PlanetTerasi

Think. Read. Write.

Telegram’s Photo Editor 2.0, Masks, and GIF Creation Tool

Orangescale.NET Thomas Arie

Telegram just released some new features to work on the pictures that hopefully will make the communication (chat) become more fun and enjoyable. For those who love to edit photos, add additional texts, drawings, or even stickers, Telegram offers the functionalities directly in the app. I wish Telegram adds “Call” feature.

The post Telegram’s Photo Editor 2.0, Masks, and GIF Creation Tool appeared first on orangescale.

Google Allo

Orangescale.NET Thomas Arie

I just had Google Allo — another messaging app by Google — installed on my Android phone. There are already some messaging installed and used on my daily basis. Well, basically, I only use Telegram (mostly) and WhatsApp. And now, Google Allo. I tried Google Assistant more inside Allo, and it works pretty well. I think the messaging feature will be something I will not be using.

The post Google Allo appeared first on orangescale.

Indonesia Update 2016

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Perjalanan saya ke Australia ini sebetulnya dalam rangka acara “Indonesia Update 2016” yang diselenggarakan oleh Australian National University (ANU) Indonesia Project. Topik dari acara tahun ini adalah Digital Indonesia. Itulah sebabnya saya diundang menjadi salah satu pembicara. Saya akan berbicara tentang “cyber security”.

Acaranya dilangsungkan di kampus ANU, di kota Canberra, selama dua hari. Presentasi saya adalah presentasi terakhir di hari terakhir. Pembicara yang lain keren-keren juga. [todo: link ke daftar pembicara / acara]

Peserta dari acara ini ternyata sangat banyak. Ruangan yang digunakan, sebuah teater, berukuran hampir 500 orang. Dan peserta yang datang banyak sekali. Hampir memenuhi ruangan. Berarti mendekati 500 orang.

Di hari pertama saya hanya mendengarkan. Bayu pembicara kedua mengidekan situasi politik di Indonesia seperti trilogi start wars. Dias (lupa di sesi berapa) juga menyinggung soal star wars. Akhirnya saya putuskan untuk menutup acara tema star wars; the return of the Jedi. ha ha ha.

cshi2hhumaa-wjv-jedi

the return of the (code) jedi

p_20160917_130953_bf-folks-0001

Foto para pembicara sesi terakhir. Potret sebelum bubar

Di kampus ini saya menginap di University House, semacam hotel / dorm untuk tamu-tamu dari universitas. Tempatnya sangat dekat dengan ruang acara. Jadi tidak perlu transportasi. Tinggal jalan 2 menit dari kamar ke tempat presentasi. Tempatnya asyik juga. [foto-foto menyusul]

Canberra ini ternyata masih dingin juga. Harusnya sih temperaturnya sudah naik tetapi masih dingin. Setelah acara selesai, hari Minggu di kampus ini kosong banget. Sepiii. [foto2 menyusul, lagi] Canberra, meskipun ibu kota, ternyata kecil dan sepi. hi hi hi.


Filed under: Curhat, presentasi, security, Teknologi Informasi Tagged: indonesia, postaday2016, presentasi, security, Teknologi Informasi

Malaysian man spent 18 days in Changi Airport lounges using 31 forged boarding passes

Orangescale.NET Thomas Arie

Malaysian man spent 18 days in Changi Airport lounges using 31 forged boarding passes.

He downloaded images of mobile boarding passes issued by two airlines – Cathay Pacific and Singapore Airlines – from the Internet, and used an image editing software on his laptop to alter them.

Raejali inserted his name, a false flight number and a false destination on the fake mobile boarding passes, before sending them to his phone. He forged 31 such passes and used them at nine lounges run by five operators.

My Equipment 1.0

ophay ophay

Sandalku… Entah berapa lama waktu dan jarak perjalanan yang ku tempuh denganmu. Engkau begitu setia menemaniku, dan selalu bersamaku punguti pecahan impian-impian yang ada di depan. Sandal diatas merupakan equipment favorit saya, meski terlihat usang.. mereka tetap nyaman ketika dipakai.Filed under: /etc

Find and Remove Duplicate Photos on Flickr

Orangescale.NET Thomas Arie

I’m organising my Flickr photos and want to find the easy way to remove duplicate photos that are already in or outside albums. Flickr does not offer the simple tool to work on this task. After searching for a while, there is Flickr Dup Finder 2. It’s a simple tool to search for duplicates and remove them. It’s utilising Flickr’s API and it works really good. At least for now, I already found more than 1,600 duplicate photos.

Catatan dari Indonesia Go Online, Makassar

iWin Notes irwin

Acara Indonesia Go Online, di Hotel Clarion, Makassar tgl 14 September 2016. Merupakan acara sosialisasi sekaligus registrasi dan aktivasi bagi penerima program Satujuta Domain, Kemkominfo.  Dihadiri sekitar 100-an UKM yang berminat mengikuti program 1juta domain.

Sejutaweb, sebagai penyedia Hosting yang ditunjuk untuk melayani peserta ikut memberikan materi pengenalan dan pengelolaan Situs Belanja Online bagi para UKM yang terdaftar.

Dari acara ini saya mencatat beberapa hal seperti:

  • Perlunya pelatihan yang lebih lanjut bagi para UKM pengikut program agar dapat memaksimalkan pengalaman berjualan online.  Pelatihan ini sebaiknya fokus pada pengelolaan toko seperti bagaimana menampilkan produk dengan baik, melayani pelanggan, menjaga kualitas, logistik, dan pelatihan teknis yang terkait dengan penggunaan aplikasi pada situs toko online
  • Perlunya dibuat Panduan-panduan baik berbentuk dokumen (teks, foto), maupun dalam bentuk Video agar UKM dapat melakukan pembelajaran mandiri.
  • Pemerintah Daerah melalui dinas terkait; diharapkan dapat membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat pada UKM-UKM yang telah memiliki toko online, salah satu jalan adalah sertifikasi resmi jika UKM terkait terdaftar resmi pada Pemerintah Daerah.

Terkait program Satu Juta Domain, masih banyak yang perlu dilakukan agar program ini bisa berjalan lebih baik dan bermanfaat bagi pengembangan ekonomi berbasis digital.   Harapan saya beberapa catatan sejak program ini dijalankan bisa dijadikan masukan untuk lanjutan program ke depan, mengingat program ini direncanakan untuk tiga tahun.

(mks/15/09/2016)

Inbox by Gmail: Moving Spam email to Inbox

Orangescale.NET Thomas Arie

I’ve been using Inbox by Gmail as my default web-based email to manage emails powered by Gmail. The “Snooze” and “Pin” are just helpful to keep me organised with my emails. Everything works, but there is a small things that — in my opinion — little bit inconvinient: dealing with Spam.

screen-shot-2016-09-13-at-2-32-16-pm

Gmail’s spam filter is great. But, sometime, I found that Google makes mistakes on the spam identification. Of course, it should be easy to bring back emails marked as spam to the inbox. Well, not while using Inbox by Gmail.

Viewing an email under the Spam folder will give the same experience. How to move email to inbox?

There is a menu to “Move to…”, but I could not see “Inbox” as one of the folder. The solution? Simple: Pin it.

Pinned email will go back to the inbox. It’s much simpler with the classic Gmail.

 

Moving to Google Apps for Work

Orangescale.NET Thomas Arie

It’s been two for around two months since my small office moved the email service to Google Apps for Work. So far, it’s been a great experience and I think it was the right decision to make.

Google Apps for Work

Why Moving?

Before moving to Google Apps for Work, we manage the email servers on our own. Meaning, we needed to do the setup, maintenance, including backup. There are less than twenty email accounts to manage under two main domains. The email was hosted on a cloud-based server — we used DigitalOcean. Everything was running almost without any issues.

We depend on emails on day-to-day operation. At the same time, we need to have (almost) zero maintenance and increase our productivity. Our small team needs to share lots of things like documents, spreadsheets, and agendas. The thing is that we need to use our personal Google account to share documents. The other things is on the storage. I have more than 6 GB of email (for work). So, moving to Google Apps for Work is an anticipation. Here are some main reasons on the migration:

  1. Zero maintenance. By outsourcing the email service to Google, we at least only need to keep the domain active.
  2. Integration with other Google services like Google Docs, Google Sheets, Google Calendar, and more. The integration also includes the seamless collaboratoin between coworkers.
  3. Flexible storage. By default, I have 30 GB of storage for my Gmail, Google Drive, and photos. If later I need to upgrade, the price is pretty reasonable. 100 GB for IDR 27,000 (per account) is a good deal.
  4. Simple setup and management. Setting up each service provided by Google Apps for Work is very easy.

Migration Process

The migration process was pretty easy. Since there were only around 12 email accounts, so moving them individually did not take too much time. My coworkers moved all the email account by themselves. The only challenge is not to have the downtime. There is a simple guide to work on this area. During the registration process, I only need to use a primary domain — and setup the secondary domain as domain alias later on.

For the cost efficiency, I worked on the settings on email routing. For example, if there is an email address that was only accessed by specific people in the organisation, I created some routing rules. By this, I can minimise the number of accounts.

After all emails (including attachments) had been migrated to Google Apps, we kept the “old” servers online for few days just to make sure that no data left behind. I was not sure how long the whole processes was completed, but it was around one week.

Judul / Topik Thesis / Penelitian

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Minggu ini mulai banyak mahasiswa berdatangan untuk mencari topik penelitian & thesis S2 mereka. Berikut ini adalah beberapa topik yang saya tawarkan. Deskripsi dari masing-masing topik mungkin belum terlalu rinci, tetapi mudah-mudahan penjelasan ini masih dapat memberikan bayangan. Topik besarnya adalah security & big data.

  1. Anonimity + eVoting + Visual Cryptography ID. Topik ini melanjutkan disertasi dari I Made Ardhana (softcopy disertasi sedang saya telusuri dan akan diupload di web site). Fokus kepada implementasi ide-ide yang ada di dalam disertasi tersebut. Ada beberapa design decissions yang harus diambil dalam implementasinya beserta pembaharuan teorinya. Titik beratnya kepada programming. (Ada beberapa snippet code yang sudah saya buat sebagai proof of concept.) [Sudah ada rencana 1 mahasiswa yang memilih ini. Masih dapat ditambah khususnya untuk sisi attack-nya.] Untuk aspek teorinya, pengukuran tingkat anonimitas, juga sedang mencari mahasiswa. Namun yang ini lebih banyak aspek matematisnya. Jika menyukai matematika (atau memang mahasiswa matematika), bisa memikirkan topik ini.
  2. Stegokripto. Meneruskan thesis dari Almaarif (lihat budi.rahardjo.id bagian students). Pencarian kode yang berbeda antara data dan noise. (Coding theory. Mencari kode yang orthogonal terhadap noise. Ide on-curve dan off-curve pada Elliptic Curve juga dapat dipakai.) Pada thesis terdahulu proses pembedaan kode dan noise dilakukan dengan menggunakan marker tertentu. (Proses pendeteksian dapat dilakukan dengan sliding window, atau bahkan matriks. Belum dilihat aspek kinerjanya.) Kode terdahulu juga dapat lebih disempurnakan sehingga aplikasi menjadi lebih integrated. (Sebelumnya pecah-pecah menjadi beberap aplikasi.)
  3. Mekanisme pengamanan program chat (Signals / dahulu TextSecure, WA, dll.) dengan menggunakan Curve 25519. Thesis memahami protokol yang digunakan dan melakukan re-implementasi di program Open Whisper Systems. (Ini juga dapat menjadi topik thesis di Matematika.)
  4. Cryptocurrency. Block chain. Ini adalah konsep di belakang Bitcoin. Memahami dan membuat protototipe sebuah digital money. Mengembangkan teori uang digital.
  5. Secure phone. Beberapa komponen dari konsep secure phone, yaitu authentication module (menggunakan SAM). [Sudah ada 1 mahasiswa yang mengerjakan ini.] Ini bagian besar dari disertasi Virtual Trusted Machine (mahasiswa S3: Raidun). Beberapa kemungkinan implementasi dari ide secure phone dengan menggunakan DSP board.
  6. Proteksi DNS terhadap DoS attack. [Sudah ada 1 mahasiswa yang mengambil ini.] Fokus kepada teknis. (Sementara untuk aspek teori adanya di level S3.)
  7. Automated software security testing. Exploring several framework. [Sudah ada 1 mahasiswa yang memilih menggunakan Sully]
  8. Beberapa sub-topik dari disertasi mahasiswa saya. (Mahasiswa S3 akan memberikan beberap sub-topik dari penelitian [kesulitan] mereka saat ini yang dapat menjadi topik thesis.) Topik terkait dengan Graph-based Social Network Analysis (SNA), graph compression, big-data in SNA,  Distributed IDS (ant-colony), eLearning berbasis Jigsaw, …

Sementara ini daftarnya adalah seperti itu. Akan saya tambahkan dengan link-link lain agar lebih jelas lagi dalam update berikutnya.


Filed under: cryptography, kuliah, Pendidikan, Penelitian, security, Teknologi Informasi Tagged: kuliah, Pendidikan, penelitian, postaday2016, security, Teknologi Informasi

Menghitung Emisi Karbon dalam Transportasi Menggunakan Pesawat Terbang

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Cetak e-Ticket Garuda Indonesia

Dalam perjalanan dari Surabaya ke Jayapura 30/8 kemarin, saya mengisi waktu dengan membaca teks yang ada di dalam tiket yang saya pegang. Selain harga tiket, di situ tercatat jumlah perkiraan emisi karbon menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-630 Bombardier CRJ-1000 per orang dalam perjalanan ini yaitu 256,69 kg per orang.

Berikut ini adalah simulasi yang saya gunakan dari website ICAO.

Emisi karbon pesawat terbang

Perjalanan menggunakan kendaraan dengan combustion engine (baca: mesin dengan bahan bakar hidrokarbon) adalah perjalanan yang menghamburkan emisi karbon. Katakanlah kita menanam pohon yang cukup besar untuk menampung karbondioksida yang kita buang ke alam dengan kapasitas serap 100 kg per tahun, maka dalam sekali perjalanan, saya harus menanam setidaknya 2-3 pohon agar siklus karbon di alam menjadi impas. Jika dalam 1 tahun saya melakukan perjalanan yang sama sebanyak 12 kali, bisa dipastikan saya wajib memiliki lahan yang cukup luas hanya untuk menampung pohon-pohon yang harus saya tanam.

Saya pernah punya pemikiran yaitu bagaimana jika ijin kepemilikan kendaraan bermotor, selain wajib memiliki garasi untuk tempat parkir, maka wajib juga untuk menanam pohon sesuai dengan emisi karbon yang akan dibuang oleh kendaraan tersebut. Jadi, jika tidak punya pohon untuk membantu menormalkan siklus karbon di alam, maka ijin kepemilikan kendaran bermotor tidak diberikan.

11 Tahun Qwords Menjadi Partner Hosting Anda

RendyMaulana.com Rendy Maulana

11 Tahun Qwords Menjadi Partner Anda
11 Tahun Qwords Menjadi Partner Anda

Tidak terasa sudah 11 Tahun kami berdiri, rasanya baru kemarin saya membuat postingan tentang 10 Tahun Qwords

Tahun ke 10 lalu, kami berhasil membuka Cabang baru di Surabaya. Lalu membuat server room kecil berkapasitas 2 Rack Server di Surabaya (Baru satu yang tersedia dan dipakai). Lokasi kantor kami di Surabaya cukup Strategis, di Intiland Tower, Pusat Kota Surabaya, Jl Panglima Sudirman 101-103.

Get Around to Qwords.com Surabaya Office!

A video posted by @qwordsdotcom on

Surabaya merupakan salah satu kota Penting di Indonesia selain Jakarta, kota nomor Dua Terbesar di Indonesia, dan memiliki potensi yang cukup diperhitungkan, tidak salah bukan mengapa kami memilih memiliki perwakilan di sana 🙂

Tahun ke 10 Juga merupakan tahun yang cukup berat bagi kami, dimana banyak hal tidak terduga dari sisi dimana kami harus Pindah Kantor Dua Kali! Ya, Dua Kali.

Yang pertama adalah Kantor Qwords Jogja Pada Bulan April 2016. Sebelumnya terletak di daerah yang cukup strategis di Yogyakarta, Seturan, dimana banyak mahasiswa dari luar kota Yogyakarta yang tinggal disana. Alhamdulillah kami bisa pindah ke tempat kami sendiri, di 1.4 KM Utara Stadion Maguwoharjo – Jogja Bay, Depan Lapangan Kayen, masih di Sleman, Yogyakarta.

Pemandangan dari atas Kantor
Pemandangan dari Atas Kantor Qwords Jogja – abaikan kaki di atas

 

Kantor kami di Yogyakarta cukup mengasyikkan, di depannya ada Lapangan Bola yang cukup luas milik Desa, dimana kamu bisa memainkan Drone di sana tanpa rasa takut, dan juga sebelah kantor kami ada toko kelontong yang tak kalah lengkap dengan Convenience Store macam Indom***t atau Al**mart.

Parking Spot
Our Parking Spot, Kecil, tapi rambu cukup jelas
Genset
Genset – Karena Jogja sering mati lampu

Kapasitas di Lantai 1 bisa muat untuk kegiatan kecil untuk keperluan komunitas dan riset sekitar 10-20 orang, lengkap dengan panggung, sedangkan lantai dua dipergunakan untuk kegiatan Customer Care kami.

Panggung Kecil
Panggung Kecil di Kantor Qwords Yogyakarta

@qwordsdotcom #jogja ngaturaken Sugeng tanggap Warso … Sukses dan jaya selalu

A video posted by @qwordsdotcom on

Persiapan pindahan sebetulnya sudah dimulai dari Desember 2015, kami melakukan beberapa proses renovasi kecil-kecilan, agar dapat dipergunakan dengan layak oleh kami, Sayangnya di Bulan Maret proses renovasi kami terhenti akibat kontraktor interior kami kabur, dan sampai sekarang belum diselesaikan, namun kami sudah mencoba menghias sedemikian rupa agar dapat dipakai.

Selanjutya di Bulan Juni 2016 kami harus memindahkan kantor Bandung. Dari tempat yang sudah Hampir 8 Tahun kami Huni di Cisitu Lama 48, ke Tempat Baru di Gedung Graha Pos Indonesia Lantai 6C, Jalan Banda 30 Bandung. Hal ini karena terkait dengan pemilik rumah yang kami sewa tidak mau memperpanjang sewa kami di sana, plus ada kerusakan akibat usia di atap rumah sehingga nyaris runtuh dan jika kami perbaiki biayanya cukup mahal, plus ada penertiban dari Pemerintah Kota Bandung yang mentertibkan penggunaan SIUP dan TDP di Bandung – yang sebelumnya kurang tertib, dimana dahulu Rumah biasa bisa dipergunakan usaha, menjadi hanya tempat yang memiliki IMB untuk Usaha saja yang diperbolehkan memiliki SIUP dan TDP.

Lalu Kami harus pindah kemana? Gedung? Ruko? Keluar Kota?

Kantor Qwords Bandung
Kantor Qwords Bandung – Gedung Graha Pos Indonesia Lantai 6C. Jl Banda no.30 Bandung

Kami memutuskan bahwa kami Tetap di Bandung untuk urusan Legal Perusahaan. Mulailah kami melakukan proses pencarian kantor. Proses pencarian Kantor Baru Kami cukup singkat, dari beberapa kandidat Gedung yang kami taksir, mengkerucut menjadi 3 lokasi, serta akhirnya kami memilih untuk di Gedung Graha Pos Indonesia, karena faktor Lokasinya, dan juga harganya yang cocok di Kantor. Tak lama kami melakukan proses renovasi, hanya sekitar 3 Minggu dari proses kami memutuskan di sana, kantor kami Buka.

Bismillah potong tumpeng oleh CEO @rendy ???? . . . . . #launching #qwordsdotcom #qwords

A video posted by @qwordsdotcom on

Kantor kami di Bandung tidak terlalu besar, karena hanya untuk keperluan administrasi, dan juga Kunjungan Konsumen, meski konsumen kami di Bandung tidak sebanyak konsumen kami di Jakarta, namun Bandung masihlah basis kami dan tetap kami jaga posisi kami menjadi Perusahaan Cloud Web Hosting nomor 1 di Kota Bandung dan Top 10 Indonesia 🙂

Tadi di atas saya sudah bercerita tentang apa saja yang tahun ke 10 kami perbuat di Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung, lalu apa yang kami lakukan di Jakarta?

Tahun ke 10 lalu di Bulan Mei 2016 kami melakukan perombakan cukup besar, yakni membongkar beberapa ruangan di kantor kami, menghilangkan ruang diskusi kecil, dan memperkecil Lobby untuk memperbesar ruang NOC kami.

NOC Qwords Jakarta Lama - 6 April 2016
NOC Qwords Jakarta Lama – 6 April 2016

6 April 2016, ketika saya memposting foto ini di Halaman Facebook, ada seorang kawan yang berkomentar bahwa ruangan ini terlihat sempit dan juga dia bertanya apakah panas bekerja di sini.

Lama saya merenung dan akhirnya saya ikut kerja dari ruangan itu, memang terasa sempit, ditambah dengan rencana penambahan staff untuk melayani konsumen, rasanya sudah tidak layak lagi.

Akhirnya kami memutuskan untuk melebarkan NOC kami, sehingga jika dikunjungi oleh Siswa/Siswi yang karyawisata – yang hampir setiap 3-5 minggu sekali ada kunjungan, dan melihat-lihat pekerjaan kami, mereka dapat leluasa juga masuk.

Selain itu juga, kami menambahkan monitor untuk sensor yang dipergunakan untuk monitoring suhu serta peering lain. Karena pada bulan Juni kami memang mengagendakan untuk melakukan maintenance Data Center, serta mengganti unit AC lama kami menjadi AC Presisi yang lebih besar. Sehingga Data Center kami menjadi lebih efisien tempatnya, dan juga kapasitasnya meningkat.

Jadi Saat ini, Data Center kami mampu menampung Extra 8 Closed Rack + 3 Open Tower Rack lagi, dengan space data center yang sama dari kapasitas eksisting yang sudah menampung sekitar 300+ server, cukup untuk sekitar 150-250 server fisik lagi. Namun memang kami harus menambahkan extra power listrik, tidak murah memang biayanya, InsyaAllah kedepan akan kami tambahkan, agar lebih efisien kerjanya.

Qwords #jakarta

A video posted by @qwordsdotcom on

Jika Sekolah anda ingin karyawisata ke Qwords, Dapat mengirimkan email ke marketing at Qwords dot co dot id. Saat ini Kantor kami yang biasa dikunjungi oleh Siswa / Siswi mulai dari SMP, SMK, SMA, sampai kuliah adalah kantor kami di Jakarta. Satu hari karyawisata bisa menampung sampai 300 orang, dibagi dengan 25 orang per sesi (15-25 menit). Biasanya Peserta akan diperkenalkan dengan teknologi dibalik Internet, dan bagaimana hubungan antara dunia akademis dan praktik di Internet, serta kunjungan ke Data Center kami.

Tahun ke 10 Kami mendapatkan kesempatan dari Kementrian Komunikasi dan Informatika untuk menjadi Partner dalam Program Satu juta Domain, tak lama setelah kami resmi terdaftar di PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) Kominfo, baik itu untuk Perusahaan Holding Kami dan Data Center Kami.

Satu Juta Domain Kominfo
Daftar Program Satu Juta Nama Domain hanya di Qwords, dapat Space 500MB

Selain Menyediakan Web Hosting untuk Program Satu Juta Domain, Kami juga menerima pendaftaran, dengan jaminan bahwa jika diapprove datanya oleh Kominfo, akan mendapatkan Space Hosting 500MB, dan Kualitas pelayanan prima khas Qwords. Dimana jika mendaftar langsung di Program 1 Juta, akan mendapatkan provider sesuai yang ditunjuk Kominfo (belum tentu dapat Qwords), dan fitur yang ditawarkan tidak selengkap Qwords serta belum tentu mendapatkan Space 500MB, karena hanya Qwords satu-satunya penyedia di Program Satu Juta Domain yang memberikan Space 500MB, kira-kira demikian bocoran dari saya :p

Paket Baru QwordsTahun ke 10 lalu juga kami meluncurkan CloudVPS dengan harga yang terjangkau dan teknologi yang lebih baik dari sebelumnya, dimana teknologi ini juga dipergunakan untuk Shared Cloud Web Hosting Kami.

Wordpress Hosting dengan CloudPOPBeberapa minggu lalu sebelum kami menginjak umur 11 Tahun, kami mengeluarkan Produk Cloud WordPress Hosting dengan teknologi CloudPOP yang memberikan performance lebih serta uji coba gratis selama 30 hari.

Tahun ke 11 Ini, InsyaAllah kami akan mengeluarkan beberapa produk dan layanan baru, Sebagai terima kasih terhadap Pelanggan kami, yang telah setia menjadi Pengguna sekaligus Investor kami. Selamat Ulang Tahun ke 11 Untuk Qwords Semoga kami dapat selalu memberikan yang terbaik untuk Indonesia.

PS: masih ada Discount Khusus di #Qwords11

Koneksi Ubuntu Server ke Wifi Hotspot dengan WPA Key

Okto SiLaban Okto Silaban

Sudah lama gak maenan dengan Ubuntu server. Ada komputer lama yang nganggur jadi mau eksperimen dijadiin server. Entah karena apa, tampilan dekstopnya error, jadi masuk ke konsol dengan Ctrl+F2.

Lalu saya bingung, gimana caranya koneksi ke WiFi di rumah dengan command line. Dulu jaman di kampus pernah sih, dengan iwlist + iwconfig. Tapi itu karena wifi hotspotnya gak berpassword. Dan ternyata iwconfig gak support koneksi ke hotspot dengan WPA Key (yang sudah jadi standar dimana-mana).

Ternyata caranya simpel saja, dikutip dari sini:

Edit file /etc/network/interfaces, isinya:

auto wlan0
iface wlan0 inet dhcp
wpa-ssid <nama hotspot wifi Anda>
wpa-psk <password wifi Anda>

*kalau nama hotspot anda ada spasi, gunakan tanda petik, misal: “Wifi Pangeran Cinta”

Setelah itu jalankan perintah untuk merestart wireless lan Anda:

sudo ifdown wlan0 && sudo ifup -v wlan0

Setelah itu coba lookup DNS:

nslookup google.com

Harusnya hasilnya kurang lebih begini:

Server:        8.8.8.8
Address:    8.8.8.8#53

Non-authoritative answer:
Name:    google.com
Address: 74.125.200.139
Name:    google.com
Address: 74.125.200.101
Name:    google.com
Address: 74.125.200.100
Name:    google.com
Address: 74.125.200.102
Name:    google.com
Address: 74.125.200.113
Name:    google.com
Address: 74.125.200.138

Selamat mencoba.

Kewarganegaraan 1.0

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Setiap bercerita di depan kelas, atau memulai presentasi, sering saya bercerita tentang perjalanan hidup saya. Saat ini saya sedang dalam versi “3.3”. Ha ha ha. Kayak software saja. Tapi begitulah. Penomoran ini sebetulnya terinsipirasi dari buku karangan Thomas Friedman. (Dia mengarang banyak buku, seperti “The World is Flat” and “The Lexus and Olive Tree”. Tentang globalisasi.)

Friedman bercerita bahwa globalisasi memiliki versi. Pada versi 1.0, globalisasi ditandai dengan keinginan orang untuk menjadi warga negara lain, yaitu warga negera besar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan seterusnya. Ini jaman dahulu kala. Kalau kita baca sejarah Indonesia, ada banyak orang Indonesia yang ingin bergabung menjadi bangsa penjajah (“Londo”) karena sangat menyedihkan kalau kita menjadi warga negara terjajah. Ini kewarganegaraan 1.0.

Globalisasi 2.0 terjadi dan kewarganegaraan tidak penting lagi. Yang penting adalah tempat kita bekerja, yaitu multinational companies. Maka banyak mahasiswa yang ditanya kalau lulus mau kerja dimana, jawabannya adalah perusahaan besar seperti Schlumberger, IBM, Citibank, Microsoft, General Electric, dan seterusnya. Dalam perusahaan besar tersebut kewarganegaraan tidak penting lagi. Menjadi “warga negara” perusahaan besar menjadi lebih penting.

Globalisasi 3.0 terjadi karena adanya internet dan pemanfaatan teknologi informasi. Batas fisik dunia tidak ada lagi. Maka tidak penting lagi kewarganegaraan dan perusahaan tempat bekerja, tetapi yang penting adalah diri kita sendiri. You! Maknanya adalah yang lebih penting lagi adalah apa kontribusi Anda ke dunia. What’s your contribution to society.

Maka kalau sekarang kita masih meributkan tentang kewarganegaraan maka sebetulnya kita masih berada pada globalisasi 1.0. Sudah ketinggalan jaman.


Filed under: teknologi, Teknologi Informasi Tagged: opini, postaday2016, teknologi, Teknologi Informasi

Strategi Memperoleh Tiket Murah ke Papua di Masa Sulit

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Dalam beberapa minggu terakhir, banyak rekan-rekan yang berasal dari Papua mengeluhkan mengenai ketidaktersediaan tiket pesawat ke Jayapura. Kalau ada, harganya menjadi sangat melambung dan terasa tidak masuk di akal.

Sebelum kita meluncur ke masalah strategi, mari kita bahas mengenai kelas pada tiket pesawat. Beberapa orang mengetahui bahwa pesawat terdiri dari kelas Ekonomi, Bisnis, dan First Class. Untuk yang terakhir ini tidak saya bahas karena tidak tersedia dalam penerbangan ke Jayapura. Perlu dicatat bahwa apa yang saya bahas ini bukan merupakan ilmu yang diperoleh dari dalam maskapai, namun semacam reverse engineering dari sisi saya sebagai pengguna jasa penerbangan.
Berikut ini adalah beberapa kisah sukses di balik masa paceklik tiket di bulan Agustus 2016.
  1. Tanggal 4 Agustus 2016 saya membeli tiket Garuda untuk 4 orang rekan di Global Intermedia dengan rute Jogja-Denpasar (GA-254) lanjut Denpasar-Jayapura (GA-652) untuk keberangkatan tanggal 13 Agustus dengan harga Rp. 2.273.600 per orang, di saat orang di Jakarta berkata tiket ke Jayapura harganya mahal. Di hari yang sama kantor menerbitkan lagi sebuah tiket untuk keberangkatan tanggal 12 Agustus dari Jogja ke Timika (GA-254 & GA-652) di harga Rp.2.450.700.
  2. Seorang staf di Provinsi Papua naik GA-652 CGK-DPS-TIM-DJJ tanggal 15 Agustus 2016 yang dipesan tanggal 10 Agustus 2016 dengan harga Rp.2.797.400.
  3. Karyawan sebuah BUMD di Provinsi Papua naik GA-654 CGK-UPG-TIM-DJJ tanggal 17 Agustus 2016 yang dipesan tanggal 10 Agustus 2016 di harga Rp.2.797.400.
Nah, dari apa yang saya selidiki, sepertinya di dalam tiket ekonomi maupun bisnis ada beberapa tingkatan kelas tiket, yang mengatur mengenai fasilitas dan harga yang berbeda-beda. Misalnya, tiket Garuda ekonomi di kelas tertinggi adalah Y, di mana kita bisa pindah ke penerbangan yang sama sebelum atau berikutnya tanpa ada biaya jika memang kursinya tersedia. Untuk kelas promo dengan kode H, kita harus membayar jika pindah penerbangan, dan perbedaan fasilitas lainnya, termasuk perbedaan jumlah mileage yang bisa kita peroleh untuk penerbangan yang menyediakan program loyalti.

Berikut ini adalah beberapa jenis kelas tiket yang saya temui.

Garuda
Economy: L/H/S/E/V/T/G/X/Q/N/K/M/B/U/Y/Z
Executive: I/O/D/C/J

Batik Air / Lion
Promo: U/O/R/X/V/T
Economy: Q/N/M/L/K/H/B/S/W/G/A/Y
Bisnis: Z/I/D/J/C

Sriwijaya
Class: O/U/X/E/G/V/T/Q/N/M/L/K/H/B/W/S/Y/I/D/C

Lalu bagaimana strategi memperoleh tiket murah ke Jayapura?

1. Coba cari tiket 1 orang penumpang terlebih dahulu.
Biasanya maskapai akan menyediakan tiket dalam dengan berbagai kelas mulai dari yang termurah dan naik sampai yang termahal. Ketersediaan tiket per kelas adalah antara 1 sampai dengan 9 kursi. Katakanlah tiket promo hanya tinggal 2 kursi, maka jika kita ambil 3 kursi, sistem akan memasukkan semua penumpang ke kelas di atasnya yang masih tersedia untuk 3 orang yang akan berangkat. Jadilah tiket promo menjadi menghilang dan tidak bisa dibeli. Solusinya adalah ambil 2 yang promo itu, lalu kemudian beli 1 lagi dengan kelas di atasnya. Harga akan lebih murah.

2. Pesan tiket jauh hari sebelumnya
Kebiasaan kita yang melakukan perjalanan dinas dari Papua ke luar adalah mencari tiket pulang secara mendadak, dengan alasan banyak yang akan mampir ke kota tertentu, misal sambil lihat anak yang sedang sekolah atau urusan lain. Sebaiknya, beli tiket pergi pulang sekaligus untuk memperoleh kepastian harga tiket. Jika memang harus mampir ke kota tertentu, harus direncanakan sejak berangkat. Tiket promo biasanya akan muncil antara 1 bulan sampai dengan 1 minggu sebelum keberangkatan.

3. Beli tiket dari atau menuju kota lain yang melewati Jakarta dan Jayapura
Ini aneh tapi nyata, kadang harga tiket Jakarta-Jayapura jauh lebih mahal dari tiket rute Lampung-Jakarta-Jayapura dengan pesawat Jakarta-Jayapura di hari dan nomor penerbangan yang sama! Bahkan, saya pernah beli tiket GA-656 Jakarta-Merauke (transit Jayapura), dan saat di Jayapura saya turun dan lapor bahwa saya tidak melanjutkan penerbangan ke Merauke. Harga tiketnya jauh lebih murah. Untuk yang GA-656 ini memang agak gambling karena jika cuaca di Sentani tidak bagus, maka secara otomatis pesawat akan langsung ke Merauke dan kita akan diturunkan di sana sesuai dengan tiket, tetapi hal ini jarang terjadi.

4. Transit di tempat alternatif
Beberapa penerbangan ke Jayapura ada yang transit lewat Makassar, Denpasar, Sorong, Manokwari dan Manado. Cobalah cek rute ke Jayapura dengan beli tiket putus transit melalui kota-kota tersebut.

5. Manfaatkan diskon kartu bank tertentu
Salah satu rahasia saya dapat tiket murah adalah memanfaatkan promo kartu kredit dan kartu debit bank tertentu. Diskon yang diperoleh adalah antara 5-15 persen untuk kelas ekonomi, dan sampai 25 persen untuk kelas bisnis. Mencari promo ini seperti mencari Pokemon, kadang loncat sana dan loncat sini. Promo kadang langsung ada di web maskapai, dan kadang ada di sistem booking tiket seperti Traveloka dan Tiket.com.

6. Gigih mencari
Karena sistem tiket ini online, harga yang muncul saat ini, bisa berubah di 5 menit kemudian. Cara ini sering berhasil bagi saya, ketika harus mencari tiket suatu flight yang katanya penuh dan langka. Tidak harus di depan komputer, jaman sekarang cek harga tiket bisa dilakukan dari smart phone, sambil melakukan aktivitas lain.

7. Cek tiket kelas bisnis!
Apakah tiket kelas bisnis selalu mahal? Dalam beberapa kasus untuk penerbangan di rute Jayapura-Jakarta dan sebaliknya, saya sering menemukan tiket kelas ekonomi di harga 6 juta dan kelas bisnis di harga 3,5 juta! Sekali lagi perlu dilihat lagi bahwa di dalam kelas bisnis pun ada kelasnya dan juga banyak promonya. Saya pernah sekali menerbitkan tiket untuk seorang kawan di Jayapura di kelas bisnis dengan harga lebih murah dari kelas ekonomi yang tersedia di jadwal penerbangan yang sama! Tidak masuk akal, namun ini benar terjadi, yaitu di saat orang berebut tiket kelas ekonomi, ternyata di kelas bisnis harganya lebih murah.

Saat menulis artikel ini, saya sedang transit di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dalam perjalanan dari Jogja ke Jayapura (GA-677 lanjut GA-650) dengan harga tiket Rp.3.243.800. Menurut saya termasuk mahal, namun juga bisa dikatakan tergolong murah di masa kelangkaan tiket ke Papua di saat ini. Apalagi tiket ini saya beli tergolong dalam waktu yang mendadak, yaitu tanggal 13 Agustus 2016 alias 3 hari sebelum perjalanan.

Semoga anda juga sukses dalam berburu tiket ke Papua!

CodeMeetUp()

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Di Bandung, setiap Senin siang kami mengadakan CodeMeetUp(). Isi diskusinya macem-macem. Tadi siang di Telkomsel Digilife Dago Bandung (depan hotel Holiday Inn) yang mengisi adalah Didit dari Labtek Indie. Topiknya adalah “Developing VR in Unity”. Didit ini salah satu certified Unity Developers. Keren.

DSC_6314 0001

Yang diceritakan adalah tentang apa saja yang tersedia saat ini untuk membuat (aplikasi) VR (Virtual Reality) dengan Unity. Pro dan kontra teknologi yang tersedia dan beberapa hal yang perlu dicermati. Termasuk masalah-masalah yang dihadapi ketika membuat aplikasi VR.

Senangnya mengikuti acara-acara CodeMeetUp() ini adalah kita bisa belajar terus. Dari yang memang jagoan pula di bidang itu. Asyiiik.


Filed under: teknologi, Teknologi Informasi Tagged: postaday2016, teknologi, Teknologi Informasi

Mengkhayal (Lagi)

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Semalam saya pergi ke acara nonton bersama (nobar) di BEC. Film yang kami tonton adalah Suicide Squad. Yang menarik bukan filmnya, tetapi acara setelah film itu.

13908842_10153760845506526_9001600824113110505_o

Setelah nonton selesai, ada acara talk show tentang “Sci-Fi” (science fiction) yang sebetulnya adalah semacam pendahuluan untuk acara “makersthon” (semacam hackathon tetapi di sisi hardware / electronics). Pada acara ini kami ingin menggabungkan orang-orang yang punya khayalan dan orang-orang yang mungkin bisa mengimplementasikannya (orang-orang hardware & software). Seringkali kedua keahlian ini tidak dimiliki oleh satu orang yang sama. Maka mereka perlu dipertemukan.

Banyak pengarang (story tellers) yang bercerita tentang dunia di masa yang akan datang dalam buku dan film. Contoh-contohnya antara lain Star Trek, film Back to the Future, 2001: a Space Odyssey dan masih banyak lainnya. Pada jaman ketika cerita ini dibuat, ada banyak impian produk dan teknologi yang belum ada. Masih berbentuk khayalan. Nah, para makers of the world lah yang bertugas untuk mengimplementasikah itu semua.

Sayangnya saya menduga tidak banyak orang Indonesia yang mampu untuk sekedar berkhayal. Kebanyakan yang dipikirkannya masih jarak dekat (atau bahkan sudah diimplementasikan di tempat lain – ini tandanya kurang baca, hi hi hi). Atau mungkin saya tahu karena saya banyak jalan-jalan dan banyak membaca? Padahal hebatnya mengkhayal adalah tidak ada batas untuk imaginasi. Gratis lagi.

Kalau mengkhayal saja sudah susah, apalagi mengimplementasikannya ya?


Filed under: teknologi, Teknologi Informasi Tagged: postaday2016, teknologi, Teknologi Informasi

Why Instagram add Instagram Stories

Enda Nasution's Quiclinks enda

Instagram Stories will eventually be Snapchat for the masses. Easier to understand and your social network is already there.  Vine already become irrelevant because Instagram Video, will Snapchat be too?  Why Instagram do this? No. of post photos and more user interactions. While now average Instagram user probably post 1-2 photos daily, Stories encouraged users … Continue reading "Why Instagram add Instagram Stories" The post Why Instagram add Instagram Stories appeared first...

[[ This is a content summary only. Visit my website for full links, other content, and more! ]]

Dalam Blogging, Kuantitas Lebih Penting daripada Kualitas

Okto SiLaban Okto Silaban

Saya lupa kalimat di atas ditulis oleh blogger siapa. Yang jelas saya baca di blog salah satu seleb blog Indonesia circa 2007-an. Pernyataan ini bisa jadi kontroversial, karena “blogger sejati” biasanya mengklaim isi konten itulah yang paling penting, itu menunjukkan kualitas (atau jatidiri) penulisnya. Jumlah trafik itu gak penting.

Menurut saya bisa iya bisa enggak. Dewasa ini makin banyak yang “ngeblog” memang tujuannya cari duit. Kalau istilah teman saya dulu MfA (Made for Ads).

Kalau blog tujuannya sudah seperti ini, tentunya jumlah trafik kunjungan website sangat pengaruh (ini otomatis mempengaruhi ranking Alexa). Selain itu sejak PageRank tidak lagi diperbaharui, sekarang acuannya Domain Authority dan Page Authority (DA/PA).

Percaya gak percaya, untuk menaikkan trafik, kuantitas memang ngaruh banget sama trafik. Kualitas sih gak gitu-gitu amat. Contohnya blog saya ini. Begitu saya rajin ngeblog (nulis random aja) tiap hari, trafik (plus ranking Alexa) nya naik. Tapi kalau ditinggal lama (seperti saya lakukan beberapa bulan terakhir), ranking Alexanya turun. Walaupun kadang ada masa-masa tiba-tiba trafik naik signifikan beberapa hari. Biasanya karena beberapa konten lama saya mendadak banyak yang cari di Google.

Jadi, rajin-rajinlah menulis, tentang apapun. (Kalau gak gitu peduli dengan personal branding sih ya, kalau peduli sih tulisannya harus agak di-“setting-setting” sedikit). 😀

Keamanan dan Kinerja Aplikasi

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Kemarin seharian saya menjadi salah satu juri dalam lomba aplikasi berbasis open source. Lumayan capek juga seharian menjadi juri. Sekalian ini menjadi tempat bagi saya untuk mengukur pemahaman pengembang software tentang keamanan (security) dan kinerja (performance) dari aplikasi.

Hasilnya? Kalau soal lombanya belum ada hasilnya karena masih berlangsung. Kalau soal masalah pemahaman keamanan dan kinerja ternyata masih cukup jauh juga. Saat ini pengembang masih terlalu fokus kepada aspek fungsional saja. Aspek security masih mengandalkan bawaan dari sistem / framework / tools yang ada saja. Bahkan ada yang menyerahkan kepada network (misal firewall) untuk aspek pengamanan. Sementara itu untuk aspek kinerja, umumnya belum ada yang mengukur. Program aplikasi jalan dan
“cukup cepat” saja sudah cukup bagi mereka.

Nampaknya saya harus membuat tulisan-tulisan mengenai hal ini. Hmmm…


Filed under: Curhat, open source, Pendidikan, security, Teknologi Informasi Tagged: open source, postaday2016, security, software, Teknologi Informasi

Banjir Pesan (di WA)

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Ini masih melanjutkan tentang topik bahwa program chat seperti WhatsApp (WA) itu tidak cocok untuk orang seperti saya, yang kebanyakan kontak dan pesan. Begini.

Beberapa hari yang lalu saya ada yang mau ketemu dengan saya untuk berkordinasi. Saya bilang, ok akan saya berikan waktunya besok. Ini diskusinya via WA. Nah, besoknya saya cari pesan itu dan tidak ketemu. Maklum sudah ada puluhan group dan orang yang berikirm pesan (dan lebih dari 500 pesan yang belum terbaca). Chat kemarin itu tidak ketemu. Saya tidak bisa membalas pesan yang bersangkutan. Kalau yang bersangkutan hanya menunggu dan tidak kontak lagi (mungkin karena takut bikin sibuk, sungkan, atau apa saja alasannya) maka tidak akan ada balasan dari saya. Mungkin yang bersangkutan akan merasa bahwa saya tidak punya waktu untuk menjawabnya (dan dugaan-dugaan lainnya). Padahal alasannya adalah saya tidak dapat menemukan pesan yang bersangkutan.

Sistem email yang dibaca di komputer lebih bagus untuk hal ini karena dapat dilakukan proses tagging, pengurutan dan pencarian. Hanya saja sekarang orang mulai mengandalkan ke aplikasi pesan dibandingkan dengan email.

Oh ya, bagi yang bersangkutan (kalau membaca pesan ini), tolong kirim pesan lagi via WA agar pesan Anda muncul di urutan paling atas dan terbaca oleh saya.


Filed under: Curhat, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: Curhat, postaday2016, Teknologi Informasi

Menunggu Presiden Lewat

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Pemandangan menarik dalam perjalanan ke kantor hari selasa pagi (27/7) kemarin adalah banyaknya anak-anak di sepanjang Jl. Magelang yang berdiri untuk menunggu presiden lewat.

Jaman saya kecil dulu sangat lumrah anak-anak menunggu Camat, Kepala Dinas, Bupati, Gubernur atau Menteri yang melakukan kunjungan ke wilayahnya dengan persiapan yang bahkan bisa sampai berminggu-minggu. Sekarang, hal itu sudah sangat jarang dilakukan. Kalau mau datang ya datang saja, dan anak buah pejabat yang berkepentingan saja yang sibuk menyiapkan untuk kedatangan pejabat tersebut.

Kegiatan menyambut Presiden bisa dipandang sebagai hal yang positif maupun negatif. Secara positif, anak-anak bisa terhibur dan bisa melihat Presiden lewat dan siapa tahu nanti akan termotivasi dan bercita-cita menjadi seorang presiden. Seseorang yang saya kenal yang akhirnya jadi PNS bercerita bahwa dia ingin menjadi PNS karena waktu kecil melihat mereka datang dengan jip hijau plat merah dan sangat dihormati.

Secara negatif, anak-anak kehilangan jam belajar, kemudian secara sadar atau tidak sadar, anak-anak itu melihat dan terpatri dalam otak mereka bahwa pejabat harus diprioritaskan dan didahulukan di jalan raya, meskipun hal ini memang sudah tertulis di peraturan resmi.

Anak-anak jaman sekarang sebaiknya diberikan sebuah pemahaman dan dilibatkan dalam contoh nyata dalam format yang kreatif, bahwa menjadi pejabat bukan pada konteks untuk mendapat prioritas dan kehormatan, namun lebih menjadi pemimpin sekaligus pelayan masyarakat untuk membawa masyarakat menjadi lebih sejahtera.

KBBI IV Daring

BennyChandra.com Ben

KBBI IV Daring: Kamus Besar Bahasa Indonesia Keempat versi daring oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia. The post KBBI IV Daring appeared first on BennyChandra.com.

[ » ]

Keharusan Merespon Chat

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Sekarang banyak orang yang terjebak dalam keharusan merespon pesan-pesan yang muncul di aplikasi chat (seperti WhatsApp / WA, Telegram, dan sejenisnya). Setiap ada pesan yang muncul di program chat tersebut, maka dia merasa harus merespon dengan segera. Kalau tidak merespon, maka dia merasa tidak enak dengan orang yang mengirimkan pesan tersebut. Akibatnya, orang yang banyak memiliki group di WA atau Telegram akan disibukkan dengan merespon pesan-pesan tersebut sehingga dia terlalu fokus kepada handphonenya. Tidak memperdulikan sekelilingnya di dunia nyata.

Aplikasi chat sebetulnya didesain untuk komunikasi asinkron. Maksudnya, pihak-pihak yang berkomunikasi TIDAK HARUS online pada saat yang sama. Ini berbeda dengan telepon, yang mana kedua belah pihak yang bertelepon harus ada pada saat yang sama. Yang ini disebut sinkron. Artinya, pengguna aplikasi chat tersebut tidak harus merespon dengan segera karena sesungguhnya dia asinkron.

Kalau dahulu sebelum ada aplikasi WA/Telegram itu kita sebenarnya sudah mempunyai SMS yang juga sifatnya asinkron. Tetapi karena SMS itu berbayar, maka pihak-pihak yang berkomunikasi sadar bahwa respon tidak harus segera dan harus dipikirkan dulu. Bayar soalnya. Respon harus singkat dan kalau bisa tidak banyak-banyak. Mahal. Sekarang aplikasi WA/Telegram dapat dianggap “gratis”, meskipun sesungguhnya kita bayar akses internetnya. Gratis ini karena dilihat bayarnya bukan dari jumlah pesan yang kita kirim atau terima. Akibatnya “tuntutan” menjawab segera dan banyak itu terasa ada. Kenapa kamu tidak membalas segera? Kan gratis.

Usul saya, kita harus menggunakan aplikasi WA/Telegram itu secara wajar saja. Jika perlu direspon segera, ya segera. Tetapi kebanyakan pesan di WA/Telegram – terutama di group-group yang tidak terlalu penting, yang hanya ngobrol ngalor ngidul – tidak perlu harus direspon segera. Tahan diri untuk berkomentar. Seperti di dunia nyata, Anda juga tidak perlu harus berkomentar (dan cerewet) untuk semua hal. Yang wajar-wajar saja. Secukupnya saja.

Berikan waktu yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan berinteraksi di dunia nyata.


Filed under: Curhat, Opini, Teknologi Informasi Tagged: Curhat, opini, postaday2016, Teknologi Informasi

Keamanan Aplikasi Pokemon Go

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Saat ini aplikasi Pokemon Go sedang mendapat sorotan. Aplikasi ini membuat berbagai “kegaduhan” di berbagai negara. Pengguna atau pemain aplikasi Pokemon Go ini sering terlalu serius dalam berburu monster (Pokemon) sehingga melupakan berbagai aspek, termasuk keselamatan dirinya. Saya jadi ingat masa kecil bermain layang-layang dan berburu layangan yang putus ke jalan tanpa mengindahkan keselamatan diri. hi hi hi.

Di Indonesia sendiri aplikasi Pokemon Go ini belum diluncurkan secara resmi, tetapi ini tidak menghalangi orang-orang untuk mencari aplikasi dari tempat-tempat yang tidak resmi. Jumlah pemain Pokemon Go dari Indonesia ini belum diketahui secara resmi, tetapi jumlahnya pasti *BANYAK SEKALI*. (Sampai saya tulis dengan huruf besar dan bold. ha ha ha.)

Tulisan ini akan menyoroti masalah keamanan (security) dari aplikasi Pokemon Go karena saat ini mulai muncul berbagai isyu tentang keamanannya. Bahkan tadi saya mendengar berita tentang adanya larangan bagi Polisi & Tentara untuk menggunakan aplikasi Pokemon Go ini sehingga ada yang kena razia segala. Sebelum ini menjadi hal-hal yang terlalu berlebihan (kasihan yang terkena razia), nampaknya perlu saya buat tulisan ini. Jadi ini latar belakangnya.

Beberapa hal yang menjadi alasan keamanan aplikasi ini, antara lain:

  1. Aplikasi menggunakan GPS untuk mengetahui lokasi (koordinat) pengguna. Lokasi ini dikirimkan ke server untuk digunakan sebagai bagian dari permainannya. Dikhawatirkan pihak pengelola server menggunakan data ini untuk hal-hal yang tidak semestinya (surveillance, misalnya).
  2. Aplikasi mengunakan kamera untuk mengambil gambar (foto, video) tentang lokasi sebagai bagian dari permainan. Dikhawatirkan data ini (foto, video) dikirimkan ke pengelola untuk hal-hal yang negatif juga. Bagaimana jika lokasi kita merupakan tempat yang sangat sensitif (rahasia)?

Itu hal-hal yang muncul di berbagai diskusi. Sebetulnya ada hal-hal lain yang juga dikhawatirkan tetapi menurut saya hal ini belum tentu benar, misalnya

  1. Aplikasi digunakan oleh Pemerintah Amerika Serikat (dalam hal ini CIA) untuk memantau orang-orang Indonesia. Untuk hal ini, langsung saya tanggapi saja. Tidak benar! Atau, belum tentu benar. Jadi begini. Aplikasi Pokemon Go dijalankan oleh sebuah perusahaan swasta. Perusahaan ini sangat menghargai kerahasiaan data penggunanya. Umumnya perusahaan tidak suka menyerahkan data ini ke pemerintah. Meskipun mereka kadang menjual data ini untuk keperluan bisnis lainnya (iklan, misalnya). Jadi, secara umum, perusahaan Nintendo tidak bekerjasama dengan CIA. (Catatan: di sisi lain, pihak intelligence Amerika memang terkenal melakukan penyadapan-penyadapan terhadap perusahaan-perusahaan Amerika juga. Jadi boleh jadi terjadi penyadapan, tetapi ini biasanya tanpa sepengetahuan perusahaan sendiri. Jadi terjadi spy-and-contra-spy antara mereka. Adu kepintaran. Untuk hal ini, memang terjadi. Ada beberapa catatan saya yang saya diskusikan di kelas Security yang saya ajarkan di ITB.)
  2. Pokemon Go dikembangkan oleh orang yang anti Islam. Wah ini sudah kejauhan teori konspirasinya. Alasannya karena banyak Pokemon di masjid. Jawaban terhadap hal ini adalah database untuk penempatan Pokemon itu berasal dari data aplikasi Ingress yang dikembangkan oleh Niantic Labs, perusahaan yang membuat kedua aplikasi tersebut. (Silahkan gunakan Google untuk mencari “Pokemon Ingress”.) Kebetulan saja, masjid adalah tempat banyaknya orang berkumpul dan terdata di Ingress. Itu saja. Jadi tidak ada konspirasi di sini.

Mari kita ke permasalahan utamanya. Apakah aplikasi Pokemon Go ini aman atau berbahaya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut harus dilakukan penelitian yang lebih mendalam, tetapi saya dapat mengajukan analogi seperti ini. Aplikasi Pokemon Go memang menambahkan celah keamanan (security hole), tetapi saat ini pun Anda sudah memiliki security hole yang lebih besar. Jadi kalau Anda mempermasalahkan keamanan dari celah lubang udara, sementara pintu rumah Anda sendiri sudah terbuka lebar, ya kurang tepat. You already have bigger problems.

Apa saja “masalah-masalah” yang sudah ada tersebut? Ada banyak, contohnya:

  1. Ada banyak aplikasi lain yang menggunakan GPS. Di Indonesia ada aplikasi Waze, Google Maps, Nike+, Swarm, Instagram, Twitter, Facebook, Go-Jek, dan seterusnya. Jika penggunaan GPS dipermasalahkan, maka aplikasi-aplikasi tersebut sama statusnya. Bahkan mereka lebih “mengerikan” dalam hal memberikan data ke penyedia jasa aplikasi tersebut.
  2. Ada banyak aplikasi yang menggunakan kamera; instagram, facebook, path, dan seterusnya. Orang Indonesia terkenal dengan potret-memotret dengan handphone, selfie. Beberapa aplikasi tersebut juga sudah menggabungkan informasi dari GPS untuk menandai lokasi dimana foto diambil. Ini juga sama statusnya dengan aplikasi Pokemon Go.
  3. Anda menggunakan layanan publik seperti Gmail, Yahoo!, dan seterusnya. Maka ini juga dapat dianggap sebagai “masalah”. Mereka malah menyimpan data email Anda. Jika Anda (dan bahkan instansi Anda) menggunakan layanan email-email ini, malah ini justru lebih berbahaya daripada aplikasi Pokemon Go. (Perhatikan bahwa ada banyak instansi pemerintahan yang menggunakan layanan ini!)
  4. Ketika memasang aplikasi Pokemon Go, aplikasi diperkenankan mengakses akun Google (Gmail) Anda secara penuh. Ya ini tergantung kepercayaan Anda kepada pengelola aplikasi Pokemon Go.  Lagi pula, dari mana Anda tahu bahwa aplikasi tersebut tidak tersusupi oleh virus / malware? Kan Anda belum mendapatkan itu secara resmi. Nah lho

Solusi?

Untuk orang-orang yang bekerja di lingkungan tertentu yang membutuhkan keamanan (Militer, Polisi, Penegak Hukum, dst.) maka seharusnya mereka menggunakan handphone khusus; secure handphone. Untuk pekerja seperti itu, mereka tidak boleh menggunakan handphone yang dijual secara umum dan tidak boleh menggunakan aplikasi yang belum disertifikasi. (Sebetulnya kami sudah mampu mengembangkan secure handphone sendiri. Silahkan hubungi kami untuk informasi lebih lanjut. Saya tidak ingin beriklan di tulisan ini.) Saat ini saya juga sedang membimbing mahasiswa (level S3) yang meneliti tentang secure mobile phone dan aplikasinya. Saya juga sedang terlibat pembahasan tentang evaluasi keamanan handphone beserta aplikasinya. Tunggu tanggal mainnya untuk yang ini ya.

Oh ya, jika para pembaca belum mengetahui latar belakang saya, memang salah satu bidang yang saya geluti adalah security.

Untuk orang-orang biasa? Ya, anggap saja Pokemon Go sebagai pemainan yang tidak aman. Kalau memang tidak ada yang dirahasiakan di handphone Anda dan dalam kehidupan Anda, nikmati saja. Tapi sadar saja bahwa tidak ada perlindungan keamanan di sana. Sama seperti aplikasi-aplikasi lainnya, termasuk media sosial yang Anda gunakan (Facebook, Path, Instagram, Twitter, dan seterusnya).

Jadi, sudah berhasil menangkap berapa Pokemon?


Filed under: Opini, security, Teknologi Informasi, TI Tagged: opini, Pokemon, postaday2016, security, Teknologi Informasi

Ini Pokemon Ku

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Sekarang sedang heboh aplikasi permainan Pokemon Go. Banyak sekali orang yang menggunakan aplikasi tersebut meskipun secara resmi belum beredar di Indonesia. Saya sendiri tadinya mau ikutan pasang dan main, tetapi kata anak saya jangan dulu. Nanti kalau banyak yang melanggar, Indonesia bisa diban sama mereka. Jadinya belum main.

Nah, mainan “Pokemon” yang selalu saya mainkan adalah ini … hi hi hi.

IMG_0890

Sebetulnya permainan ini namanya Onet. Pasti banyak yang sudah tahu ya? Mainnya adalah mencocokkan gambar yang sama bersebelahan. Kebetulan saja gambarnya adalah Pokemon. (Sebetulnya ada gambar yang lain, tetapi saya memilih yang Pokemon. Saya sudah bertahun-tahun memainkan permainan ini di iPad saya. hi hi hi.

Gak mau kalah, saya juga main “Pokemon” kok. Tapi bukan yang “Go”. hi hi hi.


Filed under: games, iseng, Teknologi Informasi Tagged: games, iseng, postaday2016, Teknologi Informasi

Mengukur Kebugaran Diri

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Sebagai salah satu early adopter dari teknologi, saya menggunakan smart band. Itu lho gelang elektronik. Saya menggunakannya untuk memacu diri agar rajin berolah raga. Kerennya adalah agar menjaga kebugaran diri. hi hi hi.

Gelang elektronik yang saya gunakan adalah Mi Band. Pada awalnya saya menggunakan Mi Band milik anak saya yang tidak terpakai. Kala itu saya hanya ingin mencoba saja apakah nyaman menggunakan gelang terus menerus. Seperti menggunakan jam tangan terus menerus. Ternyata dia tidak mengganggu.

13724837_10153708150076526_5986811014591242222_oYang menarik bagi saya adalah gelang elektronik memaksa saya untuk berjalan. Berapa langkah jalan yang sudah saya lakukan hari ini? Langkah ini dapat dikonversikan menjadi jarak (dalam satuan Km.) Saya bisa melihat statistiknya dan membandingkannya dengan hari-hari sebelumnya. Secara umum saya menggunakan target 8000 langkah/hari. Ini sayangnya tidak tercapai setiap hari. ha ha ha. Target ini hanya tercapai ketika saya berolah raga futsal. (Lihat gambar. Itu adalah statistik saya hari ini setelah selesai bermain futsal.)

Gelang elektronik yang saya gunakan saat ini adalah Mi Band 1S. Yang sebelumnya, yang punya anak saya, rusak karena jatuh ketika main futsal dan tidak berfungsi lagi. Yang saya gunakan kali ini adalah pemberian dari pak Djarot Subiantoro. Terima kasih pak. (Tadinya saya mau beli Mi Band 2 yang baru keluar.)

Sebelum menggunakan Mi Band ini saya menggunakan aplikasi Nike+ di handphone untuk melakukan itu. Hanya dia membutuhkan GPS, sehingga tidak dapat melakukan pencatatan jika saya berada di dalam gedung (misal sedang main futsal). Yang ini masih saya pakai ketika saya berjalan di luar. Oh ya, jeleknya aplikasi yang di handphone ini (karena menggunakan GPS) dia boros dalam penggunaan handphone. Sementara yang Mi Band ini dapat dicharge 2 minggu sekali.

Ayo berolah raga …


Filed under: sports, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: olah raga, opini, postaday2016, sports, Teknologi Informasi

Sleep on it

Kemas Antonius Kemas Antonius

Fully agree with this article, http://avc.com/2016/07/sleeping-on-it/.

One of my best life lessons. I have been through this several times.

Please read the comments below the article. There are so many valuable insights and experience that are worth having in life. And you get them all for free without going through it one by one in hard ways.

So, ‘sleep’ sufficiently.


Filed under: Interesting Articles, Quick Posts

Buku Zero to One

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Horeee … Selesai baca satu buku lagi. I’m on a roll. Lagi lancar baca buku. Setelah beberapa hari yang lalu menyelesaikan satu buku, barusan selesai baca satu buku lagi. Buku yang baru selesai saya baca adalah “Zero to One” karangan Peter Thiel.

zero-to-one-cover-art

Buku yang ini sebetulnya sudah lama dimulai bacanya, tetapi tidak selesai-selesai. “Masalahnya” (kalau bisa disebut masalah) adalah banyak poin-poin bagus di dalam buku ini sehingga saya harus berhenti dan meresapi poin itu. Baca lagi, berhenti lagi, mikir dulu. Setelah beberapa hari, baca lagi, berhenti lagi, dan seterusnya. Itulah yang menyebabkan lambatnya selesai membaca buku ini. Jadi, buku bagus justru membuat lambat selesai bacanya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana membuat perusahaan (startup) yang bagus. Peter Thiel ini dikenal sebagai salah satu pendiri dari PayPal. Sekarang PayPal sudah mereka jual. Pendiri-pendiri PayPal dikenal sebagai “Mafia PayPal” dan mereka kemudian mendirikan berbagai perusahaan yang juga sama (atau lebih) sukses; YouTube, Tesla, SpaceX, dan seterusnya. (Salah satu yang sekarang sedang ngetop tentunya adalah Elon Musk.)

Apa itu “0-to-1”? Maksudnya zero (0) adalah tiada. Tidak ada. Sementara zone (1) adalah ada. Jenis perusahaan yang didirkan sebaiknya adalah yang memberikan layanan atau membuat produk yang dahulu belum ada. Sebagai contoh, dulu belum ada sistem operasi komputer maka kemudian ada Microsoft yang membuat sistem operasi MS-DOS. Dahulu belum ada tempat orang kongkow-kongkow online, sekarang ada Facebook. Kalau membuat kantor cabang dari sebuah usaha yang sudah ada (membuka di kota lain, di negara lain) itu namanya dari “1” ke “n“. Ini tidak terlalu menarik.

Startup yang sukses adalah yang membuat sesuatu yang baru. Jadi jika ada yang ingin membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Google, atau sejenisnya akan sulit untuk sesukses mereka. The next big thing tidak mungkin search engine seperti Google, misalnya.

Selain membuat hal yang baru, buku ini juga menguraikan apa-apa kunci kesuksesan lainnya. Misalnya, kalau kita membuat sebuah produk (teknologi) yang mirip dengan yang sudah ada seperti sekarang maka dia harus minimal 10 kali lebih hebat dari yang sudah ada. (Istilahnya adalah “one fold better”.) Kalau hanya lebih bagus, 20% lebih bagus atau bahkan dua kali lipat lebih bagus, tidak cukup untuk menarik orang ke produk kita. Poin ini juga menarik.

Selain poin di atas, masih banyak poin-poin lain yang penting. Itulah sebabnya saya banyak berhenti membaca buku ini. Mencoba mencerna dahulu poin yang dimaksud. Apa saja poin-poin yang dibahas? Silahkan baca bukunya.

Pokoknya buku ini adalah bacaan wajib bagi yang ingin membuat Startup. Sangat direkomendasikan.

 


Filed under: Bisnis, buku, creativity, e-commerce, entrepreneurship, management, marketing, Start-up, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: Bisnis, buku, entrepreneurship, postaday2016, Start-up, startup, teknologi, Teknologi Informasi

Ngeblog Dengan Tablet

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Di jalan. Gak punya akses ke komputer. Terpaksa ngeblog dengan tablet. Susah banget.

[update]

Nah, sekarang begitu ada akses ke komputer (pinjam), baru diedit kembail tulisannya. Tadinya acak adut.  Masalahnya ternyata tadi ada banyak; internet yang terbatas (lambat), tablet yang mungkin juga makin (terasa) melambat, aplikasi browser di tablet yang juga mungkin belum terbaru, tidak terbiasa mengetik di layar (butuh keyboard fisik), dan seterusnya. Pokoknya ada banyak alasan saja. Tapi betulan alasan.

Dahulu pernah juga mencoba aplikasi wordpress di tablet, tetapi aplikasinya buggy sehingga tulisan juga sulit diedit kembali.

Ternyata yang paling sulit bagi saya adalah mengetik di layar. Nampaknya harus beli keyboard portable yang bisa digunakan untuk iPad dan handphone (Android). Ada saran?


Filed under: Curhat, Teknologi Informasi, TI Tagged: Curhat, postaday2016, Teknologi Informasi

Oleh-oleh Nuoqi Milk Soft Candy

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Permen Nuoqi Milk Soft Candy ini kami beli di Dried Food Market di Thailand, permen ini berisi semacam gummy jelly dengan berbagai rasa, yaitu jagung, anggur, stroberi, delima, semangka, dan mangga. Nah, gummy jelly ini dibalut dengan susu putih chewy yang lembut sehingga rasanya enak ketika dikunyah. Untuk packing yang 380 gram isi 100 kami tebus dengan harga 130 THB

Dried Food Market yang dimaksud adalah tempat di pertengahan perjalanan antara Pattaya dan Bangkok, bentuknya adalah sebuah toko oleh-oleh yang mirip dengan toko oleh-oleh di Indonesia yang menjual berbagai makanan kering khas Thailand yang bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Snow: Snapchat’s copy

Orangescale.NET Thomas Arie

I’m on Snapchat. Yes, that Snapchat. Since it’s banned in South Korea, the users from South Korea should have an alternative. And, there is Snow. Snow shares similar features with Snapchat.

…it is also gaining traction in China, where the country’s 700 million users make up the world’s largest internet market. There, Snow has a major advantage: Snapchat is blocked in China.

It’s available for iOS and Android.

Android N is… Nougat

Orangescale.NET Thomas Arie

I think more people think that Android N will have Nutella as its new name. But, recently Android announced that the official name for Android N is Android Nougat.

Wait, Nougat? I personally not familar with this. According to Wikipedia:

Nougat is a family of confections made with sugar or honey, roasted nuts (almonds, walnuts, pistachios, hazelnuts, and macadamia nuts are common), whipped egg whites, and sometimes chopped candied fruit. The consistency of nougat is chewy, and it is used in a variety of candy bars and chocolates. The word nougat comes from Occitan pan nogat (pronounced [ˈpa nuˈɣat]), seemingly from Latin panis nucatus ‘nut bread’ (the late colloquial Latin adjective nucatum means ‘nutted’ or ‘nutty’).

And, here’s a picture.

ng01851-082-018rq0w8r1 Image source: http://toetenzo.nl/?p=315

Codemoji

BennyChandra.com Ben

Codemoji: Aplikasi edukasi berbasis Web dari Mozilla untuk mengkampanyekan enkripsi dengan menggunakan emoji. The post Codemoji appeared first on BennyChandra.com.

[ » ]

Mencari Jasa Laundry Kiloan di Bangkok

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Perjalanan keliling sebagian Asia Tenggara seminggu yang lalu memberikan tantangan tersendiri, terutama mengenai bekal yang perlu dibawa untuk keperluan perjalanan. Idealnya, barang yang dibawa haruslah selengkap mungkin, namun juga batasannya adalah kepraktisan dalam berpindah tempat. Barang yang lengkap akan memerlukan ukuran koper yang besar, dan tentu saja akan memberatkan dalam mengangkut ke sana kemari. Kami membatasi bawaan dengan koper dengan ukuran kecil.

Standar perjalanan kami yaitu membawa pakaian secukupnya untuk keperluan 3 - 4 hari, dengan asumsi seperti waktu di Hong Kong, kami memasrahkan baju untuk dicuci di laundry kiloan. Untuk Sio yang masih bayi, kami mencoba menghitung jumlah susu dan diapers dengan seakurat mungkin untuk keperluan 6 hari 5 malam.

Di Singapura, banyak layanan laundry DIY (do it yourself) di mana kita tinggal memasukkan koin uang SGD dan mesin cuci berjalan secara otomatis dan pakaian selesai dengan kering. Karena terlena dengan jalan-jalan di luar, akhirnya selama 3 hari 2 malam itu kami tidak mencuci baju di Singapura, padahal tempatnya hanya 300 meter dari hotel.

Untuk alas kaki, saya tidak membawa sandal, dan mempercayakan pada salah satu model sepatu North Star dari Bata yang tipis dan sirkulasi udaranya bagus, sehingga lebih aman dari bau. Intinya, kami mencoba membawa barang yang benar-benar diperlukan saja, dan menyisihkan barang yang sudah ada substitusinya, seperti mengenai memilih salah satu antara sandal dan sepatu tadi.

Kembali kepada pakaian, di Bangkok selama 4 hari 3 malam itu kami berpindah hotel setiap malam, dan selalu tiba malam karena mengikuti tur yang sudah dijadwalkan. Di sore hari pertama tiba di Bangkok, saya keliling di dekat hotel dan mendapati banyak laundry kiloan, namun apa dikata, kalau malam mereka sudah tutup, dan kemungkinan kecil mereka mau lembur untuk bisa diambil pagi sebelum jam 6, karena jam 7 kami sudah dijemput bus untuk menuju ke tempat-tempat wisata. Di hotel, staf yang standby tidak lebih dari 10 orang saja, mulai dari security, bell boy, resepsionis, dan room service. Petugas laundry juga diketahui sudah kembali ke rumah masuk ke dalam peraduan mimpinya. Selain itu, laundry di hotel menerapkan biaya yang nyaris sama dan bahkan lebih mahal dengan harga kaos dan celana yang mau dicuci ;)

Harga laundry Hotel Dynasty Bangkok

Solusinya? Lari ke 7 Eleven beli Rinso (saya yakin saja namanya Rinso, karena bungkusnya persis, hanya tulisannya menggunakan aksara Thailand, aromanya khas dan sama-sama produksi Unilever). Pakaian direndam dan dikucek pakai air panas dari wastafel di kamar mandi hotel. Ini dia penampakannya.

Rinso Thailand
Tinggal peras sampai bersih, dan di 'spin' menggunakan tangan dengan kecepatan layaknya latihan kung fu, maka baju menjadi setengah kering dan tinggal diangin-anginkan setengah malam di keringnya angin dari AC kamar hotel. Paginya, baju sudah siap untuk diseterika dan dipakai kembali. Tips lain yang bisa dilakukan adalah jika di hotel ada kulkas mini, taruh saja di belakangnya, maka akan lebih cepat kering karena hangat. Dalam rangkaian perjalanan ini, saya sempat menganginkan cucian kaos kaki di Singapura dengan hairdryer yang ada di hotel dan berhasil kering dalam waktu kurang dari 3 menit.

Demikianlah penyelesaian atas petualangan kami mencari jasa laundry kiloan di Bangkok yang mungkin bisa diterapkan juga di tempat lain dalam keadaan darurat.

Jalan-Jalan Wisata ke Johor Bahru di Malaysia, Singapura, dan Bangkok-Pattaya di Thailand

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Pada tanggal 19 - 24 Juni 2016, kami sekeluarga mengambil off selama seminggu untuk mengisi liburan sekolah dengan mencari pengalaman baru dengan mengunjungi 3 negara, yaitu Malaysia, Singapura, dan Thailand. Perjalanan ini tergolong agak spontan, karena keputusan diambil hanya beberapa minggu sebelum keberangkatan.

Sebenarnya, pengalaman ke Malaysia dan Singapura bukan merupakan pengalaman baru, karena kami sudah mengunjungi beberapa kali di tahun-tahun sebelumnya, baik dalam rangka sekedar jalan-jalan, maupun keperluan bisnis. Tahun 2010 yang lalu saya juga sempat melakukan perjalanan ke Thailand.

Nah, dimulai dari awal, kami sejatinya ingin pergi ke Bangkok sekeluarga berempat (2 dewasa 1 anak dan 1 bayi) untuk sekedar mengurangkan jatah miles Garuda yang mau expire, karena aturan baru dari Garuda Miles, mileage akan kadaluarsa jika tidak dipakai selama 3 tahun. Nah, selama 3 tahun ini saya belum pernah menebus award ticket dari Garuda. Berdasarkan hitungan, jumlahnya cukup untuk PP 3 orang dengan rute Jakarta (CGK) - Bangkok (BKK), jadi tinggal memikirkan Yogyakarta (JOG) - Jakarta (CGK) PP. Nah, karena rencana ini terpapar ke keluarga, jadilah orang tua dan adik-adik ingin ikut dengan biaya sendiri. Karena mileage tidak cukup untuk bertujuh, akhirnya kami mencari maskapai low cost, dengan permintaan agar bisa mengunjungi Singapura, karena mereka belum pernah ke sana.

Setelah kutak katik rute, kami mencoba untuk mengambil rute Jogja-Singapura-Bangkok-Jakarta-Jogja. Ternyata, harga tiket dari Jogja ke Singapura hari itu di atas 1 juta rupiah. Padahal, biasanya tiket promo berada di antara 400 - 700 ribu rupiah. Ternyata, tanpa sengaja, pada hari yang sama kami dapat info bahwa tiket dari Jogja ke Johor Bahru baru sedang promo, dan kami mendapatkan di harga 269 ribu per kursi, belum termasuk pemilihan kursi, bagasi dan makanan. Bagasi juga beli secukupnya, dan untuk makanan tidak diperlukan karena memasuki bulan Ramadan dan kami juga sudah makan siang. Setelah mencari berbagai kombinasi biaya paling murah, rutenya kemudian berubah menjadi Jogja - Johor Bahru. Singapura - Bangkok BKK, Bangkok DMK - Jakarta, dan Jakarta - Jogja.

Nah, sharing pengalaman perjalanan yang ingin saya ceritakan kurang lebih adalah seperti ini:

Perjalanan Bangkok Don Mueang - Jakarta - Jogja

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Foto bersama di Don Mueang Airport Bangkok
Karena tema dari perjalanan ini adalah budget travel alias perjalanan hemat, maka kami membeli tiket dengan rute putus. Artinya antar penerbangan tidak tersambung, tentu saja dengan resiko jika ada hambatan di penerbangan sebelumnya, maka akan bisa berdampak pada resiko tertinggal penerbangan berikutnya tanpa ada kompensasi dari maskapai sebelumnya. Faktor lainnya adalah, maskapai low cost tidak banyak yang menyediakan tiket connecting dengan ketibaan pada hari yang sama. Entah bagaimana, jika kita mengambil tiket connecting, mereka seolah 'memaksa' kita untuk menginap setidaknya semalam di kota transit, entah di Singapura, Kuala Lumpur, atau Jakarta. Artinya, jika harus menginap akan menambah biaya hotel. Kalau, tidak sedang bersama anak-anak, mungkin tidur di bandara adalah pilihan hemat yang bisa diambil.

Penerbangan kami adalah Indonesia Air Asia X nomor penerbangan XT-251 keberangkatan dari Bangkok Don Mueang (DMK) tanggal 24 Juni jam 11.25 tiba di Jakarta (CGK) jam 14.45, dilanjutkan dengan Batik Air ID-6366 berangkat dari Jakarta (CGK) jam 18.30 tiba di Yogyakarta (JOG) jam 19.30. Selisih antar penerbangan 3 jam kami anggap aman untuk mengantisipasi delay maupun antrian imigrasi dan pindah dari terminal 3 ke terminal 1. Untung saja penerbangan tepat waktu dan nyaris tidak ada antrian imigrasi di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Dengan demikian, kami tidak terburu-buru ketika melapor ke penerbangan berikutnya.

Penerbangan berikutnya ke Jogja juga tepat waktu, dan kami tiba di rumah sekitar jam 20.00 GMT+7, dilanjutkan dengan persiapan packing, karena hari minggu sudah pergi lagi ke Makassar selama 5 hari.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.