya akan semakin banyak)...

Setiap pulang dari warnet atau game center mana pun, USB flash drive saya pasti langsung kena virus. Padahal pencegahan dan pengamanan virus yang menyebar lewat USB flash drive (secara offline) termasuk paling gampang.

Dengan kondisi seperti sekarang, bagaimana bila menghadapi cyberwar dan hacker merajela? Hmm... :-(

Kesan Nonton Jurassic World

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Ketika film Jurassic World mulai ramai dibicarakan, saya cuma “hmmmm, okay, jadi Jurassic Park ada sekuelnya lagi. Jadi kira-kira ceritanya bakal menceritakan orang tolol mana lagi yang mau datang ke pulau penuh dinosaurus, setelah di beberapa kesempatan sebelumnya banyak yang ke sana dan pada mati?” Tapi kok makin dekat pemutarannya makin rame dibicarakan yak? (unsure)

Rupanya jarak 22 tahun antara Jurassic Park dan Jurassic World membuat sang dinosaurus kembali dirindukan dan tentu saja rentang waktu 22 tahun itu menyediakan banyak sekali lompatan teknologi yang bakal menyajikan efek visual yang jauh lebih keren. Jadi ya wajar kalau produsernya mencoba peruntungan dengan membuat kembali film dinosaurus legendaris itu. Apalagi memang belakangan ini banyak sekali film-film lawas dibikin kembali.

Nah, saya mau cerita kesan saya tentang film Jurassic World ini. Bagi yang belum nonton, silakan berhenti sampai di sini bacanya karena bakal ada spoiler.

Jurassic World

Gambar nyomot dari Wiki Jurassic World https://en.wikipedia.org/wiki/Jurassic_World

Jadi setelah saya nonton, saya baru paham kalo film ini ternyata bukan remake tapi sekuel Jurassic Park yang timeline-nya beda sama sekuelnya yang berjudul The Lost World: Jurassic Park. Pokoknya sekian tahun setelah “dibuang” oleh John Hammond, toh akhirnya taman dino ini buka juga. Lokasinya masih di pulau yang sama tapi bangunan-bangunannya beda sama yang dulu karena puing-puing bangunan lama masih ada.

Seperti halnya taman hiburan yang lain, dari waktu ke waktu pengelolanya selalu menyajikan wahana-wahana baru agar penonton tetap tertarik. Di Jurassic World, “wahana” baru itu hadir dengan makin beranekaragamnya jenis dino yang ditampilkan. Misalnya sekarang ada Mosasaurus, semacam paus/hiu purba yang ganas. Walaupun entah gimana nyamuk yang jadi sumber data DNA dino bisa menggigit si Mosasaurus. Mungkin nyamuk purba bisa menyelam juga. Puncaknya adalah dino baru karangan mereka sendiri yang diberi nama Indominus Rex.

Belajar dari pengalaman yang dulu, sistem keamanan kandang dino diperketat dan diperlengkapi dengan berbagai sensor dan alat canggih. Namun satu hal yang lupa mereka pelajari, yang namanya makhluk hidup, apalagi itu jenis predator, memiliki juga kemampuan “belajar” untuk meloloskan diri. Dan itu jugalah yang terjadi di film ini.

Intinya, film ini bercerita tentang bagaimana menghalangi si Indominus Rex supaya tidak berhasil mencapai area taman yang dihadiri banyak pengunjung. Berbagai cara dikerahkan, termasuk menggunakan Velociraptor yang berhasil dilatih untuk tugas tertentu. Ketika gagal, akhirnya dikerahkanlah sang raja sesungguhnya, T-Rex, untuk menghalau si Indominus.

Di awal film sebenarnya sang pembuat cerita cukup berhasil menyembunyikan si T-Rex ini dengan pesona Mosasaurus dan Indominus. Namun ketika Claire mencoba mendatangkan bala bantuan, saya langsung menduga, pasti si T-Rex ini yang bakal muncul. Dan ternyata benar. B-)

Mungkin karena mau tidak mau membandingkan dengan Jurassic Park, ketegangan di Jurassic World rasanya cupu. Apalagi tidak ada emosi penonton yang direnggut karena tidak ada tokoh utama yang mati dimakan dino. Yang dimakan figuran-figuran doang. Sama penjahatnya tentu saja.

Jadi selain efek visual yang sudah pasti lebih canggih, tidak ada yang spesial dari Jurassic World dibandingkan Jurassic Park. Tapi sebagai hiburan pengisi waktu luang, lumayan banget sih. Sayang juga tokoh utama cewenya kurang cantik menurut saya (hehe, sebagai cowo ya wajar khan memperhatikan tokoh cewe) meskipun sepatu high heels-nya top banget. (upss)

Hasil Recording Zenfone 2 vs Zenfone 5

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Beberapa waktu lalu ada yang menanyakan pada saya tentang hasil recording Zenfone 2 yang dinilai lebih buruk dibandingkan Zenfone 5. Saya bukan audio freak, jadi gak ngerti mana yang lebih bagus. Jadi hasil recording kedua hape tersebut saya sajikan di sini, silakan dinilai sendiri.

Memang, secara cepat bisa dinilai bahwa volume yang dihasilkan oleh hasil rekaman Zenfone 2 lebih kecil daripada Zenfone 5.

Perbandingan ini dilakukan seadil mungkin, setingan audio kedua hape dibuat sama dan rekaman dilakukan secara bersamaan.

Nah, inilah hasilnya.

Zenfone 2

 

Zenfone 5

 

Semoga bermanfaat.

RPP E-Commerce Memang Separah Itukah? Mari Kita Ulas

Okto SiLaban Okto Silaban

[Ilustrasi: Álvaro Ibáñez – alvy | flickr.com]
Beberapa hari ini dunia e-commerce Indonesia ramai. Musababnya Daniel Tumiwa, ketua idEA (Asosiasi E-commerce Indonesia) menyatakan bahwa dalam RPP E-commerce yang dirancang oleh Kementrian Perdagangan disebutkan bahwa pemerintah mewajibkan para pelaku industri melakukan pendaftaran yang dikenal dengan istilah Know Your Customer (KYC).

Menurut banyak pihak, ini akan mematikan industri e-commerce lokal. Karena ini tidak hanya mempersulit penyelenggara e-commerce (termasuk classified-ads), tetapi juga pelanggan. Seperti diutarakan oleh Rama (DailySocial): “Ketika anda ingin menjual barang di situs seperti Tokopedia, Bukalapak, Kaskus atau OLX, anda harus terlebih dahulu terverifikasi sebagai warga negara yang sah dengan memberikan nomor KTP/NPWP anda.”

Sayangnya artikel-artikel di Detik, CNN Indonesia, maupun DailySocial itu tidak menyertakan link ke dokumen RPP E-Commerce yang diperdebatkan ini. Saya coba cari, yang ketemu dari situs resmi Ditjen PDN Kemendag cuma ini: NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH (RPP) TENTANG PERDAGANGAN ELEKTRONIS (E-COMMERCE). Mari kita ulas.

*Disclaimer: Saya gak tahu ya apakah ini sudah versi terupdate -yang diributkan itu- atau bukan. Dan saya bukan ahli hukum, jadi ini interpretasi pribadi saya.*

Penelitian naskah akademik Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) perdagangan secara Elektronis dilakukan melalui kombinasi studi kepustakaan (aspek teoritis dan tujuan komparatif penerapan RPP e-commerce negara lain) dan metode pengumpulan data secara kualitatif dan kuantitatif melalui objek penelitian secara langsung dengan menggunakan metode penyebaran kuisioner, indepth interview, focus group discussion (FGD), tabulasi dan analisis data secara statistik kepada stakeholders utama yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi, Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), Bank Indonesia (BI), PPATK, YLKI, dan Penyedia web media jejaring sosial seperti Toko Bagus dan Kaskus.

-Page 16

TokoBagus (yang sebenarnya sudah ganti nama jadi OLX) enggak masuk kategori jejaring sosial pastinya. Kalau Kaskus, ya.. masih bisa lah.

Kesimpulannya, e-commerce adalah suatu transaksi komersial melalui jaringan komunikasi yang dapat berupa fax, email, telegram, telek, EDI (Electronic Data Interchange), dan sarana Elektronis lainnya meliputi kegiatan tukar menukar informasi, iklan, pemasaran, kontrak dan kegiatan perbankan melalui internet.

-Page 22

Ini telek yang mana yang dimaksud ya?

Mengapa diperlukan upaya legislasi untuk e-commerce (electronic commerce)? Ada beberapa hal yang mendasari pentingnya hal tersebut:

  1. dari aspek legal, yaitu untuk mengintegrasi berbagai peraturan dan perundang-undangan yang telah ada dan seharusnya ada, kemudian untuk mempromosikan persaingan usaha yang sehat di ranah dunia maya.
  2. dari aspek kontrak online, yaitu standar verifikasi legalitas e-document dan tandatangan elektronis, kemudian proteksi terhadap keamanan dan keandalan informasi, serta untuk membangun tugas dan tanggung jawab iklim usaha e-commerce. Dari sisi aspek pembayaran elektronis (e-Payment), yaitu: bagaimana melindungi konsumen dalam transaksi online dan pengaturan sistem pembayaran yang baru.
  3. aspek terakhir adalah Aspek Promosi e-commerce itu sendiri, yaitu untuk mempromosikan keuntungan dari e-commerce: keterbukaan (transparency), pengurangan biaya dan national competitiveness.

-Page 33 (saya edit sedikit biar jadi poin-poin)

Soal 3 aspek ini, menurut saya oke-oke aja sih. Dari aspek-aspek yang disebut ini, RPP E-Commerce ini “harusnya” niatnya emang baik.

 

Badan Hukum Penyelenggara Perdagangan Elektronis
RPP Perdagangan Elektronis akan menitikberatkan kepada bentuk badan hukum yang dapat menyelenggarakan perdagangan Elektronis. Bentuk yang akan dianut bukanlah sebuah mandatory (kewajiban), melainkan lebih kepada perlindungan dari negara (state guarantee) terhadap mereka yang menundukkan dirinya kepada pengaturan Badan Hukum pada RPP Perdagangan Elektronis ini.

Hal ini didasarkan kepada fakta bahwa perkembangan perdagangan secara Elektronis tidak (akan) dapat diatur secara penuh (total control) oleh pemerintah, mengingat perkembangan web yang sangat dinamis dan lebih bersifat self-regulatory. Dalam RPP Perdagangan Elektronis akan dikembangkan sikap state guarantee bagi mereka yang menundukkan diri kepada RPP ini, yang mana akan terkait dengan Lembaga Sertifikasi Keandalan dimana RPP akan mengatur lebih ke aspek ekonomi, mengingat aspek teknis telah dijabarkan dengan detil pada hukum positif lain.

-Page 42-43

Ini dia. Kalau dari interpretasi saya, di sini kuncinya. Tidak ada keharusan/kewajiban bagi penyelenggara e-commerce lokal untuk mengikuti ini. Tetapi jika ingin dilindungi -sesuai implikasi dari RPP E-Commerce ini-, barulah perlu mengikuti peraturan ini ketika disahkan nanti.

 

4. Perlindungan bagi Penyelenggara Perdagangan Elektronis
Verifikasi Identitas Pelanggan
Untuk memastikan bahwa perlindungan terhadap merchant juga memadai, perlu adanya sebuah mekanisme yang memastikan kebenaran identitas pelanggan. Hal ini sebenarnya akan dapat diselesaikan dengan adanya Single Identity Number(SIN) yang masih dalam taraf perencanaan tender oleh Kemeterian Dalam Negeri.
Dapat pula diusulkan penggunaan tanda tangan Elektronis untuk mempermudah integritas verifikasi pelanggan. Hanya patut dipertimbangkan mengenai populasi dari tanda tangan Elektronis ini (digital signature/DS) dan penetrasi penggunaannya dalam komunitas pengguna media Elektronis di Indonesia.

-Page 50

Intinya, diperlukan adanya sebuah mekanisme yang memastikan kebenaran identitas pelanggan. Seperti apa bentuknya? Masih belum pasti. Tapi kalau merujuk ke kutipan di atas, sekali lagi, ini harusnya tidak mandatory. Tidak wajib.

Mungkin akan ada yang berpendapat: Loh, kalau gak mau ikut RPP ini, berarti gak bakal dilindungi oleh peraturan yang berlaku ini dong? Ntar kalau ada penipuan, transaksi ilegal, dll, gimana dong?

Jawabannya: Ya sama aja kalau kita pake layanan dari luar negri. Misal, akhirnya pake Craigslist. Terus kalau ada kasus hukum gimana? Craiglist adanya di US, gak terikat juga sama peraturan di Indonesia. Sama aja sih jadinya. Intinya, kalau mau bebas ya bisa, tapi ya implikasinya jadi sama seperti layanan dari luar negri.

Kemudian soal Know Your Customer (KYC) yang diributkan itu. Saya tidak menemukan satu bagian pun di RPP ini yang menyebutkan istilah KYC ini. Paling dekat ya bagian “Verifikasi Identitas Pelanggan” di atas tadi. Apa ini yang dimaksud ya?

Membela Pemerintah ?

Saya bukan serta merta membela pemerintah. Dari 3 aspek yang disebutkan di RPP di atas, saya sih setuju. Nyatanya pemerintah pun tidak mewajibkan untuk ikut RPP ini, saya juga setuju. Artinya boleh pilih mau ikut atau tidak. Tapi kalau ujung-ujungnya ini membuat layanan e-commerce lokal posisinya sama saja dengan e-commerce dari luar, nah itu yang saya tidak setuju. Buat apa bikin peraturan yang bikin industri e-commerce enggan untuk mengikuti, lalu akhirnya gak ada manfaatnya. Ujung-ujungnya 3 aspek yang disebutkan di atas gak tercapai juga.

Sekali lagi, saya membahasnya dari dokumen RPP yang saya dapatkan (link di atas). Saya tidak tahu kalau ada versi yang lebih baru dari ini tapi belum diupload oleh Dirjen BPN Kemendag di situsnya.

Satu catatan penting. Dari pernyataan idEA, pemerintah katanya baru ngajak ketemu idEA 1 hari sebelum pengumuman RPP ini. Ini memang aneh sih. Bikin regulasi tanpa mengundang pihak yang pasti kena impactnya, bahkan draftnya pun katanya gak di-share. Ini harus diperbaiki.

Selain itu, RPP ini masih banyak typo di sana-sini. Dokumen resmi yang dikeluarkan oleh negara kok ya kaya gitu sih. Malu ah.

Semoga ketemu titik temu deh. Biar pemerintah bisa melindungi, idEA bisa jualan lebih nyaman lagi, dan konsumen pesta diskon belanja online lagi… *walaupun stocknya kosong. 😛

Geliat Okezone.com – Redesign, Platform Citizen Journalism dan Forum, serta Performa Bisnisnya

Okto SiLaban Okto Silaban

Okezone.com kembali tampil dengan desain baru. Gak baru-baru banget sih, desainnya di akhir 2014 hampir-hampir mirip ini juga sepertinya. Tapi ini jelas udah jauh beda dengan desainnya di tahun 2008.

Ketika mengunjungi Okezone.com, di bagian atas kita pertama kali akan disuguhkan dengan banner raksasa. Eye catching. Tapi menurut saya terlalu besar malah. Emang lebar yang pas itu seperti di Kompas.com, Detik.com dan Liputan6.com ya. (Ini juga saya baru sadar, mereka hampir sama semua dimensi ukurannya). Tapi saya curiga mereka bisa kompak ukuran banner image-nya segede itu bukan semata-mata demi kenyamanan mata deh.

Sepanjang karir saya, saya mengurusi website. Membuat layout foto dengan ukuran wide itu tantangannya lebih ke operasional. Seringkali susah menemukan image yang cocok yang wide kaya gitu. Sampai hari ini saya pun masih kerepotan dengan hal itu. Curiga nih portal-portal berita lain juga mengalami hal ini, makanya kompak pakai ukuran banner foto segitu.

Contoh screenshot di atas itu misalnya Kenapa foto ayam (apa tikus ya?) ada 2? Karena kalau fotonya satu aja dan wide, jadinya kepotong. Atau misal Okezone sendiri deh mau beritain desain barunya. Kan harus masang screenshotnya dong. Pusing deh tuh bikin image nya biar wide gitu. Hehe.

Lewat dari banner gede itu, scroll ke bawah, tampilannya seperti di atas. Saya suka sih. No comment untuk ini. Well done. Taste designer nya oke nih.

Cuma saya belum tahu. Apakah Okezone sudah mempersiapkan satu slot khusus untuk berita yg super-breaking-news. Kalau di Kompas.com, ada tuh di bawah menu yg atas. Kalau lagi ada breaking news, akan ada satu bar baru. Di bar baru ini breaking news nya akan di post.

Kalau di salah satu portal berita di US (aduh saya lupa apa namanya), lebih gila lagi. Layoutnya bisa diatur suka-suka, besar kecil, sampai urutan kontennya. Jadi jika ada berita yang lagi mau di highlight, atau ada breaking news, bisa segera ubah layout. Dan itupun dengan layoutnya tetap “responsive”. Mumet dah front end developernya. Haha. Ini kalau bang Roy Simangunsong (bos Okezone, -ex Yahoo) denger, bisa jadi dia pengen juga tuh bikin kaya gitu. 😀

*catatan: Semua screenshoot di tulisan ini saya buat saat mengaktifkan plugin AdBlock. Jadi saya gak tahu aslinya apakah ada banner iklan berjejal di sana-sini atau tidak.

Rubik

Nah ini nih salah satu platform baru dari Okezone, namanya Rubik. Eh, beneran baru kan ya? Atau saya yang kuper?

Apa itu Rubik? Singkatnya: Kompasiana-nya Okezone. Kalau Detik kan sudah punya DetikBlog, DagDigDug punya Politikana.com, Kompas cukup sukses dengan Kompasiana-nya, maka Okezone pun gak mau ketinggalan.

Ini layoutnya dan desainnya oke sih menurut saya. Belum explore lebih dalam sih. Tapi ada satu hal yang mengganggu banget. Ketika klik salah satu tulisan, tidak akan ke load halaman baru. Tapi artikelnya ditampilkan dengan pop-up. Mungkin terinspirasi dari Beritagar.com.

Gak tau ya, kalau saya sih gak suka model begini. Gak nyaman aja. Salah satu alasannya, kalau internet sedang lambat, atau mungkin server webnya yang sedang ngadat, loading artikelnya kan jadi keputus. Terus kalau sudah gitu, mau refresh halamannya susah. Kalau kita refresh, ya yang di-reload keseluruhan halaman depannya tadi. Karena pop up gak bisa di-refresh. Alasan lain? Err.. saya lupa. Dulu beberapa kali saya alami waktu buka-buka Beritagar.com.

Platform Rubik ini sudah sewajarnya dibangun Okezone. Situs-situs di luar juga melakukan ini. Kompasiana terbukti rame (rame juga fitnah di dalamnya). Mudah-mudahan gak jadi tempat ajang fitnah seperti Kompasiana di masa pilpres kemarin. Apalagi bos besarnya MNC (pemilik Okezone) terafiliasi dengan partai.. Eh, apa sih partai dia sekarang? Udah pindah lagi kemana sekarang? Atau bikin baru ya?

Warung Kopi

Apa itu WarungKopi Okezone? Singkatnya: Kaskus-nya Okezone. Tapi Kaskus++ kali ya. Karena ada fitur yg cukup menarik yang di Kaskus (setahu saya) gak ada: Kongkow. Ntar saya bahas ya.

Mirip seperti Kaskus, di sini bisa bikin New Thread, atau istilahnya mereka “Pesen Meja”. Ada sub-sub forum. Lalu ada FJB (forum jual beli) ala Kaskus. Namanya? FJB juga. Di FJB Okezone ini nominal harga ditampilkan dengan dua digit di belakang koma. Jadi misal 1 juta, jadinya: Rp 1.000.000,00. Entah kenapa. Karena selain nyaru di mata, toh di Indonesia gak ada nominal di bawah 1 Rupiah.

Oh iya istilah buat membernya: Warkoper.

Kalau di Kaskus ada cendol, di WarungKopi adaa.. Kopi Master. Jadi kalau di Kaskus orang sering minta “ijo-ijonya dong gan”, di sini mungkin nanti jadi “minta coklat-coklatnya dong bree..”, atau “bre.., jangan lupa Torabika nya ya bree..”.

*Itu profil Sutan Bathoegana saya dapat di halaman official Tour nya Warkop ini. Nekat juga nih. Hehe. Awas.., jangan sampai nanti “Kenaaaak barang tuu…”.

Salah satu fitur di Warung Kopi ini adalah Kongkow – “Tempat Ngobrol bareng bersama artis idola secara live”. Tapi halaman Tour nya (screenshot di atas), tertulis “Hangout with Chelsea Islan”. Kenapa bukan “Kongkow bersama Chelsea Islan” aja ya? Biar align gitu.

Di Kongkow ini, bisa live chat dengan idola/artis. Nanti Warkop akan menginformasikan kapan ada sesi Kongkow (eh Hangout?) dengan idola/artis yang sudah mereka jadwalkan. Kita bisa ikutan join. Plus ada video chat juga. Tapi untuk video chat ini, kalau gak salah nanti cuma dipilih beberapa orang saja. Entahlah, saya lupa detailnya. Males buka lagi tournya, panjang cuy.. Haha.

Tour Rubik dan Warung Kopi

Nah dari tadi saya sebut soal Tour. Nah ini harus saya beri big applause buat Okezone. Di Rubik dan Warung Kopi, pertama kali kita kunjungi akan keluar pop up yang mengajak kita Tour ke dalam, melihat apa-apa saja fitur yang disajikan di dalam. Ala-ala Facebook kalau ngeluncurin fitur baru gitu. Ini bagus banget sih untuk memperkenalkan produk/platform baru. Good job.

Cuma tetep ada catatan, hehe. Di Rubik, kalau selesai Tour, terus kita pengen ngulang, saya gak nemu gimana caranya bisa ikut Tour lagi. Kalau di Warkop, menunya selalu tersedia di samping kiri.

Satu lagi, di Warkop, sewaktu saya coba, di akhir tour URL-nya malah salah, masuk ke nomor rumah paling legendaris, 404. Entahlah sekarang sudah diperbaiki atau belum.

Okezone di Masa Pilpres

Salah satu momen yang saya ingat, setelah KPU mengumumkan pemenang pilpres -breaking news paling heboh malam itu. Okezone sama sekali enggak memberitakan lho (entah kalau 1 jam berikutnya atau besoknya). Malam itu saya lihat dari atas sampai bawah, gak ada beritanya yang menyinggung soal ini. Vivanews sih masih memberitakan, tapi gak di highlight. Sayang saya gak screenshot waktu itu.

Ahh jadi inget tragedi Vivanews yang berujung manajemennya sampai pada cabut. Itu loh tragedi “sebelum ayam berkokok..” 😉

Itu memang masa-masa kelam media massa di Indonesia.

 

Okezone.com Secara Bisnis

Dulu saya pernah dengar Okezone.com secara bisnis belum begitu bagus. Kalau melihat laporan tahunan 2014 MNC Media Investment (Linktone), sepertinya masih, karena penghasilannya turun.

Revenue Okezone.com tahun 2014 (sudah termasuk VAS business-nya) adalah US$ 3,1 juta (sekitar Rp 41 miliar). Ini turun dibandingkan revenue nya tahun 2013, US$ 3,9 juta (sekitar Rp 51 miliar). Padahal laba bersih Detikcom tahun 2010 saja sudah Rp 20 miliar (laba bersih lho, bukan revenue). Target laba bersih Detikcom 2011 lebih gila lagi, Rp 40 miliar. Tapi saya gak tahu, ini akhirnya terealisasi atau tidak. Jadi gak heran kalau saya dengar kabar bang Roy mau merebut posisi Liputan6.com sebagai portal berita nomor 2 saat ini (peringkat di Alexa hari ini).

Secara kepemilikan, saya agak bingung dengan Okezone.com ini. Di laporan tahunan MNC disebutkan kepemilikannya atas Okezone adalah 99,90%. Tapi di laporan tahunan Linktone, disebutkan kepemilikannya 49,9% dipegang oleh JPMorgan Chase Bank, N.A. Sedangkan MNC International Ltd. hanya memiliki 47,7% sahamnya. Jadi sebenarnya gimana sih?

Portal Berita di Indonesia

Sampai saat ini, klasemen liga portal berita di Indonesia masih diisi tim-tim lama. Memang posisinya berganti-ganti, namun Detikcom tetap nomor satu. Sisanya diisi oleh Liputan6.com (yang belakangan melesat masuk ke top 3), Kompas.com, Tribunnews.com (juga milik Kompas, tapi kualitas beritanya menurut saya masih di bawah Kompas). Lalu ada Merdeka.com (grup KapanLagi, yang baru diakuisi grup MediaCorp dari Singapura), Okezone, Viva.co.id, Suara.com (nah ini pendatang baru), disusul Tempo.co dan KapanLagi.com (mm.., ini bukan portal berita sih).

Suara.com ini luar bisa. Dulu, dalam hitungan bulan, dia sudah berhasil melesat masuk dalam 40 situs paling top di Indonesia. Kemudian saya sempat lihat kayaknya mereka pernah masuk top 10 atau top 20 juga sih. Tapi hari ini saya lihat sudah keluar dari top 20. Apa dugaan saya dulu mungkin benar, trafik mereka kebanyakan disumbang dari digital-ads. Jadi ketika ads placement nya sudah berkurang, ya trafiknya menurun juga. Dulu Vivanews gosipnya pernah melakukan strategi ini juga. Dalam seminggu posisinya di Alexa bisa melesat jauh. Gosip sih.

Merdeka.com (atau tepatnya KapanLagi Networks-nya), dulu sempat diduga bakal jadi akuisisi dengan nominal yang luar biasa. Hampir diakusisi oleh EMTEK (pemilik KMK -yang menaungi Liputan6.com). Tapi di tengah jalan berbelok, merapat ke MediaCorp. Akhirnya 52% sahamnya dilepas ke MediaCorp.

Nilai akuisisinya? Dari sumber yang cukup dekat dengan mereka, valuasi untuk 100% saham KapanLagi Network adalah US$ 87 juta. Ya.., naik dikit lah dibanding akusisi Detikcom oleh CT Corps tahun 2010, US$ 60 juta. Kalau itungan bodo-bodoan, dengan inflasi 7% setahun, maka “harga” Detikcom kalau diakusisi tahun 2014 jadi sekitar US$ 78jt.

Jadi siapa yang bakal berhasil menggeser posisi Detik sebagai No.1? Apa yang dibutuhkan biar bisa mengejar no.1? Jawabannya: duit (pastinya) + konten. Tapi dibelakang konten itu, sebenarnya kuncinya teknologi. Seperti apa maksudnya teknologi di belakang konten? Ya pikirin sendiri lah. Kalau mau masukan gue, bayar..! atau bajak gue.. LHO? Hahahahahaha..

Technical Thursday on Friday #13 : Android Design Support Library

Business Software in the Cloud 1

Technical Thursday on Friday #13 : Android Design Support Library

Konferensi tahunan Google I/O telah digelar di San Francisco, pada rabu 25 Juni 2015. Di ajang tempat bertemunya Google dengan para pengembang Android ini, Google mengungkap sejumlah pengumuman tentang produk dan layanannya yang akan segera dirilis. Topik Google I/O masih sangat hangat buat dibahas, dan ditechnical thursday on friday kali ini akan membahas mengenai Android Design Support Library akan dikupas tuntas langsung oleh Founder dan CEO GITS INDONESIA di Technical Thursday on Friday #13 yang akan diadakan pada :

Hari/tanggal : Jumat, 26 Juni 2015
Pukul          : 14.00 s/d 16.00 WIB
Tempat       :  Bandung Digital Valley
                     Menara IDeC Lt. 4 Jl. gegerkalong Hilir No.47 Bandung

Ajak teman-teman sebanyak-banyaknya buat join Technical Thursday kali ini. Karena teman-teman bisa sharing langsung mengenai Android Design. Reistrasi di sini : bit.ly/techthurs13

Penyidikan atau Penyelidikan ?

Okto SiLaban Okto Silaban

Hampir tiap hari baca berita. Seringkali menemukan kata penyidikan dan penyelidikan. Tapi sebenarnya gak pernah benar-benar nangkep apa bedanya. Jadi, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ini bedanya:

penyidikan /pe·nyi·dik·an/ n serangkaian tindakan penyidik yg diatur oleh undang-undang untuk mencari dan mengumpulkan bukti pelaku tindak pidana; proses, cara, perbuatan menyidik

penyelidikan /pe·nye·li·dik·an/ n 1 usaha memperoleh informasi melalui pengumpulan data; 2 proses, cara, perbuatan menyelidiki; pengusutan; pelacakan

Cukup jelas kan?

Anak Ahensi

Okto SiLaban Okto Silaban

[Ilustrasi: wetwebwork | flickr.com]
Karyawan di Digital Agency, atau biasa disebut juga “anak ahensi”, harusnya memang exist lah ya di media sosial. Client nya? Belum tentu.

Jadi, tak jarang sejak dulu saya menemukan anak ahensi post (#nomention pastinya) di medsos mereka tentang client-client mereka.

“Eh begoo.. kalau kirim email jam 3 pagi, ya siapa yang bacaaa gembel..”

“Oh dear client, kamu kenapa ganteng banget sih hari ini *kiss kiss* ”

“Kelar meeting jam. enam. sore. Hari. Jumat. Terus mintak live website nya Senin. Bunuuhh aja gueee…!”

..dsb

Di jaman itu sih, tak banyak client yang beredar di media sosial. Punya akun Twitter aja sudah oke. Jadi sangat kecil kemungkinan post-post itu kebaca sama clientnya. Amanlah bree..

Tapi makin kesini, baik client maupun anak ahensinya, sama-sama eksis di media sosial. Kenapa? Karena banyak juga yang di client-client itu tadinya juga anak ahensi. Kebalikannya juga ada sih, yang tadinya di client, sekarang di ahensi. Ada yang malah bener-bener pindah dari client ke ahensi nya sendiri. Ini agak-agak epic sih. Saya gak sempat cek, tapi harusnya ada yang post begini lah ya:

“Si gembel mantan client, sekarang.. jadi.. BOS GUE..!! *icon nangis*”

Nah, karena keduanya (client dan anak ahensi) sama-sama beredar di media sosial, apakah postingan-postingan seperti di atas hilang? Ya gak lah. Namanya juga medsos, tempat mengumpat, nyinyir, atau berbagi momen bahagia ketemu sama si client yang cantik jelita. *ehm*.

Jadi sekarang apakah client-client nya itu bakal post tentang ahensi-ahensinya tadi? Di Path sih ada, tapi itu kan private. Kalau di Twitter saya belum lihat.

Kan seru kalau clientnya ex anak ahensi, selebtwit pulak, terus anak ahensinya juga eksis di medsos. Jadi twitwar nomention-nomention gitu deh. Kaya sesama selebtwit yang baru putus gitu.. *eh* Hahahahaha..

Taylor Swift on Apple Music

Orangescale.NET Thomas Arie

This is not about me. Thankfully I am on my fifth album and can support myself, my band, crew, and entire management team by playing live shows. This is about the new artist or band that has just released their first single and will not be paid for its success. This is about the young songwriter who just got his or her first cut and thought that the royalties from that would get them out of debt. This is about the producer who works tirelessly to innovate and create, just like the innovators and creators at Apple are pioneering in their field…but will not get paid for a quarter of a year’s worth of plays on his or her songs. (Source: To Apple, Love Taylor)

Taylor Swift’s love letter to Apple Music’s free 3 month trial. Apple’s Eddy Cue responded to her letter, and Apple will change the policy on the trial period. Interesting.

MatahariMall.com – Bocoran Tampilan (Lagi), Engine dan Kisah Masa Lalunya

Okto SiLaban Okto Silaban

[MatahariMall.com – 22 Juni 2015, 23:50]
Beberapa waktu lalu sempati diberitakan tentang “bocoran” tampilan MatahariMall.com di Techinasia dan DailySocial. Sempat “live” sebentar, tapi link-link nya masih gak jalan. Lalu sebentar kemudian kembali ke halaman “coming soon”-nya.

Nah malam ini barusan saya iseng buka situsnya, dan keluarlah tampilan di atas. Saya sempat mengira MatahariMall.com sudah live. Tetapi ketika saya buka masing-masing link di atas, kembali ke halaman “coming soon” lagi. Ternyata beda di protokolnya. Kalau menggunakan HTTPS muncul halaman di atas, kalau hanya HTTP muncul page default nya.

Kalau diperhatikan dari screenshot di atas harusnya sih MatahariMall.com ini tampilan live saat ini ya. Karena jelas ada pesan “Selamat Berpuasa”, lalu banner gede iklan “Ramadhan Fashion Week”.

[MatahariMall.com – 22 Juni 2015, 23:50]
Kalau scroll ke bawah juga bisa dilihat ada promo Hot Deals Zenfone 2. Dan para penggemar gadget pasti paham kalau Zenfone 2 ini lagi hot-hotnya. Di toko-toko gadget populer setahu saya belum tersedia. Baru tersedia di gerai-gerai online saja. Jadi harusnya ini website yang sudah live dong ya. Hmm..

Engine MatahariMall.com

Nah, tentang engine di belakang MatahariMall.com ini sempat muncul beberapa spekulasi. Jauh-jauh hari saya dengar kabar kalau engine-nya pakai Magento, salah satu CMS E-Commerce yang populer, dan tersedia versi open-source nya. Engine ini berbasis Zend Framework (PHP). Tapi sewaktu Techinasia memberitakan tampilan MatahariMall.com yang “bocor” itu, ada yang melaporkan bahwa dia sempat melihat source code HTML nya. Dari source code nya itu terlihat bahwa engine yang dipakai adalah WordPress. Nah loh..

Ya, tidak masalah sebenarnya kalau WordPress dijadikan engine E-Commerce, banyak kok yang pakai, dan lancar-lancar aja. Tapi kalau untuk sekelas MatahariMall.com (yang di-backing-i oleh Lippo, bahkan dipegang langsung oleh trah Riyadi, ditambah dukungan dana setidaknya USD 500 juta), kayaknya gimana gitu ya kalau pakai WordPress. 😀

Nah, yang saya lihat di source code HTML-nya malam ini ternyata beda lagi. Dari pattern path nya sih sangat mirip Drupal. Sampai saya lihat ada satu line yang jelas-jelas menunjukkan mereka menggunakan CMS Drupal.

Tapi, kalau memantau dari lowongan MatahariMall.com yang beredar sih, mereka sedang mencari Senior PHP Developer dengan kualifikasi paham Magento, Zend, atau Symfony framework. Nah.. Jadi apa sebenarnya mereka memang maunya pake Magento, tapi resource SDM nya masih kurang? Atau gimana sih sebenernya?

Magento di Plasa.com

Tentang Magento ini saya perlu kasih catatan. Seingat saya, dulu, Plasa.com (waktu jadi e-commerce), sempat dibangun dengan engine custom. Frameworknya pun kalau tidak salah bikin sendiri *colek Toni ahh..*. Lalu, gegerlah berita Plasa.com mau revamp, dipimpin Shinta “BUBU” bersama Andi S. Boediman. Gelontorin dana sekian juta dollar. Dan ujung-ujungnya, engine yang sudah spesifik untuk Plasa.com itu (gosipnya) diganti dengan Magento. Daaaan.. tak lama kemudian kita sama-sama tahu Plasa.com gagal kembali.

Dulu Plasa gagal jadi email service, gagal jadi portal ala Yahoo, gagal jadi e-commerce jilid 1, gagal lagi jadi e-commerce jilid 2. Kemudian akhirnya aset milik Telkom Indonesia ini sepertinya pecah jadi 2 entiti. Plasa join dengan MSN menjadi semacam portal berita bernama PlasaMSN -belakangan berubah jadi UMSN, yang ini sepertinya lancar jaya. E-commerce nya join dengan eBay menjadi Blanja.com. Kurang heboh sih Blanja.com nya, tapi saya gak tahu detailnya gimana.

**hoiii temen-temen gue yang di UMSN dan Blanja.com, comment dong kalau baca ini. Haha.

Akankah LIPPO Mengulangi Sejarah Kelamnya?

Dulu Lippo pernah bikin LippoMall.com, ceritanya mau jadi Amazon.com kali yee. Kan se-jaman tuh. Di jaman itu jugalah gembar-gembor Astaga.com (yang walaupun pindah tangan beberapa kali, ternyata masih idup loh.., walaupun gak seheboh dulu). Nah saya kurang tahu persis kenapa, yang jelas akhirnya LippoMall.com waktu itu gagal total. Proyek bakar duit kalau kata orang. Dia bubar bersama dotcom bubble yang melanda US di sekitar tahun 2000-an.

Kali ini Lippo mengusung MatahariMall.com. Kalau kata John Riady sih, bedanya dia dengan pemain kakap lainnya yang sudah besar (Lazada.co.id, Blibli.com, Elevenia.co.id, dll), mereka punya beberapa keunggulan. Di antaranya:

  • Mereka lebih mengerti pasar Indonesia (karena sudah menjalan Matahari Dept. Store sejak kapan tahun kali ye)
  • Mereka punya katalog lebih lengkap (ya iyalah, selain Matahari Dept. Store, Lippo juga punya Hypermart)
  • Mereka mengusung konsep O2O (Online to Offline).

Nah poin 1 dan 2 sih bisa diperdebatkan lah ya. Lazada tanpa punya 1 dan 2 itu bisa gede kok. Nah soal nomor 3 ini yang saya malah jadi ragu.

Iya memang konsepnya menarik. Dengan O2O ini, kita bisa pesen barang online, terus ambil barangnya di Matahari terdekat. Saya kurang paham, apakah ini artinya barang yang bisa kita beli online tersebut hanyalah barang yang tersedia di gerai Matahari yang kita pilih? Atau kita bisa bebas beli barang apa saja, nanti pokoknya barang itu bakal bisa diambil di gerai Matahari yang kita tuju?

Kalau yang kedua yang benar, ini bukannya jadi problem logistik ya. Mereka akan kerepotan mengatur sistem logistik mereka. Ya.., bisa jadi ini sudah tertangani, toh dengan dana segede itu, plus “kabarnya” punya tim superstar di belakangnya, bukan tidak mungkin mereka mengeksekusinya dengan rapih.

Tapi tetep aja sih. Ini proyek ambisius. Sepertinya dari gembar-gembornya sampai target launching cuma sekitar 1 tahun ya? Atau saya kurang update? *padahal males googling..

Tim oke, dana oke, marketing oke, teknologi.. errr.. masih abu-abu, dan berujung pada eksekusi yang menurut saya juga masih abu-abu. Ya aku mah apalah, cuma denger gosip kanan kiri doang.

Oh iya, John Riady bilang kalau konsep O2O nya dia itu jadi andalan karena ini sudah terbukti sukses dijalankan oleh Walmart di US. Tapi dari hasil googling saya, Walmart sepertinya gak menjalankan O2O sih di US. Walmart memang menjalankan strategi O2O, tapi di China, bukan di US.

Mari kita lihat apakah LIPPO nantinya akan mengulangi sejarah kelamnya atau kali ini bakal sukses.

**Harusnya sih MatahariMall.com jadi launching tahun 2015 ini, tapi kalau ternyata MatahariMall.com gagal launching sampai akhir tahun 2015, anda saya kasih hadiah deh, voucher belanja di MatahariMall.com sebesar 50 ribu rupiah. Lumayan kan? Masa berlaku vouchernya masih panjang kok, sampai Desember 2015.

Winning and Ruling

Okto SiLaban Okto Silaban

[Ilustration: Public Domain]
Bagi sebagian orang, founder itu lebih keren. Karena dia membangun sesuatu dari nol. Bagi sebagian lagi CEO tidak kalah keren, karena dia yang memastikan apa yang sudah dibangun itu bisa bertahan dan berkembang selamanya.

Memang ada juga founder yang sekaligus menjabat CEO. Contoh yang masih hangat: Mark Zuckerberg, founder sekaligus menjabat CEO Facebook.com. Atau contoh lain yang sudah lebih senior, Jeff Bezos, founder sekaligus CEO Amazon.com.

“Winning and ruling are two different things”.

-Game of Thrones (maybe)

Saya sih percaya “winning and ruling are two different things”. Founder melakukan “winning”, CEO melakukan “ruling”. Memang sangat bagus kalau satu orang bisa keduanya. Tapi penting juga untuk menyadari kalau tidak paham keduanya sekaligus.

Kalau dibawa ke konsep pemerintahan atau politik, masih sama sih. Cuma siapa yang “win” dan siapa yang “rule” ini menjadi lebih abstrak.  Pengusaha-pengusaha kelas kakap, organisasi yang punya pengaruh besar, media massa, atau tokoh-tokoh tertentu bisa membantu seseorang untuk “win”. Tapi bisa jadi jadi setelah “win”, pihak-pihak lain lah yang sebenarnya ikut “rule”.

Inside Beats by Dre

Orangescale.NET Thomas Arie

Inside Beats by Dre

What’s inside Beats by Dre? With $199 retail price, there must be something inside.

Lots of optimizations are to be expected in a product manufactured in the millions of units: snaps and glue are used for assembly rather than screws (which require lots of human manipulation) and almost every part is injection molded plastic (which is essentially free at high volumes). (Source: Medium: How It’s Made Series: Beats By Dre)

Review Microsoft Lumia 540 Dual SIM

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Satu lagi anggota keluarga baru “hadir” di rumah saya, Microsoft Lumia 540 Dual SIM. Yang ini beli loh, gak kek yang satunya. *eh (ngacir)

Seperti halnya saudara-saudaranya yang lain, Lumia selalu hadir dengan warna-warna yang genit. Kali ini Lumia 540 Dual SIM yang saya pegang berwarna biru atau sebenarnya lebih tepat cyan.

Microsoft Lumia 540

 

Warna-warna pastel yang membalut penampakan Lumia 540 (dan juga Lumia seri lain) sebenarnya memberikan sensasi tersendiri saat “dipamerkan”, cuma kadang kok ya terasa seperti barang mainan. Nah, tapi ada yang beda dengan Lumia 540 ini. Bagian tepi yang mengelilingi ponsel seperti dibalut kristal bening sehingga menambah kesan premium. Coba lihat penampakannya berikut.

 

Microsoft Lumia 540

Anuh, gak terlalu jelas ya. (upss) Ya sudahlah, nanti kalo ada kesempatan, perhatikan sendiri dengan seksama, hehe.

Ketika dipegang, Lumia 540 ini terasa kesat, sehingga terasa nyaman dan pede, gak gampang meleset dan jatuh. Layar IPS LCD-nya terang dan masih bisa dilihat dengan cukup nyaman di bawah terik matahari. Cuma satu yang amat sangat saya sayangkan, layar LCD-nya tidak dilengkapi Gorilla Glass. Mesti cari screen guard nih. Nah, yang menyenangkan, penyakit kakaknya (Lumia 535) tidak muncul, jadi layarnya sangat-sangat nyaman dioperasikan.

Lumia 540 dipersenjatai dengan OS Windows Phone 8.1 Denim Update 2. Padahal Lumia 730 saja cuma 8.1 Denim Update gitu tok, ndak ada embel-embel angka 2-nya. Dan saya cari pake update OTA gak adaaa, hiks.

Microsoft Lumia 540

Mau dipake buat foto-foto? Kamera 8 MP-nya siap diajak tempur. Jangan khawatir, sudah diperlengkapi dengan LED Flash. Selfie? Kamera depannya ada, 5 MP. Hasil fotonya juga cukup bagus meski gak bisa dibilang istimewa. Tapi di dekat lensa kamera kok gak ada tulisan Zeiss seperti 730 yak?

Berikut hasil foto yang diambil oleh Lumia 540 ketika memotret kakaknya, Lumia 730.

Microsoft Lumia 730

 

Lalu ini foto dalam keadaan low light tanpa flash. Lumayan khan?

Microsoft Lumia 540

Performa Lumia 540 sangat mumpuni meski RAM-nya cuma 1 GB. Ini memang salah satu kelebihan Windows Phone dibandingkan Android yang haus RAM. Performa yang keren ini juga tidak menyebabkan boros baterai. Untuk pemakaian normal, didominasi browsing dan media sosial, 24 jam juga bisa. Gak pake panas juga. Lama charge dari 20an persen hingga penuh sekitar 2.5 jam.

Segitu dulu ya, nanti kalo ada hal-hal lain saya cerita-cerita lagi.

Berbagi Senyum Ramadhan dengan Donasi ke Rumah Zakat

Business Software in the Cloud 1

Berbagi Senyum Ramadhan dengan Donasi ke Rumah Zakat

Mari Berbagi Senyum Ramadhan dengan Donasi ke Rumah Zakat :

Syiar Quran (SQ)

Syiar Qur’an merupakan paket pendistribusian Al Quran dan paket iqro yang menjangkau daerah-daerah pedesaan..

Bingkisan Lebaran Keluarga (BLK)

Bingkisan Lebaran Keluarga (BLK) merupakan bingkisan berupa perlengkapan ibadah dan bahan pokok bagi keluarga prasejahtera…

Kado Lebaran Yatim (KLY)

kado Lebaran Yatim merupakan paket kado yang diperuntukkan bagi anak-anak yatim dan kurang mampu di wilayah  ICD …

Berbagi Buka Puasa (BBP)

Paket makanan lengkap untuk berbuka puasa yang didistribusikan di wilayah  ICD (Integrated Community Development) & Non ICD …

Selengkapnya di https://donasi.rumahzakat.org/?product_cat=ramadhan

Doa Untuk *Setelah* Buka Puasa Ramadhan

Business Software in the Cloud 1

Doa Untuk *Setelah* Buka Puasa Ramadhan

Doa terkait berbuka puasa ada dua:

a. Doa menjelang berbuka. Doa ini dibaca sebelum anda mulai berbuka. Doa ini bebas, anda bisa membaca doa apapun, untuk kebaikan dunia dan akhirat Anda.

b. Doa setelah berbuka. Ada doa khusus yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dinyatakan dalam riwayat dari Ibnu Umar. Lafadz doanya adalah

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah

Sebagai muslim yang baik, selayaknya kita cukupkan doa setelah berbuka dengan doa yang shahih ini, dan tidak memberi tambahan dengan redaksi yang lain.

Doa Berbuka Puasa yang Tidak Benar

Terdapat satu doa berbuka yang tersebar di masyarakat, namun doa bersumber dari hadis yang lemah. Kita sering mendengar beberapa masyarakat membaca doa berbuka berikut:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rezekika afthortu

“Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka.”

Status Sanad Hadis

Doa dengan redaksi ini diriwayatkan Abu Daud dalam Sunan-nya no. 2358 secara mursal (tidak ada perawi sahabat di atas tabi’in), dari Mu’adz bin Zuhrah. Sementara Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabi’in, sehingga hadis ini mursal. Dalam ilmu hadis, hadis mursal merupakan hadis dhaif karena sanad yang terputus.

Doa di atas dinilai dhaif oleh Al-Albani, sebagaimana keterangan beliau di Dhaif Sunan Abu Daud510 dan Irwaul Gholil, 4:38.

Doa Setelah Berbuka Puasa yang Benar

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ… »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka, beliau membaca: “Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…” (HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani).

Dilihat dari arti doa di atas, dzahir menunjukkan bahwa doa ini dibaca setelah orang yang berpuasa itu berbuka. Syiakh Ibnu Utsaimin menegaskan:

لكن ورد دعاء عن النبي صلى الله عليه وسلم لو صح فإنه يكون بعد الإفطار وهو : ” ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله ”  فهذا لا يكون إلا بعد الفطر

“Hanya saja, terdapat doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika doa ini shahih, bahwa doa ini dibaca setelah berbuka. Yaitu doa: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…dst. doa ini tidak dibaca kecuali setelah selesai berbuka.” (Al-Liqa As-Syahri, no. 8, dinukil dari Islamqa.com)

Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 7428.

Karena itu, urutan yang tepat untuk doa ketika berbuka adalah:

  1. Membaca basmalah sebelum makan kurma atau minum (berbuka).
  2. Mulai berbuka
  3. Membaca doa berbuka: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…dst.

Indosat IM3 4G LTE Tidak Dapat Sinyal / Menghilang?

Business Software in the Cloud 1

Indosat IM3 4G LTE Tidak Dapat Sinyal / Menghilang?

Sinyal Indosat IM3 4G LTE di sekitar tempat saya (Jalan Asia Afrika, Bandung) tiba-tiba menghilang sejak 14 Juni 2015 sampai 17 Juni 2015.

Saya pikir ada error/gangguan jaringan yang berlaku global. Lalu saya coba kontak twitter @IndosatCare, tidak sampai satu jam kemudian sudah diperbaiki ("refresh jaringan") dan 4G dapat digunakan kembali.

So, kalo ada apa-apa dengan layanan SIM card Indosat/Ooredo IM3 atau Mentari kamu, coba aja lapor ke twitter @IndosatCare :) Tentunya, kalo paket data kamu sendiri tidak bisa digunakan, ya harus nebeng internet orang, hehe :)

Talent Development Saturday #16 - @AgateStudio & @Telkom_BDV

Business Software in the Cloud 1

Talent Development Saturday adalah event bulanan dari Agate Studio kerjasama dengan Bandung Digital Valley untuk berbagi knowledge dari industri Game Development ke sesama pelaku industri dan potential talents. Format acara ini adalah presentasi dan tanya jawab yang dibagi ke 4 track:

  • Art
  • Technical
  • Game Production & Game Design
  • Sales & Marketing

Sesi presentasi di setiap track akan diadakan secara paralel di 4 area yang berbeda. Satu slot presentasi adalah 1 jam, masing-masing track maksimum akan memiliki 5 slot presentasi dari jam 9 sampai 3 sore.

Silakan reservasi Talent Development Saturday #16 di sini.

ColorOS V2.1.1i Beta Android Lolipop on OPPO Find 7

Orangescale.NET Thomas Arie

After AI lost my OPPO R819 few months ago, I finally decided to get another Android phone. And, I went with OPPO Find 7. Compared to other manifacturers, OPPO does not offer more frequent updates on its firmware. OPPO has its own operating system called ColorOS. Running on ColorOS, I have no problems, everything just runnign well.

The latest stable ColorOS for OPPO Find 7 is version 2.0.8i Kitkat. There are of course a way to get the other custom ROM developments like CyanogenMod, Nameless, or AOSP. Finally, few days ago, OPPO released its Lolipop-based ColorOS (V2.1.1i Beta) for Find 7/7a. Some basic features can be seen from the preview video below.

The detailed information on the release can be found at OPPO Community Forum thread. Previously, I had my Find 7 rooted and customized. In the discussion forum thread, there are some users reporting about the successful installation, and some file bugs. I finally took the risk to install the new distribution — and I chose to do a fresh install with these simple steps. It means, I erased everything in my phone with a new setup.

  • Download the package. It’s recommended to refer to this forum thread for the latest updates. The file is around 954 MB. Transfer the installation on the root directory to my phone.
  • I backup the files (especially photos) to my MacBook.
  • Turn off the phone.
  • Turn on the phone by pressing Power and Volume Up buttons until the logo appears to enter the recovery mode.
    • Follow the wizard, select “Wipe data and cache” option, click “Yes” to confirm.
    • Choose “Install from sd”, and navigate to the directory root. You should see the downloaded package there. On my installation, the file name is X9006&X9076ColorOS_V2.1.1i_Beta_full.zip.
  • Once the installation process completed, your phone will be rebooted. It takes time to boot. If the installation is successful, you will be greeted by some basic setup processes. Just follow the instructions.
  • Done.
18689144288_177c01124f_o 18256177963_f0556b41c0_o 18879620321_ef6ec02cea_o 18876811985_4ca64ab723_o

lorem

18877962365_a4e645b12c_o 18690653189_c4187cb45b_o 18254317474_392d023dab_o 18690245918_6172fc1760_o

I like the new look. There are some bugs — of course since this is a beta release — but I can live with them so far. According to the release, the updates will be also available OTA, which is good.

18258695344_60afcd5a45_o 18693354138_de73426b6c_o 18260434663_750ebf05e2_o 18851441256_c0d626fe30_o

There are some new improvements and features offered in this release. One of them is the camera plugins which I like. I take photos a lot, and the camera-related functionalities are not easy to resist. It’s now time to install more Android applications and make some setting customizations.

Tak Pindah Kota

Okto SiLaban Okto Silaban

[Ilustrasi: born1945 | flickr.com]
“Hubungan gue sama cowo gue itu ya sama aja kaya hubungan lo nyett”, ujar Irene sambil membereskan meja kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam lebih. Sebagian besar karyawan di lantai ini sudah pulang. Tidak sampai 5 orang yang masih tersisa. Dengan hanya lampu penerangan di meja, wajah Haran hanya terlihat samar-samar di depan meja Iren.

“Kaya hubungan gue gimana? Gue gak punya pacar kok.” Haran mengarahkan wajahnya kepada Irene, sambil sesekali melirik layar laptopnya sendiri yang menampilkan tulisan “Windows is shutting down…”.

“Yee.. siapa yang bilang pacar?”
“Lah terus?”
“Kaya hubungan lo sama kota Jakarta. Kota yang lo bilang keparat. Gak ada kualitas hidup. Orang kecil cita-citanya jadi preman. Orang gede jadi makin kaya karena ngendaliin organisasi preman. Tapi nyatanya lo gak pindah kota juga kan? Tetap aja lo di sini.” Senyum di wajah Irene setengah mengejek. Seakan baru memenangkan lomba debat.

“Lo salah nyet. Gue gak pindah kota cuma karena satu hal aja sih.” Haran memasukkan laptopnya ke dalam laci. Dia tidak melirik Irene sama sekali kali ini.

“Apa?! Karir? Tempat hiburan? Bidang kerja lo gak ada di kota lain? Malu pulang kampung? Ahh.. basi nyett..” Irene menampikkan tangannya ke udara.

“Bukan nyet. Gue gak pindah kota, karena lo cuma mau tinggal di Jakarta.” Haran menatap lurus ke mata Irene.

“Ihh.. kenapa bawa-bawa gue?” Irene merasa dituduh. Raut wajahnya tampak tak suka. Makin terlihat jelas karena Irene sedang berusaha mengikat rambut panjangnya.

Haran terdiam, seperti baru menyadari apa yang dikatakannya. Ia menunduk, diam, seperti terdakwa yang baru divonis hukuman penjara. Tangannya kembali sibuk. Merapikan botol minum, logout Cisco, dan mengunci laci.

Lalu raut wajah Irene pun seketika berubah. Kedua tangannya melepaskan rambutnya yang belum terikat. Ia seperti baru mencerna apa yang dikatakan Haran.
“Eh.. Bentar..bentar. Maksud lo?” kali ini Irene yang berdiri kaku.

And the player gonna play..play..play..play.. –ponsel Irene berbunyi. Irene memang penggemar lagu Taylor Swift. Irene dan Haran melihat nama penelpon yang muncul. Sebuah nama pria. Pria yang belum pernah bertemu dengan Haran, dan memang tidak ingin Haran temui. Sesekali Irene menyinggung nama ini, walaupun Haran selalu tidak nyaman mendengarnya.

“Tuh cowo lo nelpon. Gue cabs ye nyet..” Haran mengambil ID Card karyawannya di atas meja, lalu berlalu bersama tas ransel dan laptopnya.

**akibat kebanyakan baca Short Story nya Billy K nih.

ZenPower, Power Bank Imut Dari Asus

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Sebenarnya masalah anak muda paling krusial saat ini bukan soal sudah punya pacar atau belum, namun soal kebutuhan akan daya yang begitu tinggi (untuk mengisi ponselnya), hehehe. (upss) Becanda ding. Kalo soal daya untuk ngecas ponsel mah, hampir semua orang juga butuh.

Solusi paling mudah, selain bawa charger dan sambungan kabel listrik ke mana-mana, adalah membawa power bank. Cuma kadang power bank ini juga bikin masalah tersendiri karena makin besar kapasitas dayanya, ukuran serta bobotnya juga makin besar.

Nah, power bank ZenPower produksi Asus ini setidaknya akan mereduksi masalah ukuran serta bobot karena hanya berukuran 9,1 x 5,7 cm (kira-kira sebesar kartu kredit) dan tebalnya hanya 2,2 cm (sedikit lebih kecil daripada diameter uang koin Rp 1.000). Bobotnya hanya 215g saja. Sebagai pembanding, Asus Zenfone 2 bobotnya 170g.

Meski imut begitu, kapasitas daya yang dikandungnya tidak main-main, 10050 mAh!

Sekarang saatnya pembuktian kemampuan si imut ini, apakah “imut” juga seperti penampakannya atau sebaliknya?

Sebelum digunakan untuk pertama kalinya, buku petunjuk sudah mewanti-wanti agar ZenPower diisi penuh terlebih dahulu. Dan sebagai mana produk power bank yang lain, ZenPower tidak memiliki charger, jadi saya menggunakan charger bawaan Zenfone 2. Ketika charger ditancapkan, 2 dari 4 lampu indikator menyala, menandakan bahwa ZenPower ini sebenarnya tidak dalam keadaan kosong melompong. Untuk mengisi hingga penuh 4 indikator, dibutuhkan waktu sekitar 6 jam. Saya pikir wajar mengingat kapasitasnya yang 10050 mAh.

Asus ZenPower power bank

Ketika saya coba gunakan untuk mengisi daya Zenfone 2 yang kapasitas baterainya 3000 mAh, secara teori harusnya bisa untuk 3 kali charge. Dan ternyata memang bisa 3 kali walaupun tidak dimulai dari posisi baterai habis total. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  • Charge pertama dari posisi baterai 22% hingga 100%.
  • Charge kedua dari posisi baterai 19% hingga 100%.
  • Charge ketiga dari posisi baterai 25% hingga 100%.

Setelah itu, masih tersisa 1 lampu indikator menyala, walaupun tentu saja tidak boleh diasumsikan kalau sisa kapasitas masih 25%.

Durasi rata-rata pengisian daya Zenfone 2 menggunakan ZenPower pada ketiga kasus di atas adalah sekitar 2 jam 15 menit, sedangkan jika Zenfone 2 dicharge menggunakan charger langsung, umumnya membutuhkan waktu antara 1 jam 30 menit hingga 2 jam (jika diisi mulai dari kapasitas baterai sekitar 20%).

Ternyata si imut ini ampuh juga. Sepertinya sekarang saya bakal tidak terlalu khawatir lagi kehabisan daya saat berada di luar rumah.

Quickly Turns On/Off SOCKS Proxy for MacOS X

Why Blog? Andika Triwidada

#!/bin/bash if [ "$1." = "." ] ; then echo "Usage: sudo $0 on|off" exit fi case $1 in on) networksetup -setsocksfirewallproxystate Wi-Fi on networksetup -setsocksfirewallproxystate Ethernet on ;; off) networksetup -setsocksfirewallproxystate Wi-Fi off networksetup -setsocksfirewallproxystate Ethernet off ;; esac networksetup -getsocksfirewallproxy Wi-Fi

Which Android Phone I Should Buy?

Orangescale.NET Thomas Arie

There are thousands of distinct Android devices on the market, and the numbers are growing. I bought some Android devices from some different brands. The latest one I bought, and I still use it right now is OPPO Find 7.

Finding the phone that really fits its owner is not easy. Android has a simple tool to help choosing which phone based on the way how you use your phone.

Which Phones

Go to www.android.com/phones/whichphone. Just follow the simple wizard. You will be asked on what you will your phone be used for (you will be asked about how frequent you use it). If some alternatives been found, they will be narrowed down to the carrier, phone sizes, and also price.

I tried, and I got the result that based on my daily use, I might go with LG G4, Motorola Droid Turbo, or Nexus 6.

The Phones

Terlalu Banyak Data

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Kemarin nyobain handphone baru. Begitu dipasang, dia langsung mensinkronkan kontak dan email. Busyet dah. Langsung handphone saya menjadi lelet. Maklum, saya memiliki data email yang sangat banyak. Sehari mungkin bisa dapat sekitar 500 email.

Desain dari aplikasi sekarang belum memperhitungkan jumlah data yang besar. Dianggapnya email hanya 10 atau 20 atau bahkan 100 email. Lah email saya ada 20.000. Gimana caranya melihat di handphone? Apalagi kalau email-email itu mengandung attachment (misal, tugas mahasiswa). Kebayangkan langsung habisnya memori komputer saya.

Baru saja saya selesai menjadi juri dari lomba pengembangan aplikasi (software). Salah satu hal yang belum dilihat oleh para pengembang adalah skala dari data. Misalnya, ada yang mengembangkan visualisasi pelaporan dengan menampilkannya dalam bentuk peta (digabung dengan Google Map?). Data yang digunakan di bawah 10 buah. Visualisasi mudah. Lah kalau datanya ada 3000 buah bagimana? Layarnya penuh dengan pin yang 3000 buah itu. hi hi hi.

Minggu lalu saya membackup web site saya, yang berisi data kuliah dan tugas mahasiswa. Web saya saja sudah ada 6 GB. Hadoh. Memang sudah kebanyakan data nih.


Filed under: Curhat, Teknologi Informasi Tagged: Curhat, postaday2015, Teknologi Informasi

Pengalaman Menggunakan Uber: Aplikasi Pemanggil Mobil Sewaan (Bukan Taksi)

Okto SiLaban Okto Silaban

[Foto: metro.news.viva.co.id]
Sudah lama dengar tentang Uber (aplikasi pemanggil mobil sewaan, BUKAN TAKSI), tapi akhirnya baru nyobain pertama kali minggu lalu. Bermodal kode promo, dapat nominal lumayan. Kebetulan mau ke bandara. Jadi langsung kepake promonya.

Total biaya dari daerah jalan Ciledug Raya sampai Terminal 2 Soetta (via Pakubuwono – Tol dalam kota) : 102.000 (sudah termasuk biaya tol). Menurut saya ini murah, karena 2 hari sebelumnya saya ke bandara juga dengan rute yang mirip menggunakan si burung biru, totalnya sekitar 165.000, belum termasuk biaya tol.

Penggunaan Uber sih cukup mudah ya. Saya install, bikin akun, terus masukkan info kartu kredit. Setelah itu masukkan kode promo, terisi lah voucher Uber saya. Oh iya, kalau mau kode promo, pakai punya saya aja: oktosue, lumayan nanti kalian dapat voucher 75rb.

Untuk pemesanan mobil gampang sih. Cukup jalankan aplikasinya, nanti kita pilih titik dimana kita minta dijemput. Untuk masukkan tempat tujuan opsional. Jadi misal belum tahu mau kemana bisa juga. Kalau sudah memasukkan lokasi tujuan akhir, kita bisa dapat perkiraan total biayanya. Ini penting sih.

Waktu memesan kita juga bisa melihat ada berapa banyak mobil sewaan yang tersedia di sekitar lokasi penjemputan yang kita pilih. Nah, Uber secara otomatis akan “memasangkan” kita dengan mobil yang berada paling dekat dengan kita. Jadi kita gak bisa pilih-pilih. Jika sudah “dipasangkan”, akan keluar informasi siapa pengemudinya, ratingnya, jenis mobil, dan foto pengemudinya.

Oh iya jenis mobilnya ada 2: uberX (Avanza, Xenia, dan sejenisnya), dan uberBLACK (Mercy, Camry, Innova) –ini lebih mahal. Kata pengemudinya sih ada juga SuperBLACK, mobilnya Aston Martin, buka pintu aja udah 1jt biayanya. Mungkin kartu kredit saya limitnya gak masuk kriteria kali ya, jadi gak ada opsi itu.

Setelah dipesan, kadang drivernya menelpon, memastikan lokasi kita dimana. Soalnya gini. Waktu kita milih lokasi penjemputan, walaupun sudah presisi koordinatnya, kadang nama jalan yang keluar membuat ambigu. Saya pernah minta jemput di sebuah gang yang nama jalannya Tanah Kusir, tapi posisinya bukan di daerah Tanah Kusir. Si pengemudi yang “dipasangkan”, gak nelpon saya. Dia yakin aja posisinya di Tanah Kusir, akhirnya malah dia melewati lokasi penjemputan, terus menuju arah Bintaro. Karena memang makam Tanah Kusir di daerah sana. Ya sudah, saya cancel. Pesan ulang lagi deh.

Tapi bisa jadi sebaliknya. Seorang pengemudinya pernah cerita, dia gak baca nama jalan, tapi posisi penjemputannya diletakkan di hotel Peninsula (Slipi). Ternyata penumpangnya tidak di situ, tapi di hotel lain. Saya enggak tahu sih, pengemudinya dimodali pulsa juga gak ya buat telpon pelanggan setiap kali ada order?

Oh iya, setelah “dipasangkan”, kita bisa memantau posisi mobil di Uber. Hampir realtime. Jadi bisa kita perkirakan bakal nyampe kapan. Kalau estimasi waktu tiba di aplikasinya sih gak usah dipercaya lah. Dia bener-bener berdasarkan jarak kayaknya. Saya pernah lihat estimasi 4 menit, padahal gak mungkin. Karena mobilnya harus muter balik jauh dulu, plus macet luar biasa.

Setelah naik, saya sih berharap gak ada lagi pertanyaan ala-ala pengemudi taksi. “Mau lewat mana, Pak?”. Karena rutenya sudah dibuat oleh Uber, terlihat jelas di peta dalam aplikasinya. Tapi ya mereka masih nanya juga sih. Yaa.., kadang maklum juga. Soalnya kadang rute yang ditampilkan kadangkala tidak mewakili kondisi sebenarnya. Pernah saya minta pengemudinya ikutin aja persis rute yang diberikan Uber. Ternyata sampa di daerah Kemang, jalan tersebut ditutup karena ada acara festival apalah gitu.

Enaknya pake Uber ini, semua pembayaran cash-less. Jadi gak perlu pegang duit. Pembayaran tol pun akan dibayarkan oleh pengemudi. Jadi bener-bener tinggal naik, terus sampai di tujuan tinggal “Makasih bang”, terus pergi deh. Nanti rincian perjalanan akan dikirimkan via email, lengkap dengan peta rutenya.

Catatan:

  • Yang dicover duluan oleh pengemudi adalah biaya tol, kalau biaya parkir sih tetap dari kita.
  • Setelah “dipasangkan” dengan pengemudi, perhatikan pergerakan posisi mobil. Kalau makin jauh, kemungkinan dia salah paham lokasi penjemputan kita di mana. Jadi bisa kita telpon, atau kita cancel.
  • Kalau kata pengemudinya, jika kita cancel lebih dari 3 menit setelah dipasangkan, kita akan kena biaya sekitar 30rb. Di pengalaman saya sih, sepertinya saya cancel setelah lebih dari 3 menit, tapi tidak ada notifikasi saya kena biaya. Entahlah, males googling.
  • Nah ini penting. Di jam-jam tertentu (dan sepertinya di lokasi tertentu), tariff Uber bisa naik luar biasa. Kemarin malam saya melihat tarif Uber naik 2.5x lipat di daerah JCC Senayan. Setelah 2 menit, turun jadi 2x lipat. Saya tunggu 15 menit, siapa tahu jadi normal. Ternyata malah naik jadi 3.7x lipat. Ya sudah.., tak Uber, Go-Jek pun jadi. 😀

Jangan lupa, kalau mau kode promo pakai: oktosue, anda dapat voucher senilai 75.000 rupiah. 😀

Kenangan Pengalaman di Starbucks KM 26

BennyChandra.com Ben

Pengalaman asyik selalu tidak mudah segera terlupakan. Begitu juga dengan pengalaman yang satu ini. Meskipun telah lewat beberapa bulan tetapi kenangan pengalaman menarik di Starbucks KM 26 pada...

[ » ]

Startup Impian Tempat Kerja Karyawan

Okto SiLaban Okto Silaban

Founder startup ABC memberi pernyataan kurang lebih “Talent (karyawan) kami adalah orang-orang terbaik. Buktinya banyak dari tim kami yang dibajak Google, Facebook, Microsoft, Twitter, dll.”

Dan founder startup XYZ memberikan pernyataan kurang lebih “Kami hanya merekut orang-orang terbaik. Tim kami sebagian besar ex Google, Facebook, Twitter dan Microsoft.”

Kira-kira startup yang mana yang bakal lebih menarik bagi talent untuk bergabung? ABC atau XYZ?

Google Nexus 6 Turun Harga dan Nexus 5 Generasi Kedua

Okto SiLaban Okto Silaban

Berhubung Nexus 4 yang sudah saya gunakan 2 tahun lebih itu sepertinya baterainya drop, saya sedang mencari alternatif ponsel baru. Seperti pernah saya bahas dulu, saya sih pengennya tetap menggunakan Android keluaran Google, alias Nexus. Alasannya sederhana, karena ini satu-satunya seri Android yang pasti di-support 100% hardwarenya (dan harusnya paling optimal), selalu mendapat update OS paling pertama dan paling lama (bisa beberapa tahun), dan tidak penuh dengan aplikasi-aplikasi yang tidak penting -bawaan dari manufacturer nya.

Tapi, Nexus 6 belum resmi dijual di toko-toko di Indonesia. Walaupun saya pernah baca di salah satu situs ijin dari Kominfo sudah keluar untuk penjualan di Indonesia oleh beberapa distributor utama.

Beralihlah saya ke online. Di FJB Kaskus saya melihat ada beberapa orang yang jual. Harganya sekitar 8jt-an. Wow ! Mahal ya. Soalnya Nexus kan biasanya masuk ke kategori yang lumayan terjangkau (di bawah 5jt). Ya kalau lihat di toko online resminya Google sih harganya memang $649. Jadi kalau di rupiahkan harganya sekitar 8jt-an.

Lalu saya menemukan JakartaNotebook.com ternyata menjual Nexus 6. Ready stock. Harganya Rp 7.499.000, alias 7,5 juta. Nah ini lumayan miring harganya dibanding rata-rata. Mulai bimbang deh. Saya sudah hampir berangkat ke Central Park (letak tokonya JakartaNotebook), tetapi ketika cek lagi di websitenya, stocknya yang kemarin masih 3 biji, sore itu sudah habis. Dan harganya kembali ke 8jt. Gagal sudah.

*tadinya kepikiran buat beli aja, terus jual di FJB Kaskus 7,7jt. Mayanlah kan, cuan 200ribu. Hehe.

Tadi malam sewaktu mencari alternatif lain selain Nexus, saya kaget. Ternyata Google menurunkan harganya dari $649 menjadi $449. Wuooh, turun $200 cuy. Nah, untung kemarin saya gagal beli Nexus 6. Saya cek di FJB Kaskus, ada yang jual 7,7jt, baru, masih boks tertutup. Lah, jangan-jangan ini yang dibeli dari JakartaNotebook kemarin. Haha. Bakal susah tuh kejualnya.

Nah ini bikin saya kaget dengan Nexus 6. Spekulasi banyak beredar. Ada yang bilang Nexus 6 turun harga akibat banyak diprotes karena harganya yang masuk ke kelas premium. Ada yang bilang karena ukuran layar 6″ terlalu besar sehingga kurang sukses. Tapi ada juga rumor lain (yang saya juga baru tahu) yang mengatakan bahwa ini strategi Google, persiapan peluncuran Nexus 5 (2015).

Nah, betul. Nexus 5 (2015). Saya juga baru tahu Nexus 5 akan ada generasi kedua. Gosipnya bakal diluncurkan di Q4 2015. Nexus 5 (2015) ini pun ada dua jenis. Yang dibuat oleh LG layarnya 5,2″, dan yang dibuat oleh Huawei layarnya 5,7″. Menarik ini.

Eh iya, kalau dari review dan hasil test ArsTechnica sih, Nexus 6 gak segitu bagusnya juga sih. Untuk beberapa hal malah kalah dari Nexus 5. Untuk di spesifikasi yang sama mending Samsung Galaxy Note 4 malah. Beda ukuran layar sedikit sih. Note 4 layarnya 5,7″. Toh harganya relatif sama, mulai dari sekitar 7,5 juta-an. Ya kecuali anda sealiran saya yang lebih suka stock-Android.

Saya? Oh masih pake Nexus 4 aja. Siapa tahu ntar ada yang mau ngasih Nexus 6 buat review.. #kodekeras

Istilah Penting di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng yang harus anda ketahui

RendyMaulana.com Rendy Maulana

Saya belum bisa dibilang frequent flyer, meski hampir setiap bulan minimal 2 kali ke Bandara ini, Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang – Indonesia. Saya pribadi sebetulnya selalu menghindari menggunakan bandara ini, karena selain ongkos yang cukup mahal ditempuh dari tengah kota Jakarta (Sekitar IDR 150.000 untuk naik Taksi Burung Biru) Dan tol yang penuh dengan truk container yang kadang ada saja apesnya bisa membuat Jarak sekitar 35KM dengan waktu tempuh normal 45-60 Menit menjadi 2-4 Jam, jadi jangan main-main dengan Bandara ini. Jika memungkinkan gunakan pesawat yang melakukan lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Jadi sebelum pergi ke Soekarno Hatta, pastikan terlebih dahulu, Jam keberangkatan pesawat, Jam boarding, waktu tempuh sekitar 1-2 Jam dari tengah kota (dilebihkan 2-4 Jam pada jam sibuk), dan bacalah banyak doa diperjalanan agar diberi kelancaran, Allahumma yassir, wala Tuassir

Omong-omong, ada beberapa istilah Penting yang tidak dipahami oleh semua pengguna Bandara ini, berikut saya akan menuliskan istilah dan terjemahannya (dan akan ada beberapa Update)

1.E-ticket = Entar tolong diprint dulu Ticketnya sebelum ke Bandara ya
2.E-Boarding Pass = Entar kalau lupa dicetak Boarding passnya, minta sama petugas konter Check in Ya
3.E-Kiosk Checkin = Entar kalau check in di sini, dan kebetulan mesinnya nyala, jangan lupa minta validasi petugas counter ya
4.E-Passport = Emang kalau bayar passport mahal, bisa pakai Auto Gate? Sana antri dulu cap di Imigrasi
5.Autogate = Pura-puranya Pintu otomatis, Selalu Offline dan ujung-ujungnya diminta antri juga di konter Imigrasi dan cap manual
6.Taksi Gelap = Tidak ada taksi gelap di Bandara ini, semua memiliki lampu, dan kalaupun ada mobil pribadi tanpa merek TAKSI, semua resmi membayar ke Perusahaan pengelola percaloan di Bandara ini.
7.Taksi Resmi / Argo = Pusing dengan calo? selalu bilang, Bayar Pakai Voucher Bluebird!
8.Calo Taksi = Tidak ada calo taksi di bandara ini, semua yang menyambut kedatangan anda adalah Usher terlatih yang siap menawarkan taksi dan mendorong troli anda.
9.Porter = Pekerja kasar yang dibayar amat rendah oleh Pengguna dengan setoran yang tinggi kepada pengelola Perportiran, perbudakan 4.0
10.Duty Free = Bebas dari PPn, karena sudah dimasukkan kedalam harga jual, dan sepi yang belanja karena harganya mahal
11.Antri Taksi = Naik taksi dari sisi keberangkatan saja, pengemudi taksi akan bayar sekitar 5000-10rb ke petugas lapangan, Ga pakai antri, ini trik jitu yang selalu diceritakan pengemudi taksi apapun.

ada masukan?

Sekali lagi, berikan tepuk tangan yang meriah untuk Angkasa Pura II selaku operator dari Bandara terbesar dan terpadat di Asia Tenggara ini

Mudik Asyik Pake Mobil Baru

Blog Oom Yahya Oom Yahya

Tak terasa bulan puasa sudah di depan mata dan sudah menjadi semacam ritual wajib, mudik lebaran selalu memungkasi bulan puasa tersebut. Saya tidak pernah mudik karena hingga kini tinggal di kota tempat kelahiran namun bisa dibilang hampir setiap tahun saya memanfaatkan libur lebaran tersebut untuk berlibur ke luar kota. Dan liburan tersebut selalu saya lakukan melalui jalan darat dan nyetir sendiri, sehingga rasanya mirip dengan mudik.

Percayalah, meski jelas lebih melelahkan dibandingkan dengan naik kereta api atau pesawat, masih ditambah pula resiko terjebak macet berjam-jam, namun keasyikan mudik (atau liburan) dengan mobil sendiri tak tertandingi, serta membawa rasa nostalgia tersendiri setelahnya. Seandainya karena satu dan lain hal saya tidak sempat berlibur saat lebaran, saya selalu iri melihat mereka yang menjalani perjalanan mudik.

Soal keamanan dan kenyamanan tentu sangat perlu dipertimbangkan dalam menjalani mudik/liburan. Sangat disarankan untuk menggunakan mobil daripada sepeda motor jika hendak mudik. Jika Anda tidak memiliki mobil, sebaiknya jangan memaksakan diri mudik dengan sepeda motor atau sebagai alternatif, Anda bisa membeli mobil terlebih dahulu, mumpung masih ada cukup waktu. Selain menambah faktor keamanan dan kenyamanan, mudik akan menjadi jauh lebih berkesan.

Dengan adanya mobil-mobil LCGC, harga mobil sekarang relatif lebih terjangkau. Ditambah lagi ada layanan portal otomotif yang bisa membantu Anda memilih mobil dengan harga relatif terjangkau, yaitu Mobil123.com.

Mobil123

(Klik gambar untuk memperbesar)

Dengan memanfaatkan layanan Mobil123.com, Anda bisa mencari mobil baru maupun bekas. Dan khususnya untuk mencari mobil idaman Anda demi mudik lebih asyik, Anda bisa mengklik gambar Bawa Pulang Mobil Baru Ramadhan Ini. Dengan mengklik gambar tersebut, Anda akan dibawa ke halaman Mobil123.com/mobil_murah dan di sana Anda bisa mencari mobil baru maupun bekas tahun muda (maksimal 10 tahun) dengan uang muka hanya Rp 20.000.000,- saja.

Batasan 10 tahun diberikan karena perusahaan yang membantu pembiayaan (leasing) umumnya hanya bersedia membantu untuk pembelian mobil bekas yang berusia maksimal 10 tahun.

Sementara bila Anda membuka situs Mobil123.com melalui gadget, menu yang tersedia adalah Mobil Murah Baru.

Melalui laman tersebut tersedia berbagai merk mobil murah dan bila diklik, ada dijabarkan dengan lebih detail varian-varian yang tersedia. Bahkan Anda juga dapat membandingkan beberapa mobil yang hendak diincar untuk bisa membandingkan secara head-to-head berbagai feature serta fasilitas mobil-mobil tersebut.

Ingin tes drive? Bisa. Isi saja formulir yang ada dan pihak Mobil123.com akan membantu untuk melakukan booking tes drive. Dengan melakukan tes drive terlebih dahulu, Anda tentu akan lebih mantap membeli mobil idaman.

So, segera manfaatkan kesempatan ini dengan mengunjungi Mobil123.com.