PlanetTerasi

Think. Read. Write.

Banjir Pesan (di WA)

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Ini masih melanjutkan tentang topik bahwa program chat seperti WhatsApp (WA) itu tidak cocok untuk orang seperti saya, yang kebanyakan kontak dan pesan. Begini.

Beberapa hari yang lalu saya ada yang mau ketemu dengan saya untuk berkordinasi. Saya bilang, ok akan saya berikan waktunya besok. Ini diskusinya via WA. Nah, besoknya saya cari pesan itu dan tidak ketemu. Maklum sudah ada puluhan group dan orang yang berikirm pesan (dan lebih dari 500 pesan yang belum terbaca). Chat kemarin itu tidak ketemu. Saya tidak bisa membalas pesan yang bersangkutan. Kalau yang bersangkutan hanya menunggu dan tidak kontak lagi (mungkin karena takut bikin sibuk, sungkan, atau apa saja alasannya) maka tidak akan ada balasan dari saya. Mungkin yang bersangkutan akan merasa bahwa saya tidak punya waktu untuk menjawabnya (dan dugaan-dugaan lainnya). Padahal alasannya adalah saya tidak dapat menemukan pesan yang bersangkutan.

Sistem email yang dibaca di komputer lebih bagus untuk hal ini karena dapat dilakukan proses tagging, pengurutan dan pencarian. Hanya saja sekarang orang mulai mengandalkan ke aplikasi pesan dibandingkan dengan email.

Oh ya, bagi yang bersangkutan (kalau membaca pesan ini), tolong kirim pesan lagi via WA agar pesan Anda muncul di urutan paling atas dan terbaca oleh saya.


Filed under: Curhat, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: Curhat, postaday2016, Teknologi Informasi

Menunggu Presiden Lewat

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Pemandangan menarik dalam perjalanan ke kantor hari selasa pagi (27/7) kemarin adalah banyaknya anak-anak di sepanjang Jl. Magelang yang berdiri untuk menunggu presiden lewat.

Jaman saya kecil dulu sangat lumrah anak-anak menunggu Camat, Kepala Dinas, Bupati, Gubernur atau Menteri yang melakukan kunjungan ke wilayahnya dengan persiapan yang bahkan bisa sampai berminggu-minggu. Sekarang, hal itu sudah sangat jarang dilakukan. Kalau mau datang ya datang saja, dan anak buah pejabat yang berkepentingan saja yang sibuk menyiapkan untuk kedatangan pejabat tersebut.

Kegiatan menyambut Presiden bisa dipandang sebagai hal yang positif maupun negatif. Secara positif, anak-anak bisa terhibur dan bisa melihat Presiden lewat dan siapa tahu nanti akan termotivasi dan bercita-cita menjadi seorang presiden. Seseorang yang saya kenal yang akhirnya jadi PNS bercerita bahwa dia ingin menjadi PNS karena waktu kecil melihat mereka datang dengan jip hijau plat merah dan sangat dihormati.

Secara negatif, anak-anak kehilangan jam belajar, kemudian secara sadar atau tidak sadar, anak-anak itu melihat dan terpatri dalam otak mereka bahwa pejabat harus diprioritaskan dan didahulukan di jalan raya, meskipun hal ini memang sudah tertulis di peraturan resmi.

Anak-anak jaman sekarang sebaiknya diberikan sebuah pemahaman dan dilibatkan dalam contoh nyata dalam format yang kreatif, bahwa menjadi pejabat bukan pada konteks untuk mendapat prioritas dan kehormatan, namun lebih menjadi pemimpin sekaligus pelayan masyarakat untuk membawa masyarakat menjadi lebih sejahtera.

KBBI IV Daring

BennyChandra.com Ben

KBBI IV Daring: Kamus Besar Bahasa Indonesia Keempat versi daring oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia. The post KBBI IV Daring appeared first on BennyChandra.com.

[ » ]

Keharusan Merespon Chat

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Sekarang banyak orang yang terjebak dalam keharusan merespon pesan-pesan yang muncul di aplikasi chat (seperti WhatsApp / WA, Telegram, dan sejenisnya). Setiap ada pesan yang muncul di program chat tersebut, maka dia merasa harus merespon dengan segera. Kalau tidak merespon, maka dia merasa tidak enak dengan orang yang mengirimkan pesan tersebut. Akibatnya, orang yang banyak memiliki group di WA atau Telegram akan disibukkan dengan merespon pesan-pesan tersebut sehingga dia terlalu fokus kepada handphonenya. Tidak memperdulikan sekelilingnya di dunia nyata.

Aplikasi chat sebetulnya didesain untuk komunikasi asinkron. Maksudnya, pihak-pihak yang berkomunikasi TIDAK HARUS online pada saat yang sama. Ini berbeda dengan telepon, yang mana kedua belah pihak yang bertelepon harus ada pada saat yang sama. Yang ini disebut sinkron. Artinya, pengguna aplikasi chat tersebut tidak harus merespon dengan segera karena sesungguhnya dia asinkron.

Kalau dahulu sebelum ada aplikasi WA/Telegram itu kita sebenarnya sudah mempunyai SMS yang juga sifatnya asinkron. Tetapi karena SMS itu berbayar, maka pihak-pihak yang berkomunikasi sadar bahwa respon tidak harus segera dan harus dipikirkan dulu. Bayar soalnya. Respon harus singkat dan kalau bisa tidak banyak-banyak. Mahal. Sekarang aplikasi WA/Telegram dapat dianggap “gratis”, meskipun sesungguhnya kita bayar akses internetnya. Gratis ini karena dilihat bayarnya bukan dari jumlah pesan yang kita kirim atau terima. Akibatnya “tuntutan” menjawab segera dan banyak itu terasa ada. Kenapa kamu tidak membalas segera? Kan gratis.

Usul saya, kita harus menggunakan aplikasi WA/Telegram itu secara wajar saja. Jika perlu direspon segera, ya segera. Tetapi kebanyakan pesan di WA/Telegram – terutama di group-group yang tidak terlalu penting, yang hanya ngobrol ngalor ngidul – tidak perlu harus direspon segera. Tahan diri untuk berkomentar. Seperti di dunia nyata, Anda juga tidak perlu harus berkomentar (dan cerewet) untuk semua hal. Yang wajar-wajar saja. Secukupnya saja.

Berikan waktu yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan berinteraksi di dunia nyata.


Filed under: Curhat, Opini, Teknologi Informasi Tagged: Curhat, opini, postaday2016, Teknologi Informasi

Keamanan Aplikasi Pokemon Go

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Saat ini aplikasi Pokemon Go sedang mendapat sorotan. Aplikasi ini membuat berbagai “kegaduhan” di berbagai negara. Pengguna atau pemain aplikasi Pokemon Go ini sering terlalu serius dalam berburu monster (Pokemon) sehingga melupakan berbagai aspek, termasuk keselamatan dirinya. Saya jadi ingat masa kecil bermain layang-layang dan berburu layangan yang putus ke jalan tanpa mengindahkan keselamatan diri. hi hi hi.

Di Indonesia sendiri aplikasi Pokemon Go ini belum diluncurkan secara resmi, tetapi ini tidak menghalangi orang-orang untuk mencari aplikasi dari tempat-tempat yang tidak resmi. Jumlah pemain Pokemon Go dari Indonesia ini belum diketahui secara resmi, tetapi jumlahnya pasti *BANYAK SEKALI*. (Sampai saya tulis dengan huruf besar dan bold. ha ha ha.)

Tulisan ini akan menyoroti masalah keamanan (security) dari aplikasi Pokemon Go karena saat ini mulai muncul berbagai isyu tentang keamanannya. Bahkan tadi saya mendengar berita tentang adanya larangan bagi Polisi & Tentara untuk menggunakan aplikasi Pokemon Go ini sehingga ada yang kena razia segala. Sebelum ini menjadi hal-hal yang terlalu berlebihan (kasihan yang terkena razia), nampaknya perlu saya buat tulisan ini. Jadi ini latar belakangnya.

Beberapa hal yang menjadi alasan keamanan aplikasi ini, antara lain:

  1. Aplikasi menggunakan GPS untuk mengetahui lokasi (koordinat) pengguna. Lokasi ini dikirimkan ke server untuk digunakan sebagai bagian dari permainannya. Dikhawatirkan pihak pengelola server menggunakan data ini untuk hal-hal yang tidak semestinya (surveillance, misalnya).
  2. Aplikasi mengunakan kamera untuk mengambil gambar (foto, video) tentang lokasi sebagai bagian dari permainan. Dikhawatirkan data ini (foto, video) dikirimkan ke pengelola untuk hal-hal yang negatif juga. Bagaimana jika lokasi kita merupakan tempat yang sangat sensitif (rahasia)?

Itu hal-hal yang muncul di berbagai diskusi. Sebetulnya ada hal-hal lain yang juga dikhawatirkan tetapi menurut saya hal ini belum tentu benar, misalnya

  1. Aplikasi digunakan oleh Pemerintah Amerika Serikat (dalam hal ini CIA) untuk memantau orang-orang Indonesia. Untuk hal ini, langsung saya tanggapi saja. Tidak benar! Atau, belum tentu benar. Jadi begini. Aplikasi Pokemon Go dijalankan oleh sebuah perusahaan swasta. Perusahaan ini sangat menghargai kerahasiaan data penggunanya. Umumnya perusahaan tidak suka menyerahkan data ini ke pemerintah. Meskipun mereka kadang menjual data ini untuk keperluan bisnis lainnya (iklan, misalnya). Jadi, secara umum, perusahaan Nintendo tidak bekerjasama dengan CIA. (Catatan: di sisi lain, pihak intelligence Amerika memang terkenal melakukan penyadapan-penyadapan terhadap perusahaan-perusahaan Amerika juga. Jadi boleh jadi terjadi penyadapan, tetapi ini biasanya tanpa sepengetahuan perusahaan sendiri. Jadi terjadi spy-and-contra-spy antara mereka. Adu kepintaran. Untuk hal ini, memang terjadi. Ada beberapa catatan saya yang saya diskusikan di kelas Security yang saya ajarkan di ITB.)
  2. Pokemon Go dikembangkan oleh orang yang anti Islam. Wah ini sudah kejauhan teori konspirasinya. Alasannya karena banyak Pokemon di masjid. Jawaban terhadap hal ini adalah database untuk penempatan Pokemon itu berasal dari data aplikasi Ingress yang dikembangkan oleh Niantic Labs, perusahaan yang membuat kedua aplikasi tersebut. (Silahkan gunakan Google untuk mencari “Pokemon Ingress”.) Kebetulan saja, masjid adalah tempat banyaknya orang berkumpul dan terdata di Ingress. Itu saja. Jadi tidak ada konspirasi di sini.

Mari kita ke permasalahan utamanya. Apakah aplikasi Pokemon Go ini aman atau berbahaya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut harus dilakukan penelitian yang lebih mendalam, tetapi saya dapat mengajukan analogi seperti ini. Aplikasi Pokemon Go memang menambahkan celah keamanan (security hole), tetapi saat ini pun Anda sudah memiliki security hole yang lebih besar. Jadi kalau Anda mempermasalahkan keamanan dari celah lubang udara, sementara pintu rumah Anda sendiri sudah terbuka lebar, ya kurang tepat. You already have bigger problems.

Apa saja “masalah-masalah” yang sudah ada tersebut? Ada banyak, contohnya:

  1. Ada banyak aplikasi lain yang menggunakan GPS. Di Indonesia ada aplikasi Waze, Google Maps, Nike+, Swarm, Instagram, Twitter, Facebook, Go-Jek, dan seterusnya. Jika penggunaan GPS dipermasalahkan, maka aplikasi-aplikasi tersebut sama statusnya. Bahkan mereka lebih “mengerikan” dalam hal memberikan data ke penyedia jasa aplikasi tersebut.
  2. Ada banyak aplikasi yang menggunakan kamera; instagram, facebook, path, dan seterusnya. Orang Indonesia terkenal dengan potret-memotret dengan handphone, selfie. Beberapa aplikasi tersebut juga sudah menggabungkan informasi dari GPS untuk menandai lokasi dimana foto diambil. Ini juga sama statusnya dengan aplikasi Pokemon Go.
  3. Anda menggunakan layanan publik seperti Gmail, Yahoo!, dan seterusnya. Maka ini juga dapat dianggap sebagai “masalah”. Mereka malah menyimpan data email Anda. Jika Anda (dan bahkan instansi Anda) menggunakan layanan email-email ini, malah ini justru lebih berbahaya daripada aplikasi Pokemon Go. (Perhatikan bahwa ada banyak instansi pemerintahan yang menggunakan layanan ini!)
  4. Ketika memasang aplikasi Pokemon Go, aplikasi diperkenankan mengakses akun Google (Gmail) Anda secara penuh. Ya ini tergantung kepercayaan Anda kepada pengelola aplikasi Pokemon Go.  Lagi pula, dari mana Anda tahu bahwa aplikasi tersebut tidak tersusupi oleh virus / malware? Kan Anda belum mendapatkan itu secara resmi. Nah lho

Solusi?

Untuk orang-orang yang bekerja di lingkungan tertentu yang membutuhkan keamanan (Militer, Polisi, Penegak Hukum, dst.) maka seharusnya mereka menggunakan handphone khusus; secure handphone. Untuk pekerja seperti itu, mereka tidak boleh menggunakan handphone yang dijual secara umum dan tidak boleh menggunakan aplikasi yang belum disertifikasi. (Sebetulnya kami sudah mampu mengembangkan secure handphone sendiri. Silahkan hubungi kami untuk informasi lebih lanjut. Saya tidak ingin beriklan di tulisan ini.) Saat ini saya juga sedang membimbing mahasiswa (level S3) yang meneliti tentang secure mobile phone dan aplikasinya. Saya juga sedang terlibat pembahasan tentang evaluasi keamanan handphone beserta aplikasinya. Tunggu tanggal mainnya untuk yang ini ya.

Oh ya, jika para pembaca belum mengetahui latar belakang saya, memang salah satu bidang yang saya geluti adalah security.

Untuk orang-orang biasa? Ya, anggap saja Pokemon Go sebagai pemainan yang tidak aman. Kalau memang tidak ada yang dirahasiakan di handphone Anda dan dalam kehidupan Anda, nikmati saja. Tapi sadar saja bahwa tidak ada perlindungan keamanan di sana. Sama seperti aplikasi-aplikasi lainnya, termasuk media sosial yang Anda gunakan (Facebook, Path, Instagram, Twitter, dan seterusnya).

Jadi, sudah berhasil menangkap berapa Pokemon?


Filed under: Opini, security, Teknologi Informasi, TI Tagged: opini, Pokemon, postaday2016, security, Teknologi Informasi

Ini Pokemon Ku

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Sekarang sedang heboh aplikasi permainan Pokemon Go. Banyak sekali orang yang menggunakan aplikasi tersebut meskipun secara resmi belum beredar di Indonesia. Saya sendiri tadinya mau ikutan pasang dan main, tetapi kata anak saya jangan dulu. Nanti kalau banyak yang melanggar, Indonesia bisa diban sama mereka. Jadinya belum main.

Nah, mainan “Pokemon” yang selalu saya mainkan adalah ini … hi hi hi.

IMG_0890

Sebetulnya permainan ini namanya Onet. Pasti banyak yang sudah tahu ya? Mainnya adalah mencocokkan gambar yang sama bersebelahan. Kebetulan saja gambarnya adalah Pokemon. (Sebetulnya ada gambar yang lain, tetapi saya memilih yang Pokemon. Saya sudah bertahun-tahun memainkan permainan ini di iPad saya. hi hi hi.

Gak mau kalah, saya juga main “Pokemon” kok. Tapi bukan yang “Go”. hi hi hi.


Filed under: games, iseng, Teknologi Informasi Tagged: games, iseng, postaday2016, Teknologi Informasi

Mengukur Kebugaran Diri

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Sebagai salah satu early adopter dari teknologi, saya menggunakan smart band. Itu lho gelang elektronik. Saya menggunakannya untuk memacu diri agar rajin berolah raga. Kerennya adalah agar menjaga kebugaran diri. hi hi hi.

Gelang elektronik yang saya gunakan adalah Mi Band. Pada awalnya saya menggunakan Mi Band milik anak saya yang tidak terpakai. Kala itu saya hanya ingin mencoba saja apakah nyaman menggunakan gelang terus menerus. Seperti menggunakan jam tangan terus menerus. Ternyata dia tidak mengganggu.

13724837_10153708150076526_5986811014591242222_oYang menarik bagi saya adalah gelang elektronik memaksa saya untuk berjalan. Berapa langkah jalan yang sudah saya lakukan hari ini? Langkah ini dapat dikonversikan menjadi jarak (dalam satuan Km.) Saya bisa melihat statistiknya dan membandingkannya dengan hari-hari sebelumnya. Secara umum saya menggunakan target 8000 langkah/hari. Ini sayangnya tidak tercapai setiap hari. ha ha ha. Target ini hanya tercapai ketika saya berolah raga futsal. (Lihat gambar. Itu adalah statistik saya hari ini setelah selesai bermain futsal.)

Gelang elektronik yang saya gunakan saat ini adalah Mi Band 1S. Yang sebelumnya, yang punya anak saya, rusak karena jatuh ketika main futsal dan tidak berfungsi lagi. Yang saya gunakan kali ini adalah pemberian dari pak Djarot Subiantoro. Terima kasih pak. (Tadinya saya mau beli Mi Band 2 yang baru keluar.)

Sebelum menggunakan Mi Band ini saya menggunakan aplikasi Nike+ di handphone untuk melakukan itu. Hanya dia membutuhkan GPS, sehingga tidak dapat melakukan pencatatan jika saya berada di dalam gedung (misal sedang main futsal). Yang ini masih saya pakai ketika saya berjalan di luar. Oh ya, jeleknya aplikasi yang di handphone ini (karena menggunakan GPS) dia boros dalam penggunaan handphone. Sementara yang Mi Band ini dapat dicharge 2 minggu sekali.

Ayo berolah raga …


Filed under: sports, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: olah raga, opini, postaday2016, sports, Teknologi Informasi

Sleep on it

Kemas Antonius Kemas Antonius

Fully agree with this article, http://avc.com/2016/07/sleeping-on-it/.

One of my best life lessons. I have been through this several times.

Please read the comments below the article. There are so many valuable insights and experience that are worth having in life. And you get them all for free without going through it one by one in hard ways.

So, ‘sleep’ sufficiently.


Filed under: Interesting Articles, Quick Posts

Buku Zero to One

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Horeee … Selesai baca satu buku lagi. I’m on a roll. Lagi lancar baca buku. Setelah beberapa hari yang lalu menyelesaikan satu buku, barusan selesai baca satu buku lagi. Buku yang baru selesai saya baca adalah “Zero to One” karangan Peter Thiel.

zero-to-one-cover-art

Buku yang ini sebetulnya sudah lama dimulai bacanya, tetapi tidak selesai-selesai. “Masalahnya” (kalau bisa disebut masalah) adalah banyak poin-poin bagus di dalam buku ini sehingga saya harus berhenti dan meresapi poin itu. Baca lagi, berhenti lagi, mikir dulu. Setelah beberapa hari, baca lagi, berhenti lagi, dan seterusnya. Itulah yang menyebabkan lambatnya selesai membaca buku ini. Jadi, buku bagus justru membuat lambat selesai bacanya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana membuat perusahaan (startup) yang bagus. Peter Thiel ini dikenal sebagai salah satu pendiri dari PayPal. Sekarang PayPal sudah mereka jual. Pendiri-pendiri PayPal dikenal sebagai “Mafia PayPal” dan mereka kemudian mendirikan berbagai perusahaan yang juga sama (atau lebih) sukses; YouTube, Tesla, SpaceX, dan seterusnya. (Salah satu yang sekarang sedang ngetop tentunya adalah Elon Musk.)

Apa itu “0-to-1”? Maksudnya zero (0) adalah tiada. Tidak ada. Sementara zone (1) adalah ada. Jenis perusahaan yang didirkan sebaiknya adalah yang memberikan layanan atau membuat produk yang dahulu belum ada. Sebagai contoh, dulu belum ada sistem operasi komputer maka kemudian ada Microsoft yang membuat sistem operasi MS-DOS. Dahulu belum ada tempat orang kongkow-kongkow online, sekarang ada Facebook. Kalau membuat kantor cabang dari sebuah usaha yang sudah ada (membuka di kota lain, di negara lain) itu namanya dari “1” ke “n“. Ini tidak terlalu menarik.

Startup yang sukses adalah yang membuat sesuatu yang baru. Jadi jika ada yang ingin membuat sesuatu yang mirip Facebook, Twitter, Google, atau sejenisnya akan sulit untuk sesukses mereka. The next big thing tidak mungkin search engine seperti Google, misalnya.

Selain membuat hal yang baru, buku ini juga menguraikan apa-apa kunci kesuksesan lainnya. Misalnya, kalau kita membuat sebuah produk (teknologi) yang mirip dengan yang sudah ada seperti sekarang maka dia harus minimal 10 kali lebih hebat dari yang sudah ada. (Istilahnya adalah “one fold better”.) Kalau hanya lebih bagus, 20% lebih bagus atau bahkan dua kali lipat lebih bagus, tidak cukup untuk menarik orang ke produk kita. Poin ini juga menarik.

Selain poin di atas, masih banyak poin-poin lain yang penting. Itulah sebabnya saya banyak berhenti membaca buku ini. Mencoba mencerna dahulu poin yang dimaksud. Apa saja poin-poin yang dibahas? Silahkan baca bukunya.

Pokoknya buku ini adalah bacaan wajib bagi yang ingin membuat Startup. Sangat direkomendasikan.

 


Filed under: Bisnis, buku, creativity, e-commerce, entrepreneurship, management, marketing, Start-up, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: Bisnis, buku, entrepreneurship, postaday2016, Start-up, startup, teknologi, Teknologi Informasi

Ngeblog Dengan Tablet

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Di jalan. Gak punya akses ke komputer. Terpaksa ngeblog dengan tablet. Susah banget.

[update]

Nah, sekarang begitu ada akses ke komputer (pinjam), baru diedit kembail tulisannya. Tadinya acak adut.  Masalahnya ternyata tadi ada banyak; internet yang terbatas (lambat), tablet yang mungkin juga makin (terasa) melambat, aplikasi browser di tablet yang juga mungkin belum terbaru, tidak terbiasa mengetik di layar (butuh keyboard fisik), dan seterusnya. Pokoknya ada banyak alasan saja. Tapi betulan alasan.

Dahulu pernah juga mencoba aplikasi wordpress di tablet, tetapi aplikasinya buggy sehingga tulisan juga sulit diedit kembali.

Ternyata yang paling sulit bagi saya adalah mengetik di layar. Nampaknya harus beli keyboard portable yang bisa digunakan untuk iPad dan handphone (Android). Ada saran?


Filed under: Curhat, Teknologi Informasi, TI Tagged: Curhat, postaday2016, Teknologi Informasi

Oleh-oleh Nuoqi Milk Soft Candy

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Permen Nuoqi Milk Soft Candy ini kami beli di Dried Food Market di Thailand, permen ini berisi semacam gummy jelly dengan berbagai rasa, yaitu jagung, anggur, stroberi, delima, semangka, dan mangga. Nah, gummy jelly ini dibalut dengan susu putih chewy yang lembut sehingga rasanya enak ketika dikunyah. Untuk packing yang 380 gram isi 100 kami tebus dengan harga 130 THB

Dried Food Market yang dimaksud adalah tempat di pertengahan perjalanan antara Pattaya dan Bangkok, bentuknya adalah sebuah toko oleh-oleh yang mirip dengan toko oleh-oleh di Indonesia yang menjual berbagai makanan kering khas Thailand yang bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Snow: Snapchat’s copy

Orangescale.NET Thomas Arie

I’m on Snapchat. Yes, that Snapchat. Since it’s banned in South Korea, the users from South Korea should have an alternative. And, there is Snow. Snow shares similar features with Snapchat.

…it is also gaining traction in China, where the country’s 700 million users make up the world’s largest internet market. There, Snow has a major advantage: Snapchat is blocked in China.

It’s available for iOS and Android.

Android N is… Nougat

Orangescale.NET Thomas Arie

I think more people think that Android N will have Nutella as its new name. But, recently Android announced that the official name for Android N is Android Nougat.

Wait, Nougat? I personally not familar with this. According to Wikipedia:

Nougat is a family of confections made with sugar or honey, roasted nuts (almonds, walnuts, pistachios, hazelnuts, and macadamia nuts are common), whipped egg whites, and sometimes chopped candied fruit. The consistency of nougat is chewy, and it is used in a variety of candy bars and chocolates. The word nougat comes from Occitan pan nogat (pronounced [ˈpa nuˈɣat]), seemingly from Latin panis nucatus ‘nut bread’ (the late colloquial Latin adjective nucatum means ‘nutted’ or ‘nutty’).

And, here’s a picture.

ng01851-082-018rq0w8r1 Image source: http://toetenzo.nl/?p=315

Codemoji

BennyChandra.com Ben

Codemoji: Aplikasi edukasi berbasis Web dari Mozilla untuk mengkampanyekan enkripsi dengan menggunakan emoji. The post Codemoji appeared first on BennyChandra.com.

[ » ]

Mencari Jasa Laundry Kiloan di Bangkok

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Perjalanan keliling sebagian Asia Tenggara seminggu yang lalu memberikan tantangan tersendiri, terutama mengenai bekal yang perlu dibawa untuk keperluan perjalanan. Idealnya, barang yang dibawa haruslah selengkap mungkin, namun juga batasannya adalah kepraktisan dalam berpindah tempat. Barang yang lengkap akan memerlukan ukuran koper yang besar, dan tentu saja akan memberatkan dalam mengangkut ke sana kemari. Kami membatasi bawaan dengan koper dengan ukuran kecil.

Standar perjalanan kami yaitu membawa pakaian secukupnya untuk keperluan 3 - 4 hari, dengan asumsi seperti waktu di Hong Kong, kami memasrahkan baju untuk dicuci di laundry kiloan. Untuk Sio yang masih bayi, kami mencoba menghitung jumlah susu dan diapers dengan seakurat mungkin untuk keperluan 6 hari 5 malam.

Di Singapura, banyak layanan laundry DIY (do it yourself) di mana kita tinggal memasukkan koin uang SGD dan mesin cuci berjalan secara otomatis dan pakaian selesai dengan kering. Karena terlena dengan jalan-jalan di luar, akhirnya selama 3 hari 2 malam itu kami tidak mencuci baju di Singapura, padahal tempatnya hanya 300 meter dari hotel.

Untuk alas kaki, saya tidak membawa sandal, dan mempercayakan pada salah satu model sepatu North Star dari Bata yang tipis dan sirkulasi udaranya bagus, sehingga lebih aman dari bau. Intinya, kami mencoba membawa barang yang benar-benar diperlukan saja, dan menyisihkan barang yang sudah ada substitusinya, seperti mengenai memilih salah satu antara sandal dan sepatu tadi.

Kembali kepada pakaian, di Bangkok selama 4 hari 3 malam itu kami berpindah hotel setiap malam, dan selalu tiba malam karena mengikuti tur yang sudah dijadwalkan. Di sore hari pertama tiba di Bangkok, saya keliling di dekat hotel dan mendapati banyak laundry kiloan, namun apa dikata, kalau malam mereka sudah tutup, dan kemungkinan kecil mereka mau lembur untuk bisa diambil pagi sebelum jam 6, karena jam 7 kami sudah dijemput bus untuk menuju ke tempat-tempat wisata. Di hotel, staf yang standby tidak lebih dari 10 orang saja, mulai dari security, bell boy, resepsionis, dan room service. Petugas laundry juga diketahui sudah kembali ke rumah masuk ke dalam peraduan mimpinya. Selain itu, laundry di hotel menerapkan biaya yang nyaris sama dan bahkan lebih mahal dengan harga kaos dan celana yang mau dicuci ;)

Harga laundry Hotel Dynasty Bangkok

Solusinya? Lari ke 7 Eleven beli Rinso (saya yakin saja namanya Rinso, karena bungkusnya persis, hanya tulisannya menggunakan aksara Thailand, aromanya khas dan sama-sama produksi Unilever). Pakaian direndam dan dikucek pakai air panas dari wastafel di kamar mandi hotel. Ini dia penampakannya.

Rinso Thailand
Tinggal peras sampai bersih, dan di 'spin' menggunakan tangan dengan kecepatan layaknya latihan kung fu, maka baju menjadi setengah kering dan tinggal diangin-anginkan setengah malam di keringnya angin dari AC kamar hotel. Paginya, baju sudah siap untuk diseterika dan dipakai kembali. Tips lain yang bisa dilakukan adalah jika di hotel ada kulkas mini, taruh saja di belakangnya, maka akan lebih cepat kering karena hangat. Dalam rangkaian perjalanan ini, saya sempat menganginkan cucian kaos kaki di Singapura dengan hairdryer yang ada di hotel dan berhasil kering dalam waktu kurang dari 3 menit.

Demikianlah penyelesaian atas petualangan kami mencari jasa laundry kiloan di Bangkok yang mungkin bisa diterapkan juga di tempat lain dalam keadaan darurat.

Jalan-Jalan Wisata ke Johor Bahru di Malaysia, Singapura, dan Bangkok-Pattaya di Thailand

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Pada tanggal 19 - 24 Juni 2016, kami sekeluarga mengambil off selama seminggu untuk mengisi liburan sekolah dengan mencari pengalaman baru dengan mengunjungi 3 negara, yaitu Malaysia, Singapura, dan Thailand. Perjalanan ini tergolong agak spontan, karena keputusan diambil hanya beberapa minggu sebelum keberangkatan.

Sebenarnya, pengalaman ke Malaysia dan Singapura bukan merupakan pengalaman baru, karena kami sudah mengunjungi beberapa kali di tahun-tahun sebelumnya, baik dalam rangka sekedar jalan-jalan, maupun keperluan bisnis. Tahun 2010 yang lalu saya juga sempat melakukan perjalanan ke Thailand.

Nah, dimulai dari awal, kami sejatinya ingin pergi ke Bangkok sekeluarga berempat (2 dewasa 1 anak dan 1 bayi) untuk sekedar mengurangkan jatah miles Garuda yang mau expire, karena aturan baru dari Garuda Miles, mileage akan kadaluarsa jika tidak dipakai selama 3 tahun. Nah, selama 3 tahun ini saya belum pernah menebus award ticket dari Garuda. Berdasarkan hitungan, jumlahnya cukup untuk PP 3 orang dengan rute Jakarta (CGK) - Bangkok (BKK), jadi tinggal memikirkan Yogyakarta (JOG) - Jakarta (CGK) PP. Nah, karena rencana ini terpapar ke keluarga, jadilah orang tua dan adik-adik ingin ikut dengan biaya sendiri. Karena mileage tidak cukup untuk bertujuh, akhirnya kami mencari maskapai low cost, dengan permintaan agar bisa mengunjungi Singapura, karena mereka belum pernah ke sana.

Setelah kutak katik rute, kami mencoba untuk mengambil rute Jogja-Singapura-Bangkok-Jakarta-Jogja. Ternyata, harga tiket dari Jogja ke Singapura hari itu di atas 1 juta rupiah. Padahal, biasanya tiket promo berada di antara 400 - 700 ribu rupiah. Ternyata, tanpa sengaja, pada hari yang sama kami dapat info bahwa tiket dari Jogja ke Johor Bahru baru sedang promo, dan kami mendapatkan di harga 269 ribu per kursi, belum termasuk pemilihan kursi, bagasi dan makanan. Bagasi juga beli secukupnya, dan untuk makanan tidak diperlukan karena memasuki bulan Ramadan dan kami juga sudah makan siang. Setelah mencari berbagai kombinasi biaya paling murah, rutenya kemudian berubah menjadi Jogja - Johor Bahru. Singapura - Bangkok BKK, Bangkok DMK - Jakarta, dan Jakarta - Jogja.

Nah, sharing pengalaman perjalanan yang ingin saya ceritakan kurang lebih adalah seperti ini:

Perjalanan Bangkok Don Mueang - Jakarta - Jogja

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Foto bersama di Don Mueang Airport Bangkok
Karena tema dari perjalanan ini adalah budget travel alias perjalanan hemat, maka kami membeli tiket dengan rute putus. Artinya antar penerbangan tidak tersambung, tentu saja dengan resiko jika ada hambatan di penerbangan sebelumnya, maka akan bisa berdampak pada resiko tertinggal penerbangan berikutnya tanpa ada kompensasi dari maskapai sebelumnya. Faktor lainnya adalah, maskapai low cost tidak banyak yang menyediakan tiket connecting dengan ketibaan pada hari yang sama. Entah bagaimana, jika kita mengambil tiket connecting, mereka seolah 'memaksa' kita untuk menginap setidaknya semalam di kota transit, entah di Singapura, Kuala Lumpur, atau Jakarta. Artinya, jika harus menginap akan menambah biaya hotel. Kalau, tidak sedang bersama anak-anak, mungkin tidur di bandara adalah pilihan hemat yang bisa diambil.

Penerbangan kami adalah Indonesia Air Asia X nomor penerbangan XT-251 keberangkatan dari Bangkok Don Mueang (DMK) tanggal 24 Juni jam 11.25 tiba di Jakarta (CGK) jam 14.45, dilanjutkan dengan Batik Air ID-6366 berangkat dari Jakarta (CGK) jam 18.30 tiba di Yogyakarta (JOG) jam 19.30. Selisih antar penerbangan 3 jam kami anggap aman untuk mengantisipasi delay maupun antrian imigrasi dan pindah dari terminal 3 ke terminal 1. Untung saja penerbangan tepat waktu dan nyaris tidak ada antrian imigrasi di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Dengan demikian, kami tidak terburu-buru ketika melapor ke penerbangan berikutnya.

Penerbangan berikutnya ke Jogja juga tepat waktu, dan kami tiba di rumah sekitar jam 20.00 GMT+7, dilanjutkan dengan persiapan packing, karena hari minggu sudah pergi lagi ke Makassar selama 5 hari.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

Melihat Nanta Show di Bangkok

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Dalam perjalanan dari Pattaya ke Bangkok, jalan agak macet, sehingga kami tiba jam 19.00. Akhirnya, kami urung ke MBK untuk melihat-lihat suasana maupun barang yag dijual di pusat perbelanjaan itu. Kami akhirnya masuk ke resto di sebuah hotel untuk makan malam selama kurang lebih 45 menit, kemudian melanjutkan ke Nanta Show.

Cookin Nanta adalah pertunjukan hiburan dengan tema masak memasak. Pertunjukan ini dimulai pukul 20.00 GMT+7. Pertunjukan ini dibalut dengan komedi yang menyenangkan, dan penonton dibuat tertawa dengan tingkah laku 5 orang aktor yang bertingkah kocak dengan menampilkan atraksi yang lucu.

Selesai menonton Nanta Show, kami kembali check-in ke Dynasty Hotel Bangkok untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta esok hari.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

Floating Market Pattaya, Silverlake, dan Dried Food Market

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Silver Lake Pattaya
Dalam kepulangan kembali ke Bangkok dari Pattaya, kami mengunjungi Floating Market di Pattaya. Floating market semacam ini di Indonesia ada juga di Banjarmasin, di mana transaksi jual beli barang dilakukan di atas perahu di pasar sungai. Bedanya, pasar terapung di Thailand sudah diubah rancangannya untuk menerima kunjungan turis dan ada loket untuk mendata turis yang masuk ke pasar terapung ini.

Dalam perjalanan menuju ke pasar terapung, kami berhenti di Silverlake untuk sekedar berfoto selama kurang lebih 15 menit. Daerah ini adalah milik perseorangan dan dibuat dengan bentuk perkebunan anggur dan bangunan dengan gaya arsitektur Italia.

Salah satu makanan favorit yang ada di pasar terapung Pattaya adalah ketan mangga (mango sticky rice). Makanan ini adalah khas Thailand, namun di Indonesia juga banyak yang menjualnya. Dalam perjalanan kembali ke Bangkok, kami mampir di tempat oleh-oleh yang menjual berbagai macam makanan kering khas Thailand. Jangan kuatir dengan masalah pemuatan di koper, karena tersedia layanan packing gratis dengan dus yang aman, disediakan untuk pembelian di atas 1000 Baht.

Waktu sudah sore, sehingga kami sudah tidak sempat lagi mampir ke MBK untuk melihat mall yang merupakan pusat belanja murah di Bangkok.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

Gems Gallery Pattaya dan Nong Nooch Village

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Hari ke-3 perjalanan Bangkok - Pattaya, kami mengunjungi Gems Gallery Pattaya, dan di sana kami naik kereta listrik untuk melihat proses penambangan dan pembuatan perhiasan dengan batu permata secara langsung. Selesai itu, maka tamu diarahkan ke show room besar yang menjual perhiasan dengan batuan berharga, yang memiliki harga yang aduhai.

Setelah semua anggota rombongan masuk ke dalam bus, kami menuju ke Nong Nooch Village untuk melihat pertunjukan tarian tradisional Thailand dan melihat pertunjukan gajah, dilanjutkan dengan makan siang dengan menu tradisional di area yang sama.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

Big Bee Farm Pattaya, Pantai Pattaya dan Art In Paradise

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Memasuki Pattaya, kami wajib mampir ke Big Bee Farm, yaitu peternakan lebah yang besar di Pattaya. Kami diberikan penjelasan mengenai jenis-jenis lebah dan proses budidaya, dan juga mencicipi minuman madu yang dicampur dengan royal jelly, berikut penjelasan mengenai manfaat suplemen makanan ini.

Kemudian, setelah rombongan selesai berbelanja produk madu, kami menuju ke Pantai Pattaya dan berhenti di depan Hard Rock Pattaya untuk sekedar berfoto dan belanja merchandhise.

Area Pattaya ini kecil dan jalannya kebanyakan adalah searah, sehingga kita bisa berputar-putar dalam waktu kruang dari 30 menit. Kami kemudian mengunjungi Art In Paradise yang menyuguhkan lukisan-lukisan di dinding dan di lantai. Para tamu wajib melepas sepatu, karena untuk kebersihan dan juga mencegah adanya goresan di lukisan.

Efek visual ditampilkan di sini, sehingga dalam foto kita seolah-olah berada di dalam gambar lukisan. Selesai mengunjungi Art In Paradise, kami pergi makan malam sambil menunggu sebagian dari anggota rombongan yang mengambil tur optional untuk melihat show banci. Selesai itu kami kemudian check in ke hotel Century Pattaya. Hotel tua yang cukup untuk sekedar beristirahat malam dan berjalan kaki menikmati area Pattaya di sekitar hotel.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

Menyusuri Sungai Chao Phraya, Mengunjungi Wat Traimit dan Wat Arun di Bangkok

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Perjalanan hari ke-2 di Bangkok dimulai dengan mengunjungi Wat Traimit, yaitu Kuil Buddha Emas. Karea tur kami adalah SIC (seat in coach), kami bersama-sama dengan tamu lain dari Indonesia. Ada yang dari Medan, Jakarta, dan Ambon. Masing-masing berada di hotel yang berbeda sehingga harus menjemput satu per satu.

Setelah mengunjungi Wat Traimit, kami masuk ke area Sungai Chao Phraya dan sepakat gotong royong untuk menyewa 1 perahu untuk digunakan secara private, daripada harus berjalan jauh menuju ke Wat Arun. Dalam perjalanan, kami sempat menepi untuk memberi makan ikan patin dengan roti yang sudah disesiakan di perahu. Di Wat Arun, para ibu berbelanja karena infornya di sinilah harga-harga barang paling murah untuk kualitas barang yang sama, dibandingkan dengan membeli di MBK. Para pedagang pun mau dibayar dengan menggunakan Rupiah, sehigga tidak perlu kuatir jika kehabisan uang Baht.

Makan Siang di Nouvo City Hotel

Selanjutnya, kami pergi ke Nouvo City Hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan sembari tidur siang di bus selama 2 jam ke Pattaya.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

Perjalanan ke Bangkok: Dynasty Hotel Bangkok

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Pasar Malam di Ramkhamhaeng Bangkok

Setelah seharian berkeliling Singapura, kami melanjutkan perjalanan ke Bangkok dengan menggunakan maskapai Tiger Air TR-2104 jam 12.30 GMT+8. Perjalanan berangkat pagi atau siang menurut saya adalah perjalanan yang paling pas, karena kita tidak terburu-buru untuk checkout di Singapura dan juga waktunya pas untuk check-in penginapan di Bangkok.

Perjalanan kami cukup mulus, dan kami semua tiba tepat waktu di Suvarnabhumi Airport (BKK). Oh ya, di Bangkok ini, karena kendala bahasa dan juga faktor pertimbangan membawa banyak anggota keluarga, kami memilih untuk tidak tur sendiri, namun menggunakan jasa tur. Biayanya terhitung hemat, untuk keseluruhan tur 4 hari 3 malam, sudah termasuk hotel, kendaraan, makan, dan tipping wajib bagi guide dan driver, biayanya dibulatkan adalah Rp. 1.500.000 per orang, dengan minimum keberangkatan 2 orang.

Di bandara, kami sudah dijemput oleh Ms. Alisa atau bisa dipanggil Ms. Sofia, yang fasih berbahasa Melayu, karena katanya pernah kuliah di Malaysia. Kami diantar ke Dynasty Hotel Bangkok, dan acara kami seharian sampai malam adalah acara bebas. Hotel Dynasty ini adalah hotel yang tua, namun dari segi harga memang murah. Bagi yang mau mandi, ada bathub yang bisa digunakan untuk berendam air panas, Air minum panas disediakan dengan thermos di dalam kamar dan kita bisa mengambil dan mengisi ulang di restoran depan lobi. Kami request connecting room sehingga anak-anak bisa wara-wiri ke kamar opungnya tanpa perlu keluar kamar.

Kamar hotel kami menghadap Kanal Saen Saep, dan kami bisa melihat banyak orang yang naik turun perahu untuk keperluan transportasinya.

Transportasi Sungai di Bangkok

Untuk kuliner, di area hotel ini ada pasar malam yang menyajikan jajanan dan makan dengan harga yang murah.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

Pertunjukan Wonder Full - Light and Water Show Singapura

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko


Pemandangan Singapura bagus juga untuk dinikmati di malam hari. Salah satunya adalah Pertunjukan Wonder Full - Light & Water Show Singapura yang bisa dilihat gratis di area Marina Bay Sands, yang diputar mulai pukul 20.00 dan 21:30. Pada hari Jumat dan Sabtu malam, ada pemutaran tambahan di jam 23.00.

Untuk menuju ke show ini, kami naik MRT menuju Bayfront, dan berjalan menuju ke lokasi show. Pertunjukan yang dimainkan adalah air mancur yang menari yang diproyeksi dengan animasi yang spektakuler. Pertunjukan ini juga bisa dinikmati dari seberang, di area Merlion Park.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

Paket Tur Setengah Hari Keliling Singapura: Merlion Park, Chinatown, Little India

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Tur Bus Keliling Singapura
Kita bisa membeli paket tur harian untuk keliling Singapura di beberapa provider dengan kisaran harga SGD 20 untuk per orang. Kebetulan, selain memperoleh harga hotel paling murah di V-Hotel Lavender, kami juga memperoleh bonus paket jalan-jalan setengah hari keliling Singapura dengan dipandu tur guide dan naik armada bus.

Lokasi kumpul untuk perjalanan ini adalah Mackenzie Heavy Vehicle Coach Park (di samping Mackenzie Used Car Centre, 68 Mackenzie Rd, Singapore 228687) sebelum pukul 09.00 GMT+8. Pada perjalanan pertama, kami menuju ke Merlion Park sambil dijelaskan mengenai tempat-tempat yang kami lewati oleh pemandu. Kebetulan pemandunya juga fasih berbahasa Indonesia, sehingga komunikasinya cukup mudah.

Setelah cukup menikmati Merlion Park, kami diajak ke Chinatown, dan perjalanan berikutnya adalah ke Little India. Hanya saja, di Chinatown kami memilih untuk tetap tinggal dan bersantai di restoran setempat, karena Little India cukup dekat dengan Lavender, dan kami akhirnya pergi dengan berjalan kaki ke sana pada sore harinya.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

Pengalaman Menginap di V-Hotel Lavender Singapura

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

V-Hotel Lavender Singapura
Jika bepergian ke Singapura dan berencana untuk keliling dengan menggunakan transportasi publik seperti MRT, saya sering menginap di V-Hotel Lavender, karena begitu turun di hotel langsung dapat masuk ke pintu Stasiun MRT Lavender dan antara pintu dan tempat masuk kereta cukup dekat. Kalau kita jalan bersama dalam 4 orang, maka taksi adalah pilihan yang bisa dipertimbangkan untuk pergi dalam jarak dekat karena harganya selisih sedikit jika dihitung per orang.

Di bagian bawah banyak kedai makanan dan food hawker, baik yang menyediakan makanan halal maupun non halal. Kamar bersih dan cukup nyaman. Untuk mencari hotel murah di Singapura, saya mencoba situs-situs yang melakukan perbandingan harga hotel seperti Hotels Combined. Dari pengalaman menggunakan pembanding harga hotel, ketersediaan kamar dan harga di hotel dan di hari yang sama antar provider bisa berbeda-beda.

Dari Hotels Combined ini kami memperoleh paket V-Hotel Lavender paling murah dari Asia Travel, yang juga memberikan bonus paket tur keliling Singapura dengan bus dan pemandu.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

Perjalanan Yogyakarta - Johor Bahru - Singapura

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Perjalanan dari Jogja ke Johor Bahru dengan Air Asia AK 1115 yang kami lakukan pada tanggal 19 Juni 2016 sekeluarga merupakan perjalanan transit, karena begitu mendarat di Johor Bahru sekitar jam 17.00 GMT+7, kami langsung naik bus selama kurang lebih 50 menit menuju ke JB Sentral dengan biaya MYR 10 per orang.

Di JB Sentral, kami langsung masuk ke kompleks Imigrasi Malaysia di CIQ Complex untuk keluar dari Malaysia dan masuk ke Woodlands Singapura. Ternyata, perkiraan melintasi imigrasi selama 1-2 jam meleset jauh dari kenyataan, karena antrian di CIQ Complex sangat panjang dan sesak, ditambah antrian bus juga tidak kalah panjang dan sesak. Kemungkinan karena hari Minggu malam banyak yang kembali ke Singapura untuk bekerja di hari Senin, ditambah dengan rombongan yang kembali dari Legoland. Kami masuk ke bus CW1 tujuan ke Kranji MRT dengan kepadatan yang aduhai. Masuk Singapura, antrian juga panjang ditambah sesi tanya jawab antara kami dengan pihak imigrasi untuk memastikan orang asing yang masuk ke negaranya adalah orang yang tidak bermasalah.

Karena lewat jam 23 malam, maka bus penyeberangan sudah berhenti beroperasi, jadi kami antri kembali untuk memperoleh taksi. Untuk biaya taksi ke hotel kami di Lavender, jumlahnya adalah sekitar SGD 25. Kami tiba di hotel jam 24.00 dan makan makan di Kopitiam setempat, lalu tidur manis di kamar masing-masing.

Dari pengalaman perjalanan ini, saran saya adalah jika ke Singapura melalui Johor Bahru bersama keluarga yang ada orang tua dan anak bayi, lalu mendarat di sore hari, akan lebih baik jika menginap di Johor Bahru terlebih dahulu selama setidaknya semalam. Atau, bisa saja sekalian menyewa taksi atau van untuk mengantar sampai ke alamat di Singapura utuk menghindari antrian panjang bus penyeberangan ke Singapura.

Tulisan ini merupakan salah satu dari cerita rangkaian perjalanan keluarga kami melintasi Malaysia, Singapura dan Thailand tahun 2016.

How do I Rate My Uber Trips (in Jakarta)?

Orangescale.NET Thomas Arie

When I visit Jakarta, I usually took Uber as for my ride. So far, I have good experiences with Uber, a company founded back in 2009. I have some basic considerations on taking Uber. First, it’s cashless. This is a good point for my convinient. The second one is that it has applications that works. Last but not least, it’s cheaper compared to the regular taxi. Even sometimes, during the busy hours, Uber has different price.

I like the way Uber keeps its service quality by its rating systems. In most of the time, I gave 4 or 5-star rating for the drivers. But, how do I rate my trip? I will give 5-star rating on these following conditions:

  1. The driver contacts me first to confirm that he wants to pick me up. If I have the notification on my phone that a driver pick my order, I usually wait for one or two minutes while watching his location. Even if it’s still 5-10 minutes, I don’t mind waiting.
  2. The driver greets me and make sure that we both ready to start the trip. “Good morning… Shall we start the ride?” is a simple and nice greeting.
  3. The driver does not ask me for direction. Even I have Google Maps on my phone and I can see the route — and I know how to get to my destination, I prefer to the driver to start the trip without asking for route. But, if since there are many route alternatives, I appreciate if the driver give me suggestion for example due to the traffic.
  4. After arriving on the destination, if the driver reminds me to check my belongings and says ‘thank you’, I really appreciate that.

Simple.

Pi MusicBox

Orangescale.NET Thomas Arie

Pi MusicBox: Make Raspberry Pi stream — With Pi MusicBox, you can create a cheap (Sonos-like) standalone streaming music player for Spotify, Google Music, SoundCloud, Webradio, Podcasts and other music from the cloud. Or from your own collection from a device in your network. It won’t drain the battery of your phone when playing. The music won’t stop if you play a game on your phone.

BlackBerry may exit smartphone business

Orangescale.NET Thomas Arie

BlackBerry makes $670m loss as it considers smartphone exit.

For the three months to end of May, the company reported a $670m (£450m) loss, compared to a $73m profit a year earlier and and a $256m loss in the previous quarter. Although much of the loss was down to restructuring charges, sales also fell to $400m, down 39pc on a year earlier. … BlackBerry has said it will decide whether to stop making phones for good by September.

Chromecast-ed

Orangescale.NET Thomas Arie

27230070703_a8e514ca71_k

I know that it’s been a long time since Google introduced Chromecast. This week, I decided to get my Google Chromecast (2015) for my SONY TV. The setup was easy within minutes. I haven’t installed many apps, but casting YouTube videos from my Android phone, or iPad was super easy. At least, it’s wireless now.

How to remove My Browser Bar

Orangescale.NET Thomas Arie

On my Mac — running on OS X El Capitan (10.11.5), I just remove the Spigot folder located under /Users/thomasarie/Library/Application Support/. There are three files there: ApplicationManager, saebay@mybrowserbar.com.xpi, and searchme@mybrowserbar.com.xpi.

Daftar 3,134 Perda Yang Dicabut Mendagri

Enda Nasution's Quiclinks enda

Dari posting saya di Facebook. Kalau link tidak bekerja check ke bagian comment, ada beberapa teman-teman yang sudah membagikannya di situ. The post Daftar 3,134 Perda Yang Dicabut Mendagri appeared first on Enda Nasution's Weblog.

[[ This is a content summary only. Visit my website for full links, other content, and more! ]]

Watch The Walking Dead if you are depressed

Enda Nasution's Quiclinks enda

I finished binge watching the hits TV show, The Walking Dead from AMC season 1-6! Anything with walkers, roamers and biters will makes a good show IMO when you know how, the story will write itself, and it will be a good emotional roller coaster ride, from people giving up, families tear apart, suicides, betrayal, … Continue reading "Watch The Walking Dead if you are depressed" The post Watch The Walking Dead if you are depressed appeared first on Enda Nasution's Weblog.

[[ This is a content summary only. Visit my website for full links, other content, and more! ]]

Moto 360 2nd Generation Review – Smartwatch terbaik tahun ini

dhiku Dhiku

IMG-20160618-WA0002-01

Perkembangan smartwatch tahun ini semakin menarik untuk diikuti, perusahaan seperti Apple, Pebble, Samsung dan Google tidak mau kalah berinovasi dari sisi desain maupun software. Apple akan merilis WatchOS 3 dengan fitur utama instant launch dan redesign navigasi. Google tidak mau ketinggalan, bulan lalu baru mengumumkan Android Wear 2.0 dengan stand-alone apps, smart reply, dan perbaikan sistem navigasi. Pebble juga baru merilis versi terbarunya di kickstarter yaitu Pebble 2 dan Pebble Time 2 serta produk wearable baru Pebble Core. Samsung juga semakin kompetitif di tahun ini dengan smartwatch Gear S2 dengan OS Tizen dan mendapat review yang positif.

Android Wear mempunyai keunggulan dibanding kompetitornya karena banyaknya pilihan hardware dengan harga yang bervariasi namun software nya tetap sama. Berbeda dengan Android phone yang selalu dimodifikasi oleh manufakturnya, Android Wear ini softwarenya sama persis. Kalaupun beda hanya di aplikasi bawaan atau watchfaces (desain tampilan jam). Android Wear juga sudah compatible dengan iOS, keunggulan ini dulunya hanya dimiliki oleh Pebble. Dari sekian banyak pilihan smartwatch Android Wear yang beredar di Indonesia, salah satu yang menarik adalah Moto 360 2nd Generation. Moto 360 ini baru dirilis resmi oleh TAM sekitar dua bulan lalu dengan empat varian, Black Leather diameter 42mm, Rose Gold 42mm dan Sport 45mm, dan Cognac leather 46mm. Setelah mencoba selama 2 minggu terakhir, berikut ini adalah review Moto 360 2nd Generation Cognac Leather 46mm,

moto indonesia

Desain dan Built Quality yang Premium

Moto 360 yang saya gunakan adalah varian warna silver dan band cognac leather coklat. Desain Moto 360 menurut saya sangat bagus dengan bentuk lingkaran berbahan stainless steel dan bezel yang tipis. Jika diperhatikan lebih detail, chamfered edge di layarnya menambah kesan lebih elegan. Moto 360 juga tidak terlalu tebal, tidak terlihat bulky dan mempunyai slug ke bawah yang membuat jadi terasa lebih pas menempel di tangan. Dengan adanya slug ini, band Moto 360 jadi bisa diganti dengan band jam lain asalkan ukurannya 22mm. Saya menyarankan membeli band dengan quick release supaya bisa gonta ganti dengan mudah. Atau bisa juga tinggal ke toko jam terdekat dan pilih band yang disukai.

Moto 360 juga terasa sangat nyaman ketika digunakan karena bahan band yang lembut dan lentur. Di sebelah kanan atas ada tombol dengan logo Motorola yang terasa solid ketika ditekan dan berfungsi untuk menyalakan atau kembali ke menu utama. Lalu di bagian belakang jam terdapat sensor heart rate untuk mengukur denyut nadi.

20160619_104532

20160619_104824

20160619_104142

Always-on dan beragam pilihan watchfaces

Moto 360 sudah menyediakan beragam pilihan watchfaces yang menarik dan bisa di kustomisasi sesuai selera. Menurut saya pilihan default watchfaces nya lebih bagus dari apa yang disediakan di Apple Watch atau Huawei Watch. Jika bosan, kamu juga bisa membeli aplikasi watchfaces berbayar seperti Watchmaster atau Pujie Black yang menawarkan desain lebih banyak dan berkualitas. Ini contoh beberapa watchfaces favorit saya dari aplikasi Watchmaster.

Screen Shot 2016-06-19 at 11.02.52 AM

Moto 360 juga bisa diatur supaya always-on artinya kita tidak perlu lagi mengangkat jam untuk “mengintip” waktu. Namun karena alasan baterai, ketika tidak digunakan watchface akan lebih gelap (biasa menjadi hitam putih) dan tidak ada pergerakan detiknya, kondisi ini disebut ambient mode. Pendekatan ini lebih baik dibandingkan Apple Watch yang tidak bisa “diintip” dan hanya mendeteksi tap atau gesture untuk melihat jam. Ada juga beberapa watchface yang dalam kondisi ambient mode tidak menjadi warna hitam putih, tapi tentunya akan lebih boros baterai. Di kondisi outdoor, agak susah melihat jam pada kondisi ambient mode karena gelap, tapi jika dalam kondisi layar normal hal ini tidak jadi masalah sama sekali.

Screen Shot 2016-06-19 at 11.19.12 AM

Sebagai jam tangan, tentu sangat menjengkelkan jika harus baterai habis dan harus di charge di tengah hari. Hal ini tidak menjadi masalah buat saya, dengan penggunaan notifikasi yang cukup aktif dan fitur always-on dinyalakan, baterainya bisa dibilang lebih dari cukup untuk aktifitas seharian. Saya mulai sekitar jam 6 pagi kondisi 100%,  ketika malam hari di rumah sekitar jam 8, baterainya masih sekitar 45%-50%. Perlu dicatat juga, Moto 360 ukuran 46mm mempunyai kapasitas baterai lebih besar yaitu 400 mah, sedangkan yang ukuran 42mm kapasitas baterainya hanya 300 mah.

Banyak Pilihan Aplikasi

Dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 400 1.2 Ghz, Moto 360 cukup smooth dan responsif ketika digunakan untuk navigasi menu, membuka notifikasi, menjawab pesan, dan menjalankan aplikasi tambahan. Saat ini ekosistem aplikasi di Android Wear juga sudah semakin lengkap, dimana dua tahun lalu Pebble jauh lebih unggul dalam hal ini. Salah satu keunggulan Moto 360 adalah adanya aplikasi fitness bawaan, Moto Body yang menurut saya lebih baik dibandingkan Google Fit. Moto Body ini bisa menampilkan history dari heart activity, steps, dan total calories burn setiap hari dan bisa share data ke aplikasi fitness lain seperti Fitbit, Strava, Mapmy, Record, dan Google Fit. Selain itu saya juga banyak memasang aplikasi tambahan lain seperti,

  • Mini Launcher, menyediakan shortcut untuk akses aplikasi atau menu di smartphone misalnya mengatur profil suara mute, vibrate, sound atau volume.
  • Wear Audio Recorder, bisa merekam suara dari smartwatch dan hasilnya akan langsung tersimpan di smartphone.
  • Dialer, memudahkan dial nomor telepon dari favorites atau call log, yang saya suka jika dial dari aplikasi ini, otomatis akan menyalakan speaker di smartphone.
  • Wear Calendar, untuk melihat jadwal meeting bukan hanya hari ini saja, tapi bisa melihat jadwal selama beberapa bulan. Saya suka sekali dengan tampilannya yang compact dengan ukuran layar yang kecil.
  • Quran, bisa baca alquran langsung dari smartwatch!
  • Shazam, kalau lagi dengerin lagu yang bagus di cafe, bisa tinggal jalankan aplikasi ini dan bisa tahu judul lagu yang sedang diputar
  • Water drink reminder, penting buat saya untuk mengingatkan minum air putih yang cukup, jika sudah mencapai target aplikasi ini akan berhenti mengingatkan.

Wireless charging

Hal menarik lainnya adalah Moto 360 ini juga menyediakan dock wireless charging. Sangat membantu dan praktis karena Moto 360 perlu di charge tiap malam supaya bisa dipakai seharian besoknya. Terkesan hal yang sepele tapi sebagai pengguna Apple Watch atau Pebble yang harus menghubungkan magnetic charger ke bagian belakang tiap kali mau charge, rasanya ini jauh lebih praktis 🙂  Selain itu ketika dalam kondisi charge, Moto 360 juga berfungsi sebagai jam yang bisa diatur warnanya. Keunggulan lainnya dari dock ini menggunakan micro usb jadi bisa dibawa kemana-mana. Sangat berguna kalau pas lupa charge, tinggal bawa dock nya dan sambungkan ke micro usb charger. Sebagai perbandingan, kabel charger magnetic Apple Watch itu lumayan panjang dan kalau lupa charge terasa lebih merepotkan.

20160619_112516

Kekurangan

Hal yang paling sering menjadi sorotan dari Moto 360 adalah display nya tidak full bulat (atau istilahnya flat tire), hal ini sengaja dilakukan Motorola untuk meletakkan sensor cahaya agar layarnya bisa menyesuaikan cahaya sekitar (auto brightness) tanpa harus manual mengatur brightness. Selain itu ada beberapa sirkuit yang dirancang di lokasi tsb supaya bezel Moto 360 bisa tipis. Bagi saya, display flat tire ini tidak terlalu pengaruh dan mudah diabaikan, apalagi jika menggunakan watch faces yang desainnya gelap. Jika pakai yang desain berwarna putih memang akan cukup terasa tapi tidak mengganggu.

20160619_104719

Kesimpulan

Tidak perlu pikir panjang, Moto 360 merupakan pilihan terbaik buat kamu yang ingin memiliki smartwatch. Soal harga, varian cognac leather diameter 46mm memang dibanderol paling mahal dengan harga Rp 5,79 juta, varian lainnya rose gold 42 mm Rp 5,29 juta, black leather 42mm Rp 4,99 juta, dan sport black 45mm Rp 4,99 juta. Kabar baiknya sejak tulisan ini dirilis saya melihat ada 2-3 kali promo Moto 360 di toko online yang menawarkan diskon sampai 1-2 juta rupiah. Promo yang saat ini sedang berlangsung ada di Bhinneka.com dengan potongan sampai 1.5 juta rupiah. Jika budget terbatas, mungkin Asus Zenwatch 2 bisa jadi alternatif. Saya bilang mungkin karena belum pernah mencoba langsung, tapi hasil review dari om HSW terlihat cukup direkomendasikan.

Handphone (bekas) Sebagai IoT?

Padepokan Budi Rahardjo » Teknologi Informasi Budi Rahardjo

Akhir-akhir ini topik Internet of Things (IoT) sedang naik daun. Berbagai acara saya lihat membahas topik ini. Apa itu IoT? Sederhananya adalah perangkat keras (hardware) kecil yang memiliki berbagai sensor (plus actuator) dan dapat dihubungkan dengan internet. Dengan IoT yang dipasangkan dengan kulkas, misalnya, kita dapat mengetahui status dari kulkas; hidup atau mati, berapa temperaturnya, dan suatu saat isi kulkasnya apa saja. he he he.

IoT itu bentuknya bermacam-macam, bisa dalam bentuk board Arduino sampai ke Raspberry Pi. Itu yang terkenal. Ada lagi yang mulai naik daun, $9 chip dari getchip. Saya sendiri punya beberapa benda ini. Yang ada di meja saya saat ini adalah Intel Galileo. Sore nanti saya dapat board dari Gizwits (webnya dalam bahasa China).

DSC_4519 0001

Setelah saya pikir-pikir, kenapa IoT tidak menggunakan handphone saja? Saat ini banyak handphone bekas yang sudah tidak terpakai karena dianggap kadaluwarsa. Di meja saya saja ada tiga handphone yang sudah tidak saya pakai lagi karena hanya bisa dipakai telepon dan SMS saja. hi hi hi. (Eh, yang satunya sudah smartphone tapi lambatnya luar biasa. Maklum hp lama.) Mereka menungu untuk dioprek.

DSC_4520 0001

Handphone bekas vs IoT board

Handphone memiliki kemampuan komputasi yang tidak kalah. Prosesornya bagus. Bahkan kalau dibandingkan dengan beberapa IoT devices saat ini, handphone komputasinya lebih bagus. Yang menjadi masalah hanya harga saja kan? Lah ini kan handphonenya sudah bekas.

Masalah utama adalah desain dari handphone ini sangat tertutup. Dia memang tidak didesain untuk dioprek. Jadi tidak ada bagian yang bisa dihubungkan dengan kabel ke sensor, misalnya. Input hanya bisa melalui USB (kalau ada) atau melalui port yang propriatary. Cara mengaksesnya pun rahasia. Jadi prinsipnya dia punya potensi untuk dioprek, hanya saja susah mengopreknya karena tidak terbuka.

Mungkin manufaktur hardware handphone bisa melihat ini sebagai celah untuk jualan produk yang sudah kadaluwarsa? Pabrik yang tadinya buat handphone, sekarang buat IoT. Jadi bisa muter lagi.

Sementara itu para hobbyist bisa mulai ngoprek. Gimana?


Filed under: creativity, design, open source, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: hardware, IoT, ngoprek, postaday2016, smartphone, Teknologi Informasi

In-flight Meal Garuda Indonesia

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Salah satu fasilitas maskapai Garuda Indonesia adalah adanya makanan di pesawat yang bisa kita santap. Nah, di website Garuda Indonesia, kita bisa mengatur penerbangan kita dan memesan kursi maupun makanan tanpa biaya tambahan.

Dalam perjalanan Jayapura (DJJ) - Jakarta (CGK) dengan menggunakan GA-651 hari ini (17/6/2016) saya menerima sajian yang saya pesan sebelum terbang dalam 3 segmen rute.

Segmen pertama Jayapura (DJJ) ke Biak (BIK), saya disajikan fruit platter yang beriai buah semangka dan melon. Melanjutkan perjalanan berikutnya dari Biak (BIK) ke Makassar (UPG) saya disajikan makanan vegetarian dengan menu nasi putih, tahu goreng, dan sayur buncis dipadu dengan wortel. Perjalanan dari Makassar (UPG) ke Jakarta (CGK) disajikan fruit platter kombinasi melon dan pepaya.

Jadi, makanan di Garuda Indonesia tidak selalu harus standar sama dengan penumpang lain, tetapi bisa dipesan sesuai dengan pilihan yang tersedia dengan biaya nol rupiah.

Pasar Hasil Pertanian di Kota Jayapura

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Kota Jayapura memiliki Koya, sebuah daerah di dekat perbatasan RI-PNG yang merupakan area minapolitan dan agropolitan yang menjadi tempat budidaya perikanan air tawar dan pertanian. Khusus untuk perikanan, banyak para peternak ikan yang menyulap lahannya menjadi tempat pemancingan, yang tentu saja memberikan hiburan bagi pengunjung sekaligus menjadikan nilai tambah bagi pengelolanya.

Dalam hal hasil bumi, banyak tanaman yang dibudidayakan, seperti: padi, jagung, kacang-kacangan sayur-sayuran, dan buah-buahan. Harganya pun sering tidak mengikuti harga pasaran di Jawa. Kadang lebih mahal, namun tak jarang juga jauh lebih murah. Saya ingat waktu tahun 2008 di Jawa berita hangat mengenai harga cabai 40 ribu rupiah sekilo, di sini dibanderol di belasan ribu. Mungkin karena sedang oversupply.

Nah, jika kita berminat membeli hasil bumi tersebut dari para petani, bisa mengunjungi daerah ini. Mereka menggelar lapak di jalan dari dan menuju Skouw. Ada juga yang sudah siap santap, misal jagung manis rebus dihargai 2 ribu rupiah satu buahnya. Ada juga kacang rebus, tape ketan, tape singkong, keripik tempe, dan jajanan yang lain. Bagi yang di area kota, bazaar sejenis juga diadakan di tanjakan Skyline di bawah tikungan yang disebut Mata Kucing.

Kebiasaan Sarapan di Jayapura

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Jika bicara sarapan, orang-orang di Jayapura dan Papua pada umumnya jarang makan sarapan pagi dengan nasi di piring. Pada pagi hari biasa disediakan teh manis atau kopi dan kue seperti bakwan, pisang goreng, dan lainnya.

Di Jogja, banyak pedagang nasi yang sudah menggelar lapaknya sejak subuh. Biasanya mereka melayani kebiasaan sarapan nasi untuk orang-orang yang mulai beraktivitas sejak pagi, seperti pedagang pasar, orang yang berangkat kantor pagi dan anak-anak yang masih sekolah.

Warung makan di Jayapura kebanyakan baru buka sesudah jam 8 atau 9 WIT. Bahkan ada yang baru siap menjelang jam makan siang. Tetapi bagi yang biasa sarapan pagi nasi seperti saya, masih ada beberapa warung makan yang bisa dikunjungi.

Misalnya, jika kita ingin sarapan bubur atau mie ayam, ada Bubur dan Mie Mandala yang saat tulisan ini disusun memiliki 3 cabang di area Jayapura, Abepura, dan Waena. Selain itu, ada pedagang pecel dan nasi kuning yang membuka lapaknya menggunakan mobil angkot yang dimodifikasi.

Sayangnya, saya belum menemukan warung atau restoran yang buka 24 jam di Jayapura (karena jarang keluar tengah malam), sehingga sebaiknya yang ingin makan jam 2 pagi harap sabar-sabar menunggu atau sudah menyimpan cadangan makanan di rumah sebelumnya. Namun jika terpaksa, alternatifnya adalah lari ke hotel berbintang di Jayapura yang biasa memiliki chef standby 24 jam. Untuk yang terakhir ini saya belum pernah, namun patut dicoba dalam keadaan mendesak.

Layanan Unaccompanied Minor Trigana Air Service

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Unaccompanied minor adalah istilah bagi anak-anak yang terpisah dari orang tua maupun kerabat yang secara sah bertanggungjawab untuk menjaga dan merawat anak tersebut.

Dalam layanan penerbangan, unaccompanied minor adalah layanan pendampingan bagi penumpang anak, dengan kondisi anak itu terbang ke tujuan tertentu tanpa didampingi kerabatnya yang merupakan orang dewasa.

Kebetulan dalam penerbangan Trigana Air dari Wamena tadi pagi, saya bersama 3 anak yang naik pesawat dengan label UM di dadanya. Rupanya orang tua mereka menitipkan anak-anak tersebut ke maskapai Trigana Air untuk bisa terbang ke tujuan di Jayapura.

Prosedur yang dilakukan kurang lebihnya adalah reservasi tiket dengan layanan UM, kemudian pada hari yang merupakan jadwal penerbangan, kerabat melakukan serah terima penumpang ke maskapai, lalu ada pendamping dari maskapai yang mengurus mulai dari proses check in sampai dengan terbang.

Di dalam pesawat, anak tersebut diawasi dan dijaga oleh awak pesawat. Ketika pesawat mendarat, sudah ada petugas yang menyambut yang kemudian membawa mereka ke area kedatangan dan petugas melakukan serah terima UM ini kepada kerabat sesuai dengan data yang telah diberikan sebelumnya.

Koteka Lounge Bandara Wamena Jayawijaya

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Biasanya, salah satu fasilitas yang ada di bandara-bandara adalah executive lounge. Nah, senyampang saya masih menunggu keberangkatan penerbangan ke Jayapura, saya mau sedikit bahas mengenai fasilitas ini di Bandara Wamena (WMX).

Mulai dari masuk, di ruang checkin bandara terdapat beberapa gerai makanan, untuk sekedar makan dan minum dengan harga yang kurang lebih sama jika beli di luar. Masuk ke ruang tunggu, terdapat sebuah lounge bernama Koteka Lounge. Di sini penumpang bisa makan dan minum sepuasnya sambil menunggu penerbangannya.

Koteka Lounge saat ini baru bisa menerima pembayaran dengan cash sejumlah Rp.100.000,-

Hanya sedikit masyarakat yang tahu dan menggunakan fasilitas komersial ini, sehingga kondisinya agak sepi. Akan bagus jika lounge ini bekerjasama dengan bank yang memberikan layanan lounge bandara untuk nasabah tertentu, dan juga penerbit kartu kredit agar kunjungan ke lounge ini bisa ramai. Bank yang memiliki cabang di Wamena yang potensial untuk kerjasama penggunaan Koteka Lounge Bandara Wamena ini di antaranya adalah: Bank Papua, BNI, Mandiri, dan BRI. Koteka Lounge bisa juga menggandeng provider telekomunikasi seperti Telkomsel dan Indosat agar pelanggan tertentu bisa menikmati fasilitas lounge di Bandara Wamena, misal dengan cara potong poin.

Kebersihan Fasilitas Bandara Wamena

Wahyu Wijanarko Indonesia Wahyu Wijanarko

Bandara Wamena, Kabupaten Jayawijaya memiliki terminal baru yang paling megah di area Pegunungan Tengah Papua. Apalagi bandara ini satu-satunya di Pegunungan Tengah yang mampu didarati oleh pesawat narrow body sekelas Boeing 737.

Nah, tantangan berikutnya dari pengelolaan Bandara Wamena adalah kebersihannya. Karena bandara ini dilewati oleh ratusan sampai ribuan orang per hari, mulai dari penumpang, karyawan dan pengunjung, maka dalam hitungan menit saja lantai bisa cepat menjadi kotor.

Beberapa kali saya mengunjungi tempat ini, sepertinya kebersihan cukup diperhatikan oleh pengelola. Sampling saya adalah toilet pria. Toilet bandara ini menurut saya cukup nyaman untik digunakan. Toilet yang disediakan hanya ada di dalam terminal keberangkatan dan kedatangan. Tidak ada toilet umum untuk pengunjung di luar area bandara.